
Melepas Masa Lalu
Bab 4
Lisa bermimpi panjang.
Dalam mimpinya, Kelly belum pulang, dia dan Gavin masih adalah sepasang kekasih muda yang sedang dimabuk cinta.
Gavin mengajaknya bertemu dengan teman-teman, memamerkan keberadaannya, seolah-olah dia adalah segalanya bagi Gavin.
Bahkan menemaninya pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi ibunya, berusaha untuk menyenangkan ibunya dan memantaskan diri sebagai seorang menantu.
Melalui begitu banyak hal yang dilakukan oleh Gavin, dia pun hanyut dalam cinta.
Lisa mengira hubungan mereka akan membuahkan hasil.
Hingga sebaskom air es mengguyurnya dan membasahi pakaian tipisnya, rasa dingin menjalar ke sekujur tubuhnya dan membuatnya merinding.
Dia terbangun dari mimpi.
Gavin duduk di kursi sambil menatapnya dengan tajam. "Kamu harus bersyukur Kakek sudah terbebas dari bahaya. Kalau nggak, nyawamu sudah melayang di meja operasi."
"Tapi, sebelum Kakek sadar, renungkan kesalahanmu di sini dan siap-siap untuk donor darah kapan saja."
Kepalanya berdengung dan bulu kuduknya berdiri.
Ruang isolasi ini adalah tempat di mana Gavin menangani musuh-musuhnya. Banyak nyawa yang terkubur di sini, tidak terlihat sedikit pun paparan sinar matahari, bahkan udara dipenuhi dengan bau darah.
Lisa pernah bercanda dengan Gavin. "Kalau suatu hari kita bermusuhan, kamu akan mengurungku dan menyiksaku di sini?"
Saat itu, Gavin menjawab dengan tegas, "Nggak akan, kita nggak akan bermusuhan."
Namun sekarang, hanya karena sebuah kebohongan konyol, Gavin memasukkannya ke tempat yang penuh dengan siksaan ini!
Lisa kecewa. Hatinya seolah-olah disayat dengan pisau.
Dia mengangkat wajah mungilnya sambil berkata, "Bukan aku yang dorong Kakek. Aku nggak pernah melakukannya, aku nggak salah, juga nggak perlu renungkan kesalahan di sini."
Lisa berusaha untuk bangkit, tetapi tubuhnya sangat lemas dan dia tidak sanggup bangun.
Gavin mendengus dingin. "Lisa, lempar batu sembunyi tangan, kamu memang hebat dalam hal ini. Tapi, aku nggak akan percaya pada omonganmu lagi!"
Setelah berkata demikian, dia berbalik pergi.
Lampu dimatikan, Lisa terperangkap dalam ruangan gelap yang dipenuhi dengan bau darah.
Rasa takut yang luar biasa memenuhi hatinya, Lisa berteriak dengan putus asa.
Saat tenggorokannya kering dan tidak sanggup berteriak lagi, pintu ruang isolasi dibuka dengan kuat.
Kelly menatap Lisa sambil berkata dengan nada menghina, "Wanita sialan!"
"Kalau bukan karena wajah kita mirip, Gavin bahkan nggak akan melirikmu!"
"Tapi, nggak apa-apa. Kalau aku menghancurkan wajahmu, kamu nggak akan bisa menggoda Gavin lagi!"
Kelly menggenggam erat pisau di tangannya, matanya dipenuhi dengan kecemburuan dan kebencian atas cinta yang tidak direstui. Dia mengayunkan pisau ke wajah Lisa.
Keinginan untuk bertahan hidup membuat mata Lisa memerah. Dia mengangkat tangannya untuk menangkis pisau itu, tetapi dia malah merasakan rasa sakit yang luar biasa.
"Lisa!"
Terdengar teriakan marah dari pintu.
Detik berikutnya, Lisa didorong ke tanah dengan kuat dan keningnya terbentur ke sudut dinding.
Hal yang lebih menakutkan adalah dia menimpa sesosok tengkorak. Suara tulang yang hancur membuat kulit kepalanya kesemutan, dia langsung berteriak ketakutan.
Namun, hal yang sulit dipercaya adalah Kelly menusukkan pisau ke bahu kirinya dan berbaring di genangan darah.
"Lisa, aku datang selamatkan kamu, kamu malah ingin membunuhku ...."
Lisa tercengang.
Dia ingin menjelaskan pada Gavin bahwa dia tidak menyakiti Kelly.
Namun, Gavin lebih panik darinya. Gavin langsung membawa Kelly yang berlumuran darah ke rumah sakit dan memanggil dokter-dokter ternama untuk mengoperasi Kelly.
Kemeja putihnya terkena noda darah, lengannya berdarah karena bergesekan dengan pintu besi yang berkarat dan matanya memerah.
Dia panik, lemas dan tidak bertenaga ....
Dia bahkan mengusir sahabatnya yang datang untuk menghiburnya. "Pergi!"
Dia berlutut di dekat jendela sambil berdoa dengan tulus, "Kalau Kelly mati, aku nggak mau hidup lagi!"
Inilah Gavin yang belum pernah dilihat oleh Lisa.
Pintu ruang operasi tiba-tiba terbuka, perawat bergegas keluar. "Pasien mengalami pendarahan hebat, tapi persediaan darah di rumah sakit terbatas ...."
Gavin langsung menyisingkan lengan bajunya. "Ambil darahku! Golongan darah kami sama, aku bisa meyelamatkannya!"
"Kak Gavin, kamu gila?" Sahabatnya menghentikannya dengan kaget. "Cuma seorang wanita. Sekalipun kamu sangat mencintainya, pantaskah kamu berkorban untuknya?"
Tatapan Gavin sangat dingin dan menakutkan. "Kelly adalah orang yang paling kucintai, dia adalah nyawaku! Aku nggak bisa hidup tanpa dia!"
Operasi berlangsung selama satu hari satu malam, akhirnya Kelly berhasil diselamatkan.
Meski Gavin kehilangan banyak darah, dia sangat lega.
Dia mengosongkan seluruh rumah sakit dan meminta semua dokter untuk melayani Kelly seorang. Selain itu, dia juga terus berada di sisi Kelly.
Semuanya terharu melihat betapa mulianya cinta mereka.
Namun, Lisa malah teringat akan kematian ibunya yang tragis.
Ternyata Gavin dapat menentukan hidup dan mati seseorang.
Ironis sekali!
Anda Mungkin Juga Suka





