
Mengandung Anak Dari Musuhku
Bab 1
Hujan turun deras malam itu, seolah langit turut menumpahkan kemarahan yang berkecamuk di dada Dylan Callahan. Dengan langkah berat namun pasti, ia berjalan melewati lorong marmer yang dingin, menuju ruang perjamuan keluarga Sinclair yang megah. Cahaya kristal lampu gantung yang bergemerlap tak mampu menghilangkan kegelapan yang menyelimuti hatinya.
Di ruangan itu, pesta berlangsung meriah. Para tamu berpakaian mewah, menyesap anggur mahal sambil berbincang tentang bisnis dan politik. Namun, mata Dylan hanya tertuju pada satu sosok-Alaina Sinclair.
Gadis itu berdiri anggun di tengah ruangan, mengenakan gaun satin berwarna biru tua yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Rambut panjangnya digelung rapi, menampakkan leher jenjang dan kulit pucatnya yang seolah berpendar di bawah lampu kristal. Senyum kecil terukir di bibirnya saat ia berbincang dengan seorang pria tua-ayahnya, Gregory Sinclair.
Dylan mengepalkan tangannya. Darahnya mendidih melihat pemandangan itu. Ia tidak peduli dengan kecantikan Alaina. Yang ia lihat hanyalah anak dari wanita yang telah menghancurkan hidup ibunya. Wanita yang, menurutnya, adalah akar dari semua penderitaan yang ia tanggung selama ini.
Dylan tidak pernah lupa malam itu, saat ibunya, Elise Callahan, meninggal dengan air mata mengalir di wajahnya. "Mereka merenggut segalanya dariku," adalah kata-kata terakhir Elise sebelum nafasnya berhenti. Sejak itu, kebencian Dylan pada keluarga Sinclair tumbuh subur, mengakar dalam setiap inchi keberadaannya.
Dan kini, Alaina berdiri di hadapannya, tersenyum, hidup dalam kemewahan yang seharusnya menjadi milik ibunya.
Alaina merasakan tatapan tajam yang menusuk dari kejauhan. Ketika ia menoleh, tatapan mereka bertemu. Mata abu-abu Dylan menyala penuh kebencian, begitu intens hingga membuat Alaina merasakan hawa dingin menjalar di tulangnya. Ia menelan ludah, merasa tidak nyaman dengan cara pria itu menatapnya.
Namun, sebelum ia bisa berpaling, Dylan sudah melangkah mendekat.
"Selamat malam, Nona Sinclair," katanya dengan suara rendah dan mengandung ancaman tersembunyi.
Alaina tersenyum tipis, berusaha mempertahankan ketenangannya. "Tuan Callahan," balasnya dengan sopan.
Dylan menyipitkan mata. "Kau terlihat begitu bahagia. Sepertinya hidupmu sangat sempurna."
Alaina menegang, tidak menyukai nada suaranya yang menyiratkan sesuatu yang lebih dalam. "Aku hanya menjalani hidupku seperti biasa," katanya hati-hati.
Dylan tertawa kecil, tetapi tidak ada kehangatan di dalamnya. "Seperti biasa? Hidup dengan segala kemewahan yang kau miliki? Dengan nama baik keluargamu yang tetap terjaga?" Ia melangkah lebih dekat, suaranya hampir berbisik. "Kau tahu, Alaina? Dunia ini tidak selalu adil. Kadang, orang-orang yang tampak paling suci adalah yang paling kotor."
Alaina mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Dylan mendekat, hingga hanya ada beberapa inci di antara mereka. "Kau akan segera mengetahuinya."
Sebelum Alaina sempat merespons, Dylan sudah melangkah pergi, meninggalkannya dengan perasaan tidak nyaman yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Ia tidak tahu bahwa malam ini akan menjadi awal dari mimpi buruk yang akan menghancurkan hidupnya.
Anda Mungkin Juga Suka





