
Menceraikan Suamiku yang Kejam
Bab 4
Diamku membuat Jovan marah. Dia mengambil gelas di meja, lalu melemparkannya ke arahku hingga pecah berkeping-keping.
Darah mengalir di dahiku. Dia mendongak dengan tertegun, lalu menatapku. "Kamu ... kenapa nggak menghindar?"
Menghindar? Memangnya aku bisa menghindar? Bukannya ini perintahnya? Kalau aku menghindar, dia akan memberikan tulang-tulang orang tuaku kepada anjing. Bukankah Jovan adalah orang yang selalu menepati janjinya? Dia sendiri yang mengatakan ini dulu.
"Yulia, kalau kamu berani bicara buruk tentang Hanum di luar, aku pasti akan membuatmu menderita," ancam Jovan.
Di ruangan yang gelap itu, hanya karena beberapa helai rambut Hanum rontok, Jovan langsung menyuruh orang memukulku. Jika Hanum tidak bisa makan, aku tidak boleh makan, bahkan asupan airku dibatasi. Saat Hanum hampir terjun dari gedung, Jovan menyuruh orang mematahkan tulang kaki dan tanganku.
Darah mengalir semakin banyak. Aku mengedipkan mataku yang berkunang-kunang. Jovan bergegas menghampiriku. "Hanum, cepat bawakan iodin dan kain kasa!"
Hanum hanya berdiri di tempatnya. "Jovan, ini hasil yang diinginkan Kak Yulia. Dia cuma diam di tempatnya saat kamu melemparkan gelas supaya kamu merasa bersalah."
Jovan termangu. Tangannya yang memegang lenganku tiba-tiba terlepas. Setelah waktu yang cukup lama, terdengar suara rendahnya. "Yulia, kamu kekanak-kanakan sekali. Kamu kira kamu bisa mengendalikanku dengan cara seperti ini?"
"Sejak kamu keluar, apa kamu sudah minta maaf? Asalkan kamu minta maaf pada Hanum sekarang, aku nggak akan meminta pertanggungjawabanmu lagi dan akan memaafkanmu."
Hanum menyeringai. "Jovan, kamu rasa permintaan maaf saja sudah cukup?"
Jovan menatapku dengan ekspresi rumit. Kemudian, dia mengangguk dengan tegas. "Yulia, kamu harus berlutut dan minta maaf."
Darah di dahiku tiba-tiba menetes ke punggung tangan Jovan. Seperti terkena air yang mendidih, Jovan tanpa sadar menghindar.
Hanum berjalan ke arahku dan meraih tangan Jovan. Kemudian, dia mengambil tisu dan menyekanya dengan lembut.
"Kak Yulia, apa yang kamu tunggu? tanya Hanum.
Wajah Jovan terlihat sangat masam. Aku mendongak dengan kaku. Beberapa saat kemudian, aku menarik napas dalam-dalam dan menyahut, "Aku bisa berlutut dan minta maaf, tapi aku mau tahu di mana orang tuaku dimakamkan."
Jovan terkejut mendengar pertanyaan itu. Sementara itu, tatapan Hanum agak menghindar.
Setelah beberapa saat, Jovan mengernyit dan menatap Hanum. "Seingatku, kamu yang mengatur pemakaman mereka. Di mana kamu makamkan mereka?"
Pandangan Hanum yang berkedip-kedip membuatku curiga. Aku maju dan meraih tangannya dengan erat. "Di mana kamu makamkan orang tuaku?"
"Lepaskan aku dulu!"
Namun, aku menggenggamnya dengan semakin erat. "Kasih tahu aku, di mana kuburan mereka?"
Wajah Hanum yang suram tiba-tiba menunjukkan senyuman yang aneh. "Kenapa aku merasa kamu lebih membenciku sekarang? Kamu ingin memenangkan hati Jovan kembali, lalu menabrakku dengan mobil untuk membunuhku ya?"
Begitu mendengarnya, Jovan yang berdiri di samping sontak memelotot. "Yulia, lepaskan!"
Aku hanya diam. Jovan membentak dengan semakin keras, "Aku bilang lepaskan! Apa kamu mau kembali ke ruang bawah tanah itu?"
Kembali? Aku tidak ingin kembali! Aku tiba-tiba melepaskan tangan Hanum, berdiri menatap pria di seberangku dengan lelah.
"Jovan, kita cerai saja."
Ruangan seketika menjadi sunyi senyap. Jovan menatapku dengan tidak percaya. Ekspresinya dipenuhi keterkejutan.
"Cerai? Lelucon macam apa ini? Aku cuma menyuruhmu melepaskan tanganmu, tapi kamu malah ingin cerai? Kamu nggak lihat Hanum kesakitan? Yulia, sebenarnya apa maumu?"
Aku menggigit bibirku, menatap pria yang pernah kucintai lekat-lekat.
Setiap hari di ruangan yang gelap itu adalah siksaan bagiku. Aku tidak percaya Jovan akan melakukan hal seperti ini kepadaku demi Hanum, lebih tidak percaya dia menyuruh orang menyiksaku hanya untuk melampiaskan amarah Hanum.
Aku berucap dengan nada datar, "Kalau kalian saling mencintai, aku akan merestui hubungan kalian. Bukannya hasil ini sangat bagus?"
Jovan sontak terperangah, seolah-olah aku mengungkap isi hatinya. "Kamu bicara apa? Dengarkan aku, jangan buat onar lagi. Aku nggak pernah ingin cerai denganmu. Aku dan Hanum ...."
"Pokoknya aku ingin cerai denganmu," selaku.
Ekspresi Jovan menjadi sangat suram. Hanum malah terkekeh-kekeh. "Kak Yulia, memangnya kamu mau ke mana setelah meninggalkan rumah ini? Sekarang perusahaan milik Jovan. Kaki dan tanganmu terluka. Kamu mau tinggal di kolong jembatan?" Ucapan itu bak batu besar yang menimpa hatiku.
Sementara itu, Jovan menatapku dengan kaget. "Apa? Tangan dan kakimu terluka? Apa yang sebenarnya terjadi?"
Aku mengikuti arah pandang Jovan yang memandang ke bawah.
Anda Mungkin Juga Suka





