
Menikahi Suster Cantik
Bab 2
"Kan Irfan sudah mau disuntik, ini buat Irfan." Brian memberi satu permen ke Irfan.
"Tapi janji jangan makan permen banyak-banyak okey. Habis makan harus sikat gigi."
"Siap Dok!"
Brian tersenyum lebar, lalu melirik Betha yang sedang meringkas obat yang di tas tadi.
Mereka keluar dari ruangan pasien setelah sudah melihat kondisi semuanya.
"Terimakasih Dok," ucapnya sambil menunduk. Tangannya tidak bisa diam.
Brian tersenyum, sekilas melirik Betha. "Tidak masalah, lagian itu sudah kewajibanku."
Betha hanya tersenyum, lalu menganguk pelan.
"Kau sudah makan?"
Betha menggelengkan kepalnya dengan pelan. "Belum Dok, nanti saya akan makan setelah menjenguk keluargaku di sini."
"Jadi, keluargamu ada di sini juga?" tanya Brian dengan antusias.
Betha menganguk kecil. "Iya ponakan kecilku hehehe ...." jawabnya dengan kekehan kecilnya.
"Yaudah, kalau begitu saya antar saja, bagaimana?"
"E-eh ... Ti-tidak usah Dok. Biar saya sendiri."
"Sudahlah tidak papa, sekalian kenalan biar bisa deket sama keluargamu."
Blush. Pipi Betha memerah. Mau tidak mau dia mengiyakan ucapannya.
***
Betha masuk ke dalam ruangan, di dalam sana terdapat Mama Soraya, selaku Mama kandung Betha dan juga ponakan kecilnya yang masih berumur 4 tahun, bernama Rey.
"Kak Betha! Rey mau pulang." Rey berteriak histeris ketika Betha masuk ke dalam ruangannya.
"Loh? Kok mau pulang? Demamnya Rey kan belum turun."
Betha memegang kening Rey dengan lembut.
"Besok saja ya pulangnya."
"Betha, masa dia tidak boleh balik sekarang? Dia sepertinya sudah tidak betah disini."
"Ya, tidak bisa Ma. Kalau dia pulang, pasti demamnya naik lagi. Kasian kan kalau ngeluarin uang lagi nanti. Mamanya di mana?"
"Heumm ... Barusan dia pulang, Mama gantian sama dia."
Betha menganguk mengerti, ia melirik Brian yang sedang bermain tangan dengan Rey. Dari kapan pria itu akrab dengan ponakannya, sekilas ia mendengus kesal.
"Tante sepertinya Rey kurang hiburan. Bagaimana kalau nanti saya ajak dia keluar." Brian angkat bicara.
"Tidak usah Dok, Dokter juga sedang sibuk. Saya tidak mau merepotkan."
"Rey mau jalan-jalan ...." rengeknya.
Soraya menghela napasnya. "Sama Mama saja nanti ya."
"Tidak mau, maunya sama Dokter."
"Rey tidak boleh ganggu Dokter Brian kerja," ucap Betha tidak dengan tatapan tajam, ia melirik Brian sekilas.
"Tidak apa-apa. Nanti saya akan kesini, nanti jangan tidur ya. Dokter bakalan ajak Rey jalan-jalan." Brian mengusap lembut rambut Rey, Rey hanya tersenyum.
"Sekarang istrihat dulu, biar nanti bisa jalan-jalan."
"Siap Dokter!"
***
Dokter Brian kini masih di lobi untuk menunggu Betha. Biasanya dia cepat untuk kembali di meja kerjanya, tapi kenapa sekarang lama? Apa Betha sengaja merencanakan ini untuk menghindarinya?
Pria itu melirik jam jam tangannya, sesekali dia melirik bekal makanan yang sudah disediakan khusus Betha. Ia menghela napasnya sesekali.
"Kenapa dia lama ya?" gumam Brian sambil melirik pintu masuknya.
"Apa dia masih menjenguk keluarganya? Apa aku harus ke sana?" tanyanya pada diri sendiri. Dia menggelengkan kepalanya.
"Ah, tidak nanti aku mengganggunya," gumam Brian, dia memutuskan untuk menunggu di meja kerja Betha.
Dia terus menunggu selama 15 menit, sesekali melirik jam tangan lagi. "Kenapa dia belum datang juga?" dengusnya.
Brian memutuskan untuk mencari Betha sekarang. Dia menelusuri koridor rumah sakit.
Terdapat dua orang saling bicara, sepertinya wanita itu bersama kekasihnya. Ah yang benar saja, masih sempatnya Betha masih berbicara dengan calon Suaminya.
Brian melangkah mendekat kearah mereka.
"Ehm! ... Nona Betha? Apa kau lupa sama jam kerja?" ucapnya sambil menatap Betha, sepasang kekasih itu menoleh menhadap Brian.
"Ah, maaf Dokter Brian, tadi ada urusan sedikit."
"Urusan? Urusan apa heum? Apa kau lupa kau sekarang sedang bekerja?" ucapnya dengan senyum evilnya.
Astaga ... makhluk macam apa Dokter Brian ini. Batin Betha sambil menahan gertakannya.
"Habis ini, aku akan kembali Dok. Cuma minta waktu sebentar," ucap wanita itu dengan sopan.
"Sudahlah Betha. Sepertinya aku harus balik. Nanti saja kalau kau sudah selesai kerja," ucap Robi dengan sangat lembut.
"Tidak apa-apa nih? Aku tidak enak denganmu."
"Tidak apa-apa lanjutin kerjanya oke!"
Betha tersenyum kecil, kekasihnya itu melangkah pergi dari hadapannya.
"Kekasihmu?"
Betha cuma menganguk, lalu melangkah duluan tanpa menggubris dokter Brian.
"Kenapa kau tidak putus saja dengan dia?"
"Tidak usah aneh-aneh Dok. Aku sama dia mau menikah!" ucapnya dengan nada kesal dan juga mempertegas secara langsung.
"Kan bisa dibatalkan sekarang."
Betha tidak merespon, dia berkutik dikomputernya. Brian mengambil kotak nasi untuknya.
"Makanlah, kau pasti lapar."
Betha melirik makanan sekilas, lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak nafsu makan."
"Ayolah, apa kau mau aku suapin?"
Anda Mungkin Juga Suka





