Sampul Novel Jodohku Seorang Janda Kaya Raya

Jodohku Seorang Janda Kaya Raya

8.6 / 10.0
Lintar, seorang pemuda gigih, jatuh hati pada Dewi, CEO sukses yang berstatus janda. Meski pertemuan awal mereka canggung, benih cinta tumbuh di antara keduanya. Namun, asmara mereka terhalang restu paman Lintar yang menentang keras hubungan tersebut. Tak gentar, Lintar berjuang meyakinkan orang tuanya demi mempertahankan cintanya pada sang janda kaya. Ikuti perjalanan emosional Lintar menggapai kesuksesan dan kebahagiaan sejati bersama wanita pilihannya.

Jodohku Seorang Janda Kaya Raya Bab 1

Tok! Tok! Tok!

"Lintar! Keluar kamu!" teriak seorang wanita paruh baya, berdiri angkuh di depan pintu rumah sederhana milik seorang pemuda yang bernama Lintar.

"Itu Bu Rasti kenapa, Mbak?" tanya seorang wanita bertubuh tambun sambil mengerenyitkan dahi. Kebetulan saat itu, ia sedang berbelanja di sebuah warung tidak jauh dari kediaman Lintar.

"Nggak tau, mungkin Bu Rasti kesurupan kali," jawab seorang wanita setengah baya sambil tertawa-tawa.

"Ah, Mbak. Bisa aja."

"Baru tau yah? Bu Rasti dari dulu emang gitu ... sombong, angkuh, dan sok kaya," sahut seorang ibu yang mengenakan kerudung biru, mencemooh sikap Rasti yang sudah bersikap keterlaluan.

Rumah sederhana yang didominasi dengan warna cat biru langit pada dindingnya, itu merupakan kediaman Lintar yang berdiri kokoh di antara deretan rumah-rumah penduduk lain yang ada di pinggiran jalan utama desa tersebut.

Sudah hampir 5 tahun lamanya, Lintar mendiami rumah tersebut seorang diri, karena kedua orang tuanya telah meninggal dalam sebuah kecelakaan.

"Lintar!" Wanita paruh baya itu kembali berteriak dengan suara lebih keras dari sebelumnya.

Lintar yang saat itu masih terlelap tidur tidak mendengar suara teriakan dari Rasti—seorang wanita paruh baya yang paling angkuh di lingkungan kampung tersebut.

Karena masih belum mendapat tanggapan dari sang pemilik rumah, maka Rasti pun berteriak lagi, "Lintar! Jangan pura-pura tuli kamu, yah. Buka pintunya! Saya mau bicara penting dengan kamu." Suara teriakan Rasti semakin terdengar keras, tangannya pun tak mau berhenti terus mengetuk-ngetuk daun pintu rumah tersebut. Bahkan tak segan-segan, ia menggedor pintu rumah itu dengan kasarnya.

Dengan demikian, Lintar langsung terbangun dari tidurnya, karena merasa terganggu oleh kerasnya suara teriakan Rasti.

"Ya, Allah! Siapa sih, itu?" desisnya masih dalam kondisi mengantuk.

Setelah itu, ia langsung bangkit dari tempat tidurnya, dan bergegas melangkah keluar dari dalam kamar. "Iya, Bu. Tunggu sebentar!" Lintar menyahut sambil melangkah ke arah pintu, kemudian langsung membukanya.

Sejatinya, Lintar masih dalam kondisi ngantuk berat, setelah semalaman tidak dapat tidur. Siang itu, ia baru saja memejamkan matanya, karena baru selesai mengerjakan tugas perusahaan dari bosnya yang ia bawa ke rumah.

Setelah pintu terbuka, tampak seorang wanita paruh baya bertubuh gempal tengah berdiri angkuh di depan pintu rumahnya. Raut wajah Rasti tampak memerah, ketus, dan penuh amarah, sorot matanya yang tajam menatap sinis wajah Lintar.

"Bu Rasti! Ada apa, Bu?" sapa Lintar dengan sikap ramahnya. Lintar langsung mempersilahkan tamunya itu untuk duduk di sebuah kursi yang ada di teras kediamanya, "Silahkan duduk dulu, Bu!"

"Tidak perlu!" jawab Rasti ketus.

Sekilas dapat dipahami oleh Lintar, bahwa wanita paruh baya itu sedang dilanda kegusaran. Namun, Lintar tetap menunjukkan rasa hormat dan sopan santun terhadap tamunya itu.

"Kamu sengaja tidak langsung membuka pintu karena ingin mempermainkan saya?!" bentak Rasti penuh emosi, suaranya keras terdengar sangat nyaring. Napasnya pun terdengar menderu-deru menahan rasa emosi yang berkecamuk dalam jiwa dan pikirannya.

Dua bola matanya yang tajam terus menatap wajah Lintar penuh kebencian. Seakan-akan, ia hendak menelan mentah-mentah pemuda itu.

"Maaf, Bu. Tadi saya sedang tidur di dalam kamar, saya tidak mendengar teriakan Ibu, dan tidak bermaksud untuk mempermainkan Ibu," kata Lintar menjelaskan.

Rasti menarik napas dalam-dalam, matanya yang tajam terus menatap wajah Lintar penuh kegusaran. "Saya ingin bicara dengan kamu," kata Rasti masih bersikap sinis.

"Ada masalah apa ya, Bu?" tanya Lintar penasaran.

Pemuda itu tetap berusaha tenang dan bersikap ramah terhadap tamunya tersebut. Karena walau bagaimanapun, Rasti adalah ibunya Eva—sahabat dekatnya.

"He, kamu jangan sok bersikap baik di hadapan saya!" bentak wanita paruh baya itu sambil menatap tajam wajah Lintar.

Meskipun sudah dibentak secara kasar, Lintar masih bersikap tenang dan tidak mau menanggapi sikap kasar dari tamunya itu. Lintar berpikir, walau bagaimanapun Rasti adalah orang yang lebih tua darinya, dan harus tetap dihormati sebagai mana mestinya.

Melihat Lintar hanya diam saja, Rasti tampak semakin geram. Lantas, ia pun kembali membentak, "Kamu punya kesalahan besar terhadap anak saya! Apa kamu tidak menyadarinya?" tanya Rasti bernada tinggi.

Lintar tampak kaget mendengar perkataan yang terlontar dari mulut wanita paruh baya itu, sikap Rasti memang sudah sangat keterlaluan. Tiba-tiba datang dan langsung memaki-maki dirinya. Meskipun demikian, Lintar tetap bersikap sabar dan berusaha tenang dalam mengendalikan amarahnya agar tidak terpancing oleh sikap angkuh wanita paruh baya itu.

Dengan lirihnya, Lintar pun kembali berkata, "Maaf ya, Bu. Kenapa Ibu tiba-tiba memarahi saya? Ada persoalan apa ya, Bu?" Lintar bertanya sambil mengerenyitkan kening.

"Saya ingatkan kamu, jangan pura-pura pikun! Kamu sudah menyakiti perasaan anak saya, kamu harus bertanggung jawab. Karena ulah kamu anak saya kabur dari rumah!" bentak Rasti. Dia sudah tidak dapat mengendalikan amarahnya, sikapnya terhadap Lintar semakin kasar saja.

"Astaghfirullaahal'adziim, Ibu tidak seharusnya bersikap seperti ini!" ucap Lintar lirih.

"Kamu mau ceramah di hadapan saya?" tanya Rasti kasar.

"Mohon maaf ya, Bu. Bukan itu maksud saya, jika memang ada persoalan, sebaiknya kita selesaikan dengan baik-baik!" jawab Lintar lirih.

Lintar berusaha untuk menenangkan Rasti dengan harapan amarah dalam jiwa dan pikiran wanita paruh baya itu sedikit mereda.

"Kamu jangan coba-coba mengajari saya!" bentaknya sambil menatap tajam wajah Lintar.

Rasti merupakan orang paling kaya di kampung tersebut. Akan tetapi, banyak warga yang tidak suka terhadap dirinya, karena keangkuhan dan sikap sombong yang dimilikinya. Bahkan para tetangganya pun tidak ada yang mau bergaul dengannya.

Lintar mengerutkan kening, lalu menjawab dengan sikap tenang, "Perasaan, saya tidak pernah melakukan hal buruk terhadap putri Ibu. Hubungan saya dengan Eva baik-baik saja kok, Bu," kata Lintar berusaha membela diri.

Rasti tidak mau peduli dengan perkataan Lintar. Mendengar penjelasan Lintar seperti itu, ia malah semakin geram saja, dua bola matanya tajam menatap wajah Lintar yang berdiri di hadapannya.

"Kamu sudah menolak mentah-mentah cinta anak saya. Lantas, kamu bilang tidak ada persoalan apa-apa?!" bentak Bu Rasti.

Dengan segenap kesabaran yang dimilikinya, Lintar hanya menghela napas dalam-dalam. Tidak sepatah kata pun terlontar dari mulutnya, sehingga membuat Rasti tambah semakin gusar.

"Seharusnya orang miskin seperti kamu ini bersyukur. Karena anak orang terkaya di kampung ini sudah menyukaimu!"

Perkataan Rasti sangat menyakitkan sekali. Namun, Lintar hanya diam saja, ia tidak mau meladeni kemarahan wanita paruh baya bertubuh gempal itu. Lintar tampak bingung dan harus berkata apa lagi, supaya Rasti dapat memahami penjelasan darinya. Sehingga, Lintar mulai mengambil sebuah keputusan untuk mengalah, karena tidak ada faidahnya jika terus berdebat terlalu lama dengan wanita paruh baya yang super sombong itu.

Lintar menarik napas dalam-dalam, kemudian berkata lagi, "Baik, Bu. Saya akan mencari Eva sampai saya menemukannya" tegas Lintar.

* * *

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Jodohku Seorang Janda Kaya Raya

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Aku Tak Punya Siapapun Lagi
8.3
Menghadapi sisa hidup tiga hari akibat gagal hati akut, seorang istri harus menelan pil pahit saat suaminya, David, memberikan kuota pengobatan terakhir kepada adik angkatnya, Emma. Dianggap lebih pantas hidup, ia pun dipaksa mengalah. Demi menutupi ajal yang mendekat, ia menandatangani surat cerai, menyerahkan perusahaan perhiasan, bahkan membiarkan putrinya memanggil Emma sebagai ibu. Di balik pujian keluarga yang menganggapnya kakak yang baik, sebuah misteri kematian yang tragis siap mengejutkan mereka semua.
Sampul Novel Desain Cinta Kedua
9.4
Tiga tahun Jessica mengabdi sebagai istri, namun pengorbanannya dibalas luka mendalam. Setelah resmi menceraikan Aaron, ia bangkit secara mandiri menjadi desainer ternama dan pengusaha sukses tanpa bantuan harta keluarga. Saat Jessica menikmati puncak karier dan kebebasannya, Aaron justru datang kembali dengan penyesalan besar. Sang mantan suami memohon kesempatan kedua untuk memperbaiki segalanya. Akankah Jessica luluh atau tetap teguh pada pilihannya?
Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Anisa Rahma memulai hidup baru sebagai istri Seno Bagaskara, pria kaya raya yang membawanya tinggal di kediaman besar keluarga. Namun, situasi menjadi rumit karena mereka harus berbagi atap dengan saudara ipar lainnya. Di balik kemewahan tersebut, Anisa tidak menyadari bahwa adik laki-laki Seno dan suami dari iparnya menyimpan hasrat terlarang kepadanya. Kini, Anisa terjebak dalam ancaman nafsu mereka di rumah itu. Sanggupkah ia bertahan?
Sampul Novel Gadis 100 juta (fatamorgana)
9.6
Demi menyelamatkan adiknya yang diculik, Daiva Gayatri Maheswari terpaksa menjual kesuciannya kepada Keyko Khayang Gumelar senilai 100 juta rupiah. Namun, takdir mempertemukannya dengan Damian, seorang duda tampan, di sebuah supermarket secara tidak sengaja. Kini, Daiva terjebak dalam dilema cinta ketika kedua pria tersebut mulai mengejar hatinya. Siapakah yang akhirnya akan dipilih Daiva sebagai pendamping hidup di tengah bayang-bayang masa lalunya?
Sampul Novel Gairah Berbahaya Si Gadis Lugu
9.2
Rheina, gadis lugu yang terjebak dalam lingkungan beracun, awalnya berniat membebaskan sahabatnya dari cengkeraman tuan tanah. Namun, situasi memburuk saat ayahnya justru menikahi sahabatnya itu sebagai istri keempat. Konflik keluarga yang kelam ini akhirnya menyeret Rheina ke dalam lembah kenistaan. Ikuti liku perjalanan hidup Rheina saat ia terjerat dalam cinta segitiga rumit bersama dua pria di tengah tekanan hidup yang penuh kata kasar dan adegan dewasa.
Sampul Novel Misteri matinya teman-temanku
8.6
Satu demi satu nyawa teman, keluarga, hingga mereka yang pernah menyakitiku terenggut secara brutal. Kematian tragis ini menyisakan kengerian mendalam karena sang pelaku sangat lihai menghapus jejak, membuat identitasnya mustahil terungkap. Di tengah kepungan teka-teki gelap yang penuh misteri, korban terus berjatuhan tanpa henti. Naasnya, aku yang menjadi tokoh utama dalam kisah kelam ini pun tak luput dari incaran maut yang mengintai dari balik bayangan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan