
Mengandung Anak Dari Musuhku
Bab 2
Alaina masih berdiri terpaku di tempatnya, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada sesuatu dalam sorot mata Dylan Callahan yang membuatnya gelisah-sebuah ancaman yang terselubung dalam kata-kata manis yang tajam seperti belati.
Namun, ia menepis perasaan itu. Dylan selalu membencinya. Sejak dulu, pria itu tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menyindir atau menatapnya dengan kebencian yang mendalam. Tapi itu hanya kemarahan masa lalu, bukan? Dylan Callahan adalah pria yang berbahaya, tapi ia tidak akan berani menyentuhnya secara langsung.
Atau setidaknya, itulah yang Alaina pikirkan.
Saat pesta berlanjut, Alaina memutuskan untuk menjauh dari keramaian. Ia membutuhkan udara segar untuk menenangkan pikirannya. Dengan langkah ringan, ia menyelinap keluar menuju balkon yang menghadap taman belakang. Angin malam yang dingin menerpa kulitnya, membuatnya sedikit menggigil.
Ia memejamkan mata sejenak, menikmati ketenangan sesaat. Tapi ketenangan itu tidak bertahan lama.
"Terlalu mudah menebak ke mana kau akan pergi," suara rendah dan dalam itu terdengar dari belakangnya.
Alaina tersentak dan menoleh. Dylan berdiri di ambang pintu balkon, bersandar santai pada kusen dengan tangan di sakunya. Matanya yang tajam memperhatikannya, seolah menelanjangi setiap gerakan dan ekspresinya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" suara Alaina terdengar lebih tegang dari yang ia inginkan.
Dylan melangkah mendekat, membiarkan bayangan tingginya menelan Alaina dalam kegelapan. "Aku bisa bertanya hal yang sama padamu."
"Aku hanya ingin udara segar," Alaina mencoba terdengar tenang, meskipun perasaannya mengatakan ia harus segera meninggalkan tempat itu.
Dylan menyeringai, sebuah senyuman yang tidak benar-benar menunjukkan kebahagiaan. "Kau tahu, Alaina, kau tidak seharusnya terlalu percaya diri. Tidak semua orang di sini menginginkan yang terbaik untukmu."
Alaina menegang. "Apa maksudmu?"
Dylan tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan sesuatu dari sakunya-sebuah gelas kristal berisi anggur merah yang berkilauan di bawah cahaya bulan.
"Minumlah," katanya, mengulurkan gelas itu padanya.
Alaina menatapnya curiga. "Aku sudah cukup minum."
Dylan tertawa kecil. "Hanya seteguk. Anggur terbaik dari koleksi ayahmu. Akan sangat disayangkan jika kau menolaknya."
Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat Alaina ragu. Tapi ia tidak ingin terlihat pengecut di hadapan pria itu. Ia mengambil gelas itu dan meneguk sedikit, merasakan rasa anggur yang kaya dan pahit di lidahnya.
Beberapa detik berlalu.
Lalu tiba-tiba, dunia di sekelilingnya mulai berputar.
Alaina merasakan kepalanya menjadi berat, kelopak matanya semakin sulit terbuka. Nafasnya tersengal, dan kakinya melemas.
"Dylan..." suaranya nyaris tak terdengar saat tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Dylan menangkapnya sebelum tubuhnya menyentuh lantai.
"Kau seharusnya lebih berhati-hati, Alaina," bisiknya di telinganya sebelum semuanya menjadi gelap.
Alaina terbangun dengan kepala yang berdenyut hebat. Tubuhnya terasa lemah, setiap sendi terasa berat seolah terikat oleh sesuatu yang tak terlihat. Ia mencoba menggerakkan tangannya, tapi gerakan itu terasa lemah dan sia-sia.
Matanya terbuka perlahan, dan yang pertama kali ia lihat adalah langit-langit kamar yang asing. Cahaya redup dari lampu meja menyinari ruangan yang terasa dingin dan kosong.
Ketakutan mulai merayapi dirinya.
Di mana dia?
Apa yang terjadi?
Pakaian yang dikenakannya masih sama dengan gaun malamnya, tapi ada sesuatu yang terasa salah. Perasaannya mengabur antara mimpi dan kenyataan. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum semuanya menjadi gelap-Dylan, anggur, dan kemudian... kekosongan.
Jantungnya berdetak kencang.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, dan Dylan muncul. Ia berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang sulit ditebak, matanya gelap dan tak terbaca.
"Akhirnya kau bangun," katanya dengan nada datar.
Alaina merasakan ketakutan yang tidak bisa ia jelaskan. "Apa yang kau lakukan padaku?"
Dylan tidak menjawab. Ia hanya menatapnya lama sebelum akhirnya berkata dengan suara yang begitu dingin hingga menusuk tulangnya.
"Kau sudah mendapatkan apa yang pantas kau terima."
Dunia Alaina runtuh saat kata-kata itu menggema di kepalanya.
Anda Mungkin Juga Suka





