Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Michael Obsession

Michael Obsession

Michael Yates Hutomo telah lama memendam obsesi pada Casandra, menanti saat yang tepat untuk memilikinya. Kesempatan itu tiba ketika bisnis Casandra terancam bangkrut. Michael menawarkan bantuan, namun dengan syarat pernikahan mutlak. Casandra terpaksa meninggalkan kekasih lamanya demi menyelamatkan aset keluarga. Meski raganya kini terikat dalam kuasa sang miliarder, Casandra bersumpah bahwa Michael takkan pernah bisa memenangkan hati yang ia miliki.
Bab
Bagikan

Bab 3

Michael duduk di kursi kebesarannya, seraya mengetuk-ngetuk meja kerjanya dengan jemari kokohnya. Sepasang iris mata biru Michael menajam menatap lurus ke depan, dengan jutaan hal ada di dalam benaknya.

Seringai tipis di wajah Michael terlukis. Tampak kepuasan di wajahnya muncul seakan dia telah memiliki sesuatu rencana. Sebuah rencana terpendam yang sejak lama pria itu ingin jalankan.

Suara ketukan pintu terdengar. Refleks, Michael mengalihkan pandangannya pada sumber suara itu, dan langsung meminta orang yang mengetuk pintu untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.

“Tuan Michael,” sapa Erlan—asisten Michael—melangkah mendekat pada Michael.

Michael menatap dingin asistennya itu. “Ada apa, Erlan?”

Erlan terdiam sebentar, dengan raut wajah serius. “Tuan, rencana yang Anda inginkan sudah berjalan.”

Sudut bibir Michael terangkat, membentuk seringai kejam. Iris mata birunya menujukkan jelas kepuasan seperti menang dalam permainan. “Good, mulai besok aku bisa bersenang-senang.”

Lalu, tatapan Michael teralih pada sebuah foto gadis cantik dengan rambut cokelat tebal di ikat ke atas. Kulit putih layaknya porselen. Tubuh yang indah dan seksi. Semua yang ada pada gadis itu sempurna.

‘See you, Baby Girl,’ batin Micahel dengan seringai di wajahnya.

***

“Ck! Kenapa para pria tua itu menyebalkan sekali?” Casandra menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesarannya. Raut wajah gadis itu nampak kesal dan marah setelah selesai meeting dengan jajaran para direksi.

Hari ini adalah hari pertama Casandra memegang alih Stewar Group. Well, tentu tak sepenuhnya, karena Devan, ayahnya masih kerap mengawasi Casandra. Di usia yang masih menginjak 23 tahun, sebenarnya Casandra belum siap memegang posisi tinggi di perusahaan keluarganya ini, namun apa boleh buat jika sang ayah sudah mengambil keputusan. Mau tak mau Casandra harus menurut, daripada terkena masalah baru.

Jean meringis mendengar omelan Casandra. “Nona, pria tua yang Anda maksud adalah para jajaran direksi.”

Casandra menyambar wine di atas meja, dan menenggaknya. “I don’t fucking care. Mereka terlalu banyak bertanya membuat kepalaku pusing.”

“Nona, hari ini adalah hari pertama Anda di perusahaan. Wajar kalau Anda mendapatkan pertanyaan yang cukup membuat Anda tersudut,” ujar Jean berusaha menenangkan Casandra.

Casandra mendesah kasar. “Ya, kau benar. Aku—”

“Apa aku mengganggu, Nona Stewart?” seorang pria masuk ke dalam ruang kerja Casandra, menginterupsi percakapan antara Casandra dan Jean. Refleks, Casandra dan Jean mengalihkan pandangan pada sumber suara itu.

“Tuan Gio.” Jean menundukkan kepalanya menyapa Gio dengan sopan.

Gio tersenyum dan mengangguk merespon sapaan Jean.

“Tuan, Nona. Saya permisi.” Jean segera pamit undur diri dari hadapan Gio dan Casandra.

Gio melangkah mendekat pada Casandra di kala Jean sudah pergi. Tampak raut wajah Casandra dingin seperti enggan bertemu dengan Gio. Casandra sama sekali tak mengira kalau Gio akan datang.

“Untuk apa kau ke sini?” tanya Casandra dingin.

“Aku merindukanmu, Sayang.” Gio hendak memeluk Casandra, namun Casandra melengos menghindari pelukan kekasihnya itu.

Gio mengembuskan napas panjang. “Aku tahu aku salah. Aku minta maaf, tapi kemarin benar-benar mendesak. Ayahku tidak mungkin pergi ke Cordoba karena dia harus mengurus pekerjaannya di sini.”

Casandra bangkit berdiri. “Aku sudah mendengar penjelasanmu, sekarang kau bisa pergi. Aku sibuk. Jangan ganggu aku.” Nada bicara Casandra ketus kala mengatakan ini.

Gio tak peduli dengan penolakan Casandra, dia mendekat dan tetap memeluk Casandra. Beberapa kali Casandra memberontak dari pelukan Gio, namun pria itu kian mengeratkan pelukannya seakan tak mau terpisah.

“Maaf, Sayang. Aku mohon maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku lagi.” Gio mencium tengkuk leher Casandra. “Sebagai gantinya, malam ini aku akan mengajakmu berkencan.”

Luluh. Hati Casandra luluh di kala Gio sudah meminta maaf padanya. Gadis itu kini berbalik menghadap Gio sambil menekuk bibirnya. “Aku kesal karena kau tidak pernah mengutamakanku. Padahal sebentar lagi kita akan menikah.”

Gio menarik dagu Casandra mencium dan melumat bibir gadis itu. “Kau tentu yang utama bagiku, Sayang. Aku berjanji lain kali akan mengatur waktuku dengan baik.”

Casandra membenamkan wajahnya di dada bidang Gio. “Aku sangat mencintaimu.”

Gio tersenyum mendengar pengakuan Casandra. Pria itu menangkup kedua pipi Casandra dan memberikan kecupan bertubi-tubi. “Aku juga sangat mencintaimu. Bagaimana hari pertamamu bekerja?”

Casandra mendengkus kesal. “Sangat menyebalkan. Para direksi sering sekali memberikan pertanyaan rumit yang membuatku sakit kepala.”

Gio terkekeh melihat wajah kesal Casandra. “Jangan diambil pusing. Para direksi memang kerap mengajukan pertanyaan yang membuat kita tersudut. Nanti kau pun mulai terbiasa. Sekarang lebih baik kita makan siang bersama. Kau mau, kan?”

Casandra mengangguk dan langsung memeluk lengan Gio. Berikutnya, gadis itu melangkah keluar dari ruang kerjanya bersama dengan sang kekasih. Terlihat raut wajah Casandra sudah tak lagi kesal. Malah sekarang, Casandra begitu mesra dengan kekasihnya itu.

***

Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Casandra melambaikan tangan ke arah mobil Gio yang kini mulai meninggakan perusahaannya. Sang kekasih tak bisa terlalu lama berada di sisinya, karena sang kekasih harus kembali bekerja. Namun, meski demikian Casandra bahagia karena malam ini dirinya akan berkencan dengan sang pujaan hati.

“Nona Casandra?” Jean melangkah menghampiri Casandra yang ada di lobby, dengan langkah begitu terburu-buru.

Casandra mengalihkan pandangannya, menatap Jean. “Ada apa, Jen?” tanyanya.

“Nona, saya baru saja mendapatkan informasi dari asisten Tuan Devan. Sore ini Anda memiliki meeting dengan pemilik Yates Group,” jawab Jean memberi tahu.

“Yates Group?” sebelah alis Casandra terangkat, menatap bingung Jean.

Jean mengangguk. “Benar, Nona. Meeting ini sangat penting, karena Yates Group akan menjadi investor terbesar di perusahaan kita.”

Casandra berdecak pelan. “Apa harus aku?”

Jean menggaruk tengkuk lehernya tak gatal. “Anda sekarang sudah memiliki posisi penting di Stewart Group. Jadi memang harus Anda yang menemui para investor.”

Casandra mendengkus tak suka. “Padahal hari ini aku ingin pulang lebih awal.”

“Nona, meeting ini tidak lama. Setelah Anda meeting, Anda bisa langsung pulang,” ujar Jean berusaha membujuk Casandra.

“Baiklah. Aku berangkat sekarang. Tapi aku harus ke ruang kerjaku untuk mengambil tas dan kunci mobilku,” jawab Casandra penuh terpaksa.

Jean menundukan kepalanya, di kala Casandra melangkah pergi.

Casandra mengambil tas, ponsel, dan kunci mobilnya yang ada di atas meja, dan segera menuju mobilnya. Sebenarnya, Casandra ingin pulang cepat agar bisa memilih gaun yang tepat untuk dipakainya malam ini, tapi karena dirinya memiliki meeting dengan pemilik Yates Group, maka mau tak mau Casandra harus menghadiri meeting lebih dulu.

Di perjalanan, Casandra terjebak macet karena ada kecelakaan lalu lintas di depan. Raut wajah Casandra berubah menjadi kesal. Dia sudah terlambat, tapi dia tak bisa berbuat apa pun, karena mobilnya terjebak macet di tol.

“Ck! Kenapa polisi lambat sekali?” gerutu Casandra kesal.

Casandra memukul stir mobilnya, dan berusaha mengatasi rasa kesalnya. Perlahan-lahan, mobil di depan Casandra sudah mulai bergerak maju. Casandra sedikit lega. Paling tidak dia tak hanya berdiam di tengah jalan.

Setibanya di Yates Group, Casandra masuk ke dalam perusahaan megah itu dan menuju ke ruang meeting. Sebelumnya resepsionis sudah mengizinkannya masuk setelah dirinya memperkenalkan diri.

“Oh, God. Semoga pemilik Yates Group bukan pria tua. Aku sudah bosan sekali melihat pria tua,” gumam Casandra pelan di kala dia keluar dari pintu lift—dan segera menuju ke ruang meeting.

“Maaf, aku terlambat—”” Casandra melangkah masuk ke dalam ruang meeting, namun tiba-tiba raut wajah Casandra terkejut melihat sosok pria yang duduk di sana. Iris mata biru pria itu membuat seluruh tubuh Casandra membeku dan tak bisa bergerak sedikit pun.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95FQJ" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95FQJ
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayo Bercerai!!
8.4
Adeline telah mencapai batas kesabarannya setelah terus-menerus dianggap remeh oleh Devon. Baginya, pria itu kini lebih buruk dari sampah yang tak bernilai. Ketegangan memuncak di ruang makan saat Devon mendengar hinaan Adeline secara langsung. Dengan amarah yang meluap, sang tuan muda mencengkeram dagu Adeline dan memberikan peringatan keras agar ia tidak mencoba bermain api. Namun, Adeline tidak lagi takut untuk melawan dominasi dingin suaminya tersebut.
Sampul Novel Cinta pertama dan terakhirku
8.7
Intan Arselina, seorang perawat, terkejut saat bertemu kembali dengan Abian Dirgantara di rumah sakit. Setelah empat tahun terpisah akibat fitnah ibunda Dirga, luka lama Intan kembali terbuka. Dirga yang baru saja mengalami kecelakaan berusaha keras memenangkan hati Intan lagi. Namun, perjuangannya tidak mudah karena kebencian keluarga Intan dan kehadiran Zidan sebagai penghalang. Dirga bertekad menebus kesalahan masa lalu demi cinta sejatinya.
Sampul Novel Cinta Setelah Perceraian: Kasih Sayangnya yang Terlambat
9.8
Selama tiga tahun, pengabdian Giselle hanya dibalas kebencian oleh Lucian. Setelah menyerah pada pernikahan yang menyesakkan itu, Giselle bangkit menjadi CEO saingan dengan berbagai identitas rahasia sebagai peretas hingga desainer ternama. Lucian yang awalnya meremehkan justru terobsesi untuk mengejarnya kembali saat rahasia Giselle terungkap. Meski Lucian memohon kesempatan kedua dengan segala cara, bagi Giselle, penyesalan suaminya sudah sangat terlambat.
Sampul Novel Dari Pengkhianatan Tebing ke Cinta yang Tak Terpatahkan
8.1
Marco menjanjikan piknik romantis di tebing, namun ia justru mendorong Clara ke jurang demi selingkuhannya, Chika. Meski tubuhnya hancur, Clara bertahan hidup dan mendengar rencana keji Marco untuk memalsukan kematiannya sebagai kecelakaan. Di tengah keputusasaan, api balas dendam mulai membara. Harapan muncul saat Julian Suryo, miliarder sekaligus musuh bebuyutan suaminya, datang menyelamatkannya. Kini, Clara siap menghancurkan pria yang telah mengkhianatinya.
Sampul Novel KUSEMBUNYIKAN KEKAYAANKU DARI SUAMI DAN MERTUA
9.6
Mia merasa muak karena terus direndahkan oleh ibu mertuanya hanya karena dianggap miskin dibanding menantu lainnya. Meski dihina secara zalim, Mia memilih bungkam dan menyembunyikan rahasia besar. Tanpa ada yang tahu, ia sebenarnya memiliki kekayaan melimpah dan tumpukan logam mulia dari hasil jerih payahnya menulis secara daring. Ia sengaja merahasiakan aset tersebut agar suami dan mertuanya yang rakus tidak bisa menyentuh hartanya sedikit pun.
Sampul Novel Mantanku yang Berhati Dingin Menuntut Pernikahan
9.2
Carrie terjebak dalam pernikahan kontrak yang dingin dengan Kristopher hingga ia tak sengaja jatuh cinta. Namun, saat krisis melanda, suaminya justru memilih wanita lain. Merasa dikhianati, Carrie pun memutuskan bercerai. Saat Carrie mulai bangkit dan dikelilingi banyak pria, Kristopher baru menyadari penyesalannya. Demi mendapatkan kembali mantan istrinya, ia menawarkan mahar 40 miliar rupiah dan menuntut sebuah pernikahan baru yang penuh ambisi.