
Mendadak Dinikahi CEO
Bab 3
"Sayang?"
"Abang bisa jemput ke sini, kok." Suara Chayana terdengar lirih dan tersendat-sendat.
"Are you okey, Honey?"
Iqbal mengernyit bingung. Tak lama suara adiknya yang sedang menangis terdengar. Tangan pria itu terkepal kuat. Apa yang terjadi pada adik kesayangannya itu?
"Abang akan ke sana." Sambungan telepon berakhir. Iqbal dengan segera mengambil pesanannya. Terburu-buru menuju mobil demi menjemput Chayana .
Sesampainya di sana, pria itu kembali dibuat tercengang saat menatap layar lebar yang menampilkan prosesi pernikahan.
"Chayana Ayna Prakusuma dan Morgan Ilyas Prakusuma."
What? Apa ia tak salah dengar? Itu nama adiknya?
Pikiran Iqbal seketika blank. Bukannya adiknya itu pergi untuk menghadiri pernikahan? Bukan untuk menikah, 'kan?
"Saya terima ... nikah dan kawinnya ... Chayana Ayna Prakusuma ... binti Morgan Ilyas Prakusuma--"
Mendengar itu, Iqbal langsung menuju pintu hotel. Beberapa penjaga menghadangnya. Meminta surat undangan untuk acara pernikahan itu.
Pria itu mencoba menjelaskan situasinya kali ini. Ia kemudian mengerang saat penjaga itu tak menerima apa pun yang dia katakan.
Iqbal seketika gelisah. Pria yang selalu sabar itu kini tidak bisa mengendalikan emosinya. Dia pun mendorong keras para penjaga dan berlari memasuki ballroom.
"Sah!"
Napas Iqbal tercekat. Dia sudah terlambat. Pria itu mengepalkan tangan kuat dan berlari kecil menuju altar pernikahan.
Matanya menyorot tajam pada pria aneh yang menikahi adiknya. Saat sampai di sana pun ia dibuat terkejut atas tamparan Chayana pada pria lain.
Drrrt! Drrrt!
Iqbal merogoh smartphone di sakunya. Dial telepon menunjukkan panggilan dari sang ayah.
Pria itu menelan ludah dan menatap Chayana pelan. Chayana mendekat pada Iqbal dan menurunkan bahu pria itu. Smartphone itu diapit oleh telinga adik dan kakak itu.
"Pulang dan bawa adik dan iparmu itu."
Suara papa yang dingin membuat Iqbal dan Chayana menelan ludah takut. Papa pasti melihat pernikahan ini dari TV.
***
Kini Chayana berada di salah satu kamar di hotel itu. Lebih tepatnya kamar yang dipesan khusus untuk kedua mempelai.
"Chaa, jelaskan apa yang terjadi."
Chayana menatap takut pada Iqbal. Ia pun tak sadar kalau telah menikah dengan Ray.
"Maafkan saya." Ray tiba-tiba membungkuk dan meminta maaf pada Iqbal.
"Seharusnya Anda mengatakan itu sebelum tanpa izin menikahi adik saya." Iqbal menanggapi dingin permintaan maafnya.
"Saya meminta maaf karena menikahi Chayana tanpa lamaran."
"Apa?"
Ray menatap tenang pada Iqbal. "Dan terima kasih sudah menjadi saksi atas pernikahan kami."
Iqbal mangap-mangap tak percaya. Pria ini benar-benar gila. Dan sekarang dia menjadi adik iparnya? Tidak! Pernikahan ini tak sah!
"Siapa yang bilang pernikahan ini sah?"
"Memang sudah sah. Anda sudah melihat pernikahan kami. Itu artinya Chayana sudah memiliki wali dari pihak keluarganya. Hanya itu yang saya butuhkan sebagai pelengkap pernikahan, bukan?"
Iqbal maju selangkah tetapi lengannya ditahan oleh Chayana . Adiknya itu menunduk dalam sembari melirik pria yang baru saja datang bersama wanita yang berada di gandengannya.
Damian yang baru saja datang, langsung menggenggam tangan Chayana dan meminta penjelasan atas pernikahan tadi.
Reina mendelik dan melepaskan tautan tangan mereka. "Kamu apa-apaan, sih, Mas?"
"Diam dulu. Aku mau bicara sama Chayana." Damian berbalik menatap Chayana .
Sebelum pria itu sempat mengeluarkan kata lagi, Chayana lantas membuka suaranya.
"Seperti yang kamu liat. Aku udah nikah."
"Aku statusnya masih pacar kamu, Chaa. Ka---"
"Lebih tepatnya mantan pacar."
"Pacar?!"
Reina menaikkan suaranya. "Kamu berencana mau nikah lagi?"
Damian menatap Reina. "Iya. Memang kenapa?"
"Mas, kamu selingkuhin aku?"
Dengan santainya Damian menjawab, "Memang kenapa kalau aku selingkuh lagi? Sebelumnya kamu kan selingkuhanku sampai anak itu hadir."
Raut sedih Chayana seketika luntur. Ia pikir gosip tentang Damian seorang duda adalah candaan belaka. Ternyata benar-benar duda dan menikah kembali secara diam-diam dengan selingkuhannya.
"Mas, kamu enggak pikirin perasaan aku?"
"Bukannya seneng, yah? Kamu ada temen buat ngobrol nantinya."
Reina mengepalkan tangannya kuat. Perkataan itu mengingatkan dirinya tentang mantan istri Damian. Dulu, saat mereka bertemu, Reina juga mengatakan hal yang sama.
Iqbal dan Chayana menggeleng jijik. Sementara Ray sibuk dengan macbook di tangannya. Sejak kapan macbook itu ada di sana?
Damian beralih kembali menatap Chayana . Ia melangkah agar lebih dekat dengan wanita itu.
"Dii, kalau kamu bilang mau nikah pasti aku bakalan nikahin kamu. Kenapa kamu malah nikah sama dia?"
Chayana menghela napas lelah. Ia menatap Damian dengan nyalang. "Hubungan kita udah berakhir. Mendingan kamu pergi."
"Dii---"
"Dami! Liat sendiri, 'kan? Wanita murahan ini udah enggak mau sama kamu. Jadi stop bujukin dia! Kamu tuh udah punya aku! Enggak cukup apa?!"
"Aku lagi enggak bicara sama kamu. Tapi sama Chayana ."
Reina kesal bukan main. Ia langsung mendaratkan tamparan pada Chayana . Hal itu membuat Damian marah.
"Apa yang kamu lakukan, hah?!"
"Memberikan pelajaran pada pelakor ini!
Kamu---"
"Wah!"
Mendengar seruan itu, Iqbal bergidik ngeri. Wanita hamil itu telah mencari lawan yang salah.
Mood Chayana yang sudah ambyar kembali dihancurkan oleh wanita gila itu. Chayana kemudian menjambak rambut Reina dan mendorongnya di kasur. Chayana paham, wanita itu tengah hamil.
Jadi untuk memberikan pelajaran, ia membawa Reina ke atas kasur. "Gue udah nahan kesabaran karena perilaku lo. Tapi lo yang mancing! Rasain, nih!"
Suara rintihan Reina sudah tak tertolong. Iqbal dan Damian mencoba melepaskan mereka tetapi gagal. Sementara Ray hanya melirik sekilas pertengkaran itu.
'Chayana masih ganas seperti dulu.'
Perkelahian itu tak terelakkan. Ingin memanggil polisi? Jelas itu ide yang sangat gila. Mengingat mereka yang cukup terkenal. Namun, sampai kapan lengkingan suara Reina itu menghilang?
Iqbal gusar. Tak memiliki ide sama sekali untuk menghentikan kebrutalan adiknya. Matanya melirik Chayana yang sudah bangkit dari pergulatannya saat memberikan 'sedikit pelajaran' pada Reina.
Hal itu membuat Iqbal menghela napas lega. Kelegaannya tentu tak berlangsung lama sebab kebodohan Damian.
"Mari masuk, Pak."
Iqbal seketika terkena serangan jantung. Pria itu terlampau syok melihat kedatangan beberapa polisi. Ray yang tadinya sibuk bermain macbook lantas berdiri sembari membuka penutup telinga.
'Sialan! Dia pake penutup telinga. Pantes ngak peduli tadi!' Gerutuan itu hanya mampu Iqbal lontarkan di dalam pikirannya. Ia masih waras mengingat polisi sudah menginterogasi Reina dan Chayana .
***
Setelah melalui debat alot. Reina dinyatakan bersalah karena sudah memulai keributan. Namun, Chayana tetap mendapatkan sanksi karena menyerang wanita hamil tentunya.
Chayana kini berada di dalam mobil bersama Iqbal dan Ray. Hening yang menyelimuti membuat suasana kembali canggung.
"Bang, kenapa dia ikut?"
Iqbal melirik ke belakang, tepat di mana Ray tengah memainkan macbook-nya. "Lupa tadi? Apa yang dibilang sama papa di telepon?"
Chayana menelan ludah. Ia beralih menatap Ray.
"Ada apa?"
"Kasian."
Ray mengangkat sebelah alisnya. Kasihan? Mengapa Chayana kasihan padanya?
Saat sampai di rumah Chayana , Ray langsung tahu apa yang perlu dikasihani olehnya. Bukannya disambut atau diberikan kesempatan menjelaskan. Pria itu malah diberikan bogeman oleh sang papa mertua.
Tubuhnya bahkan harus tersungkur di lantai rumah sebab satu pukulan di pipinya. Ray meringis. Tangannya mengusap sudut bibir yang sudah mengeluarkan bercak darah. Kepalanya pun terasa pusing.
Chayana yang melihat itu meringis sakit. Kakinya ingin melangkah tetapi dicegah oleh Iqbal.
"Tanpa izin saya, berani sekali kamu menikahi putri saya! Bangun kamu!"
Morgan mencengkeram kuat kerah baju Ray sembari menatap marah padanya. Ray terdiam dan menunduk dalam.
"Maaf." Hanya kata itu yang mampu Ray lontarkan.
Buuugh!
Satu pukulan mendarat lagi pada wajah tampannya.
Anda Mungkin Juga Suka





