Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menikahi Duda Arogan

Menikahi Duda Arogan

Pasca berpisah dari Adam, Melati terpaksa memulai lembaran baru dengan menikahi seorang duda angkuh yang telah memiliki anak. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan karena desakan kuat dari ibu dan putra pria tersebut. Kehadiran Melati membawa perubahan besar dalam keseharian Andi yang selama ini terasa kaku dan monoton. Kini, dinamika hidup sang duda arogan pun berubah total saat ia harus beradaptasi dengan sosok istri barunya di rumah.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi itu, mentari menyusup lembut melalui celah tirai, membangunkan Melati dengan sinarnya yang hangat. Ia menggeliat, merasakan sisa-sisa mimpi semalam yang samar. Ketika matanya terbuka sepenuhnya, ia tersenyum tipis. Tidak ada lagi rasa hampa yang mencekik di dadanya seperti dulu. Kini, ada Rara, gadis kecil yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya. Dan ada Andi, pria dingin yang perlahan-lahan mulai menunjukkan retakan di dinding arogansinya.

Sejak insiden Rara sakit, suasana di rumah besar itu memang sedikit berubah. Keheningan masih sering mendominasi, tetapi bukan lagi keheningan yang kaku dan mencekam. Ada lebih banyak senyum tipis dari Andi, lebih banyak tatapan mata yang sedikit lebih hangat. Bahkan, terkadang ia akan mengangguk atau memberikan respons singkat ketika Melati mencoba mengajaknya bicara. Perubahan kecil, tetapi bagi Melati, itu adalah sebuah kemajuan.

Melati bangkit dari tempat tidur. Ia memutuskan untuk mencoba sesuatu yang baru pagi ini. Ia ingin membuat sarapan spesial untuk Rara dan Andi. Saat ia sibuk di dapur, suara langkah kaki kecil terdengar menuruni tangga. Rara muncul dengan rambut acak-acakan dan mata setengah terpejam.

"Pagi, Ibu Melati," sapa Rara dengan suara serak khas anak bangun tidur. Ia mengucek matanya.

Melati tersenyum. "Pagi, sayang. Sudah bangun? Mau sarapan apa hari ini?"

"Roti panggang!" seru Rara, matanya langsung berbinar. "Yang ada selai cokelatnya!"

Melati tertawa. "Siap, Bos kecil!" Ia menyiapkan roti panggang dengan taburan meses cokelat kesukaan Rara. Tak lama kemudian, Andi juga muncul, sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ia berhenti sejenak di ambang pintu dapur, memperhatikan pemandangan di depannya. Melati, dengan celemeknya, sedang membimbing Rara mengoles selai cokelat di roti mereka. Ada tawa kecil dari Rara, dan senyum lembut di bibir Melati.

"Pagi, Andi," sapa Melati.

Andi hanya mengangguk, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya. Sedikit lebih lama, sedikit lebih dalam, seolah mengamati. Ia duduk di meja makan, mengambil cangkir kopi yang sudah disiapkan Melati.

"Roti panggang buatan Ibu Melati enak!" seru Rara, mulutnya belepotan cokelat.

Andi melirik ke arah Melati, dan Melati bersumpah ia melihat gurat senyum tipis di sudut bibirnya. Andi tidak pernah tersenyum lebar, setidaknya tidak di depan Melati. Senyumnya selalu samar, nyaris tak terlihat, seperti embun pagi yang akan hilang diterpa matahari.

Setelah sarapan, Andi berpamitan pergi bekerja. "Aku akan pulang sedikit terlambat malam ini. Ada pertemuan penting."

Melati mengangguk. "Hati-hati di jalan."

Seharian itu, Melati menghabiskan waktunya dengan Rara. Mereka pergi ke taman, bermain ayunan dan perosotan, lalu melanjutkan dengan mewarnai di rumah. Melati menyadari bahwa kebahagiaan Rara menjadi kebahagiaannya juga. Ada kelegaan yang ia rasakan ketika melihat senyum lebar di wajah Rara, melihat gadis kecil itu mulai terbuka padanya. Rara mulai memanggilnya "Ibu Melati" dengan penuh kasih sayang, bukan lagi sekadar sapaan formal.

Malam harinya, setelah Rara tidur, Melati duduk di ruang keluarga, ditemani secangkir teh hangat dan sebuah buku. Sudah jam sebelas malam, dan Andi belum juga pulang. Biasanya, ia tidak terlalu mempedulikan kapan Andi pulang. Tetapi malam ini, ia merasa sedikit... khawatir. Atau mungkin, ia hanya kesepian.

Denting jam dinding terasa begitu nyaring dalam keheningan rumah. Melati meraih ponselnya, ragu-ragu apakah ia harus mengirim pesan pada Andi. Ia menunda, kemudian memutuskan untuk tidak melakukannya. Ia tidak ingin terlihat seperti istri yang posesif atau terlalu peduli, padahal hubungan mereka baru sebatas ini.

Pukul dua belas malam, terdengar suara mobil memasuki halaman. Melati segera menutup bukunya, jantungnya sedikit berdebar. Andi masuk ke dalam rumah, tampak lelah. Kemejanya sedikit kusut, dasinya longgar.

"Kau belum tidur?" tanya Andi, suaranya sedikit serak.

"Belum. Menunggumu pulang," jawab Melati, kemudian ia merutuki dirinya sendiri. Mengapa ia mengatakan itu? Tentu saja ia tidak menunggunya. Ia hanya kebetulan belum tidur.

Andi mengangkat alisnya sedikit, tampak terkejut dengan jawaban Melati. "Ada apa?"

"Tidak ada," Melati buru-buru meralat. "Aku... aku sedang membaca. Tapi sudah terlalu malam, jadi aku ingin tidur."

Andi hanya mengangguk, lalu berjalan menuju tangga. Namun, sebelum ia melangkah naik, ia berbalik. "Terima kasih."

Melati mengerutkan kening. "Untuk apa?"

"Untuk menunggu." Suara Andi pelan, tetapi jelas. Ia kemudian naik ke kamarnya, meninggalkan Melati yang mematung di ruang keluarga. Jantungnya berdetak lebih cepat. Terima kasih untuk menunggu? Apakah itu berarti ia tidak keberatan Melati menunggunya? Atau itu hanya basa-basi? Melati tidak tahu. Yang jelas, percakapan singkat itu meninggalkan jejak di benaknya.

Beberapa hari berikutnya, interaksi mereka terasa sedikit lebih nyaman. Andi mulai bertanya tentang hari Melati, tentang kegiatan Rara. Meskipun hanya pertanyaan singkat, Melati merasakan adanya keinginan dari Andi untuk terhubung.

Suatu sore, Rara datang menghampiri Melati dengan wajah cemberut. "Ibu Melati, Ayah tidak mau main puzzle denganku."

Melati menghela napas. Andi memang tidak pandai berinteraksi dengan anak-anak, terutama dalam hal bermain. Ia selalu terlihat canggung dan kaku. "Ayahmu sibuk, sayang," kata Melati lembut.

"Tapi aku ingin main sama Ayah!" rengek Rara.

Melati memandangi Rara, lalu ide muncul di benaknya. "Bagaimana kalau kita membuat kue untuk Ayah? Ayah pasti senang."

Mata Rara langsung berbinar. "Mau! Mau!"

Melati dan Rara menghabiskan sore itu di dapur, membuat kue cokelat. Dapur yang biasanya sunyi, kini dipenuhi tawa riang Rara dan aroma manis kue yang baru dipanggang. Melati membiarkan Rara mengaduk adonan, menaburkan meses, bahkan membiarkannya menjilati sisa adonan di sendok. Mereka berdua berantakan dengan tepung dan cokelat, tetapi kebahagiaan terpancar jelas dari wajah Rara.

Ketika Andi pulang, ia terkejut melihat dapur yang sedikit berantakan, dan Rara yang berlumuran cokelat.

"Ayah! Kami membuat kue untuk Ayah!" seru Rara, berlari memeluk kaki ayahnya.

Andi melirik ke arah Melati, dan Melati hanya mengangkat bahu sambil tersenyum. "Ide Rara."

Andi mencicipi kue itu. Ekspresinya seperti biasa, datar. "Enak," katanya singkat. Namun, Melati melihat bahwa ia mengambil potongan kue yang lebih besar, dan bahkan memakannya hingga habis. Sebuah kemenangan kecil bagi Melati.

Malam itu, saat Melati sedang membereskan dapur, Andi datang menghampirinya. "Terima kasih," katanya lagi.

Melati menoleh. "Untuk apa?"

"Untuk Rara. Kau... kau membuat dia bahagia."

Melati merasakan kehangatan di dadanya. "Itu sudah tugasku, Andi."

Andi terdiam sejenak, lalu ia berkata, "Kau tidak perlu melakukan semua ini. Aku bisa menyewa pengasuh atau koki."

Melati menggeleng. "Aku tidak ingin. Aku ingin merawat Rara. Dan aku suka memasak."

Ada keheningan di antara mereka. Melati bisa merasakan tatapan mata Andi yang menyelidik. "Kau... kenapa kau mau menikah denganku, Melati?" tanya Andi, suaranya pelan, nyaris berbisik.

Melati terkejut. Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba, begitu lugas. Ia tidak pernah berpikir Andi akan menanyakan hal itu. Ia bisa saja berbohong, mengatakan ia tertarik, atau semacamnya. Tapi ia memutuskan untuk jujur.

"Ibuku membujukku," jawab Melati pelan. "Dan... dan aku merasa kasihan pada Rara. Dia membutuhkan seorang ibu."

Andi mengangguk, ekspresinya tidak berubah. "Dan tidak ada alasan lain?"

Melati menatap mata Andi. Ia melihat kilatan rasa ingin tahu yang samar di sana. "Tidak ada," jawabnya jujur. "Setidaknya, saat itu."

Andi tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya menatap Melati beberapa saat, lalu berbalik dan kembali ke ruang kerjanya. Melati tidak tahu harus merasa senang atau sedih dengan kejujurannya itu. Apakah Andi kecewa? Atau justru menghargai kejujurannya?

Meskipun pernikahan mereka dimulai tanpa cinta, Melati mulai merasakan sesuatu yang tumbuh di antara mereka. Bukan cinta romantis, setidaknya belum, tetapi semacam ikatan, semacam rasa saling menghargai. Andi mulai menunjukkan sisi dirinya yang berbeda, bukan lagi sekadar sosok kaku dan arogan. Ia mulai melihat Melati sebagai individu, bukan hanya sebagai ibu tiri untuk putrinya.

Suatu hari, Melati sedang berbelanja kebutuhan rumah tangga di supermarket. Ia tidak sengaja bertemu dengan mantan rekan kerjanya, Dini.

"Melati! Apa kabar? Lama tidak bertemu!" seru Dini, memeluk Melati erat.

"Baik, Dini. Kau sendiri?"

Mereka bercerita tentang kehidupan masing-masing. Ketika Dini bertanya tentang pernikahannya, Melati merasa sedikit ragu.

"Aku... aku sudah menikah lagi," kata Melati.

"Wah, selamat! Dengan siapa? Kapan?" tanya Dini antusias.

"Dengan... Andi. Pernikahan kami sederhana saja," jawab Melati.

Dini mengerutkan kening. "Andi? Andi yang mana?"

"Andi... Andi Wijaya," kata Melati, menyebut nama lengkap Andi.

Mata Dini membelalak. "Andi Wijaya?! Pemilik Perusahaan Properti Wijaya Group itu? Ya Tuhan, Melati! Kau benar-benar beruntung! Dia itu CEO muda yang sangat sukses dan... sangat tertutup."

Melati hanya tersenyum tipis. "Ya, dia memang begitu."

"Tapi kudengar dia duda beranak satu, ya? Bagaimana dengan anaknya?"

"Anaknya perempuan, namanya Rara. Dia gadis yang manis," jawab Melati, hatinya menghangat saat membicarakan Rara.

Percakapan dengan Dini membuat Melati merenung. Ia tahu Andi adalah pengusaha sukses, tetapi ia tidak pernah benar-benar memikirkannya. Baginya, Andi hanyalah seorang pria yang menjadi suaminya karena paksaan keadaan. Namun, mendengar betapa dihormati dan suksesnya Andi di mata orang lain, membuat Melati melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Andi memang seorang workaholic. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor, tetapi ketika ia di rumah, ia berusaha untuk tidak mengabaikan Rara. Ia mulai menghabiskan waktu bermain dengan Rara, meskipun ia masih terlihat canggung. Melati sering tersenyum melihat Andi mencoba membangun balok lego atau menggambar bersama Rara, dengan wajah seriusnya.

Suatu malam, Rara demam lagi. Kali ini tidak terlalu parah, tetapi Melati tetap khawatir. Andi baru saja pulang dari perjalanan bisnis. Ia segera duduk di samping tempat tidur Rara, mengusap kepala putrinya dengan lembut.

"Bagaimana keadaannya, Melati?" tanyanya, suaranya dipenuhi kekhawatiran.

"Demamnya tidak terlalu tinggi, tapi dia rewel," jawab Melati. "Mungkin karena kecapekan."

Andi mengangguk. Ia memegang tangan Rara. "Cepat sembuh, Sayang."

Melihat interaksi antara Andi dan Rara, Melati menyadari betapa besar cinta Andi untuk putrinya. Ia adalah ayah yang sangat peduli, meskipun ia tidak pandai menunjukkannya dengan kata-kata.

Keesokan harinya, Rara sudah pulih sepenuhnya. Melati memutuskan untuk mengajak Rara pergi ke kebun binatang. Saat ia memberitahu Andi, ia tidak berharap Andi ikut.

"Kita mau ke kebun binatang hari ini, Andi," kata Melati saat sarapan.

Andi mengangkat kepalanya dari koran. "Sendirian?"

Melati mengangguk. "Ya."

"Aku akan ikut," kata Andi tiba-tiba.

Melati terkejut. "Kau? Tapi kau ada pekerjaan, kan?"

"Bisa ditunda," jawab Andi, lalu kembali membaca korannya.

Melati merasa sedikit senang. Ini adalah pertama kalinya Andi secara sukarela ingin ikut dalam kegiatan mereka.

Perjalanan ke kebun binatang adalah pengalaman yang tak terduga. Andi, yang biasanya kaku, tampak lebih santai. Ia bahkan tersenyum saat melihat Rara tertawa riang melihat monyet-monyet. Melati melihat Andi membantu Rara menaiki pundaknya agar bisa melihat jerapah dengan lebih jelas. Ada tawa yang lepas dari Rara, dan senyum tipis di bibir Andi.

Saat makan siang di area kebun binatang, Melati melihat Andi memperhatikan Rara yang sedang asyik makan es krim. Ada sorot lembut di mata Andi, sorot yang belum pernah Melati lihat sebelumnya.

"Kau... kau tampak bahagia, Andi," kata Melati pelan.

Andi menoleh, sedikit terkejut. "Aku... ya, aku bahagia melihat Rara bahagia."

Melati tersenyum. "Kau adalah ayah yang baik."

Andi tidak mengatakan apa-apa, tetapi ia tidak membantah. Ia hanya kembali memperhatikan Rara.

Seiring berjalannya waktu, Melati mulai melihat sisi lain dari Andi. Ia bukan hanya duda arogan yang kaku, tetapi juga seorang pria yang bertanggung jawab, pekerja keras, dan sangat mencintai putrinya. Ia memang tidak pandai mengungkapkan perasaannya, tetapi tindakannya berbicara lebih keras dari kata-kata. Ia mulai menyadari bahwa sikap dingin Andi mungkin adalah sebuah tameng, sebuah pertahanan diri setelah ia kehilangan istrinya.

Andi juga mulai memperhatikan Melati lebih dari sekadar ibu tiri Rara atau pengurus rumah tangga. Ia mulai melihat Melati sebagai wanita yang perhatian, sabar, dan penuh kasih sayang. Melati tidak pernah menuntut apa pun darinya, selalu fokus pada kebahagiaan Rara, dan mengelola rumah dengan sangat baik.

Suatu malam, Melati sedang menyiapkan makan malam. Ia tidak sengaja melukai jarinya dengan pisau. Darah menetes dari jarinya.

"Aduh!" Melati meringis.

Andi, yang baru saja pulang dari kantor, mendengar suara itu dan segera menghampiri dapur. Ia melihat Melati memegang jarinya yang berdarah.

"Kau kenapa?" tanyanya, nada suaranya sedikit panik.

Melati mengangkat jarinya. "Tidak sengaja terpotong."

Tanpa banyak bicara, Andi segera mengambil kotak P3K. Ia membersihkan luka Melati dengan hati-hati, lalu membalutnya dengan perban. Sentuhannya lembut, kontras dengan citra arogannya. Melati merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Kehangatan yang tidak terduga dari sentuhan Andi, membuat Melati merasa sedikit... nyaman.

"Terima kasih," kata Melati pelan.

Andi hanya mengangguk. Ia tidak menatap mata Melati, tetapi ia tidak segera melepaskan tangannya. Ada jeda singkat, beberapa detik yang terasa sangat panjang, sebelum ia melepaskan tangan Melati dan kembali ke ruang kerjanya.

Malam itu, Melati sulit tidur. Sentuhan Andi, tatapan khawatirnya, semua itu berputar di benaknya. Ia mulai menyadari bahwa perasaannya terhadap Andi mulai berubah. Bukan lagi sekadar rasa iba atau kewajiban, tetapi ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dalam, lebih kompleks.

Esok harinya, Melati memutuskan untuk mencoba berbicara lebih banyak dengan Andi. Ia ingin lebih mengenalnya, memahami apa yang ada di balik dinding es itu. Saat sarapan, ia mencoba memulai percakapan.

"Andi, boleh aku tahu... bagaimana dengan istrimu yang dulu?" tanya Melati pelan.

Andi terdiam, garpunya berhenti di udara. Ekspresinya mengeras. "Kenapa kau bertanya?"

"Aku... aku hanya ingin tahu," jawab Melati jujur. "Aku tahu itu bagian dari masa lalumu, dan aku ingin mengerti."

Andi menghela napas panjang. "Namanya Karina. Dia... meninggal karena sakit setahun yang lalu." Suaranya terdengar berat, penuh kesedihan yang terpendam. "Kami sudah menikah selama lima tahun. Rara lahir setahun setelah pernikahan kami."

Melati merasakan gelombang simpati yang kuat. Ia tidak tahu bahwa Andi telah melalui kehilangan yang begitu besar. Ia selalu berpikir Andi hanya pria arogan yang kaku, tetapi ia lupa bahwa di balik semua itu, ada seorang pria yang juga terluka dan berduka.

"Aku turut berduka, Andi," kata Melati tulus. "Aku tidak tahu."

Andi hanya mengangguk. Ia tidak menambahkan apa-apa lagi, tetapi Melati bisa melihat kesedihan yang mendalam di matanya. Malam itu, untuk pertama kalinya, Melati merasakan koneksi yang lebih dalam dengan Andi, sebuah koneksi yang dibangun di atas rasa sakit dan kehilangan yang sama-sama mereka rasakan.

Sejak saat itu, Melati mulai lebih memahami mengapa Andi begitu tertutup dan kaku. Ia adalah seorang pria yang mencoba melindungi dirinya dari rasa sakit lebih lanjut. Ia adalah seorang ayah yang berjuang untuk membesarkan putrinya sendirian, sambil bergelut dengan kesedihan atas kehilangan pasangannya.

Melati memutuskan untuk lebih sabar. Ia akan terus mencoba menjangkau Andi, selangkah demi selangkah, menunjukkan kepadanya bahwa tidak semua orang akan meninggalkannya, bahwa ada kehangatan yang bisa ia temukan lagi.

Ia mulai memasak hidangan favorit Andi yang ia ketahui dari Tante Dewi. Ia menyiapkan kopi di pagi hari sesuai selera Andi. Ia bahkan mulai meninggalkan catatan kecil di meja kerjanya, berisi pesan penyemangat atau sekadar ucapan terima kasih. Hal-hal kecil, tetapi ia berharap itu bisa membuat Andi merasa sedikit lebih diperhatikan.

Andi tidak selalu merespons. Kadang, ia hanya mengangguk. Kadang, ia hanya memberikan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Tetapi Melati tidak menyerah. Ia tahu bahwa perubahan membutuhkan waktu, terutama untuk hati yang telah lama membeku.

Suatu malam, saat Rara sudah tidur, Melati duduk di ruang keluarga, ditemani oleh segelas anggur dan sebuah majalah. Andi baru saja selesai dengan pekerjaannya dan bergabung dengannya. Ia duduk di kursi seberang, membuka laptopnya, tetapi tidak langsung bekerja.

"Bagaimana harimu?" tanya Andi, memecah keheningan.

Melati terkejut. Biasanya, ia yang memulai percakapan. "Cukup baik. Aku mengajak Rara membuat prakarya dari kertas."

Andi mengangguk. "Rara sering bercerita tentangmu."

Melati tersenyum. "Benarkah?"

"Ya. Dia bilang kau ibu yang baik."

Hati Melati menghangat. Pujian itu, datang dari Andi, terasa sangat berarti. "Terima kasih," katanya tulus.

"Seharusnya aku yang berterima kasih," kata Andi, akhirnya menatap mata Melati. "Kau... kau adalah berkah bagi Rara. Dan... bagiku."

Kata-kata itu membuat Melati terdiam. Andi tidak pernah mengungkapkan perasaannya secara langsung seperti itu. "Aku senang bisa membantu," jawab Melati, pipinya sedikit merona.

Andi tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya menatap Melati, tatapannya lembut, penuh dengan rasa syukur. Malam itu, di tengah keheningan ruang keluarga, Melati merasa ada sesuatu yang bergeser. Dinding es itu, yang dulu begitu kokoh, kini terasa semakin retak. Dan di balik retakan itu, Melati bisa melihat secercah harapan, secercah kemungkinan untuk sebuah ikatan yang lebih dalam, lebih berarti, yang tidak pernah ia duga akan ia temukan dalam pernikahan yang dimulai karena paksaan ini. Babak baru telah dimulai, dan Melati siap untuk menghadapinya, dengan segala ketidakpastian dan kejutan yang mungkin datang.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anakku Menjadi Saksi Mata Perselingkuhan Suamiku
9.1
Kehidupan Nayla yang awalnya terasa sempurna seketika hancur berkeping-keping. Lewat kepolosan Cahaya, sang putri kecil, sebuah perselingkuhan yang dilakukan suaminya dengan Rosa terungkap secara tidak sengaja. Kesaksian jujur dari anaknya tentang kejadian di balik pintu kamar yang terkunci menjadi awal dari penderitaan yang tak terbayangkan. Kini, Nayla harus memilih antara bertahan atau merelakan semuanya. Sanggupkah ia menghadapi pengkhianatan ini dengan tegar?
Sampul Novel Antara Aku, Kau dan Ibu Tiriku
9.6
Ibu tiriku menikah dengan ayah 8 tahun lalu, dia dari keluarga yang sangat kaya, entah mengapa dia bisa menikah dengan Ayah yang pekerjaannya hanya bermain wanita dan menikahi yang dia sukai, tetapi Ayahku memang terlihat tampan, dengan badan yang kekar dan aura wajah yang sangar, mungkin itu menjadi daya pikatnya terhadap wanita-wanita, entahlah, aku tidak begitu jelas, dan Ayah pun jarang pulang. dia tidak berada di rumah selama berhari-hari dan tidak tahu cara mengurus keluarga. Aku hanya tinggal berdua dengan Ibu tiriku, aku di anggap anaknya sendiri, tetapi kebiasaan Ibu berpakaian Sexy sangat menggangguku. AKu menyukai seorang gadis, dia teman SMA ku dulu, Nama nya Rania. AKu sangat menyukainya, tetapi Ibu tiriku?...
Sampul Novel Ayahku Menikahi Pelakor
9.1
Elvira harus merelakan kehidupan glamornya usai perceraian pahit kedua orang tuanya. Ia memilih tinggal bersama Miranda, ibunya yang terluka, sementara sang ayah hidup mewah dengan wanita yang menghancurkan keluarga mereka. Dari sosialita manja, kini Lia harus berjuang hidup sederhana di pinggiran kota. Bersama pelayan setia, Mbok Rini, ia belajar memasak dan berjualan kue. Di tengah kesulitan ekonomi, Lia justru menemukan arti kebahagiaan sejati yang tak terbeli.
Sampul Novel Azalea
7.8
Hubungan Amar dan Azalea yang semula indah berubah menjadi luka pahit. Kenangan mereka kini hanyalah beban yang memicu amarah, terutama setelah perpisahan yang menghancurkan segalanya. Namun, waktu membawa perubahan saat Arhan hadir di hidup Azalea. Bersama Arhan, ia mulai memahami makna baru tentang cinta dan takdir. Akankah masa lalu yang kelam terhapuskan oleh kehadiran Arhan? Inilah perjalanan emosional Azalea dalam menemukan arti ketulusan sejati.
Sampul Novel Jangan Sentuh Hatiku, Jika Tak Bisa Memiliki
9.6
Nayara adalah staf administrasi cantik yang tetap rendah hati meski tampil modis di sebuah perusahaan besar Jakarta. Kehidupannya bersinggungan dengan Leonardo Arvandre, miliarder muda keturunan Prancis-Indonesia sekaligus pewaris tunggal Arvandre Global Corporation. Sejak pertemuan pertama mereka tiga tahun lalu, keduanya terjerat dalam hubungan yang rumit. Kini mereka terjebak antara perasaan cinta, harga diri, dan rahasia besar yang masih tersimpan rapat.
Sampul Novel KAMINI (Wanita Penuh Kasih Sayang)
9.4
Kamini Citra Kirana diusir oleh Dirandra Ekadanta setelah melahirkan anak untuk suami dan istri pertamanya. Dibuang dengan kompensasi agar menjauh, Kamini pergi membawa rahasia besar yang menjadi kekuatannya untuk bangkit. Lima tahun berlalu, takdir membawanya kembali berhadapan dengan masa lalu dan keluarga besar yang pernah mencampakkannya. Bagaimana Kamini menghadapi situasi ini? Akankah rahasia yang ia simpan mengubah segalanya saat pertemuan itu terjadi?