Sampul Novel Mendadak Menjadi Permaisuri ke 6

Mendadak Menjadi Permaisuri ke 6

9.1 / 10.0
Seorang dokter genius masa kini tiba-tiba terbangun dalam tubuh permaisuri abad ke-17 yang baru saja diceraikan Pangeran Keenam. Meski dikhianati demi wanita lain, ia tidak peduli dan memilih fokus membangun karier medis dengan ilmu modernnya. Keahliannya memikat hati rakyat hingga Sang Kaisar sendiri. Awalnya ia menolak cinta, namun takdir menyeretnya ke dalam dilema emosional antara perasaan terlarang dan pengorbanan besar yang harus ia tentukan.

Mendadak Menjadi Permaisuri ke 6 Bab 1

Untuk bagian selatan negara itu, Bulan Mei adalah bulan yang diprediksi BMKG akan terjadi badai besar yang dapat membawa malapetaka.

Prakiraan cuaca telah memberikan pemberitahuan awal dan memperkirakan konveksi atmosfer yang kuat untuk beberapa hari ke depan.

Wilayah setempat sudah diberi peringatan bahwa hujan lebat akan terjadi dan telah menyarankan warganya bahwa sementara untuk tidak pergi keluar selama kondisi cuaca buruk seperti itu.

Namun, Sherin mengabaikan peringatan rekan-rekannya.

Dia meninggalkan rumah dengan membawa payung dan sekantong persediaan medis meskipun langit yang gelap itu tampak seperti akan runtuh.

Sherin akan menemui pasien tua nya.

Pasiennya sudah berusia 90 tahun lebih dan di diagnosis akan segera meninggal, Pasien ini telah tersiksa dengan penyakit emfisema nya selama bertahun-tahun.

Pada tahap awal, semua organnya gagal dan perutnya mengalami pendarahan hebat.

Setiap kali dia mencoba untuk makan, dia akan menderita rasa sakit yang luar biasa.

Alat-alat di rumah sakit lah yang telah membuatnya tetap hidup selama ini.

Sekarang setelah dia berada di rumah, anak-anaknya ingin ayah mereka mendapatkan perawatan yang memuaskan sebelum kematiannya.

Jadi, sebelum meninggalkan rumah sakit, mereka meminta Sherin untuk menyuntiknya dengan obat penguat jantung.

Pria tua itu sangat senang karena anak-anaknya berkumpul dan melakukan yang terbaik untuknya.

Hari ini Dia makan hampir semangkuk penuh.

Setelah makan, lelaki tua itu mengobrol riang dengan anak-anaknya.

Namun kira-kira satu jam kemudian kemudian lelaki tua itu mulai merasakan sakit yang tidak tertahankan.

Dia dengan panik meminta Dokter Sherin Lin datang dan memohon kepada anak-anaknya agar dia menyelamatkannya.

Anak-anaknya tidak tahu bagaimana menghadapi situasi ini dan menelepon Sherin Lin untuk memberi tahu dia tentang situasinya.

Sejujurnya, Sherin tidak harus pergi.

Dia sudah tahu bahwa kedatangan nya juga tidak akan bisa mengubah hasilnya.

Anak-anak lelaki tua itu juga mengetahui hal ini, jadi mereka berpikir sangat tidak mungkin Sherin akan muncul.

Mereka hanya meneleponnya untuk menenangkan lelaki tua itu, karena itu memberinya sebuah harapan.

Anehnya, setelah Sherin menutup telepon, dia segera pergi menemuinya.

Ketika Sherin tiba di rumah lelaki tua itu, pasiennya mengerang kesakitan.

Saat dia melihat Sherin, matanya yang berkaca-kaca mulai memerah.

Dia terengah-engah. "Dokter Lin, tolong selamatkan saya!"

Sherin meletakkan tas medis yang dia bawa dan langsung meraih tangan lelaki tua itu untuk menenangkannya.

"Jangan khawatir tenangkan pikiranmu." Dia tahu lelaki tua itu sangat menyadari situasinya.

Dia tahu dia akan mati, jadi dia memegang Sherin seolah-olah dia adalah harapan terakhirnya.

Setiap kali dia sakit kritis, Sherin berhasil membawanya kembali dari ambang kematian.

Dia berharap keajaiban ini akan terjadi lagi.

Namun, Sherin tahu kali ini adalah finalnya.

Saat ini, mencoba mempertahankan hidupnya bukanlah yang harus dia lakukan.

Sebaliknya, dia harus mencoba membiarkan lelaki tua itu mati tanpa rasa sakit seminim mungkin.

Sherin mengambil jarum suntik morfin dari tasnya dan dengan terampil menyuntikkannya ke lelaki tua itu.

Dia jelas melanggar aturan otentik kedokteran.

Suntikan morfin membutuhkan persetujuan dari anggota keluarga.

Namun, tidak ada yang akan ada yang menyalahkannya dalam situasi ini.

Saat Sherin menyuntikkan morfin, dia berbisik di telinga pasiennya, "Ini akan segera berakhir. Perlahan, rasa sakit itu akan hilang. Ambil napas dalam-dalam dan rilekskan tubuh mu. Aku akan mengawasimu."

Pria tua itu dengan percaya diri menatap Sherin dan secara bertahap santai. Tangannya yang terkepal dengan erat mengendur dan dia bisa merasakan rasa sakitnya berangsur-angsur hilang.

Tiba-tiba, dia terdiam dan melihat banyak orang di depannya.

Dia tidak bisa mempercayainya.

Mengapa orang yang telah mati tiba-tiba ada di depanku?

Apakah mereka hantu?

Ayah? Ibu?

Istri?

Dia dengan ringan memanggil, "Ayah, ibu, istri! Kalian semua ada di sini!"

Sherin sudah terbiasa dengan adegan ini.

Manusia biasanya tidak melihat orang yang mereka cintai sebelum kematian mereka.

Namun, halusinasi yang umum untuk pasien dalam tahap terminal emfisema sudah biasa terjadi.

Berdasarkan ekspresi pasiennya dan sorot matanya, dia sudah memasuki dunia halusinasi.

Segera, napas lelaki tua itu mulai melambat dan melemah.

Ini berlangsung kira-kira setengah jam sampai lelaki tua itu akhirnya mengembuskan napas terakhirnya.

Sherin merasakan kesedihan yang mendalam saat dia berbalik dan mengumumkan pada keluarganya, "Dia telah pergi."

Seketika, seluruh ruangan ini dipenuhi raungan tangisan.

Seseorang dari generasi yang lebih tua dengan keras berteriak, "Berlututlah dan hormati kakek kalian dalam perjalanan terakhirnya!"

Kemudian, semua orang berlutut di depan tempat tidur.

Sherin mencoba menahan air matanya dan meninggalkan suasana yang menyedihkan itu dengan membawa tas medis yang dia bawa.

Menjadi seorang dokter selama bertahun-tahun, dia telah mengalami kejadian hidup dan mati pasien yang tidak terhitung jumlahnya.

Meskipun begitu, dia masih tidak bisa menghadapi kematian di depannya sampai sekarang, terutama pasien yang dia tangani.

Di masa lalu, mentornya mengatakan kepadanya bahwa dia terlalu emosional dan itu akan menjadi beban bagi karirnya.

Namun, Sherin tidak bisa berpura-pura tidak terpengaruh oleh kematian setiap pasien nya, karena dia selalu bertarung melawan Dewa Kematian.

Dia memiliki hasrat yang kuat untuk hidup.

Sherin menyalakan mobilnya dan melaju di jalan raya menuju seatown.

Angin menjadi lebih kencang. Awan hitam telah berkumpul dan menutupi hampir separuh langit.

Dari waktu ke waktu, guntur akan bergemuruh dan kilat akan membelah langit yang hitam itu, menghasilkan sinar cahaya yang menakutkan.

Sherin berakselerasi saat suara guntur menjadi lebih terkonsentrasi dan memekakkan telinga.

Beberapa detik kemudian, seluruh langit bergetar karena efek badai.

Sherin mulai merasa sedikit cemas. Ada semakin sedikit mobil di jalan.

Tiba-tiba, petir melesat melintasi langit dan menerangi suasana kacau!

Suara ledakan guntur bergema di jalan dan langit tampak terbelah saat hujan deras menyembur keluar.

Sherin bisa mendengar tetesan hujan es membanting atap mobilnya.

Jauh di lubuk hatinya, dia tahu dia harus keluar dari kekacauan ini, tetapi tidak ada tempat untuk berhenti di jalan raya.

Sherin hanya bisa membiarkan mobilnya melaju kencang seperti kuda liar yang tak terkendali.

Saat dia hendak keluar dari pintu keluar, Sherin tiba-tiba melihat seorang wanita tua memegang payung yang sudah rusak.

Dia berjalan di sisi jalan, tubuhnya benar-benar basah kuyup.

Rambut wanita tua itu menempel di dahinya saat air terus mengalir di wajahnya.

jari kakinya mencuat dari sepatu usangnya.

Dia jelas terlihat sangat miskin.

Sherin tidak tahu mengapa wanita tua itu berdiri di pintu keluar jalan raya dalam cuaca ekstrem seperti itu.

Tanpa pikir panjang, dia langsung menghentikan mobilnya dan berteriak pada wanita tua itu kemudian membuka sisi kiri pintu mobilnya.

"Nyonya ... Masuklah!" Wanita tua itu membuang payungnya yang rusak dan terhuyung-huyung masuk ke dalam mobil.

Saat dia menutup pintu, bau busuk memasuki lubang hidung Sherin.

Pengalaman memberitahunya bahwa wanita tua itu memiliki luka yang telah membusuk di suatu tempat di tubuhnya.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Mendadak Menjadi Permaisuri ke 6

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel En-PD153
8.9
Mantan kekasihku yang kukira telah tiada tiba-tiba muncul membawa wanita hamil yang disebut penyelamatnya. Dia secara tak masuk akal memintaku tinggal bersama mereka dan menawarkan upacara pernikahan sebagai kompensasi sementara ia menikahi wanita itu. Sebagai putri bangsawan dan menantu keluarga konglomerat, aku tak sudi dijadikan selingkuhan. Jika dia menolak hidup mewah, aku akan memastikan dia kehilangan segalanya hingga menjadi pengemis.
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa khusus pembaca 21 tahun ke atas ini mengeksplorasi sisi tersembunyi kehidupan yang jarang terungkap. Di balik topeng kesucian, tersimpan luka, dilema, dan kerinduan yang kompleks. Melalui narasi yang realistis dan eksplisit, pembaca diajak merefleksikan jati diri di tengah kegelapan demi menemukan titik cahaya. Sebuah hiburan penuh makna tentang pencarian makna hidup dan cinta yang tidak selamanya berjalan lurus, memberikan perspektif baru bagi pembacanya.
Sampul Novel Hari Bahagianya, Hari Kematian Aku
8.6
Hari pernikahan yang seharusnya indah berubah menjadi mimpi buruk. Secara sepihak, orang tua dan tunanganku memutuskan untuk mengganti posisi mempelai wanita dengan kakak kandungku yang sedang sakit keras. Karena aku menolak mentah-mentah keputusan tidak adil ini, mereka tega mengikatku di dalam rumah agar pernikahan tetap berjalan tanpa hambatan. Namun, kemalangan tidak berhenti di situ. Saat mereka pergi merayakan pesta, seorang penjahat menyusup dan menghabisi nyawaku dengan kejam. Ketika keluargaku akhirnya kembali untuk melepaskanku, mereka hanya mendapati jasadku yang telah membusuk.
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Duniaku runtuh saat menangani pasien VIP bernama Evelyn Santoso. Tunangan yang ia tangisi adalah suamiku, Bima. Namun di foto itu, dia adalah Brama Wijaya, taipan kejam, bukan pria konstruksi yang kurawat saat amnesia. Brama masuk tanpa mengenaliku, lalu memeluk Evelyn dan membisikkan janji setia yang sering ia ucapkan padaku. Melalui tatapan dinginnya, ia menegaskan bahwa pernikahan kami adalah aib rahasia yang harus segera ia lenyapkan selamanya.
Sampul Novel Janda Bertemu Dengan Duda
8.1
Pasca kehilangan Rizal, Sonia pindah ke apartemen kecil bersama dua anaknya, Alif dan Hana, demi lari dari duka. Di sana, ia bertemu Yudha, seorang duda karismatik yang membesarkan putrinya, Mira, sendirian setelah tragedi serupa. Meski sama-sama terluka, pertemuan di lorong apartemen itu memicu percikan emosi. Kini, mereka harus memilih: tetap terbelenggu kenangan pahit masa lalu atau meruntuhkan dinding ketakutan demi menyambut cinta baru yang hadir di depan mata.
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Kisah mafia dan romansa ini berawal saat seorang ayah tega menjual putri kandungnya sendiri. Seiring berjalannya waktu, gadis itu tumbuh dewasa hanya untuk menghadapi kenyataan pahit tentang garis hidupnya. Dia tidak memiliki pilihan selain menerima takdir kelam yang telah ditetapkan, yakni menjadi istri dari seorang pengedar narkoba yang berbahaya. Perjalanan hidupnya kini terjebak dalam dunia kriminalitas yang penuh dengan intrik dan bahaya besar.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan