
Menceraikan Suamiku yang Kejam
Bab 3
Pengawal mengantarku kembali ke vila, lalu pergi. Sebelum membuka pintu, aku melihat dia memasukkan kode sandi. Itu bukan kode sandi yang dulu karena sudah diganti dengan ulang tahun Hanum.
Aku berjalan tertatih-tatih, memandang seisi rumah. Segalanya tampak sama dengan tiga tahun lalu, tetapi juga terasa berbeda.
Di depan pintu terdapat sepasang sandal pria dan wanita. Sandal pria itu milik Jovan, yang wanita milik Hanum.
Di kamar tidur Jovan, terdapat dua bantal. Sementara itu, lemari sebelah kiri berisikan pakaian Jovan, sebelah kanan berisikan pakaian Hanum.
Di kamar mandi, terdapat dua sikat gigi dan gelas kumur. Ada juga produk perawatan wanita yang banyak.
Semua ini seakan-akan memberitahuku bahwa Jovan dan Hanum sudah lama tidur bersama.
Ketika pintu terbuka, aku sudah keluar dari kamar yang sudah lama bukan milikku. Tampak dua sosok yang berpelukan dan berciuman di bawah cahaya bulan.
Tap! Aku menyalakan lampu ruang tamu. Seketika, wajah Hanum dipenuhi keterkejutan. Jovan refleks mendorong Hanum.
"Kapan kamu kembali?" tanya Jovan mengusap dahinya. "Aku minum terlalu banyak. Kalau Hanum nggak mengantarku pulang, entah gimana aku bisa bebas dari para pemabuk itu."
Kemudian, Jovan mengernyit dan menatapku. "Yulia, seharusnya ini tugasmu. Kalau kamu nggak menggila waktu itu, mana mungkin aku sesulit ini selama bertahun-tahun."
Aku hanya berdiri di tempatku, mendengarkan keluhan Jovan yang tanpa henti. Hingga akhirnya, Hanum keluar dari dapur dan membawakan secangkir air hangat.
"Minum air hangat dulu supaya tenggorokanmu nggak kering." Jika dibandingkan dengan kelembutan Hanum, aku terlihat sangat menyedihkan. Hanum lebih seperti istri yang penuh perhatian dan penuh kasih sayang.
Jovan merasa gusar. Dia menghela napas, lalu meminum air yang diberikan Hanum.
"Hanum sedang mencari tempat tinggal yang cocok. Sebelum ketemu, dia akan tinggal di rumah kita."
Ketika Jovan mengira aku tidak akan merespons, aku malah berkata, "Aku tahu, kamarmu penuh dengan barangnya."
Ekspresi Jovan sontak membeku. Dia melemparkan gelas di tangannya. "Kamu masuk ke kamarku?"
Suara rendah yang disertai suara pecahan kaca itu seolah-olah mengembalikanku ke ruang bawah tanah yang gelap gulita. Pikiranku hampa. Tanpa sadar, setelah mendengar pertanyaan itu, aku langsung meminta maaf, "Maaf! Maaf!"
Jovan termangu beberapa saat, lalu mendekat dengan alis berkerut. "Yulia, kamu kenapa? Aku cuma tanya biasa."
Aku tidak berkata apa-apa. Yang merespons adalah Hanum. Wanita itu menghela napas dan berujar, "Hais ... Kak Yulia, kamu nggak perlu begini. Aku nggak nyangka kamu begitu membenciku. Meskipun tiga tahun sudah berlalu, kamu masih begini. Jangan bilang kamu berakting untuk menipu Jovan?"
Jovan seolah-olah tersadar setelah mendengar ucapan Hanum. "Apa itu benar, Yulia? Sudah kubilang berkali-kali, saat itu aku sedang sibuk dan Hanum menemaniku."
"Kenapa kamu nggak percaya? Asal kamu tahu, kamu hampir mencelakai Hanum. Kariernya yang menjanjikan menjadi hancur karena kamu menuduhnya sebagai pembunuh. Dia menjadi bahan omongan orang."
"Apa kamu tahu betapa besarnya kerugian yang kamu timbulkan untuknya? Kamu ini jahat sekali. Kamu ... kamu pasti nggak tahu, Hanum hampir bunuh diri gara-gara kamu!"
Anda Mungkin Juga Suka





