
Merengkuh Cinta Ilahi
Bab 2
“Ruh seorang mukmin (yang sudah meninggal) terkatung-katung karena hutangnya sampai hutangnya dilunasi.” (HR. At Tirmidzi no. 1079)
***********
"Innalillahi... Mas Praja.. " Aku menoleh melihat ke belakang Kayla dan Faiz telah tidur pulas.
"Biar Nayla jaga mereka Siti, kamu gak usah khawatir. " Kata bu Sari. Nayla ternyata berdiri di belakang dawai pintu, aku tidak membuka pintu terbuka karena harus ijin suami jika memasukkan tamu apalagi ini sudah malam.
"Aku titip anak-anak ya Nayla" Kataku setengah berlari, ku lihat anggukan Nayla ringan.
Aku membonceng bu Sari dengan motor. Kerumunan warga masih memadat, aroma anyir darah kentara di sepanjang jalan. 'Astaghfirullah, selamatkan suami hamba ya Allah. ' doaku, terlihat mobil megah itu ringsek dengan jalan aspal yang membentuk ban mobil menandakan rem tajam mendadak. Ku susuri motor mas Praja, terpental jauh 2 meter dengan bentuk yangsulit di kenali. Helm putih bekas itu masih di sisi motor, aku mengenalinya karena ada coretan Faiz dengan paku, "ini gambar abi, ummi, dek kaila dan mas" Kata Faiz sambil menunjuk 2 garis besar dan 2 garis kecil.
"Kenapa ada lingkaran besar mas? " Tanya abi
"Ini rumah Kita nanti bi.. Beeesaaaal" Kata Faiz sontak abi memeluk Faiz dengan erat. Itu sekelumit kepingan indahku. Air mataku tak mampu tertahan, mengalir sungai begitu saja, " Mas Praja bagaimana bu Sari?? " Tanyaku pada bu Sari yang masih menuntunku hingga kini.
"Apa ini dengan keluarga korban?? " Tanya pak polisi
"Saya istrinya pak"
"Silahkan pastikan dahulu" Kata pak polisi sambil membuka kantong mayat yang telah terbungkus. Mataku benar-benar kabur karena aku tak mampu menahan gemburan banjir air mata, ku usap kasar. Perlahan pak polisi membuka kantong. Benar saja mas Praja bermandikan darah di kepalanya, sulit kenali namun ku yakin itu mas Praja dari jaket hitam usang milik bapak dulu aku menjahitnya di dada yang berlubang dengan tanda merah hati.
"Mas Praja.... Bangun mas.. Bangun. Hiks.. Hiks.." Aku mengoyangkan badan mas Praja.
"Sabar Siti.. Sabar ya.. " Kata bu Sari di belakangku
"Mas... Ayo pulang mas.. Faiz nanyain abinya.. " Kepalaku berat, ku letakkan di dada bidang mas Praja berharap masih ada keajaiban Alloh di jantungnya. "Hiks.. Hiks... Hiks.. Jangan tinggalin aku dan anak-anak mas.. Ya Allah tolong mas Praja.. Bu Sari bawa mas Praja ke rumah sakit.. Pak polisi ayo bawa mas Praja.. " Teriak ku, Aku menarik tangan bu Sari namun mereka hanya diam. Hingga mataku terasa berat.
********************
Tangis Kayla membangunkanku, "abi.. Abi.. " Kata Kayla masih terpejam. Ah pasti ini mimpi, ku susui Kayla agar lelap lagi. Ku lihat sekitar jam menunjuk pukul 2 dini hari, Faiz masih tidur nyenyak tunggu kemana mas Praja. Jantungku mulai maraton, ada tubuh meringkuk dengan selimut mas Praja namun rambut panjangnya terjuntai, Nayla. Kenapa Nayla di sini, kemana mas Praja?? Astaghfirullah apakah tadi bukan mimpi?
Ku buka pintu perlahan, ada pak Sobri dan entah siapa tertutup sarung meringkuk kedinginan tertidur di depan rumah. Ya Allah kuatkan hamba, jika benar ini kenyataan apa yang harus ku katakan. Ku putuskan berwudhu dan ku ingat belum menunaikan sholat isya' dan tahajud. Dingin nya gemericik air tak mampu membasuh air mata ini yang terus mengalir, sudah sekian kali ku usap namun ada lagi. Ku gelar sajadahku di samping Nayla tidur, ia anak bu Sari dan pak Sobri, ia guru SD kelas 1 yang sangat perhatian dengan anak-anak. Mungkin karena khawatir ia tidur disini. Ku angkat tanganku, "Allahu Akbar"
********************************
Jam sudah menunjukan pukul 4 dini, aku tertidur lagi. Astafirullah, masih dengan mukena. Kayla mengeliat mendengar adzan, ku hampirinya dan ku susui seperti biasanya. Biasa hanya sekali atau dua kali Kayla menyusu, setelahnya ku bereskan baju dan kain terkena ompol. Rutinitas ku biasa mencuci lalu mandi dan sholat subuh. Nayla bangun dan mendekatiku.
"Mbak Siti biar ku uruskan semuanya, mbak fokus ke anak-anak saja. Ikhlaskan mas Praja mbak agar lapang kuburnya. " Kata Nayla menenangkan ku sambil memeluk erat
Aku tak mampu berkata, hanya mengangguk. "Jenazah ada di RS Polri, abah sudah uruskan. Menurut kesaksian warga sekitar mas Praja motor melaju ke arah pulang lalu tiba-tiba mogok di tengah jalan sedangkan mobil dari belakang melaju dengan sangat kencang meski sempat mengerem namun sia-sia. Motor dan Tubuh nya terpelanting 2 meter menabrak tiang. Mas Praja meninggal di tempat sedangkan 2 orang di dalam mobil mengalami luka-luka. " Ujar Nayla
"Innalillahi Wa innaillahi roji'un, kata terakhir mas Praja Nayla.. Hiks.. Hiks.. Aku akan menjaga anak-anak kita mas, terimakasih untuk semuanya" Nayla lagi-lagi menguat kan ku, ia mengenggam tanganku erat.
"Mbak harus kuat demi Faiz dan Kayla. Ini ada makanan untukmu mbak dan anak-anak dari warga sekitar tadi yang sudah takziah. "
"Terimakasih Nayla, InsyaAllah"
"Nayla pamit dulu ya mbak mau urus semuanya, siapa nama lengkap mas Praja mbak?? "
"Praja Hadi Kusuma, untuk nama keluarga mbak gak ingat, nanti di isi namaku, Faiz Fadillah dan Kayla Nisa. " Aku memang hanya sekali bertemu dengan orang tua mas Praja saat minta restu. Mereka lebih memilih membuang nama anaknya dari keluarga nya daripada bermenantu orang tak berpunya.
"Nayla pamit ya mbak, assalamu'alaikum. "
"Waalaikumsalam" Seperginya Nayla Faiz menggeliat bangun.
"Alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin nusyulll. Aamiin" Suara Faiz
"Ummi abi kemana?? Biasa Faiz di bangunkan subuh terus Faiz tidul di pangku abi sambil mengaji. " Tanya Faiz
Nayla menoleh ke arah ku, " Abi... Abi sudah pergi nak.. " Jawabku
" Kok tumben pagi-pagi mi?? Aku pengen celita pas ngaji kemalen di beli hadiah sama ustadz Sobli." Katanya penuh semangat
Bagaimana aku menjelaskan pada mereka yang masih kecil ini. "Ummi kok malah nangis sih.. "
"Gak papa.. Oya Faiz pernah dengar abi cerita surga kan?? Bagaimana kalau abi sekarang berada di surga. "
"Kenapa gak ajak Faiz mi, Faiz pengen lihat sulga. Tapi kata abi kayaknya kudu mati dulu deh mi. "
"Semua yang hidup juga akan mati sayang, Alloh lebih sayang abi. Faiz harus ikhlas ya.. "
"Abi... Abi.. Huaaaaaaa... Huaaaaaa... " Kayla bangun memanggil abinya, tangisannya pecah.
Ku gendong Kayla dan ku peluk, " Kesini anak-anak yang sholeh, dengarkan ummi.. Allah lebih sayang abi, jadi abi sekarang istirahat dulu di tempat lain sebelum ke surga. Faiz dan Kayla nanti hantar tempat tidur abi ya.. " Sambil ku kecup lembut kedua kening mereka.
Tangis mereka berdua pecah.. Huaaaaa... Huaaaa ku peluk erat meraka di pangkuanku sambil melantunkan yasin di bibirku.
*************************
Pemakaman telah usai, pak Sobri dan bu Sari melarang ku menghantar sampai ke liang kubur. Takut tangisku dan anak-anak akan jadi pemberat mas Praja. 3 hari acara tahlilan dilakukan di rumah pak Sobri yang memang tetangga sebelah rumahku, 3 hari juga Kayla selalu menangis setiap selesai maghrib sedangkan Faiz lebih banyak diam tak seperti biasa. Nayla selalu menemani Faiz dan menghibur nya. Malam ini menjadi malam yang panjang karena Kayla terus setiap bangun akan memanggil abinya sambil menangis histeris, baru jam 2 Kayla benar-benar terlelap nyenyak.
Pagi ini ku terbangun kesiangan, ku tengok Nayla sudah tidak berada disamping Faiz. Astaghfirullah ini sudah jam 6 pagi, beruntung aku baru datang bulan. Tiba-tiba suara ketukan pintu dengan kasar membangunkan Faiz. Tok... Tok.. Tok... "Buka pintunya"
Beruntung Kayla masih pulas, "Faiz di sini saja jaga dedek biar ummi yang buka pintunya ya!!! " Pintaku. Faiz mengangguk, ku sambar kerudung yang menggantung di paku pintu depan. Ku. Sembulkan kepalaku seperti biasanya, terlihat 3 orang laki-laki bertubuh kekar penuh tato.
"Ada apa ya?? "
"Ini rumah Praja kan?? Cepat bayar hutang.. Meski sudah mati bukannya hutang itu wajib di bayar??" Kata lelaki berambut panjang setengah berteriak. Aku pun memutuskan keluar rumah dan menutup pintu agar anak-anak tidak mendengarnya.
"Iya ini rumah mas Praja. "
"Lihat video ini. " Kata lelaki yang lain yang di penuhi tato di wajahnya sambil menyerahkan HP. Terlihat mas Praja di di pegang kedua tangannya oleh lelaki berambut panjang. Wajahnya sudah babak belur.
"Aku akan membayar hutang ku bang Satria tolong beri aku waktu" Kata mas Praja
"Sampai kapan hah?? Semenjak menikah setoranmu terus berkurang. Ini sudah 2 tahun kau hanya bisa membayar 2 juta, hutang mu itu 20 juta?? Mau kau cicil sampai kapan?? " Kata bang Satria sambil memukul perut mas Praja. "Ahhh... " Mas Praja jatuh ke tanah tak mampu menahan tubuhnya lagi.
"Ingat Praja jika kau tak mampu membayar anak dan istrimu dalam bahaya."
Video berhenti sampai di situ. Pantas saja mas Praja pernah pulang dalam keadaan babak belur saat Faiz masih kecil, ketika ku tanya ia hanya berkata di hajar preman.
"Maaf tuan, hutang sebanyak itu buat apa suami saya?? "
"Sebelum menikah denganmu ia sudah banyak kalah j**i, dan hanya mampu menyicil. Beruntung aku ini sangat baik 3 tahun tak ku usik kalian. Sekarang bayar lunas hutang suamimu jika ia ingin suamimu tak gentayangan. " Kata bang Satria.
"Tapi uang sebanyak itu saya tak punya bang. " Kataku, lenganku di tarik begitu saja sehingga tubuhku terpelanting di lantai.
Terima kasih banyak yang sudah subscribe.. Jangan lupa beri ulasannya.. Dan saling support..
Anda Mungkin Juga Suka





