
Melepas Masa Lalu
Bab 5
Kelly dirawat di rumah sakit selama setengah bulan, Gavin pun menjaganya selama setengah bulan.
Selama setengah bulan ini, Lisa mengemasi barang-barangnya dan pindah dari vila yang mengurungnya selama lima tahun itu.
Dia menggunakan sisa tabungannya untuk menyewa apartemen kecil, lalu kembali bekerja paruh waktu di bar.
Dia harus melalui setengah bulan ini sebelum kembali ke Badan Riset dan Inovasi Nasional.
Namun tak disangka, dia akan begitu cepat bertemu dengan Gavin lagi.
Untuk merayakan Kelly keluar dari rumah sakit, Gavin menyewa seluruh bar dan mengundang para anak sultan Kota Tarna untuk berpesta semalaman.
Lampu remang-remang dan musik yang nyaring.
Gavin memberikan perhatian penuh pada Kelly.
Sekelompok sahabatnya pun duduk mengitari Kelly dan terus menanyakan keadaannya.
Lisa tidak ingin berurusan dengan mereka, jadi dia mengirimkan pesan pada bosnya untuk meminta cuti.
Ketika dia hendak pergi, Kelly memanggilnya, "Lisa."
"Kamu melakukan hal sekejam itu padaku, kamu bahkan nggak minta maaf dan mau melarikan diri?"
Sepasang mata Kelly yang berkaca-kaca tampak sangat menyedihkan hingga membuat orang-orang mengasihaninya.
Namun, Lisa hanya meliriknya dengan dingin. "Kukatakan sekali lagi, aku nggak menusukmu. Kalau kamu terus memfitnahku, aku akan menuntutmu atas pencemaran nama baik."
Setelah itu, Lisa berbalik pergi, tetapi Gavin menyuruh pengawal untuk menghentikannya.
Minuman keras disiram ke kepalanya, Lisa merasakan penghinaan yang luar biasa.
Musik yang nyaring tiba-tiba berhenti, sekelompok orang yang sedang berpesta pora sontak terdiam dan menatapnya dengan penasaran.
"Kamu ingin melarikan diri setelah berbuat salah? Lisa, kenapa dulu aku nggak menyadari kamu begitu jahat?"
"Awalnya Kakek, sekarang kamu bahkan berani menyakiti Kelly. Selanjutnya, kamu ingin menjadikanku boneka agar aku bisa berada di sisimu selamanya?"
Setelah melalui hari-hari yang sulit, Gavin tampak agak pucat, tetapi tatapannya bagaikan pisau tajam yang menancap ke hati Lisa.
Lisa agak lelah. "Sudah kubilang aku nggak menyakiti Kakek, apalagi Kelly."
Setelah berkata demikian, dia pun merasa pasrah dan tidak berdaya.
Kamera pengawas rusak, saksi disuap dan Gavin dibutakan oleh cinta ....
"Aku berani bersumpah bukan aku yang menusuknya. Kalau aku bohong, aku bersedia hidup sengsara selamanya."
"Tapi Kelly, apa kamu berani? Kamu berani bersumpah semua ini bukan rekayasamu?"
"Cukup!" Gavin menyela Lisa dengan nada dingin, lalu melindungi Kelly di belakangnya. "Lisa, sampai sekarang kamu masih belum merasa bersalah! Jangan salahkan aku kejam dan menghukummu dengan aturan keluarga!"
Lutut Lisa melemas, beberapa pengawal memaksanya untuk berlutut di depan semua orang.
Dia berusaha untuk melawan, tetapi situasi ini membuatnya ketakutan.
Gavin mengambil cambuk dari salah satu pengawal, lalu berjalan menghampirinya. "Sekarang sudah takut? Pernahkah kamu berpikir betapa takutnya Kakek dan Kelly waktu dicelakai olehmu?"
Setelah berkata demikian, terdengar suara sentakan. Cambuk itu mendarat di punggung Lisa!
Tubuh Lisa bergetar hebat, seolah-olah tersengat listrik. Saking sakitnya, dia tidak bisa berbicara.
"Jawab!" Suara Gavin dipenuhi dengan amarah yang membara. "Kamu sudah mengaku salah?"
"Nggak ..." jawab Lisa dengan lemah dan kukuh.
Gavin tertawa dengan marah dan kembali mengangkat cambuk di tangannya. "Nggak mau mengaku? Kamu kira selama kamu nggak mengaku, kamu nggak bersalah? Kamu memang jahat!"
Suara cambukan yang dibaluti dengan suara tawa di sekeliling membuatnya sesak napas. Walaupun demikian, Lisa makin menunjukkan perlawanan. Dia bahkan tertawa terbahak-bahak hingga mengeluarkan air mata.
"Aku nggak salah! Kenapa aku harus mengaku salah?"
"Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah bertemu dengan bajingan sepertimu!"
"Gavin, kamulah bajingan yang paling keji itu!"
Kelly mengerutkan keningnya. "Lisa, kamu nggak boleh mengatai Gavin seperti itu ...."
"Memangnya kamu siapa! Kamu kira kamu lebih baik darinya?" Lisa menyelanya dengan nada dingin, lalu mengumpatnya dengan kesal, "Kamu hanya pecundang yang memanfaatkan kekuasaan orang lain, kamu nggak berhak memerintahku!"
"Plak! Plak! Plak!"
Amarah Gavin membara, dia terus mencambuk tubuh Lisa.
Cambukan pertama.
"Ini untuk Kakek."
Cambukan kedua.
"Ini adalah hukuman karena kamu mencoba untuk membunuh Kelly."
Cambukan ketiga.
"Ini adalah peringatan agar kamu nggak bermimpi menjadi nyonya Keluarga Sanjaya!"
...
Total 64 cambukan, setiap pukulan seolah-olah mengenai hati Lisa.
Bau amis tiba-tiba memenuhi tenggorokannya, dia memuntahkan seteguk darah dan pingsan.
Ketika dia terbangun, dia berada di bangsal rumah sakit.
Adegan dia dicambuk ditayangkan di televisi.
Jeritannya yang memilukan dijadikan sebagai hiburan. Punggungnya yang berlumuran darah disiram berkali-kali dengan minuman keras.
Dia bagaikan sampah yang dibuang di sudut ruangan.
Ketika pemilik bar datang untuk memeriksa bar, dia menemukan Lisa yang sekarat. Dengan begitu, Lisa pun selamat.
Hal ini begitu menyedihkan, tetapi Lisa tidak bisa meneteskan setetes air mata pun.
"Sudah bangun?"
Anda Mungkin Juga Suka





