Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menantu jadi pembantu

Menantu jadi pembantu

Pertemuan Sabira Prameswari dan Daffa Prasetya di media sosial berujung pada pernikahan yang jauh dari kata indah. Sabira terjebak dalam realitas pahit akibat sifat egois sang suami serta dominasi ibu mertua yang terus mencampuri urusan domestik mereka. Di tengah tekanan batin dan konflik rumah tangga yang kian meruncing, Sabira harus menentukan pilihan sulit. Akankah ia tetap bertahan demi komitmen, atau memilih perceraian sebagai jalan keluar?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Hem, ma- mama dari warung bakso mang Udin. Iya kan Sabira?" tanya Aruna melirik ke arah Sabira dengan sorot mata yang tajam.

"I-iya mas," jawab Sabira.

"Oh, tumben mama makan bakso, bukannya mama nggak bisa makan daging?" Daffa mengernyitkan alis.

"Iya mama nggak bisa makan daging, tapi dagingnya mama kasih ke Sabira," jawab Aruna asal.

"Oh, enak banget sih kamu makan bakso nggak ngajak aku," sungut Daffa seraya mengerucutkan bibirnya di hadapan Sabira.

Sabira hanya tersenyum kecut, karena yang di ucapkan Aruna bukan seperti kenyataan yang sebenarnya. Dia pun melangkah masuk ke dalam kamar.

Malam hari pun telah tiba. Semua kenikmatan santapan makan malam yang di buat oleh Sabira.

"Bagaimana ma, masakan Sabira, enak nggak?" tanya Daffa, menyuapkan sesendok nasi dan lauk ke dalam mulutnya.

"Biasa aja sih," ketus Aruna sambil menikmati makanan yang di kunyah nya.

Wanita paruh baya itu memiliki gengsi yang tinggi. Untuk memuji masakan Sabira yang enak pun dia enggan.

Setelah selesai makan, gegas Sabira mencuci piring kotor bekas keluarganya makan. Tak lupa Sabira menyapu dan mengepel lantai hingga malam mulai larut.

Mengingat besok pagi Sabira mulai bekerja di toko kue tersebut. Jadi besok pagi sebelum berangkat kerja, Sabira hanya membuat sarapan saja.

***

Keesokan paginya, Sabira bangun lebih awal. Menyiapkan segala sesuatunya serta sarapan untuk satu keluarga.

"Kamu mau kemana Sabira? tumben kamu pakai baju yang rapi," tanya Daffa heran.

"Hem, a-aku mauu," ucapan Sabira tercekat.

"Alah, palingan dia mau ke pasar Daff. Ngapain sih kamu tanya segala," sahut Aruna menyembul dari balik pintu.

"I-iya mas," jawab Sabira singkat.

Daffa mengangguk tanpa berkata apapun. Pria dingin itu terkesan cuek terhadap istrinya. Namun jika Sabira bersikap cuek padanya, maka Daffa akan marah bahkan tak segan-segan memberikan cap lima jari di bagian tubuh Sabira.

"Kalau gitu, aku pergi dulu ya ma, pa. Aku takut telat masuk kerja," pamit Daffa.

"Iya nak, hati-hati ya," ucap Aruna tersenyum manis pada putranya.

Daffa dan Pak Andri berangkat kerja menggunakan kendaraan roda dua milik mereka masing.

"Eh, sudah sana pergi kerja. Jangan sampai telat," ketus Aruna menatap sinis pada menantunya.

"Ma, mama belum kasih tau mas Daffa ma tentang aku bekerja?" tanya Sabira.

"Ngapain sih itu yang kamu pikirin. Lagipula saya sudah pernah bilang, soal Daffa biar saya urus," jawab Aruna meninggikan suara.

"Tapi ma, mas Daffa itu suamiku, aku wajib memberitahu padanya kemanapun aku pergi," sahut Sabira.

"Baru juga jadi istrinya lima bulan yang lalu. Saya ini orang yang telah melahirkannya. Jelas dong dia lebih dengar ucapan saya daripada kamu," ucap Aruna pongah.

"Sudah sana pergi kerja, jangan sampai telat. Ingat! kamu harus jaga nama baik saya di toko kue itu. Jangan buat malu," lanjut Aruna meluapkan kekesalannya.

"Iya ma," ucap Sabira.

***

"Maaf bu, apa saya telat datangnya?" tanya Sabira gugup

"Hem, tidak Sabira, kamu tidak telat. Semoga kamu betah ya kerja di sini," ucap Bu Karina, pemilik toko kue.

Hari-hari telah berlalu, kini Sabira sudah satu bulan kerja di toko kue milik ibu Karina. Sabira pun sudah mulai akrab dengan pemilik toko dan karyawan lainnya.

"Sabira, nanti pulang kerja kamu jangan pulang dulu ya, ibu ingin bicara sama kamu," ucap Bu Karina, Sabira pun menganggukkan kepala.

Satu jam kemudian, tepat pukul lima sore, toko kue sudah tutup dan Sabira menemui ibu Karina.

"Bu, maaf, ibu mau bicara apa? tadi ibu menyuruh aku jangan pulang dulu," tanya Sabira setelah mengetuk pintu.

"Duduk dulu, Sabira," perintah Bu Karina.

Sabira yang menuruti perintah Bu Karina dan mendaratkan bokongnya di sofa yang sudah di sediakan.

"Ibu sempat dengar gosip orang di dekat sini, katanya kamu di rumah, hem maaf, kalau ibu lancang. Kamu menyuruh mertua kamu membersihkan rumah dan segala macamnya ya?" tanya Bu Karina.

"Hah, apa? maaf bu, aku nggak sejahat itu sama mertua ku. Justru aku yang selalu di suruh mama bersih-bersih, masak, dan semuanya," ucap Sabira jujur.

Pantas beberapa hari ini Sabira mendengar cemoohan orang-orang tentang dirinya. Awalnya dia mengira hanya sebagai gosip saja. Namun ternyata gosip itu telah sampai di telinga Bu Karina.

"Jadi, apa yang di gosipin itu nggak benar, Sabira?" tanya Bu Karina lagi.

"Iya Bu, aku merasa jadi babu di rumah mertua ku. Kalau aku melakukan kesalahan, mama selalu memarahiku," jawab Sabira dengan jujur.

"Lalu suami kamu? apa dia membela kamu?" tanya Bu Karina penasaran.

Sabira menunduk seraya menggelengkan kepala. Sang suami yang seharusnya jadi pelindung istri, justru sebaliknya. Dan tidak peduli akan hal itu. Sudah beberapa kali Sabira mengadu akan sikap ibu kandung suaminya, namun tak di gubris oleh Daffa.

Pria berstatus suami itu selalu membela sang ibu daripada istrinya sendiri. Batin Sabira menangis, rasanya Sabira tidak sanggup menjalani kehidupannya. Kehadirannya di keluarga suami sama sekali tak di hargai.

Jika ada acara kumpul keluarga, Sabira menjadi juru masak dan tukang cuci piring dengan alasan Sabira hidup menumpang di rumah itu.

"Sabira, maaf kalau ibu lancang terhadap rumah tangga kamu. Kita sebagai perempuan jangan mau di rendahkan meskipun dari keluarga suami kamu sendiri. Kamu punya harga diri Sabira, kamu harus bisa menuntut hak kamu sebagai bagian dari keluarga itu. Jika kamu nggak sanggup tinggal bersama mereka, kamu ajak suami kamu pindah dari rumah itu. Tinggal di kontrakan sendiri lebih nyaman daripada tinggal dengan orang yang tidak menghargai kamu," ucap Bu Karina panjang kali lebar.

"Aku sudah meminta mas Daffa untuk pindah, tapi mas Daffa nggak mau, Bu. Katanya kalau ngontrak boros uangnya," sahut Sabira, menghapus bulir bening yang membasahi pipinya.

Sakit hati atas sikap ibu mertua dan keluarga suami yang lain cukup membuat pikirannya menjadi kacau. Batinnya tersiksa, bahkan suaminya sendiri mengganggap dirinya sebagai pembantu di rumah itu.

"Kalau begitu, kamu harus lebih tegas lagi Sabira terhadap suami kamu. Ingat! kamu harus tetap waras untuk menjalani rumah tanggamu. Tidak baik jika rumah tangga jika orang tua ikut campur. Karena itu akan memecah belah hubungan kami dan suami kamu," usul Bu Karina.

"Baik, Bu, saya coba untuk lebih tegas lagi sama mas Daffa. Do'akan saya, Bu, semoga mas Daffa mau mengerti apa yang aku rasakan," sahut Sabira.

Wanita dua puluh lima tahun itu pamit pada Bu Karina dan pulang ke rumah.

"Darimana saja kamu, Sabira?" seru Daffa sedikit meninggikan suara.

Sabira terperanjat, karena ia tak menyangka bahwa Daffa lebih dulu pulang ke rumah.

"Hem, a-aku dariii," ucap Sabira terbata-bata.

"Kamu ini, suami pulang kerja bukannya di sambut malah keluyuran nggak jelas," celetuk Daffa.

"Keluyuran, mas? aku ini- "

"Sudah, jangan banyak alasan kamu. Ibu sudah bilang ke aku kalau kamu tiap hari keluyuran entah kemana," cecar Daffa.

"Awas aja, kalau besok aku pulang kamu nggak ada di rumah, aku nggak akan segan-segan menghukum kamu Sabira," lanjut Daffa menatap tajam pada sang istri.

Netra Sabira membulat sempurna mendengar ucapan suaminya. Ingin rasanya dia mengatakan semua sikap buruk wanita yang telah melahirkan suaminya itu.

Uang hasil keringat Sabira untuk memenuhi keperluan dapur. Sedangkan uang hasil kerja Daffa di pegang oleh Aruna. Dan tidak di berikan pada Sabira. Uang itu di habiskan oleh ibu mertua dan kedua iparnya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95MSJ" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95MSJ
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Aku, Kamu, dan Gundikmu
8.4
Anisa Amanda, seorang istri berparas jelita, harus menelan pil pahit saat dikhianati oleh suaminya, Hendra, dan adik sepupunya sendiri, Tia. Tak tinggal diam, Anisa bertekad membalas dendam atas sakit hatinya. Di tengah rencananya, ia tak sengaja bertemu Fras Ramadhan, seorang tukang parkir tampan. Siapa sangka, Fras sebenarnya adalah CEO sukses Bintang Group yang menyamar. Pertemuan itu memicu konflik baru sekaligus menumbuhkan benih cinta di antara mereka.
Sampul Novel Cantika : DESTINY OF LOVE
9.5
Pertemuan tak terduga dengan Jaden menyeret hidup Cantika ke dalam pusaran takdir yang mencekam. Melalui ultimatum posesif bahwa tak ada orang lain yang boleh memilikinya, Jaden mengurung Cantika dalam belenggu obsesi yang menyesakkan. Kini, Cantika dihadapkan pada pilihan sulit: melarikan diri dari dominasi pria itu atau justru terjerat perasaan cinta saat identitas asli Jaden terungkap. Sebuah kisah romansa penuh aksi tentang rahasia dan ambisi.
Sampul Novel Kelakuan Suami dan Ibu Mertuaku di Balik Pintu
8.9
Sebuah kebenaran mengerikan menghancurkan hidup seorang wanita ketika ia mengetahui bahwa anak yang selama ini ia besarkan dengan penuh kasih sayang merupakan hasil hubungan sedarah. Di sisi lain, anak kandungnya sendiri telah meninggal secara tragis. Alih-alih menyerah pada keputusasaan, ia memilih jalan pembalasan dendam yang dingin. Langkah hukum ia ambil demi menjebloskan ibu mertuanya ke dalam penjara, sekaligus membongkar seluruh aib suaminya ke hadapan publik sebelum ia melangkah pergi memulai lembaran hidup yang baru.
Sampul Novel Kematian Berujung Perceraian
8.0
Setelah memohon 99 kali, sang ibu akhirnya membujuk Rizald Pratama untuk membawa putri mereka berkemah saat ulang tahunnya. Namun esoknya, sang anak ditemukan tewas di kaki gunung sambil memegang erat foto keluarga. Di tengah duka, sang ibu melihat unggahan media sosial suaminya bersama teman masa kecilnya dan seorang bocah lain. Foto bahagia menikmati matahari terbenam itu rupanya dipotret oleh mendiang putrinya sendiri sebelum meninggal, menyisakan misteri dan pengkhianatan yang memilukan.
Sampul Novel Luka Abadi, Cinta Tak Berarti
8.1
Setelah mengetahui bahwa anak angkatnya adalah hasil perselingkuhan suaminya, Yobel, dengan adiknya sendiri, sang protagonis dikhianati oleh seluruh keluarganya yang meminta ia mengalah. Namun saat Yobel menolak bercerai dan memohon ampun, ia berpura-pura memberi waktu tujuh hari untuk membuktikan ketulusan pria itu. Di balik kepatuhan ekstrem Yobel yang mengira akan dimaafkan, sebuah rahasia kelam menanti. Sebenarnya sang istri telah meninggal tujuh hari lalu, dan waktu yang tersisa hanyalah izin dari malaikat kematian untuk berpamitan.
Sampul Novel Melayani Hasrat Mertua Dan Ipar
8.1
Galang merasa bimbang saat mengetahui ibu mertua dan adik iparnya akan menumpang di rumah kecilnya. Meski khawatir akan konflik dan keterbatasan ruang, penjelasan lembut Gaby tentang kemalangan keluarganya di desa meluluhkan hati Galang. Demi keutuhan keluarga dan rasa cinta pada istrinya, ia akhirnya mengizinkan mereka tinggal bersama. Galang kini harus bersiap menghadapi dinamika baru yang penuh tantangan demi menjaga keharmonisan rumah tangganya.