
Mendadak Dinikahi CEO
Bab 2
"Maaf, Pah. Untuk sekarang Iqbal musti tanganin sesuatu dulu. Iqbal pulang sekitaran jam 10 malam." Morgan melirik jam yang terpasang di dinding. Pria itu menyipitkan mata sebab penglihatan yang mulai mengabur.
Ia menganggukkan kepala. Sekarang sudah pukul delapan malam. "Ya sudah, saat pulang nanti kamu jemput Chayana di Hotel Bintang Lima Argo's."
"Baik, Pah."
Panggilan telepon terputus. Chayana mendadak lesu. Wanita itu cemberut tetapi tak mampu membantah. Menjadi putri satu-satunya di keluarganya, sangat sulit. Apalagi dengan kenyataan sang papah sangat menyayanginya.
"Ayo, papah antar ke sana." Chayana membulat.
"Pah, enggak usah, ih." Chayana menatap Morgan memohon. Pria itu menggeleng dan memilih meraih kunci mobil.
Ia memberikan satu kecupan sayang di bibir istrinya, dan berpamitan sebentar. Terkadang Chayana iri melihat keromantisan serta keharmonisan papah dan mamahnya.
Hal ini pula yang menjadikannya bertekad untuk menikah dengan sekali dalam hidup.
Morgan merangkul bahu sang putri dan menggiringnya keluar dari pekarangan rumah. Mau tak mau, ia harus diantarkan oleh sang papa.
***
Chayana tak menyangka. Saat menjejakkan kaki di depan pintu hotel, ia harus dibuat gelisah dengan layar yang menampilkan foto mesra kedua mempelai.
Dari nama pria yang tercantum di sana, Chayana tahu jika ia sudah salah datang ke pesta ini. Namun, ada yang berbeda dari itu. Nama memang sama, tetapi fisik hingga wajah berubah drastis dari terakhir kali mereka bertemu.
Chayana menggeleng. Mungkin saja bukan pria itu. Dengan tersenyum yakin, Chayana kembali melangkah masuk dan memberikan undangan ke salah satu penyambut tamu.
Langkah Chayana berhenti saat di depan sana, ia melihat Damian yang berdiri membelakanginya. Belum sempat wanita itu memanggil nama sang kekasih, Damian terlihat tersenyum dan memberikan satu kecupan pada bibir wanita yang tengah mengandung.
Mereka saling tersenyum dan melangkah masuk ke dalam ballroom. Chayana tak mampu menyangkal jika perhatian dan kemesraan yang mereka tunjukkan sudah mampu meruntuhkan hatinya. Bahkan kaki yang semula bersemangat melangkah, kini rasanya tak sanggup melangkah.
Wanita itu berusaha menyangkal sekuat tenaga dan memilih memperhatikan diam-diam kedua orang itu.
"Chaa? Yuk, masuk." Mauren yang baru saja datang menatap heran pada Chayana yang tak menunjukkan ekspresi senang.
"Lo kenapa?"
"Ren, tolong pegangin gue buat enggak melakukan kekerasan sama ibu hamil."
"Hah?"
Chayana menatap tajam ke dalam ballroom dan mengangkat dagunya. Rambutnya ia sampirkan ke belakang, kemudian berjalan anggun meninggalkan Mauren dengan kebingungannya di sana.
"Sialan!" Umpatan itu membuat Mauren mendelik ke arah Chayana . Sahabatnya tampak menutupi separuh wajah menggunakan tas tangan sambil menatap penuh amarah pada meja di depannya.
"Lo ngapain, sih?"
Chayana tak menjawab. Mauren mencoba menatap lebih jelas apa yang ditatap Chayana . Wanita itu langsung tersedak saat Chayana merangkul lehernya cepat.
"Huuust ... lo diam aja, deh."
Chayana menegakkan badan saat dilihatnya Damian tengah pergi. Pria itu berjalan ke luar ballroom. Dengan cepat, Chayana menyalip beberapa meja dan berdeham sejenak.
Ia tersenyum manis dan menyapa wanita yang bersama Damian itu. "Hai, boleh aku duduk di dekatmu?"
Wanita itu tersenyum manis dan mempersilakan Chayana duduk. Mereka berdua saling mengenalkan diri.
"Usia kandunganmu sudah berapa bulan?"
Reina---wanita itu tersenyum ramah dan memegang perutnya. "Sudah tujuh bulan."
"Wahh! Tidak lama lagi berarti. Ohiya, kamu datang bareng siapa? Aku lihat kamu sendirian di sini?"
Chayana memperhatikan sekitar. Takut jika Damian datang dan memergoki dirinya.
"Aku datang dengan suamiku," ujarnya diakhiri dengan senyuman.
Tatapan Chayana mengarah pada wanita itu. Jantungnya serasa berhenti memompa. Apa yang dikatakan oleh wanita ini? Suami? Damian?
"Kapan kalian menikah?"
"Sekitar dua tahun lalu."
Chayana mengerjap cepat. Jadi yang menjadi selingkuhan di sini adalah dia? Wah! Hebat! Pria itu yang mengemis cinta padanya, dan sekarang malah membalasnya seperti ini?
Suara pengisi acara mulai terdengar. Chayana berusaha sekuat mungkin menahan bulir bening yang sudah menumpuk di pelupuk matanya. Ia lantas tersenyum dan menatap wanita itu.
"Ah, sebentar. Sepertinya ada yang memanggil." Chayana sesegera mungkin mengambil smartphone di tas tangannya. Di sana sang kakak tengah meneleponnya.
"Assalamualaikum, Bang."
"Waalaikumsalam, Sayang. Abang pulang cepat dan lagi singgah di warung. Divaa nitip martabak. Kamu mau menitipkan sesuatu?"
"Emmm, aku nitip mie ayam. Lomboknya paling banyak, Bang. Kalau perlu sesendok nasi penuh."
"Sayang?"
"Abang bisa jemput ke sini, kok." Chayana tersenyum pada wanita yang tengah memperhatikannya itu. Ia kemudian menutup speaker dan izin untuk pergi dari sana pada Reina.
Chayana berjalan lesu menuju sudut ruangan. "Are you okey, Honey?"
Suara tangis Chayana perlahan mengalun. Ia beberapa kali menghapus air matanya. Hatinya sesak tak terkira. Pria itu menjadikannya sebagai selingkuhan?
"Abang akan ke sana." Sambungan telepon berakhir. Chayana menunduk dalam. Pandangannya mengabur dan saat itu pula lengannya ditarik. Ia dibawa menuju altar pernikahan.
Dari pandangannya yang mengabur, Chayana menatap punggung tegap pria itu. Kulit putih dengan lengan yang kokoh. Chayana pasrah saja saat ia didudukkan di samping pria itu. Tepat di depan penghulu.
Selendang putih ditaruh di atas kepalanya dan pria itu. Saat tangan pria itu menyalami tangan penghulu, tatapannya mengarah ke arah Chayana . Mereka saling tatap lama.
"Siapa nama mempelai wanita dan ayah wanitanya?"
"Chayana Sun Fobos dan Morgan D Lay," tegasnya dengan mata tajam menatap Chayana .
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Ananda Argo Ray Astron bin alm. Rekta Ariel Astron dengan wanita bernama Chayana Sun Fobos binti Morgan D Lay dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."
"Saya terima ... nikah dan kawinnya ... Chayana Sun Fobos ... binti Morgan D Lay ... dengan mas kawinnya tersebut ... dibayar ... tunai." Ray mengucapkan kalimat itu dengan sesekali menyelipkan jeda demi memberikan Chayana kesempatan untuk membatalkan pernikahan ini. Namun, wanita itu tak bergeming sama sekali.
Saat teriakan sah menggema. Chayana tersentak dan menatap sekitar. Wanita itu baru sadar akan apa yang terjadi. Ia mengedarkan pandangannya hingga berhenti pada seorang pria yang terkejut menatapnya. Di sampingnya, Reina memegang tangannya sambil melirik ke arah altar dan suaminya.
Beberapa wartawan mulai mendekati mereka. Meminta kejelasan atas pengantin wanita yang diganti. Chayana berdiri diikuti oleh Ray. Dengan sigap bodyguard yang sedari tadi berdiri mendekat dan menghalau para wartawan.
Blits kamera mulai beradu. Memotret banyak momen tentang wanita yang dinikahi oleh CEO muda, Ray.
Bersamaan dengan itu, dua pria mendekati kedua mempelai. Iqbal mencengkeram kuat kerah kemeja Ray. Tangannya terkepal bersiap melayangkan satu pukulan pada pria itu.
Sebelum tinju Iqbal mendarat sempurna, suara tamparan menggema di ballroom. Iqbal dilanda kebingungan. Yang menikahi Chayana tiba-tiba siapa dan yang ditampar oleh adiknya itu siapa? Hadeuh! Iqbal tak paham.
Iqbal memperhatikan seorang pria yang masih memalingkan wajah sebab tamparan Chayana .
'Ini yang benar yang mana, sih?' batin Iqbal menjerit. Bibirnya meringis saat melihat setetes darah memenuhi pinggiran bibir pria itu.
Anda Mungkin Juga Suka





