Sampul Novel Ghost Writer

Ghost Writer

8.3 / 10.0
Dalam modern novel Ghost Writer, Cassandra terjebak sebagai penulis bayangan bagi Ayu. Di tengah hiruk pikuk kaum urban, seorang editor berjuang membantu Cassandra lepas dari bayang-bayang kliennya demi kesuksesan pribadi. Simak lika-liku karier dan romance novel yang penuh pengorbanan ini.
Ringkasan Ghost Writer
Kisah ini menyoroti dinamika cinta kaum urban dan fenomena penulis bayangan. Cassandra adalah penulis berbakat yang kemampuannya dieksploitasi oleh Ayu, klien setianya yang tidak memiliki talenta menulis. Di sisi lain, seorang editor sekaligus sahabat Cassandra menyadari potensi besar tersebut. Ia berjuang keras mendorong Cassandra agar berani meraih kesuksesan dengan karyanya sendiri tanpa harus terus bersembunyi di balik nama kliennya.
Baca Selengkapnya

Ghost Writer Bab 1

Seorang wanita sedang berkutat di depan komputernya menulis sebuah novel untuk seorang klien yang memintanya untuk segera menyelesaikan bab hari ini. Wanita cantik yang memakai kacamata itu bernama Cassandra atau biasa dipanggil dengan sebutan Sandra. Pekerjaannya adalah sebagai seorang ghost writer yang menulis untuk penulis lain yang juga sering membayar jasanya untuk semua tulisannya siang dan malam setiap hari. Lumayan setiap tulisannya dibayar untuk keperluan hidupnya walaupun tulisan yang dia tulis itu adalah milik orang lain.

"Bisa di percepat sedikit enggak, tulisannya. Lama banget, sih," ujar seorang dibalik bilik telepon yang baru saja diangkatnya yang ternyata adalah Kimi Meow. Nama pena dari kliennya, Ayu.

Cassandra tak ambil pusing. Matanya terus berada di layar laptopnya dan terus mengetik kata demi kata yang mengalir di pikirannya. Di seberang sana Ayu tampak mendengus kesal karena Cassandra sama sekali tak menggubris panggilannya.

"Hei! Di telepon malah diam! Apakah tulisan untuk bab hari ini sudah kami tulis belum?" Ayu tampak marah di seberang sana.

Cassandra lagi-lagi hanya diam, ia masih sibuk merangkai satu demi kata menjadi sebuah cerita yang utuh apalagi menulis itu butuh konsentrasi yang banyak agar tulisannya menjadi tidak kacau balau. "Ayu, maaf. Sepertinya kamu menghubungiku di jam yang kurang tepat, aku masih menulis babmu hari ini," ucap wanita itu masih di depan laptopnya.

"Dasar enggak berguna, memang baru berapa kata kamu tulisnya, Sih?" tanya Ayu sambil gigit jari.

Cassandra hanya mendengus biasa saja. Cassandra memang terbiasa mengalami hal seperti ini. Dimarahi oleh kliennya sendiri karena terkadang telat mengirim tulisannya ke mereka untuk segera di review. Para kliennya tidak tahu betapa sulitnya ia menulis dan memikirkan sebuah cerita serta merangkai semua kata menjadi paragraf. Mereka hanya bisa mendapatkan hasil jadinya, sekaligus mencerca karena terkadang ada typo yang bertebaran di sana.

"Sabar sedikit lagi, ya, Ayu. Baru juga 500 kata yang aku tulis, ini ."

Cassandra menjawab dengan santai sambil memperbaiki kacamatanya itu.

"Cepat sekarang! Hari ini aku dapat surat cinta dari editorku, ini. Aku secepatnya harus mengirim episode baruku di platform Perfect Writer, ini. Aku enggak mau tahu kalau aku tak mendapat penghasilanku bulan ini dan tak mendapat bonus juga. Aku tak akan membayarmu, walau di rekeningku masih ada sisa pendapatan dari bulan lalu," jelas wanita itu seenak jidatnya.

Cassandra melirik ke arah jam dinding kamarnya, sambil menyipitkan matanya untuk melihat arah jarum jam. "Anu, sepertinya aku akan menulis tiga bab sekaligus untuk menebus kesalahanku karena tulisanku yang harus kamu up di novelmu telat.

"Kamu baru sadar, ya!" Ayu tersenyum menyeringai dibalik telepon. "Bagus kalau hari ini kamu mau menulis tiga bab sekaligus di novelku. Tapi ingat jangan sampai terlambat lagi. Yang ada, nanti para pembacaku malah protes meminta bab

Cassandra berdehem, " baiklah akan aku lakukan dengan senang hati tanpa mengeluh sedikit pun," ujar Cassandra kemudian melanjutkan kata-katanya. "Anu, jadi apakah kamu bisa membayarku tiga kali lipat dari crazy up ini?"

"Membayar kamu karena crazy up?"

"Ya, hari ini aku butuh uang yang cukup, sepertinya aku terkena insomnia setelah kau berjanji pada pembacamu untuk 50 episode dalam sehari untuk peringatan novelmu yang kelima," tawar Cassandra.

"Oh ... Jadi kamu butuh bayaran lebih, ya. Apakah aku harus membayarmu untuk ini?"

"Y-y-ya."

"Apa kamu memerasku? Lagi pula itu kan sudah kewajibanmu untuk menjadi ghost writer, lagi pula 20% pendapatanku kan sudah kuberikan kepadamu sebagai gaji," cibir Ayu memarahi Cassandra yang ingin meminta bayaran lebih.

"Tapi ...."

"Tidak ada kata tapi untukmu Cassandra, ini karyaku bukan karyamu!" bentak Ayu kepada Cassandra dengan percaya dirinya tak tahu malu.

"Ya sudah , aku tak akan meminta bayaran lebih untuk ini. Sebaiknya kamu menutup teleponmu sekarang juga. Lagi pula aku juga sekarang aku harus menulis untuk novelmu ini kan. Sudah dulu, ya, aku akan melanjutkan tulisanku untuk novelmu sekarang juga.

Cassandra pun langsung menutup teleponnya dan kembali melanjutkan tulisan novel Ayu di depan komputernya.

"Cassandra, apakah kamu tidak capai dengan pekerjaanmu ini, sayang," ucap ibu Lina yang tiba-tiba datang dari belakang anaknya.

Cassandra menoleh kepada ibunya dan tersenyum. "Enggak Bu, justru aku sangat menikmati pekerjaanku ini."

"Apakah kamu tidak capai menjadi penulis bagi orang lain. Kamu itu berbakat, Cassandra. Kenapa tidak menulis sebuah novel untuk dirimu sendiri? Siapa tahu tulisanmu akan meledak di pasaran," ucap ibunya memberi semangat kepada Cassandra.

"Aku enggak percaya diri dengan tulisanku sendiri, Bu."

"Enggak percaya diri? Enggak percaya diri bagaimana maksudnya?"

"Aku lebih nyaman menjadi seorang ghost writer, Bu dan belum saatnya aku menulis novel sendiri. Aku merasa jika tulisanku ini masih kurang dan aku belum siap melakukannya. Aku akan menjadi seorang ghost writer seumur hidupku."

Cassandra pun melanjutkan tulisannya di komputer miliknya dan tak mau menggubris pertanyaan yang akan dilontarkan ibunya kepadanya.

"Cassandra apa yang ibu bicarakan ini benar adanya, apakah kamu mau bergantung nasibmu sebagai seorang ghost writer yang bayarannya tidak seberapa itu. Lagi pula itu pada akhirnya akan menjadi pekerjaan yang membuatmu menjadi gila karena kamu harus membuat cerita yang kamu tulis untuk orang lain. akan lebih baik jika kamu menulis novel di sebuah platform untuk dirimu sendiri sekaligus mendapatkan penghasilan yang jauh lebih layak dari ghost writer.

"Cukup ibu! Cukup! Hentikan ocehan ibu sekarang juga! Aku benci jika ibu harus mengoceh kepadaku tentang hal ini!" bentak Cassandra sambil membanting tangannya ke atas meja.

Sesaat kemudian, Cassandra mengambil laptopnya dan langsung bergegas dari meja makannya kemudian beranjak pergi ke kamarnya untuk melanjutkan tulisannya supaya tidak diganggu oleh ibunya lagi.

***

Cassandra berhasil mengirim semua bab ceritanya yang sudah dituliskan kepada Ayu bersama dengan sakit kepala yang menggerogoti kepalanya secara tiba-tiba yang entah kenapa muncul tanpa ada peringatan sedikit pun. Ia pun menundukkan kepalanya di atas meja dan ingin segera melepaskan penatnya hari ini. Tiba-tiba, sebuah ponselnya berdering di atas mejanya. Menambah sakit kepala yang semakin lama semakin berdenyut. Cassandra pun mengambil ponselnya dan melihat sebuah panggilan video yang ternyata berasal dari temannya yang tampaknya akan segera memberikan kabar baik.

"Selamat malam, temanku tersayang."

Seorang wanita membuka percakapannya dengan riang gembira kepadanya dirinya yang menghubunginya di saat yang tidak tepat. Wanita yang baru saja berbicara di teleponnya itu adalah Laura. Teman kuliah Cassandra yang sekarang bekerja sebagai seorang editor di perfect writer.

"Kenapa kamu menghubungiku di saat seperti ini, sih dan kenapa kamu juga kamu memakai kacamata yang mirip sekali dengan modelku?" Cassandra pun menopang dagunya di atas mejanya dengan perasaan sedikit marah. Tapi, bukan Laura namanya jika dia menghubungi Cassandra untuk memberikan sebuah kabar atau informasi yang sangat penting

"Sepertinya aku menghubungimu di saat yang tidak tepat. jadi, sepertinya aku akan menutup panggilan ini dan membiarkanmu untuk bisa beristirahat."

Cassandra seketika tersentak kaget dan dengan semangatnya langsung duduk di kursi dengan manis sambil memberikan senyum terbaik kepada Laura.

"Informasi baru apa yang akan kamu berikan kepadaku, La?" tanya Cassandra kepada Laura berharap akan ada sebuah keajaiban.

"Jadi begini, kemarin perfect writer baru saja mengumumkan bahwa mereka akan mengadakan I Need Writer musim ke-2 dan hadiahnya gede banget, tahu."

Cassandra mengertakkan giginya sekaligus mendengus kesal mendengar hal ini. "Oh, jadi ini informasi yang kamu berikan kepadaku!" ujar Cassandra dengan nada kesal.

"Bukankah ini sebuah kesempatan yang bagus untukmu. Untuk menunjukkan kepada dunia betapa hebatnya dirimu," ucap Laura memberi semangat kepada Cassandra.

Cassandra mengupil di depan layar ponselnya. "Tidak, sepertinya aku tidak tertarik mengikuti ini. Membosankan."

"Kenapa kau tidak tertarik, Cassandra?

"Tidak tertarik saja. Hanya saja aku nyaman dengan pekerjaanku, sebuah mata pencaharian yang sudah aku kerjakan selama 5 tahun."

"Menjadi seorang ghost writer, astaga. Kau tak perlu melakukan hal ini terus, San," ucap Laura.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Ghost Writer

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel DOKTER FORENSIK
7.9
Randa adalah dokter forensik yang terjebak di antara realitas dan imajinasi akibat penyakitnya. Kondisi ini membuatnya merasa mampu berkomunikasi dengan jenazah. Dilema muncul saat ia mencintai dua wanita, Evlyn dan Avita. Randa akhirnya memilih Evlyn, namun ia tersadar bahwa Evlyn sebenarnya telah tiada sejak tujuh bulan lalu. Di tengah upaya Avita menyadarkannya, Randa harus memilih antara terus bersembunyi dalam halusinasinya atau kembali menghadapi kenyataan pahit.
Sampul Novel Feng Na Na
9.4
Ingatan terakhirku adalah kematian tragis di tangan tunanganku sendiri. Namun, aku justru terbangun dalam balutan hanfu putih kuno. Rasa nyeri akibat guncangan hebat di dalam kotak kayu ini membuktikan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Bagaimana mungkin orang mati masih bisa merasakan sakit? Saat mencoba duduk, aku terperanjat menyadari bahwa tempat tidurku adalah sebuah peti mati. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa aku bisa kembali bernapas setelah dikhianati?
Sampul Novel Jodoh yang ditakdirkan
9.3
Terpisah sejak kecil akibat perceraian, si kembar Yunara dan Lunara bertemu kembali di hari pernikahan Yunara. Lunara hadir mencari sang ayah, namun takdir justru berubah drastis bagi keduanya. Yunara terjerat dengan pria asing yang obsesif, sementara Lunara terjebak situasi rumit bersama suami kakaknya sendiri. Pernikahan Lunara yang sudah di depan mata pun hancur karena kesalahpahaman. Kini, mereka harus memilih: pasrah pada nasib atau berjuang demi cinta sejati.
Sampul Novel Om Bule Menjadi Kekasihku
8.4
Ela, karyawan swasta, menikmati liburan 12 hari di Luzern dan bertemu Ali, pengusaha properti asal Libanon. Kedekatan mereka memicu skandal saat paparazzi menuduh Ela sebagai orang ketiga dalam hubungan Ali dengan artis Nihan. Di luar dugaan, Ali justru mengakui Ela sebagai kekasihnya saat konferensi pers. Meski Ela ragu karena perbedaan negara, Ali membuktikan keseriusannya dengan menyusul ke Jakarta demi memperjuangkan cinta mereka berdua.
Sampul Novel Pacar CEO Batal Nikah, Aku Langsung Menghilang!
9.2
Tujuh tahun menjalin hubungan, seorang wanita harus menelan pil pahit karena kekasih CEO-nya membatalkan pernikahan sebanyak 99 kali demi menolong asisten pribadinya. Mulai dari insiden terkunci di kantor hingga masalah klien, sang pacar selalu pergi dan meninggalkannya dalam keputusasaan. Lelah dipermalukan, dia akhirnya memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Kota Niros. Namun, keputusan untuk menghilang ini justru memicu penyesalan mendalam dan pencarian obsesif sang miliarder selama lima tahun.
Sampul Novel Pengorbanannya, Kebencian Butanya
8.0
Baskara memaksaku mendonorkan sumsum tulang demi tunangannya, Rania. Meski tumbuh bersama, dia kini membenciku. Rania menjebakku hingga Baskara menyiksaku dengan kejam, bahkan menculik orang tuaku akibat fitnah video asusila. Aku dipaksa menonton mereka jatuh dari gedung tinggi hingga tewas. Di tengah sakit parah yang kurahasiakan, Baskara justru menyuruhku mengakhiri hidup. Tanpa ragu, aku menyanggupi permintaannya dan melompat menuju kehampaan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan