
Menikahi Duda Arogan
Bab 3
Pagi itu, aroma kopi memenuhi dapur, bercampur dengan wangi roti bakar dan sedikit sentuhan vanila dari kue yang baru Melati buat semalam. Udara di rumah Andi terasa lebih hidup. Bukan hanya karena celotehan Rara yang riang, tetapi juga karena sebuah kehangatan yang perlahan-lahan merambat, menyingkirkan dinginnya kesepian yang dulu begitu pekat. Melati kini merasa bahwa ia tidak lagi sendirian. Ia memiliki Rara, dan ia juga memiliki Andi, meskipun hubungan mereka masih terjalin dalam benang-benang yang tak terucap.
Andi mulai sering muncul di dapur saat Melati menyiapkan sarapan. Ia tidak banyak bicara, hanya duduk di meja, membaca koran, atau sesekali melirik Melati yang sibuk. Tapi kehadiran itu sendiri sudah sangat berarti. Melati merasakan tatapan Andi yang kadang-kadang terhenti padanya, seolah mengamati, mencoba memahami.
Suatu sore, sepulang sekolah, Rara menghampiri Melati dengan wajah cemberut. "Ibu Melati, teman-temanku bilang mereka punya Ibu dan Ayah yang sama."
Melati berjongkok, menatap mata bulat Rara. "Memangnya kenapa, Sayang?"
"Mereka bilang aku tidak punya. Ibu Melati ibuku, tapi Ayahku bukan Ayah Ibu Melati," kata Rara polos, namun ada nada sedih dalam suaranya.
Hati Melati teriris. Ia tahu cepat atau lambat Rara akan menanyakan hal ini. "Rara sayang, Ibu Melati itu ibumu. Dan Ayahmu itu ayahmu. Kita semua keluarga sekarang, kan?"
"Tapi kenapa Ayah tidak tidur di kamar Ibu Melati?" Pertanyaan itu keluar begitu saja, membuat Melati tersentak. Rara memang pintar dan observatif.
Melati kebingungan mencari jawaban. Ia tidak bisa berbohong pada Rara. "Itu... itu urusan orang dewasa, Sayang. Yang penting, Ayah dan Ibu Melati sama-sama sayang sama Rara."
Rara masih tampak belum puas, tetapi ia mengangguk. Pertanyaan itu membuat Melati berpikir keras. Hubungannya dengan Andi memang tidak seperti pasangan suami istri pada umumnya. Mereka tinggal di rumah yang sama, makan di meja yang sama, merawat Rara bersama, tetapi ada dinding tak kasat mata yang memisahkan mereka.
Malam harinya, setelah Rara tidur, Melati duduk di ruang keluarga. Andi muncul tak lama kemudian, membawa setumpuk dokumen. Ia duduk di sofa seberang, menyalakan lampu baca, tetapi tidak langsung bekerja.
"Rara bertanya kenapa kita tidak tidur sekamar," kata Melati, memecah keheningan. Ia merasa canggung mengatakannya, tetapi ia tahu ini penting.
Andi mengangkat kepalanya, tatapannya dingin. "Kau memberitahunya apa?"
"Aku hanya bilang itu urusan orang dewasa. Aku tidak ingin dia merasa aneh atau berbeda," jawab Melati. "Tapi dia anak yang pintar, Andi. Cepat atau lambat dia akan mengerti bahwa kita... tidak seperti pasangan lainnya."
Andi terdiam, memandang ke depan dengan tatapan kosong. "Kau benar."
Ada jeda panjang. Melati memberanikan diri untuk melanjutkan. "Andi, kita harus membicarakan ini. Untuk Rara. Dan untuk kita juga."
Andi menghela napas panjang. "Aku... aku tidak tahu bagaimana."
"Bagaimana apanya?" tanya Melati lembut.
"Ini semua." Andi menggerakkan tangannya, menunjuk ke sekeliling. "Pernikahan ini. Aku tidak pernah berpikir akan menikah lagi. Apalagi secepat ini."
"Aku juga," sahut Melati. "Tapi kita sudah ada di sini. Dan kita punya Rara. Kita harus memikirkan dia."
"Aku tahu," kata Andi. Suaranya terdengar lelah. "Aku hanya... aku tidak tahu bagaimana menjadi suami lagi. Setelah Karina..."
Melati merasakan gelombang empati. "Aku mengerti, Andi. Aku juga. Setelah Adam..." Ia tidak perlu menyelesaikan kalimatnya. Mereka berdua sama-sama terluka, sama-sama pernah merasakan kehilangan.
"Tapi Melati, kau wanita yang baik," kata Andi, akhirnya menatap mata Melati. Ada ketulusan dalam sorot matanya yang membuat Melati terpaku. "Kau membuat rumah ini hidup lagi. Kau membuat Rara bahagia."
"Kau juga, Andi," jawab Melati. "Kau ayah yang baik. Dan kau... kau mulai berubah. Kau tidak lagi sekaku dulu."
Andi tersenyum tipis, senyum yang nyaris tak terlihat. "Mungkin kau yang membuatku berubah."
Malam itu, mereka berbicara lebih lama dari biasanya. Bukan tentang pekerjaan atau Rara, tetapi tentang perasaan mereka, tentang masa lalu mereka, tentang ketakutan dan harapan mereka. Melati menceritakan bagaimana ia merasa hampa setelah perceraiannya dengan Adam, bagaimana ia merasa gagal. Andi menceritakan rasa bersalahnya atas kematian Karina, dan bagaimana ia berjuang untuk menjadi orang tua tunggal bagi Rara.
"Aku takut, Melati," kata Andi, suaranya pelan. "Aku takut melukai orang lain lagi. Aku takut kehilangan lagi."
"Kita semua punya ketakutan, Andi," jawab Melati. "Tapi kita tidak bisa membiarkan ketakutan itu mengendalikan hidup kita."
Andi memandangi Melati, dan Melati bisa melihat ada sesuatu yang berkelebat di matanya. Rasa hormat? Penghargaan? Atau mungkin, sesuatu yang lebih.
Sejak percakapan malam itu, dinding tak kasat mata di antara mereka mulai menipis. Andi mulai lebih sering berinteraksi dengan Melati, tidak hanya sebatas urusan rumah tangga. Ia mulai membagikan cerita tentang pekerjaannya, tentang tantangan yang ia hadapi. Melati pun menceritakan tentang harinya, tentang hal-hal kecil yang ia lakukan bersama Rara.
Suatu akhir pekan, Andi mengajak Melati dan Rara pergi ke sebuah vila di puncak. Ini adalah kali pertama mereka pergi berlibur bersama sebagai keluarga. Rara sangat gembira. Melati pun merasa sedikit antusias. Ia ingin melihat bagaimana Andi bersikap di luar lingkungan rumah dan kantornya yang kaku.
Vila itu terletak di tengah hamparan kebun teh yang hijau, udaranya sejuk dan segar. Rara berlari-lari di halaman, tertawa riang. Andi duduk di teras, menikmati pemandangan. Melati bergabung dengannya, membawa dua cangkir teh hangat.
"Indah sekali di sini," kata Melati.
Andi mengangguk. "Dulu, kami sering ke sini." Ada nada melankolis dalam suaranya.
Melati tahu ia sedang membicarakan Karina. Ia ingin menghibur Andi, tetapi ia tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menepuk tangan Andi pelan, sebuah isyarat simpati tanpa kata.
Andi menoleh, menatap Melati. Ada sedikit senyum di bibirnya. "Terima kasih, Melati."
"Untuk apa?"
"Untuk menjadi dirimu."
Melati tersipu. Itu adalah pujian yang paling tulus yang pernah ia dengar dari Andi.
Selama liburan itu, Melati melihat sisi lain dari Andi yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia melihat Andi tertawa terbahak-bahak ketika Rara menceritakan lelucon konyol. Ia melihat Andi bermain kejar-kejaran dengan Rara di kebun teh, wajahnya dipenuhi keringat tetapi matanya berbinar bahagia. Ia melihat Andi membacakan dongeng sebelum tidur untuk Rara, suaranya lembut dan penuh kasih sayang.
Melati menyadari bahwa Andi bukanlah pria arogan, melainkan pria yang pendiam dan serius karena beban hidup yang ia pikul. Ia adalah seorang pria yang mencintai putrinya lebih dari apa pun, dan ia berjuang untuk menjadi ayah yang terbaik.
Suatu malam, Rara tertidur di pelukan Melati setelah seharian bermain. Melati membawa Rara ke kamarnya, membaringkannya di tempat tidur. Andi masuk ke kamar tak lama kemudian. Ia duduk di samping tempat tidur Rara, mengusap kepala putrinya.
"Dia sangat menyayangimu, Melati," kata Andi pelan.
"Aku juga menyayanginya," jawab Melati.
Andi menoleh, menatap Melati. Tatapannya dalam, penuh makna. "Aku... aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu."
"Kau tidak perlu membalas apa pun, Andi," kata Melati. "Aku melakukan ini semua karena aku memang ingin. Rara adalah anak yang baik."
Andi tersenyum, senyum yang kali ini lebih jelas terlihat. "Terima kasih, Melati."
Melati merasakan detak jantungnya berpacu. Jarak di antara mereka terasa semakin menipis. Ada listrik yang tak terlihat, ketegangan yang menyenangkan, di udara.
Malam itu, Melati tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan senyum Andi, tatapan matanya yang lembut. Ia tidak bisa menyangkal lagi. Ia mulai merasakan sesuatu untuk Andi. Bukan hanya rasa hormat atau simpati, tetapi sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang mendekati... cinta. Itu adalah perasaan yang menakutkan, karena ia tidak pernah menyangka akan merasakannya lagi, apalagi untuk pria yang dinikahinya karena paksaan.
Ketika mereka kembali ke rumah, suasana di antara Melati dan Andi terasa berbeda. Ada kehangatan yang tak terucapkan, sebuah pemahaman diam-diam yang tumbuh di antara mereka. Mereka mulai lebih sering menghabiskan waktu bersama, meskipun hanya dengan duduk berdampingan sambil membaca atau mengerjakan sesuatu. Keheningan di antara mereka tidak lagi terasa canggung, melainkan nyaman.
Suatu sore, saat Rara sedang tidur siang, Melati duduk di taman belakang, membaca buku. Andi keluar, membawa cangkir kopi. Ia duduk di samping Melati, di bangku taman.
"Baca buku apa?" tanya Andi.
Melati mengangkat bukunya. "Novel romantis."
Andi tersenyum tipis. "Kau suka romansa?"
Melati mengangguk. "Setiap orang butuh sedikit fantasi dalam hidupnya, kan?"
Andi terdiam sejenak. "Aku tidak pernah membaca novel romantis."
"Kau harus mencobanya sesekali," kata Melati. "Hidup tidak selalu tentang angka dan pekerjaan."
Andi melirik ke arah Melati, tatapannya sedikit geli. "Mungkin kau benar."
Mereka duduk di sana selama beberapa waktu, menikmati keheningan yang nyaman, ditemani suara burung berkicau dan desiran angin. Melati merasakan kedekatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya dengan Andi.
Beberapa hari kemudian, Melati menemukan sebuah buku di meja samping tempat tidurnya. Itu adalah novel romantis yang ia ceritakan pada Andi. Ada sebuah catatan kecil terselip di antaranya: "Untukmu. Mungkin kau bisa membacanya lagi." Tulisan tangan Andi, singkat dan lugas, tetapi entah mengapa membuat hati Melati menghangat. Andi mendengarkan, ia mengingat. Itu sudah cukup bagi Melati.
Hubungan Melati dengan Andi semakin matang, meskipun masih tanpa kata-kata manis atau ungkapan cinta yang gamblang. Mereka berkomunikasi melalui tindakan, melalui tatapan mata, melalui sentuhan kecil yang tak disengaja.
Andi mulai lebih sering makan malam di meja makan bersama Melati dan Rara. Ia bahkan sesekali membantu Melati membereskan meja atau mencuci piring. Hal-hal kecil yang menunjukkan bahwa ia tidak lagi melihat Melati hanya sebagai pengurus rumah tangga, tetapi sebagai pasangannya.
Suatu malam, Rara tiba-tiba terbangun dari tidurnya karena mimpi buruk. Ia menangis ketakutan. Melati segera berlari ke kamarnya, memeluk Rara, mencoba menenangkannya. Andi juga datang, wajahnya penuh kekhawatiran.
Melati menggendong Rara, mencoba menyanyikan lagu pengantar tidur. Tapi Rara masih terisak. Andi mendekat, lalu ia melakukan sesuatu yang mengejutkan Melati. Ia duduk di samping Melati, lalu dengan canggung, ia mengusap punggung Rara.
"Ada Ayah di sini, sayang," bisik Andi, suaranya lembut. "Tidak apa-apa."
Rara, yang awalnya meronta, perlahan-lahan mulai tenang mendengar suara ayahnya. Ia memeluk erat leher Melati, tetapi tangannya juga meraih tangan Andi. Melati merasakan sentuhan lembut Andi di punggungnya, dan ada kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Malam itu, mereka bertiga tidur di ranjang Rara. Melati di satu sisi, Andi di sisi lain, dengan Rara yang tidur nyenyak di tengah mereka. Itu adalah kali pertama mereka tidur di ranjang yang sama, meskipun bukan di ranjang utama. Melati merasakan kehadiran Andi di sampingnya, kehangatan tubuhnya, dan aroma maskulinnya yang samar. Ia tidak bisa tidur, hatinya dipenuhi dengan perasaan campur aduk. Ada rasa syukur, rasa nyaman, dan juga rasa takut. Takut jika semua ini hanya mimpi, takut jika suatu hari nanti, dinding es itu akan kembali kokoh.
Ketika pagi tiba, Rara bangun dengan wajah ceria. Ia melihat Melati dan Andi di sampingnya, dan senyum lebar terlukis di wajahnya.
"Kita tidur bersama!" seru Rara gembira.
Melati dan Andi saling berpandangan. Ada sedikit rasa malu, tetapi juga kebahagiaan yang tak terucap.
"Ayo, sarapan!" kata Melati, mencoba memecah kecanggungan.
Setelah kejadian itu, tidur di kamar yang berbeda terasa semakin aneh bagi Melati. Ia sering terbangun di tengah malam, merasakan kekosongan di sampingnya. Ia merindukan kehadiran Andi, kehangatan tubuhnya. Ia tahu ia sudah jatuh cinta pada Andi, pada pria dingin yang perlahan-lahan menunjukkan kehangatan di hatinya.
Suatu malam, Melati sedang membaca di kamarnya. Terdengar ketukan pelan di pintu. Andi berdiri di ambang pintu, mengenakan piyama.
"Ada apa?" tanya Melati, jantungnya berdebar.
Andi tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya masuk, menutup pintu, dan duduk di tepi tempat tidur Melati. Ia menatap Melati, matanya dalam, penuh dengan emosi yang tidak terucapkan.
"Melati..." Suaranya pelan, nyaris tak terdengar. "Aku... aku tidak ingin tidur sendiri lagi."
Melati merasakan air matanya menetes. Itu adalah pengakuan yang paling tulus yang pernah ia dengar dari Andi. Sebuah pengakuan akan kesepiannya, akan kebutuhannya akan kehadiran Melati.
Melati mengulurkan tangannya. Andi meraihnya, menggenggamnya erat. Ia kemudian mendekat, memeluk Melati. Pelukan itu kaku pada awalnya, tetapi perlahan-lahan menjadi lebih erat, lebih tulus. Melati membalas pelukan itu, membenamkan wajahnya di dada Andi. Ia bisa merasakan detak jantung Andi, yang berdetak seirama dengan detak jantungnya sendiri.
"Aku juga tidak ingin sendiri, Andi," bisik Melati.
Malam itu, mereka tidak lagi tidur di kamar yang berbeda. Mereka berbagi tempat tidur, berbagi kehangatan, dan berbagi keheningan yang penuh makna. Tidak ada kata-kata manis, tidak ada janji-janji muluk. Hanya sentuhan, dan kehadiran yang menenangkan.
Melati menatap wajah Andi yang tertidur pulas di sampingnya. Ia melihat gurat lelah yang kini digantikan oleh ketenangan. Ia menyadari bahwa ia telah menemukan arti keluarga, bukan dalam ikatan darah, melainkan dalam ikatan hati yang tumbuh perlahan, dari sebidang tanah yang tandus menjadi taman yang subur.
Dinding es itu, yang dulu begitu kokoh, kini telah runtuh sepenuhnya. Dan di balik reruntuhan itu, Melati menemukan Andi, seorang pria yang tidak lagi arogan, melainkan pria yang rapuh, tulus, dan mencintainya dengan caranya sendiri. Sebuah puisi yang tak terucap, namun terasa jelas di setiap sentuhan, setiap tatapan, setiap keheningan yang mereka bagi. Kisah janda dan duda ini baru saja dimulai, dan Melati tahu, ini akan menjadi kisah yang indah.
Anda Mungkin Juga Suka





