Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menantu Miskin Itu Ternyata Sultan

Menantu Miskin Itu Ternyata Sultan

Menyamar dengan penampilan lusuh, Gara yang sebenarnya adalah seorang miliarder memilih menikahi Mia. Gara tidak pernah peduli saat dirinya dihina, namun ia tidak tinggal diam ketika sang istri yang direndahkan. Demi melindungi Mia, Gara membawa istrinya pergi dan mengungkap identitas aslinya di hadapan semua orang. Pada akhirnya, adik ipar dan ibu mertuanya yang dahulu kerap meremehkan mereka harus berlutut dan menangis memohon maaf atas segala kesalahan masa lalu mereka kepada Mia.
Bab
Bagikan

Bab 5

. Pekerjaan di luar kota.

“Kamu kerja apa sih sebenarnya?” tanya Mia.

Gara tersenyum mendengar pertanyaan istrinya, lalu dia menjawab dengan tenang. “Kalau aku tidak punya pekerjaan tetap, apa kamu khawatir akan hidup menderita denganku?”

“Eh, bukan. Aku cuma penasaran. Tapi tidak masalah. Semua orang punya rezeki masing-masing. Kenapa harus khawatir?”

Gara melihat Mia lebih dekat, dia membelai wajah Mia polos itu dengan begitu lembut.

“Itu benar. Tapi kamu jangan khawatir, aku tidak akan membiarkanmu menderita lagi. Aku janji padamu.”

Mia tersenyum, dia semakin merasa bahagia mendengarnya. Lalu mereka berangkat tidur.

Pagi ini, Mia bangun lebih terlambat dari biasanya. Tadi dia merasa sakit kepala dan Gara menyuruhnya untuk tidak bangun. Gara menggantikan pekerjaannya untuk membereskan rumah.

Saat Mia turun, dia melihat Gara sedang bersama ayahnya. Ada sebuah amplop di tangan ayahnya. Entah amplop apa itu, tapi sepertinya mereka baru saja berbicara serius.

Mendengar suara langkah kakinya mendekat, Gara menoleh dan segera menghampirinya.

“Mia, hari ini aku ada pekerjaan diluar kota. Bisa jadi aku akan menginap. Tapi aku usahakan cepat beres agar bisa pulang. Tidak apa-apa, kan?”

Pekerjaan diluar kota? Memang bekerja kuli bisa sampai ke luar kota? Mendadak Mia memikirkan hal itu.

Tapi Mia tidak enak untuk bertanya, dia mengangguk saja. “Tidak apa-apa. Kalau begitu, kamu sarapan dulu ya?”

“Aku buru-buru dan sedang ditunggu. Jangan khawatir, aku bisa sarapan di jalan saja.”

Gara mencium kening Mia dan berkata lembut, “Aku menyayangimu. Jaga diri baik-baik dirumah. Tunggu aku pulang ya?”

Mia tersipu malu. Selama menikah, baru kali ini Gara berkata demikian padanya. Mia hanya mengangguk.

“Oh iya. Aku menaruh uang dibawah bantalku. Berikan sebagian pada ibu untuk belanja dapur, sisanya untuk keperluan kamu.”

“Eh iya, terima kasih”

Gara mengangguk dan melangkah keluar, Mia mengantar sampai ke depan.

Seperti biasanya , Gara akan menggunakan motor butut miliknya yang ia parkir di samping mobil mewah milik Farhan.

Saat ini kebetulan Farhan juga keluar untuk bekerja di antar oleh istrinya.

Melihat Gara mengambil motor, Silvia berkata dengan nada cukup keras. “Heh, awas motor butut kamu mengenai mobil suamiku! Kalau sampai lecet, kamu tidak akan bisa mengganti rugi!”

Gara tidak menjawab, segera mendorong motornya ke belakang, dengan sabar menunggu Farhan mengeluarkan mobilnya terlebih dahulu.

Setelah mobil kakak ipar Mia itu pergi, Gara menghidupkan motornya, dia menoleh dulu pada Mia yang menunggu untuk melambaikan tangan.

Silvia kembali berkata lagi dengan suara keras. "Cepat pergi! Suara Motor butut kamu itu bisa merusak pendengaranku. Belum lagi asapnya, bisa membuat paru-paru sakit!”

Suara motor Gara memang sangat berisik. Belum lagi asap knalpotnya yang keluar sangat banyak dan hitam. Mungkin karena sudah lama tidak diganti oli.

“Sudah, cepat berangkat. Hati-hati dijalan.” Mia berkata pada Gara , dia benar-benar tidak enak dengan ucapan kasar kakaknya.

Setelah melihat suaminya pergi, dia kembali ke dalam.

“Mia, kamu bantu ibu bikin kue untuk acara Dinda. Biar tidak terlalu banyak pengeluaran.” Rita berkata pada Mia.

Acara pernikahan Dinda memang akan digelar Minggu besok, jadi hari ini mereka sudah sibuk menyiapkan segala sesuatunya.

"Aku mau mencuci baju suamiku dulu, Bu. Suruh kak Silvia dulu yang bantu, sepertinya dia sedang menganggur." Mia menjawab Karena melihat Silvia sedang duduk saja sampai bermain ponsel.

Mendengar Mia berkata seperti itu, Silvia marah. “Aku bukan menganggur, sedang memilih dekorasi untuk pelaminan Dinda. Kamu saja yang membantu ibu. Mencuci baju nanti sore saja, kan?”

“Nggak bisa. Baju suamiku cuma sedikit. Kalau dicuci nanti sore, dia tidak akan punya ganti.”

“Ya ampun, Mia! Kenapa suamimu bisa semiskin itu sih? Bukannya bisa menyenangkan kamu, malah merepotkan saja. Benar-benar deh nasib kamu itu, sangat tidak beruntung mendapatkan suami.” Sindir Silvia.

Mia tidak ingin memperdulikan sindiran kakaknya, dia memilih cepat pergi sana untuk mencuci pakaian Gara.

Setelah selesai, Mia merasa lapar. Tapi baru saja dia membuka tudung saji, ibu menepis tangannya dengan kasar.

“Kamu mau apa?”

“Sarapan, Bu. Aku sudah lapar.”

“Tidak bisa! Kamu belum bekerja, tidak ada makanan untuk kamu.”

"Bu, aku sedang tidak enak badan. Tapi tadi pagi sebelum berangkat, suamiku sudah menyapu dan mengepel lantai untuk menggantikan pekerjaanku.”

“Itu Gara! Pokoknya, kamu bantu ibu dulu baru makan! Kalau kamu nggak mau, jangan makan masakan ini!"

Hati Mia merasa sangat sakit mendengar perkataan ibunya.

Ibunya memang seperti itu dari dulu, tidak pernah sedikitpun lembut atau memberi perhatian padanya.

Dia berpikir setelah menikah, ibunya akan berubah. Apalagi Gara sudah memberi patungan biaya hidup di rumah ini, juga untuk pengobatan rutin ayahnya.

Kadang Mia berpikir kalau dia bukan anak yang dilahirkan wanita ini. Dia dibedakan. Ibu sangat menyayangi Kakak dan adiknya tapi tidak menyayanginya.

Mia terdiam.

"Kenapa? Nggak punya uang, kan? Makanya, kalau mau kenyang jangan membantah!" Seru Ibu.

"Jelas dia tidak punya uang, Bu .Suaminya saja pekerjaannya tidak jelas! Mana bisa memberinya uang untuk makan?” Sindir Silvia.

Mia merasa dadanya begitu sesak. Dia hampir menangis. Kemudian memilih pergi ke kamar meninggalkan mereka yang terus menghinanya.

Mia menangis di kamar. Kenapa ibunya sangat tidak menyukainya. Sebenarnya, apa salahnya?

Apa karena suaminya miskin? Tidak seperti suami Silvia yang bekerja di kantoran? Bukan seperti Calon suami Dinda yang seorang Pengusaha?

Kadang kala, Mia ingin mengajak Gara untuk keluar dari rumah ini. Tapi dia takut Gara tidak memiliki uang untuk menyewa rumah kontrakan.

Mia termenung, mengusap perutnya yang terasa perih.

Dia teringat sesuatu, lalu segera membuka bantal yang biasa untuk tidur suaminya.

Ada sebuah amplop coklat disana. Mia mengambil dan membukanya.

Mia terkejut saat menghitungnya jumlah uang di dalamnya.

Ini banyak sekali?

Mia sampai berkali-kali menghitungnya. Ada Lima juta.

Dia belum pernah memegang uang sebanyak ini selama hidupnya.

Mia langsung banyak pikiran. Dia cepat mencari ponselnya.

“Aduh, mana ponsel?” Dia kebingungan. Lalu menepuk keningnya sendiri. Ponsel ada disamping dia duduk, tapi dia sudah mencari kemana-mana.

Awalnya dia ingin menghubungi suaminya, tapi dia melihat ada pesan chat dari Gara.

"Uang itu untuk kamu belanja, Mia. Jangan ditabung.”

Mia tersenyum membaca pesan itu. Kebiasaan Gara memang selalu begitu. Setiap memberinya uang mengingatkan untuk jangan menabungnya.

Gara selalu mengatakannya jika uang itu khusus untuk dirinya, masalah menabung itu sudah menjadi urusannya. Mia tidak boleh khawatir.

Mia masih memegang erat uang itu, dia teringat perkataan ibunya yang meminta semua orang dalam rumah ini patungan untuk pesta Dinda. Jika dia tidak bisa memberi uang patungan, Mia khawatir ibu akan semakin menghina suaminya.

Dia langsung membalas pesan suaminya.

“Ibu kan meminta kita untuk patungan, uang ini aku berikan ibu saja ya?”

Tidak lama kemudian ada balasan dari Gara. “Tadi, aku sudah memberi uang patungan pada Ayah. Uang itu untuk kamu saja, untuk beli makanan atau jajan. Baju untuk pesta dan perhiasan nanti kita beli setelah aku pulang. Uangnya sudah ada padaku. Jangan khawatir.”

Hah! Apa? Mia terkejut lagi.

“Gara sudah memberi uang patungan? Uang ini untuk aku? Terus, Gara nanti mau membeli baju pesta dan perhiasan?”

Yang benar saja?

Pikiran Mia langsung linglung. Dari mana suaminya mempunyai uang sebanyak itu?

Apa dia habis gajian?

“Oh! Mungkin saja seperti itu.”

Tapi, ada yang tidak masuk akal.

Mia mencoba menghitung perkiraan uang yang dimiliki suaminya saat ini. Lima juta di tangannya, lima juta di tangan ayahnya. Lalu yang saat ini ada ditangan Gara?

Apa mungkin gaji suaminya lebih dari perkiraannya?

Mia merasa pusing karena kebanyakan menebak, tiba-tiba ponselnya kembali bergetar. Notifikasi pesan dari Gara kembali masuk. Beberapa foto baju pesta dan perhiasan emas berlian dikirim oleh Gara.

“Mia, kamu pilih yang mana?”

Apa? Suaminya mau membeli baju pesta dan perhiasan semahal itu?

Mia segara mengetik balasan, “Kamu mau beli itu? Itu sangat mahal harganya.”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BENIH PRESDIR LUMPUH
7.8
Fiona Isabella Fawzi terjebak dalam pernikahan yang tak diinginkannya sebagai pengantin pengganti bagi seorang pria lumpuh. Perbedaan usia serta kondisi fisik sang suami menjadi beban mental bagi Fiona yang masih muda. Di sisi lain, ia aktif dalam geng Trio FAM Alliance yang kerap memicu onar. Bertekad meraih kebebasan, Fiona menyusun berbagai taktik licik demi mengakhiri ikatan tersebut. Akankah rencananya berhasil atau ia justru terjerat takdir?
Sampul Novel Bukan Aku Yang Menjebakmu
8.8
Nadira Almeira, sekretaris bersahaja di Mahardika Corp, mendadak dituduh menjebak CEO Elvano Mahardika demi kekuasaan. Tanpa bukti, Elvano memecat dan mempermalukannya di depan publik dengan lemparan uang yang menghina harga dirinya. Padahal, Nadira hanyalah korban yang tidak tahu apa-apa. Situasi kian rumit saat ia menyadari dirinya tengah mengandung anak Elvano. Kini, Nadira harus memilih antara pergi selamanya atau kembali menghadapi pria yang telah menghancurkannya.
Sampul Novel Cinta Satu Malam
7.9
Niat Miranda untuk sekadar bersenang-senang berakhir petaka setelah ia terjebak dalam malam panas bersama Athes Russel. Situasi kian pelik karena pria itu ternyata rekan bisnis ayahnya sendiri. Meski Miranda berusaha keras menjauh dan menolak kehadirannya, Athes justru terus mengejar karena terobsesi dengan memori pertemuan mereka. Kini, Miranda terjepit di antara skandal terlarang dan bayang-bayang pria yang seharusnya tidak pernah ia sentuh.
Sampul Novel En-PD159
7.9
Song Jiayan terjebak pernikahan aliansi dengan Fu Shisheng demi menebus rasa bersalah atas kecelakaan masa lalu. Namun, ia dikhianati saat tahu suaminya hanya berpura-pura sakit dan justru berselingkuh. Setelah selamat dari serangkaian percobaan pembunuhan, Jiayan bangkit menjadi CEO sukses di luar negeri. Meski Shisheng mengejarnya dengan penyesalan mendalam, Jiayan memilih melepaskan dendam, fokus pada misi kemanusiaan, dan memulai hidup baru yang mandiri.
Sampul Novel His Darling Debtor
9.2
Dunia Clara runtuh saat ayahnya kabur membawa uang milik Tuan Blackwell. Tanpa pilihan lain untuk menebus utang tersebut, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya dan menjadi wanita simpanan sang miliarder. Di balik perjanjian dingin ini, Clara terjebak dalam pusaran emosi terlarang dan rahasia masa lalu yang perlahan terkuak. Hubungan penuh konflik ini pun menjadi ujian berat yang akan mengungkap seberapa kuat ikatan sejati di antara mereka berdua.
Sampul Novel Kirana, Cinta Sejatiku
8.6
Mengetahui suaminya, Sendra Wijayanto, mengeluhkan pernikahan mereka di forum internet dan berselingkuh dengan Kirana Larasati yang baru kembali dari luar negeri membuat sang istri mengambil langkah tegas. Saat Kirana dengan angkuh memintanya mundur dari posisi istri sah, ia tidak tinggal diam. Dengan dingin, ia melemparkan surat perceraian langsung ke hadapan Kirana dan menantang wanita itu untuk membujuk Sendra menandatanganinya demi membuktikan harga dirinya.