
Messy LOSY
Bab 2
"Aku membenci diriku sendiri. Saat tak bisa melawan sisi lemahku sendiri." --- Dilara Atma Melisia.
***
Setelah bicara dengan Keenan yang hanya terkesan meninggalkan luka. Dilara melangkah menuju kantin untuk bertemu dengan Jelita. Ia juga mengurungkan niat awal yang ingin mengambil bahan buku bacaan di perpustakaan.
"Kok lama? Lo abis dari mana?" tanya Jelita saat Dilara sudah sampai di hadapan gadis itu.
Dilara tak membalas, ia mengambil posisi duduk di hadapan Jelita. "Kamu sudah pesan makan?"
Jelita mengangguk mengiyakan, sedangkan Dilara tak membalas. Membuat Jelita memicingkan mata menatap Dilara.
"Gimana dosen barunya?" tanya Jelita yang membuyarkan lamunan Dilara mengenai sosok Keenan.
"Kamu bener, dia bakalan pelit nilai … tapi kalo sama anak-anak yang malas dan tidak disiplin."
"Yeh, gue cuma dengar dari anak-anak."
"Makanya sebelum dengar berita kudu dengerin juga faktanya."
Jelita kembali memakan makanan yang ia pesan. Begitu juga dengan Dilara yang berjalan menuju tempat pemesanan mencari makanan yang enak, hingga tak sengaja ia menabrak seseorang yang sedang membawa segelas kopi. Atensi anak-anak kini tertuju pada Dilara juga seorang laki-laki jangkung bertubuh atletis dan bersurai cokelat kehitaman dengan gaya Front fringe.
"Punya mata enggak sih lo!"
Dilara tersentak mendengar bentakan dari laki-laki itu. Matanya membulat saat melihat siapa yang tak sengaja ia tabrak---Alzeyano Xida, si kakak senior sekaligus teman dari Keenan.
"Ma--maaf, Kak. Saya enggak sengaja," ucap Dilara seraya menunduk takut.
"Maaf kata lo?" Alze tampak emosi, ia sangat tidak suka bila bertemu dengan orang yang ceroboh. Kopi yang baru saja dipesan kini hanya tinggal tersisa. Membuat ia membuang gelas plastik bekas kopi tersebut ke lantai tepat di bawah kaki Dilara.
Keenan yang juga berada di kantin hanya diam menyimak tanpa berniat ingin membantu. Dilara meringis saat kakinya terkena tumpahan air panas dari kopi. Mahasiswa-wi lain pun hanya bisa menonton, mereka tidak bisa berbuat apa pun. Mengingat Alze merupakan berandal dan tukang bully anak-anak lemah.
"A--aku bakalan bersihkan jaket, Kakak." Dilara mengeluarkan tisu dari dalam tas, berniat ingin membersihkan noda kopi di jaket Alze. Namun, belum juga sampai di arah noda tersebut. Alze sudah lebih dulu mencengkeram lengan Dilara.
"Gue enggak minta lo buat bersihin," desis Alze, matanya memandang wajah Dilara. Ia merasa asing dengan wajah gadis itu, bahkan sampai belum pernah melihatnya.
"Lo anak baru?" tanya Alze menatap tajam ke arah Dilara.
Jelita yang baru saja selesai menghabiskan makanannya, kini turut melihat apa yang terjadi dalam kerumunan tersebut. Bola matanya membulat terkejut melihat Dilara tengah dipegang tangannya oleh Alze.
"Duh, kalo sama Alze gue enggak bisa bantu," gumam Jelita.
Dilara menepis pergelangan tangannya yang dicengkeram. Ekor matanya melirik ke arah Keenan yang diam saja seperti patung. Ia yakin bahwa sekarang laki-laki itu tengah menahan amarah ketika tangannya dicengkeram oleh Alze.
"Dia anak beasiswa, Ze. Maklum lo enggak pernah liat dia di Ospek," sahut laki-laki bersurai hitam dengan gaya Man Bun, memiliki bulu mata lentik, serta alis lebat---Gemilang Azriel Yasa.
"Pantes, enggak tau sopan santun!"
"Sekali lagi saya minta maaf, Kak. Saya akan bertanggung jawab atas kecerobohan saya," ujar Dilara terdengar gugup berhadapan dengan Alze.
Alze melepaskan jaketnya, lalu melempar ke hadapan Dilara tanpa rasa kasihan. Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk seringai tipis. Dilata menerima jaket tersebut, dengan susah payah ia menahan air matanya agar tak menetes di hadapan semua orang.
"Lo cuci jaket itu sampai bersih dan jangan sampai warnanya luntur! Kalo lo buat jaket gue luntur." Alze menjeda, ia melangkah maju satu langkah. "Lo bakalan jadi incaran gue buat jadi bahan bully!"
Alze, Gemi, dan Keenan melangkah meninggalkan kantin. Setelah sepeninggalan geng Alze, kantin kembali bising. Dilara mengembuskan napas kasar, menyesali diri sendiri yang begitu ceroboh tak memperhatikan jalan. Ia juga merasa sakit hati karena Keenan tak mau membelanya, laki-laki hanya diam sambil menyimak saja.
Mengharapkan pembelaan dari Keenan rasanya mustahil. Menganggap hubungan mereka saja saja ia enggan, apalagi jika harus membela ia di depan teman-temannya. Dilara melangkah keluar kantin, selera makannya tiba-tiba saja hilang.
"La, mau ke mana?" Pertanyaan Jelita mengejutkan Dilara. Gadis itu melirik ke samping mendapati sang sahabat.
"Toilet, mau bersihkan jaket laki-laki tadi," balas Dilara.
"Terus kaki lo kenapa? Kok pincang?" Jelita menghentikan langkah kaki Dilara, saling berhadapan satu sama lain.
"Enggak apa-apa, kok. Cuma kesemutan." Dilara berbohong mengenai kakinya yang terkena tumpahan kopi panas. Ia juga menyesali diri yang memilih pakai sandal tali daripada sepatu.
"Lo mulai sekarang harus hati-hati sama Alze. Lo 'kan udah satu tahun di sini, masa lupa siapa Alze. Apalagi sama gengnya itu."
Dilara hanya tersenyum tipis. Jujur saja ia tak terlalu mengingat siapa saja yang harus dihindari di sini. Ia terlalu sibuk mengejar nilai dan memahami materi saja tanpa mengetahui berbagai gosip di Jawara.
"Aku akan hati-hati. Aku ke toilet dulu, ya. Kamu mau ikut?"
"Enggak, deh. Soalnya lima belas menit lagi gue ada kelas Pak Tono."
"Ya sudah, aku pergi dulu. Sampai ketemu di kosan, ya." Dilara melangkan menuju toilet dengan kaki menahan perih.
Baru saja ingin berbelok, tangannya sudah ditarik oleh seseorang dengan kasar menuju parkiran timur. Tempat parkir tersepi di kampus. Dilara berusaha mengikuti langkah dari laki-laki itu.
"Lepas, Keen! Ini sakit," keluh Dilara seraya meringis. Bukan hanya pergelangan tangannya saja, kakinya pun masih perih.
Keenan tak memedulikan keluhan dari Dilara, ia menarik kasar lengan gadis itu hingga sampai di depan mobil Jazz berwarna hitam. Ia membuka mobil tersebut, mengkode melalui ekor matanya agar Dilara masuk.
"Kita mau ke mana?"
"Masuk!" bentak Keenan.
Dilara menurut, memasuki mobil Jazz tersebut. Jujur saja ia paling lemah jika sudah dibentak, bahkan ia benci pada dirinya sendiri karena terlalu mudah tumbang ketika sudah dibentak.
Keenan memutari mobil menuju tempat kemudi, memasukinya. Ia menyalakan mesin, menginjak pedal gas, dan melaju keluar dari pemukiman kampus membelah jalanan kota dengan kecepatan diatas 60km/jam.
Jantung Dilara berdegup sangat cepat ketika Keenan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, juga menyalip kendaraan lain, terutama truk dan bus. Sungguh, Dilara belum ingin mati sekarang. Ia masih ingin meraih gelar sarjananya. Hatinya sangat yakin bahwa Keenan sedang marah. Apalagi kilatan amarah tertahan terpatri dengan jelas di manik mata laki-laki itu.
Kini Dilara hanya bisa berdoa agar amarah yang ada pada diri Keenan cepat mereda. Ia belum siap menerima perlakuan kasar atau bentakan dari laki-laki itu. Walaupun selama satu tahun ini ia pernah mendapatkan perlakuan kasar tersebut.
"K--keen---"
"Lo diam! Jangan bikin gue tambah marah!" Keenan kembali fokus menyetir dan menambah kecepatan mobilnya.
Membuat Dilara menelan salivanya sendiri dengan susah payah. Ia memejamkan mata, berbagai ucapan istighfar diucapkan dalam hati.
"Ya Tuhan, kuatkanlah pundak hamba," batin Dilara.
Anda Mungkin Juga Suka





