
Messy LOSY
Bab 3
Air mata yang sempat bersembunyi di pelupuk mata kini jatuh menetes membasahi pipi tanpa diperintah. Dilara pasrah ditarik oleh Keenan menuju apartemen milik laki-laki itu. Untung saja tak ada banyak orang di sekitar apartemen, jika iya maka Dilara akan menanggung malu karena tak bisa melawan.
Tubuh Dilara tersungkur ke lantai saat Keenan mendorongnya sesampai di dalam. Air mata yang tadinya hanya setetes kini menjadi deras. Sementara Keenan, ia hanya menatap dengan dingin. Seakan tidak peduli dengan rasa sakit yang dirasakan oleh Dilara.
"Enggak usah nangis!"
Dilara berhenti menangis, memberanikan diri menatap Keenan yang sedang berdiri di depannya. Lalu kembali menunduk seraya menyeka air matanya.
"Bangun!" perintah Keenan.
Tak ingin menambah kemarahan laki-laki itu. Dilara beranjak bangun dari duduk, tubuhnya bergetar merasakan hawa di sekitar mendadak mencekam. Apalagi aura Keenan benar-benar menakutkan.
Dilara terkejut saat Keenan menarik tangannya mendekat mengenai dada bidang laki-laki itu. Manik mata abu-abunya kini menggelap, amarah tertahan terpatri.
"Ke-keen … ini s-sakit," ucap Dilara melirih, merasakan pergelangan tangannya dicekal dengan erat.
"Sudah berapa kali gue bilang? Lo boleh kuliah di sana, asalkan jangan berhubungan sama temen-temen gue. Apa lagi sampe cari masalah." Keenan menarik jaket milik Alze yang masih dipegang oleh Dilara. Kemudian, melemparnya ke sembarang arah.
"I--itu jaket temen kamu. Lepas! Nanti jaketnya rusak dan tambah kotor." Dilara berusaha memberontak, tetapi Keenan malah kembali menariknya dengan kasar.
"Lo lebih mentingin jaket orang, apa gue pacar lo?"
Dilara bergeming, memejamkan mata sekilas guna meredakan rasa sakit di pergelangan tangannya. Ia terkejut saat Keenan menangkup wajahnya, tatapan mereka saling bertemu.
"Gue enggak mau lo terlibat masalah sama mereka."
Dilara mengulas senyum tipis. Menggenggam tangan Keenan yang berada di pipinya. Lalu mencoba mengendurkan cekalan di pergelangan tangannya, hasilnya pun berhasil. Ia mencium punggung tangan laki-laki itu seraya menyeka air mata yang sempat jatuh setetes.
"Maaf, tapi tadi aku enggak sengaja nabrak dia. Aku janji, aku enggak akan terlibat masalah sama dia."
Keenan melepaskan genggaman tangan dari Dilara. Menatap acuh tak acuh pada gadis itu. "Gue enggak butuh janji, tapi bukti."
Dilara mengembuskan napas kasar. Susah rasanya bernegosiasi meminta maaf pada Keenan.
"Kalo sampe gue liat lo masih terlibat sama Alze. Gue enggak akan segan-segan ngelakuin hal kasar lebih dari ini," desis Keenan.
Laki-laki itu kembali menarik tangan Dilara menuju ruang tamu. Menyuruh duduk gadis itu dengan kasar. Mau tidak mau Dilara hanya menurut, ingin melawan pun rasanya percuma saja. Kekuatannya tak sebanding dengan laki-laki itu.
Keenan merebahkan diri di sofa panjang dengan bantalan kaki bagian atas milik Dilara. Membuat Dilara mengulas senyum kecil saja. Wajah lelah sangat kentara di wajah laki-laki itu.
"Gue capek! Kayak gini dulu sebentar."
Tangan Dilara mengusap rambut hitam milik laki-laki itu, sedangkan laki-laki itu tampak sedang memejamkan mata. Seolah-olah sedang menghadapi beban berat.
"Kamu ada masalah?"
"Walaupun gue ada masalah, lo enggak akan bisa nyelesainnya! Mending lo diem, gue mau tidur."
Dilara hanya mengulas senyum tipis. Keheningan kini tercipta di antara mereka. Keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing. Tiba-tiba saja ingatan awal di mana hubungan mereka dimulai terlintas begitu saja. Membuat Dilara mengulas senyum miris saja.
"Sejujurnya kamu ini cinta enggak sama aku? Kenapa sikapmu selalu kasar? Enggak pernah baik."
"Gue cuma jadiin lo pelampiasan, enggak lebih. Kalo gue bosen, gue bakalan buang lo dan sikap gue emang kasar," gumam Keenan dengan mata terpejam.
Dilara tak membalas, ia menatap lekat wajah dari laki-laki itu, hidung mancung, bibir ranum, dan bulu mata lentik. Tak lupa juga dengan kulit kuning langsat, menambah kadar maskulin saja.
"Gue emang ganteng. Enggak usah natap lekat gitu," ucap Keenan seraya menatap wajah Dilara.
Dilara kegelagapan, ia salah tingkah karena ketahuan sedang menatap laki-laki itu sedemikian rupa. Jujur saja, ia sangat mengagumi wajah kalem dan tampan milik Keenan. Namun sayang sikap kasarnya-lah yang tak disukai oleh Dilara.
"Aku lapar, Keen," ujar Dilara memecahkan jeda yang sempat tercipta di antara mereka.
"Aku pulang, ya." Dilara beringsut dengan pelan, tetapi Keenan sudah lebih dulu bangun.
"Gue enggak nyuruh lo buat pulang, lo enggak suka berduaan sama gue?"
"B--bukan gitu, Keen. Aku pulang, karena aku harus mengerjakan tugas kuliah. Bukan enggak mau berduaan sama kamu," ucap Dilara mencoba memberi pengertian pada Keenan.
Namun, bukannya mengiakan, Keenan justru berdecak kesal. "Semenjak lo kuliah di situ, lo banyak berubah. Selalu melawan dan menghindar dari gue."
"Keen aku enggak melawan kamu. Aku cuma menjawab ucapan kamu." Sungguh, Dilara tak tahu dengan jalan pemikiran laki-laki itu. Selalu tampak salah di mata Keenan.
"Sama aja. Gue enggak suka sama sikap lo yang kayak gini."
Dilara mengembuskan napas kasar. Menarik tangan Keenan untuk digenggam, tetapi laki-laki itu malah menepisnya dengan kasar. "Aku minta maaf, Keen."
"Lo mau pulang, 'kan? Sana pulang, gue enggak butuh lo di sini!"
Dilara mengulas senyum tipis, jika saja ia tidak memiliki tugas kuliah mungkin ia akan menemani laki-laki itu beristirahat dengan lama. Ia beranjak dari duduk, berjalan menghampiri jaket milik Alze. Lalu berdiri di samping Keenan.
"Aku pulang, ya."
"Lo pulang bukan mau ngerjain tugas, 'kan? Lo cuma mau cuci jaket itu, 'kan?" Keenan berasumsi yang tidak-tidak melihat Dilara yang memungut kembali jaket milik Alze.
"Keen---"
"Kenapa, sih, Ra. Setiap gue pengen coba baik sama lo, lo selalu menghindar? Lo enggak suka gue baikkin?"
"Bukan gitu, Keen. Ini udah sore, masij ada yang perlu aku kerjakan di rumah. Sekali aja kamu coba buat ngertiin aku," ucap Dilara, berharap Keenan mau mengerti posisi yang sedang memiliki banyak pekerjaan.
"Di sini yang cuma bisa ngertiin itu lo, bukan gue. Lo mau pulang, 'kan? Sana pulang, gue enggak mau liat muka dekil lo di sini!" Keenan mendorong tubuh Dilara dengan kasar hingga membentur dinding. Tanpa rasa bersalah, laki-laki itu berjalan menuju kamarnya sekaligus menutup pintu kamar dengan keras.
Dilara memegang tangan kirinya, rasanya ngilu saat berbenturan dengan dindinh dengan keras. Ia menatap pintu kamar Keenan dengan nanar. Entah kapan Keenan berubah menjadi laki-laki lembut.
***
Dilara merendam jaket milik Alze di ember, lalu mulai menguceknya hingga noda kopi tersebut menghilang. Dua puluh menit yang lalu ia sudah sampai di kosan, tempat dirinya tinggal. Walaupun terlihat kecil, tetapi tak membuat Dilara keberatan. Setelah selesai menjemur jaket Alze di jemuran handuk, ia berjalan ke arah kamar untuk melanjutkan tugas-tugas kuliahnya, dan juga menghafal materi yang akan di kuiskan besok. Tidak lupa juga dengan semangkuk mi intans yang tadi ia buat.
Jemari Dilara berhenti menuliskan sederet kalimat di kertas. Ingatan memori masa lalu yang paling ranum terlintas begitu saja. Membuat dada Dilara terasa sesak saja. Masa lalu yang membawa dirinya bertemu dengan sosok Keenan, laki-laki baik, tetapi kasar kasar.
Uluran tangan Keenan, tatapan tajamnya, dan sikap acuh tak acuh laki-laki itu masih membekas dalam ingatan. "Dia enggak tahu caranya bersikap. Selalu kasar dan kasar."
Anda Mungkin Juga Suka





