Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mengemis nafkah suamiku

Mengemis nafkah suamiku

Kehidupan Ajeng Samudra terasa pilu saat ia harus mengemis nafkah pada Alfandra. Sang suami justru lebih memprioritaskan keuangan untuk mantan istrinya dengan dalih kebutuhan anak. Mirisnya, Ajeng dilarang bekerja dan hanya diminta mengurus rumah serta diri sendiri. Tekanan kian berat karena ibu mertuanya terus menuntut materi dari Alfandra, meski ia memiliki anak lain yang jauh lebih mapan. Ajeng terjebak dalam konflik finansial dan ego keluarga.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Loh Ca, kamu ngapain ke sini?"

Ajeng mendengar suaminya dari arah dapur, suaminya itu baru pulang dari jalan jalannya.

Aca memang menunggu Alfa entah untuk apa, Ajeng tak menanyai nya.

Namun dia dapat melihat Aca bangkit untuk menghampiri suaminya itu, Ajeng mendekatkan tubuhnya di samping tembok untuk mendengar pembicaraan mereka lebih jelas.

"Mas aku mau minta uang, aku lagi ngredit buat beli mobil, mas tau kan teman teman ku udah punya mobil semua. Malu aku kalau pakai motor sendiri," ujar Aca dengan wajah di tekuk.

"Tapi uang mas juga udah habis Ca, tadi aja mama Minta uang satu juta lagi buat beli emas katanya,"

Ajeng menghela nafas, dia sudah duga pasti Alfa memberikan uangnya pada sang mertua, memang selama ini jika Alfa memberikan uang pada mamanya itu tak pernah bilang padanya, kadang dia merasa tak di anggap sebagai istri. Karna apa apa Alfa selalu semaunya sendiri.

"Ck, mas kok gitu sih, mama aja diturutin masak aku mau minta buat nyicil mobil ada nggak ada. Padahal aku kan jarang banget minta uang ke mas!"

Ajeng bisa melihat wajah lemas sang suami, namun juga terlihat pasrah tak tega dengan adiknya itu.

"emang kamu butuh uang berapa lagi?" Pada akhirnya Alfa bertanya, mungkin sedikit sedikit dia bisa bantu adik semata wayangnya itu.

"Lima juta aja kok mas!"

"Hah? Mana ada uang segitu mas Ca, kamu tau sendiri kan gaji berapa, mbakmu Ajeng aja mas cuma jatah satu juta, terus ngasih ke Runa, mama juga." Dengan sabar Alfa menjelaskan, berharap adiknya mau mengerti.

"Emang mas punya berapa? Pasti mas punya tabungan kan? Aku nggak yakin mas nggak punya tabungan deh!" Aca masih saja ngotot ingin meminta uang pada kakaknya itu, berharap dia pulang tak hanya membawa tangan kosong saja. Terlebih, dia sudah menunggu selama berjam jam disana.

"Yaudah mas kasih dua juta ya,"

"Yaudah deh mas nggak papa. Meskipun masih kurang sih!"

Ajeng yang mendengar itu sontak saja terkejut, dia pun keluar dari persembunyiannya dan menghampiri kedua kakak beradik itu.

"Mas, kenapa kalau keluarga mas yang minta selalu di kasih? Sedangkan aku? Aku yang masakin mas dan layanin mas cuma mas jatah sejuta perbulan. Aku istri kamu mas, kenapa aku yang kayak ngemis nafkah sama kamu. Padahal yang lebih utama itu istri mas dulu,"

"Mbak, mbak jangan seenaknya dong. Yang lebih utama ya mama sama aku. Mbak baru kenal sama kakak aku berapa lama sih. Kita yang nemenin dari nol. Mbak aja kerjaannya cuma makan tidur di rumah, sejuta itu udah banyak buat pengangguran kayak mbak," Aca balas menyolot membalas ucapan Ajeng, mulut Ajeng hampir terbuka untuk membalas ucapan Aca yang tak masuk akal it, namun suara Alfa membuat ucapanya kembali tertelan dalam tenggorokan.

"Udah lah Jeng, lagipula kasian Aca. Nggak ada yang bisa bantu di kecuali aku. Ucapan dia juga benar. Kamu kan nggak ngapa ngapain di rumah, jadi sejuta cukup lah, aku udah ngasih kamu nafkah!"

Ajeng menatap suaminya itu dengan tatapan tak habis fikir, bisa bisanya dis berkata seperti itu, padahal semua bahan untuk memasak juga mahal, dia saja sudah begitu irit, ditambah lagi listrik kadang juga melonjak naik. Kadang saja dia pusing gimana caranya untuk menghemat listrik agar bayaran listrik tak melonjak terus terusan.

Di tambah lagi jika Ajeng meminta lebihan untuk membeli bahan masakan, ada aja alasan Alfa untuk tak memberikannya.

"Yaudah kalau gitu biar aku cari kerjaan aja, aku juga suntuk sebenarnya dirumah aja mas. Apalagi cuma ngandelin uang nafkah kamu yang nggak seberapa itu," Ajeng mengeluarkan unek uneknya itu pada akhirnya.

"Kamu ngerendahin aku Jeng?" Mata Alfa sudah membara, pria itu tersinggung dengan ucapan Ajeng yang memang benar itu.

"Tapi emang benar kan mas? Apalagi adik mas yang satu ini dan mama sering kali ngeremehin katanya aku yang males males. Padahal kan mas yang ngelarang aku buat nggak kerja dan urus rumah aja!"

"Iya sih mas, biarin aja mbak Ajeng ini kerja, itung itung biar nggak nyusahin mas lagi. Biar cari uang lagi buat bantu bantu beli kebutuhan," Aca ikut menyaut obrolan mereka.

"Nggak, Ajeng nggak boleh kerja!" Alfa memasang wajah kerasnya.

"Terserah mas deh kalau gitu, yang terpenting sekarang mana uang dua jutanya mas, biar aku cepet pulang. Aku udah nunggu mas daritadi noh!"

Akhirnya tanpa berkata kata lagi, Alfa masuk kedalam kamar dan tak lama setelahnya, keluar membawa uang yang di minta Aca.

Sebelum Alfa memberikan nya, Aca lebih dulu merenggut uang itu dari tangan kakaknya itu, membuat Ajeng yang melihat ketidak sorangan iparnya itu hanya bisa menghela nafas lelah.

"Makasih ya mas, aku balik dulu. sering sering kasih uang ya, biar mama do'ain mas Alfa cepet kaya!" Seloroh Aca sembari berjalan dengan cepat keluar rumah.

Sepeninggal Aca, Ajeng hendak berbalik namun tangannya lebih dulu dicekal Alfa membuat Ajeng kembali membalikkan badannya.

"Maaf yah udah bentak bentak kamu tadi," Alfa memasang wajah iba nya, namun Ajeng yang masih kesal hendak melepaskan cekalan tangan Alfa namun tak bisa.

"Sayang, aku minta maaf." Alfa kambali mengiba. Memang, Alfa selalu bisa membuat Ajeng bimbang, suaminya itu manipulatif sekali, dia punya seribu cara untuk membuatnya luluh setelah di buat terluka.

"Iya, tapi aku boleh kerja kan?" Ajeng mencoba memberi penawaran.

"Nggak sayang, kamu di rumah aja. Rawat rumah, dan rawat aku dengan baik. Itu udah lebih dari cukup kok, kamu nggak usah capek capek kerja. Biar aku aja!"

"Tapi mas.. "

"Oiya kamu udah masak? Mas laper nih!" Alfa mencoba mengalihkan pembicaraan agar obrolan mereka tak membahas itu lagi.

"Iya, mas mandi dulu. Habis itu makan!"

"Siap sayang!" Setelahnya, Alfa mencium pipi Ajeng sebelum berjalan menuju kamar mereka.

Ajeng menatap punggung suaminya itu yang sudah hilang dibalik pintu yang tertutup. Lalu setelahnya dia berjalan menuju ruang makan untuk mempersiapkan makanan untuk Alfa, setelah semuanya siap, Ajeng menunggu suaminya itu sembari bermain ponsel.

Namun setelah 30 menit kemudian, dia tak mendapati tanda tanda suaminya itu akan turun, memang Alfa typikal orang yang kalau sudah mandi, sangat lama sekali. Namun paling mentok juga 20 menit. Ini sampai hampir setengah jam.

Dia pun naik ke atas untuk mengecek suaminya itu, baru saja pintu di buka dia melihat suaminya itu tengah videocall an di atas ranjang.

"Kamu suka sayang?"

"Iya pa, makasih mainannya aku suka, apalagi tadi mainnya seru. Kapan kapan main lagi ya papa!"

Itu jelas suara Runa, jadi sejak tadi Ajeng menunggunya di bawah, Alfa sedang asik telfonan dengan anaknya itu.

-----

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95LBG" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95LBG
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Datang Terlambat
9.0
Sagar terpaksa menikahi Bella demi memenuhi ambisi sang kakek, namun ia tak pernah menunjukkan kepedulian hingga hubungan mereka hancur. Saat perceraian membayang, Bella memilih melarikan diri secara diam-diam sambil membawa janin di rahimnya. Kepergian sang istri yang tiba-tiba membuat Sagar terpuruk dalam penyesalan yang mendalam. Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta dan permintaan maafnya mungkin telah terlambat bagi Bella.
Sampul Novel Cinta Sangkarku, Bukan Keselamatan
8.6
Kirana Adiwijaya mengira hidupnya sempurna sebagai pewaris agribisnis dengan suami idaman, Bima. Namun, sebuah rahasia kelam terungkap: Bima memiliki keluarga tersembunyi bersama Rania yang selama ini dianggap tewas. Orang tua Kirana ternyata mendanai kebohongan ini dan berencana menyingkirkannya dengan obat penenang dosis tinggi. Menyadari cinta mereka hanyalah sangkar mematikan, Kirana berhenti menjadi korban. Ia kini siap membalas dendam lewat permainan yang jauh lebih berbahaya.
Sampul Novel Di Balik Senyum Istri
9.2
Hati istri ini hancur saat ayah mertua menegaskan hak suami berpoligami. Bagas diminta menikahi Riana, mantan teman sebangkuku saat sekolah. Ternyata, mereka punya masa lalu yang dirahasiakan sejak kuliah. Meski terluka oleh pengkhianatan ini, aku hanya bisa tersenyum getir menghadapi takdir. Aku pun menantang mereka, mempertanyakan apakah kecantikan Riana menjamin lahirnya anak laki-laki yang sangat mereka dambakan selama ini.
Sampul Novel Gadis Barbar dan Cowok Cupu
9.3
Seorang putri bos mafia yang menawan terbiasa menjalani hidup bebas tanpa kekangan aturan siapa pun. Di sekolah, ia justru menaruh hati pada teman sebangkunya sendiri. Pemuda tersebut dikenal sebagai sosok yang sangat culun dan sering kali menjadi sasaran perundungan siswa lain. Meski kepribadian mereka sangat kontras, sang gadis barbar tetap terpikat pada cowok cupu tersebut di tengah kerasnya lingkungan kehidupan dunia bawah dan sekolahnya.
Sampul Novel Kali Ini, Aku Pilih Pergi
8.6
Unggahan viral mengungkap pengkhianatan yang menghancurkan hati Sofia Jayadi di hari jadi pernikahannya. Sang suami, Bondan, justru membawa putra mereka merayakan ulang tahun wanita lain yang disebut cinta sejatinya. Di tengah dekorasi pesta yang terbengkalai, Sofia menerima telepon penjelasan dari suaminya, sementara sang anak terdengar bahagia bersama wanita itu. Menolak terus terluka, Sofia memutuskan dengan tenang untuk tidak lagi menginginkan suami dan anaknya, lalu memilih pergi.
Sampul Novel Luka Seorang Istri
8.2
Selama ini aku memilih untuk terus mengalah demi menutupi segala kehancuran yang terjadi, mencoba berpura-pura bahwa segalanya masih baik-baik saja. Namun, kini batas kesabaranku telah habis dan aku memutuskan untuk menyerah pada keadaan ini. Egoku bangkit dengan kuat, menolak untuk terus tertindas. Izinkan aku pergi dan menjalani takdir dengan caraku sendiri, demi merasakan kembali kebebasan sejati sebagai manusia yang benar-benar hidup.