
Menceraikan Suamiku yang Kejam
Bab 2
"Sudahlah, Jovan. Jangan marah lagi. Kita harus bertemu orang sebentar lagi. Kita pergi saja dulu."
Jovan menatapku yang masih berjongkok di tempat. Dia menggenggam ponselnya dengan erat, lalu berkata dengan kesal, "Yulia, kalau kamu nggak mau berubah, jangan pernah muncul lagi di depanku!"
"Selama tiga tahun ini, apa saja yang sudah kamu lakukan sebagai istri? Hanum yang selalu menemani dan merawatku. Kalau nggak ada dia, aku mungkin sudah nggak bisa bertahan. Kamu rasa kamu masih pantas untukku?"
Usai melontarkan itu, Jovan meraih tangan Hanum dan berbalik pergi. Hanum menyunggingkan senyuman sinis kepadaku. Dia menggerakkan mulutnya untuk mengucapkan kata "loser" tanpa suara.
Sekujur tubuhku gemetaran melihat keduanya pergi bersama.
"Bu! Jari kelingkingmu kenapa?" Aku perlahan-lahan menunduk melihat jari kelingking kananku.
Tiga tahun berpisah, Jovan selalu pergi dengan terburu-buru saat datang melihatku. Bahkan, dia tidak menyadari ada yang salah dengan kakiku, apalagi jari kelingking kananku yang terpelintir.
Aku tersenyum mencela diri sendiri. "Nggak apa-apa, cuma patah dan belum disambung."
"Aku antar kamu ke rumah sakit." Pengawal memapahku.
Sekujur tubuhku terasa lemas. Aku hanya bisa bersandar di tubuh pengawal.
Tiga tahun lalu, Hanum muncul di sisi Jovan. Aku tahu Jovan punya teman perempuan masa kecil yang sangat dekat dengannya. Kemudian, keluarga wanita itu mengalami masalah dan mengirimnya ke luar negeri. Selama bertahun-tahun, Jovan tidak pernah berpacaran ataupun dekat dengan wanita.
Aku tahu Jovan sedang menunggunya, sementara aku juga sedang menunggu Jovan.
Selama bertahun-tahun itu, keluargaku memperkenalkanku kepada banyak pria, tetapi aku menolak semuanya dengan halus. Orang tuaku hampir mengira aku lesbi, hingga suatu hari Jovan datang mencariku di tengah hujan deras.
"Yulia, aku nggak akan tunggu lagi. Apa kamu punya pria yang kamu sukai? Kalau nggak ada, gimana kalau menikah denganku saja?"
Aku sungguh bersemangat saat itu. Aku langsung memeluknya dengan erat. Jovan tidak akan tahu betapa aku mencintainya saat itu. Aku memberikan segalanya, berusaha menjadi istri yang baik dengan selalu merawatnya.
Seiring berjalannya waktu, semua pengorbananku akhirnya mendapat hasil yang baik. Namun, semuanya berubah setelah Hanum kembali.
Aku sudah menemukan saksi mata. Yang menabrak orang tuaku adalah Hanum. Dia berkemudi sambil mabuk. Karena takut, dia menabrak orang tuaku lagi sampai mati!
Namun, Jovan sama sekali tidak percaya. Dia bahkan membela Hanum mengatakan mereka bersama sepanjang malam itu. Dia juga menyuap saksi mata untuk mengubah pernyataan.
Aku sebatang kara, dianggap gila karena cemburu. Aku tidak akan pernah melupakan masalah ini untuk selamanya.
Hari itu saat tiba di rumah sakit, aku melihat dua jasad yang sudah tidak bisa dikenali.
Aku juga tidak akan pernah lupa bagaimana Jovan menipuku dan membawaku ke ruang bawah tanah yang gelap gulita! Dia mengurungku dengan kejam!
"Yulia, kamu terlalu emosional. Kamu butuh ketenangan."
....
"Gimana kamu bisa cedera seperti ini?" tanya Dokter sambil mengernyit. Kemudian, dia melirik pengawal di samping. "Kamu keluarga pasien?"
Pengawal memaksakan diri untuk mengangguk.
"Cederanya sudah begitu lama. Kenapa baru datang sekarang? Meskipun jari kelingking ini disambung, hasilnya nggak bakal kembali seperti semula. Terus, kakimu kenapa?"
Aku perlahan-lahan mendongak dan melirik pengawal. Aku tahu dia hanya mengikuti instruksi Jovan. Itu sebabnya, aku tidak mengungkapkan apa yang terjadi di ruang bawah tanah.
Jika tidak, Jovan tidak akan pernah memberitahuku di mana dia menguburkan orang tuaku.
Anda Mungkin Juga Suka





