Sampul Novel Luka Seorang Istri

Luka Seorang Istri

8.2 / 10.0
Dalam romance novel Luka Seorang Istri, sang protagonis memilih berhenti mengalah demi kebahagiaan semu. Ia kini berjuang merebut kembali kebebasannya sebagai manusia dari belenggu modern novel yang menyesakkan. Baca kelanjutan kisah perjuangannya di platform web novel ini.
Ringkasan Luka Seorang Istri
Selama ini aku memilih untuk terus mengalah demi menutupi segala kehancuran yang terjadi, mencoba berpura-pura bahwa segalanya masih baik-baik saja. Namun, kini batas kesabaranku telah habis dan aku memutuskan untuk menyerah pada keadaan ini. Egoku bangkit dengan kuat, menolak untuk terus tertindas. Izinkan aku pergi dan menjalani takdir dengan caraku sendiri, demi merasakan kembali kebebasan sejati sebagai manusia yang benar-benar hidup.
Baca Selengkapnya

Luka Seorang Istri Bab 1

“Enggak usah pulang! Nginep aja sekalian!” Begitu pesannya tiap kali aku telat pulang. Kami berkenalan dalam waktu dekat, lalu memutuskan menikah dalam kurun waktu 4 bulan. Dulu sebelum menikah tuturnya lembut dan santun. Namun, lambat laun semua berubah.

“Aku pulang jam 12 malam.”

“Sekalian enggak usah pulang,” balasnya lagi. Ini tahun kelima kami menikah. Dia selalu mengekang. Tidak ada lagi kebebasan juga kenyamanan dalam rumah. Hari-hari berlalu begitu. Dia yang hanya sibuk dengan anak-anak, juga ibu serta adikku yang selalu menuntut di belikan barang yang harganya fantastis. Dilra tak banyak bicara saat kami bertemu, mungkin sungkan dengan ibu. Bagaimanapun memarahi seorang anak di depan ibunya, mungkin dia tak berani.  Saat marah dia akan mendiamkan seharian, hari demi hari sikapnya semakin menjadi. Aku tak pernah tahu apa yang terjadi. Seingatku sebelum melahirkan istriku tak begitu menuntut menemani di samping. Namun, setelah ada anak sikapnya benar-benar berubah. Kadang muak. Mengingat perjuangannya saat melahirkan Dion, hati ini luluh kembali.

“Mau kamu apa? Kalau ada masalah dibicarakan baik-baik, aku juga capek kerja banting tulang, sampai rumah kamu diamkan aku, enggak jelas!” Aku sedang di bengkel, dan dia malah mengirimkan pesan lagi.

“Kalau enggak mau pulang, aku bunuh anak-anakmu sekarang juga.”

Gila, bagaimana aku tak panik. Setibanya di rumah beruntung tak ada yang terjadi Dilra malah duduk murung di pojok kamar seraya memeluk lutut, sedang anakku tertidur dengan pulas. Gegas kuperiksa deru nafasnya masih hidup. Syukurlah Dion masih bernafas.

“Kamu gila Dilra!” Dia justru makin terisak.

“Mana Ibu biar kuberikan anak-anak sama Ibu!” Aku segera menggendong Dion, tetapi Dilra langsung berdiri, dengan cepat merebut bayi itu.

“Kembalikan!” katanya.

“Kamu kalau mau mati, mati saja sendiri! Enggak usah bawa-bawa anak, dasar gila!” Aku kalap waktu itu, hingga tak sadar mengucapkan kalimat yang terlampau tajam.

“Kembalikan!” katanya seraya bersiap merebut Dion. Aku kembali menepis. Bagaimana bisa memberikan bayi ini pada orang yang jelas berniat membunuhnya. Sudah kurasakan ada yang tak beres dengan Dilra. Sejak dulu harusnya aku menyadari lebih awal.

“KEMBALIKAAAAAN, ITU ANAKKU!!!” Aku terenyak tanpa sadar bayi Dion telah berpindah ke tangannya. Untuk pertama kalinya Dilra berteriak. Bukan hanya itu, entah dapat kekuatan dari mana. Dia mampu mendorong tubuhku dengan kasar hingga keluar kamar. Tiba-tiba saja pintu kamar dibanting dengan keras. Dion tak lagi menangis. Aku yang panik kembali masuk ke dalam.

“Kamu apakan anakku?” Dilra hanya menatap datar, sementara itu bayi Dion tengah menghisap ASI. Usia Dion masih 4 bulan. Seharusnya Dion anak ke tiga kami, tetapi Tuhan berkehendak lain. Kedua anak kami telah menghadapnya lebih dulu. Dilra keguguran dua kali. Mengingat soal kegugurannya aku mulai mengaitkan peristiwa demi peristiwa. Dia sering menangis setelah keguguran yang kedua. Aku sempat menyalahkan atas kecerobohannya, bayangkan saja sudah dua kali kami kehilangan calon buah hati.

Hari itu kata Ibu, istriku jatuh dari motor, sudah kubilang padahal jangan pergi naik motor, tapi dia tetap nekat. Dia tak banyak protes waktu itu hanya diam dan sesekali menangis saat malam. Sejak saat itu dia jadi makin menutup diri, setahuku dia punya arisan setiap dua minggu sekali dengan tetangga tapi belakangan dia tak pernah ikut berkumpul lagi, puncaknya saat acara makan-makan dengan tetangga, ia memilih tinggal katanya tak enak badan padahal setahu dia baik-baik saja.

“Kalau ada masalah bisa enggak sih dibicarakan baik-baik.”

“Maaf.” Satu kata yang membuatku muak. Kutinggalkan dia sendiri. Tentunya setelah memastikan Dion tertidur dengan pulas. Hari ini kebetulan Ibu dan Mia tak ada jadi pasti berani berbuat kasar. Seraya menyesap batang rokok. Mencoba menetralkan pikiran yang mulai runyam. Dilra itu baik, tak menyangka dia berubah drastis macam sekarang. Keesokan paginya aku dibangunkan Ibu, nyatanya aku ketiduran di Sofa.

“Kenapa kamu tidur di sini?”

“Oh Galang ketiduran,  Bu.”

“Istri kamu itu memang keterlaluan. Setiap Ibu keluar pasti ribut. Harusnya kamu tegur! Biar tahu cara menghormati suami.”

“Iya nanti aku tegur.”

“Sekarang ke mana dia, kenapa enggak ada di kamar?”

“Ke warung paling.”

“Baguslah, sini Ibu mau ngomong serius!”

“Kenapa, Bu?”

“Sini duduk, Lang!” ajak Ibu menyuruh duduk mendekat padanya.

“Kamu punya istri kurang ajar kayak gitu mending pisah!” kata Ibu. Lagi-lagi bayangan Dilra yang menahan sakit saat melahirkan wajah pucatnya aroma amis darah semua masih terekam jelas di benakku. Sudah kali ke tiga sejak menikah ibu selalu saja menyarankan kami untuk pisah. Aku tak banyak menanggapi tetapi kali ini agaknya Dilra sudah keterlaluan. Di bengkel pikiranku benar-benar kacau, apa harus kupertimbangkan permintaan ibu kali ini.

“Kenapa? Gelisah amat ?” sapa Ardi teman sekaligus partner bisnisku.

Kami membangun bengkel mobil ini berdua.

“Gue mau pisah.”

“Serius lo? Kenapa?” Ardi yang tadinya duduk di atas meja kerjanya kini berjalan mendekat ke arahku.

“Gue capek sama Dilra.”

“Perempuan kalem kayak Dilra masih aja kurang, apalagi bini gue.”

“Lo enggak tahu sikap Dilra ke gue bagaimana? Ketus, enggak kayak dulu lembut pemaaf, sekarang bikin enggak betah di rumah.”

Ardi malah tertawa mendengar keluhanku.

“Memangnya lo benar jadi suami?”

“Maksud lo?”

“Pikir sendiri, waktu lo susah Dilra ada tuntut lo minta duit lebih?”

“Enggak.”

“Nah sekarang pas lo kaya, dia nuntut minta duit, wajarlah.”

“Bukan masalah duit, kalau masalah itu dia enggak pernah tuntut, semuanya gue serahkan ke ibu.”

“Apa? Lo kasih ke siapa duitnya?”

“Ibu, kenapa? Mereka kan serumah, biar enggak ribet, lagian Dilra juga boros enggak pintar atur uang.” Ardi malah menggeleng kepala

“Bisa ya, memang bini lu enggak pernah protes?”

“Sering, tapi lebih pilih mengalah karena Ibu suka enggak mau kalah, ujung-ujungnya ibu malah bikin masalahnya jadi rumit.

“Parah! Berapa tahun lu rumah tangga sama Dilra?”

“5 tahun.”

“Selama itu juga lu menyakiti anak orang, harusnya lu bisa bedakan tanggung jawab sebelum dan setelah nikah, lu boleh kasih orang tua, tapi enggak pakai atur keuangan rumah tangga lu juga.”

“Tapi Dilra enggak pernah protes.”

“Gak pernah protes tapi dia sering marah buat urusan yang enggak jelas apa namanya?

Aku diam. Memikirkan Dilra yang memang berubah pemarah terlebih sejak aku membuat keputusan untuk mengajak Ibu turut serta mengatur keuangan kami. Awalnya memang Dilra yang mengatur semuanya sayang hanya bertahan 3 bulan setelah itu. Mengingat Dilra yang juga baru saja keguguran, aku mempercayakan semuanya pada ibu termasuk keuangan kami dan itu berlanjut sampai hari tak pernah terlintas kalau itu menyakiti hati Dilra. Dia memang kerap protes tapi seperti tak benar-benar menuntut untuk kembali mengambil kendali, aku jadi tak terlalu mengindahkan permintaannya.

“Di.”

“Apa lagi?”

“Istri lo pernah enggak sih kayak melamun terus sering murung, bahkan kayak menutup diri.”

“Kagaklah bini gue, setiap hari ada saja maunya enggak pernah bisa diam. Tugas gue cuma bisa menuruti kemauannya dari pada kena amuk.”

“Takut istri lu ya?”

“Mending gue takut istri dari pada bini seteres. Sudah ah gue mau kerja.”

“Sialan, lo pikir Dilra seteres.”

“Ya lo pikir sendiri, orang seteres awalnya dari apa coba? Kebanyakan beban, dipendem sendirian.”

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Luka Seorang Istri

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel ARANJO
8.1
Aranjo, dewi muda keturunan iblis, harus menjalani hukuman sepuluh kehidupan fana demi melewati bencana cinta. Meski tumbuh di alam langit, ia terus dikucilkan dan dijebak oleh ibu tiri serta saudarinya. Namun, Kaisar Langit memiliki rencana terselubung di balik sanksi ini. Sang Kaisar ingin Aranjo kehilangan perasaannya agar bisa meraih kekuatan absolut sebagai Dewi Agung. Akankah takdir berjalan sesuai ambisi sang penguasa, atau justru sebaliknya?
Sampul Novel Diantara Larangan dan Perasaan
8.6
Menginjak usia 22 tahun seharusnya menjadi momen bahagia, namun hidupku berubah drastis saat paman menemukan buku harian rahasiaku. Setelah mengetahui perasaan cinta terlarang yang kupendam untuknya, ia mengambil tindakan tegas dengan mengirimku ke luar negeri. Tidak hanya itu, ia bahkan menghabiskan dana fantastis demi mempersiapkan pesta pernikahan yang sangat megah, lalu memutuskan untuk menikahi cinta pertamanya, meninggalkan diriku yang terasing bersama luka hati yang mendalam.
Sampul Novel KEMBANG KANTHIL KEMBANG MLATHI
7.8
Keinginan tulus seorang ibu demi mewujudkan kebahagiaan bagi buah hatinya ternyata membawa konsekuensi yang tak terduga. Alih-alih berakhir indah, niat mulia tersebut justru berujung pada situasi mencekam yang jauh dari harapan semula. Kisah ini mengungkap sisi kelam di balik pengorbanan orang tua, di mana setiap impian manis bagi anak-anaknya perlahan berubah menjadi teror misterius yang menghantui kehidupan keluarga mereka selamanya.
Sampul Novel Kuakhiri Dendam Ini
9.0
Kehidupan tenang Anisa hancur dalam sekejap saat suaminya, Barry, kembali dari perjalanan luar negeri. Kegembiraan menyambut kepulangan sang suami berubah menjadi kengerian luar biasa ketika sebuah koper miliknya dibuka. Di dalamnya, tersimpan jasad seorang wanita cantik yang tidak bernyawa. Penemuan mayat misterius ini memicu huru-hara di rumah mereka, menyeret Anisa ke dalam pusaran misteri kelam yang mengancam segalanya.
Sampul Novel Sepasang Satria Piningit
8.2
Akibat didikan otoriter sang ayah, Syams harus menerima hukuman berat dan pengasingan meski hanya melakukan kesalahan kecil. Kini ia terdampar di sebuah kampung kumuh, tinggal di rumah sempit bersama seorang guru miskin yang mengasuhnya. Di sana, Syams mulai ditempa untuk memahami jati diri serta kewajiban sebagai ksatria sejati. Dibantu pria tersebut, mampukah Syams memenuhi syarat sulit sang ayah agar bisa pulang kembali ke rumah megah keluarganya?
Sampul Novel Setelah Aku Mati, Suamiku Menyesal
9.6
Ketika sang anak menangis histeris mengabarkan bahwa ibunya terbujur kaku di ranjang, Michael justru mencaci istrinya sebagai wanita pemalas dan menutup telepon demi bermesraan dengan sekretarisnya. Dia tidak pernah menduga bahwa penolakan kasar itu menjadi komunikasi terakhir mereka. Sang istri telah tiada untuk selamanya. Kini, setelah kebenaran tragis itu terungkap, Michael hanya bisa mendekap bingkai foto mendiang istrinya dalam penyesalan yang terlambat, memohon agar ia kembali.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan