Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Melamar Anakku Sendiri

Melamar Anakku Sendiri

Dominik Fedorov berencana menikahi kekasihnya yang tengah mengandung, namun penculikan tragis memisahkan mereka secara paksa. Selama puluhan tahun, Dominik gagal menemukan jejak wanita itu hingga tekanan keluarga untuk menikah terus menghantuinya. Takdir akhirnya mempertemukan mereka kembali di sebuah pertemuan tak terduga. Saat Dominik berniat melamar seorang gadis muda, ia justru berhadapan lagi dengan Larisa, cinta masa lalunya yang sempat hilang misterius.
Bab
Bagikan

Bab 2

Kate menggeleng kepala. "Bu, tidak seharusnya Ibu berkata begitu. Derajat itu tidak menjamin kepribadian seseorang. Belum tentu yang sederajat akan membuat Dominik bahagia. Jadi, sebainya Ibu jangan berpikir begitu."

"Itu sudah pasti, Kate. Dan hal-hal itu sudah pernah terjadi di lingkungan kita."

Bogdan berkacak pinggang. "Ibu benar, Kate. Kita tidak boleh mencari wanita yang latar belakangnya di bawah kita, hal itu akan mempengaruhi generasi berikutnya."

"Benar!" timpa sang nenek, "Wanita yang akan menikah dengan Dominik harus berpendidikan tinggi. Orang kaya, kalau perlu latar belakangnya harus sama dengan keluarga kita. Dan aku sudah punya pilihan, yaitu cucu dari kerabat mendiang ayah kalian. Mereka dari keluarga Slava yang tentu saja sederajat dengan keluarga Fedorov. Jadi kalau kalian setuju aku akan bicara dengan mereka secepat mungkin untuk melakukan perjodohan Dominik dengan cucu mereka."

Katerina menarik napas panjang. Ia sekuat tenaga menentang apa yang dikatakan suami dan ibu mertuanya. "Kita tidak boleh memutuskannya sendiri, Bu. Kita harus konversasikan hal ini dengan Dominik . Siapa tahu dia sudah punya wanita pilihannya sendiri."

Nenek menatap kesal. "Baiklah. Tapi kalau wanita itu tidak sesuai dengan pilihan kita, kita harus tegas menjodohkannya dengan cucu keluarga Slava. Kau dengar itu, Bogdan?"

Bogdan menunduk hormat. "Aku mengerti, Bu. Dan kalau memang Dominik belum punya pacar, aku ingin Ibu saja yang mengatakan soal perjodohan itu kepadanya."

"Bogdan!" pekik Katerina, "Kau tidak boleh begitu, Dominik itu anakmu. Seharusnya kau memberikannya kebebasan untuk memilih siapa wanita yang pantas untuk dinikahinya."

Lelaki itu menatap istrinya. "Aku juga tidak dibebaskan oleh ayahku, tapi buktinya aku bisa hidup bahagia bersamamu."

Katerina terperanjat. Ia tak bisa berkata apa-apa selain menatap suami dan ibu mertuanya yang kini saling membahas soal perjodohan Dimitry dengan wanita dari cucu pengusaha kaya.

Di sisi lain.

Di dalam rumah mewah lainnya sosok Larisa terlihat gugup dengan gaun putih panjang yang atasannya terbuka. Rambut hitamnya yang disanggul asal memperlihatlan leher putih dan panjang yang selalu membuat Dominik mabuk ketika membenamkan wajahnya ke sana.

"Larisa?" kata lelaki berkaca mata yang usianya di atas lima puluh. Lelaki itu bernama Ivan Volkov, seorang dokter spesialis di rumah sakit ternama negara R yang tak lain adalah pamannya Larisa.

"Halo, Paman. Ya, ampun aku gugup sekali, Paman."

Ivan mendekati Larisa untuk menenangkan. "Gugup kenapa, Sayang?"

Larisa menggenggam tangan Ivan. Sambil menatap Ivan ia berkata, "Hari ini Dominik akan mengajakku bertemu orangtuanya, Paman. Aku gugup sekali. Aku takut keluarga Fedorov tidak menerimaku dan menolakku untuk menjadi istri Dominik."

Ivan diam sesaat. Ia menatap keponakan kesayangan dan satu-satunya lalu menjawab, "Kau harus yakin, Nak. Kau sangat cantik. Kau juga punya pendidikan yang tinggi dan keluarga Volkov sederajat dengan keluarga Fedorov. Jadi, buang rasa takutmu itu karena kau tidak perlu takut."

"Oh, Paman. Tetap saja aku takut. Ini bukan hanya pertemuan biasa, tapi luar biasa."

Ting! Tong!

Bunyi bel pintu membuat Larisa dan Ivan terkejut. Larisa tersenyum, sedangkan Ivan melapisi tangan gadis itu dan berkata, "Itu pasti dia. Pergilah," katanya lalu mengajak Larisa berdiri. Mereka saling berhadapan.

Larisa tersenyum haru. "Doakan aku, Paman. Semoga aku diterima dengan baik dan tidak akan mengecewakan mereka."

"Itu psti, Sayang, yakinlah."

Larisa mencium pipi Ivan kemudian pamit meninggalkan ruangan itu. "Aku pergi"

"Hati-hati, Larisa," kata Ivan. Ucapannya tulus, tapi itu hanya pura-pura

Setelah tubuh Larisa menghilang di balik pintu di antara koridor panjang, saat itulah Ivan meraih ponsel dan menghubungi seseorang. Sambil menunggu panggilannya terhubung Ivan duduk dan menatap tajam.

"Halo, Bos?" sapa seseorang yang bersuara laki-laki dari balik telepon.

"Larisa sudah pergi. Laksanakan tugas kalian dan jangan sampai ada yang melihat, paham?"

"Siap, Bos."

Tut! Tut!

Ivan memutuskan panggilannya. Sambil menatap kosong ia berkata, "Maafkan paman, Larisa. Hanya inilah yang terbaik untukmu dan masa depanmu. Kau tidak boleh menikah dengan anaknya Bogdan Fedorov. Kau tidak boleh memiliki hubungan dengan keluarga mereka."

***

"Kau masih gugup?" bisik Dominik tepat di telinga Larisa.

Saat ini mereka berada di mobil tepatnya di halaman depan rumah keluarga Volkov. Dominik di bangku kemudi, sedangkan Larisa di sampingnya.

Wanita itu meraih tangan Dominik lalu berkata, "Tanganku sampai dingin. Aku takut."

Pria itu menarik dagu wanita yang usianya lebih muda satu tahun dan mencium bibirnya.

Larisa membalasnya dengan penuh cinta.

"Masih gugup?" tanya Dominik begitu bibir mereka terpisahkan.

Larisa tersenyum sambil menggeleng kepala. "Tidak lagi."

Dominik tersenyum kemudian menyalahkan mesin mobil. Dengan sebelah tangan saling menggenggam satu sama lain Dominik melajukan mobil menuju kediaman Fedorov yang sengat estetik dan sama mewahnya dengan kediaman keluarga Volkov.

"Kau yakin semua orang di keluargamu akan menerimaku?" tanya Larisa sambil menatap Dominik.

Pria itu sedang fokus menyetir, tapi sesekali matanya berpaling untuk menatap wajah cantik sang pujaan. "Atas alasan apa mereka menolakmu?" tanya Dominik dengan suara berat.

"Siapa tahu dan tidak hanya mereka lah yang tahu. Keluargamu keluarga terpandang. Mereka pasti tidak mau mendapatkan mantu yang hanya berasal dari keluarga sederhana seperti aku."

Dominik menatap Larisa sesaat. "Jika hal itu demikian, aku tidak akan mengubah keputusanku sekalipun kau dari keluarga miskin. Aku akan tetap menikahimu. Lagi pula kau bukan dari keluarga sederhana, jadi kau tidak perlu malu. Yakinlah kalau orangtuaku akan menerimamu."

Dominik mengecup pucuk kepala Larisa. Ketika wanita itu menyandarkan kepala di bahunya, mata Larisa menangkap sebuah mobil putih yang melambung, kepalanya tersentak karena kaget.

"Mobil itu laju sekali."

Dominik ikut berkomentar. "Mungkin pengemudianya mabuk."

Karena hari sudah malam jalanan cukup gelap dan sepi. Dominik menambah laju mobilnya agar mereka segera tiba di rumah. Namun saat ia menginjak gas semakin dalam, mobil yang tadi mendahului mobilnya kini menghadang di depan mereka.

Zet!

Dominik terkejut. Ia segera menginjak rem dalam-dalam hingga bunyi decitan terdengar. "Siapa mereka dan mau apa mereka menghalangi kita?" katanya sambil meremas setir mobil.

Larisa tampak panik. "Sayang, aku takut."

Dominik menggenggam tangannya. "Jangan takut. Aku akan melindungimu."

Sosok berpakaian gelap tiba-tiba muncul di balik kemudi sambil memegang pentongan. Wajahnya ditutup menggunakan topeng. Dominik sulit mengenali sosok itu.

Bukan hanya satu, tapi dua orang lagi mengekor di belakang dengan penampilan yang sama sambil mendekati mobil mereka.

"Sayang, mereka mendatangi kita," kata Larisa dengan suara gemetar.

Dominik terus menggenggam tangan Larisa dengan pandangan tak luput dari ketiga sosok yang terus berjalan mendekati mobil.

Tok! Tok!

Salah seorang dari mereka mengetuk kaca jendela di dekat Dominik dengan petongan.

"Dom, aku takut sekali," bisik Larisa. Tangannya semakin dingin saat melihat sosok yang satu lagi berjalan menghampiri pintu di dekatnya.

"Apapun yang terjadi, jangan buka pintunya."

Tok! Tok!

Sosok yang berada samping jendela Dominik kembali mengetuk dan memberi kode untuk keluar. Dominik tak peduli. Ia tetap diam di dalam mobil tanpa melepaskan tangan Larisa.

Tok! Tok!

Bunyi ketukan kembali terdengar dan hal itu membuat Larisa semakin takut. "Dom, sebaiknya buka saja. Aku takut___"

Brak!

Larisa berteriak saat sosok di sebelah Dominik memukul kaca jendelanya. "Dom, kumohon buka saja. Tanya mereka mau apa dan berikan saja yang mereka inginkan."

Dominik mempertimbangkan sebelum akhirnya menurut. Dengan emosi yang meluap-luap ia ingin membunuh kedua orang itu. Namun sayang ia tidak membawa pistol. Ia sendiri tak menyangka di hari yang mungkin bersejarah ini akan ada penjahat yang menghadang mereka.

Brak!

"Akh!"

Larisa kembali berteriak saat pukulan kembali terdengar. Hal itu pun membuat kaca jendela mobil mulai retak akibat hantaman yang sagat keras.

"Sayang, kumohon," katanya sambil menangis.

"Seandainya tidak ada kamu, mungkin sudah sejak tadi aku membuka pintu dan menghajar mereka," kata Dominik.

Larisa menggeleng. "Kumohon, Dom. Daripada kita akan dibunuh lebih baik kita turuti saja permintaan mereka."

Mau tidak mau Dominik menurut demi ketenangan Larisa. Dengan tangan sebelah yang masih menggenggam tangannya, tangan yang lain bergerak untuk membuka kaca jendela. "Siapa kalian dan apa yang kalian inginkan?"

Sosok di balik topeng itu tidak menjawab. Ia hanya mengodekan pada Dominik untuk keluar.

Larisa semakin takut. "Dom, aku takut," ia meremas tangan pria itu seakan menahan Dominik agar tetap tinggal.

"Tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu," bisik Dominik. Seandainya ia bisa melawan dan punya senjata, mungkin orang yang di depannya itu sudah lama mati.

Tok! Tok!

Bersambung____

Halo, Guys. Jangan lupa untuk klik logo love dan kasih komentar, ya. Thank you.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Sang Pewaris Lumpuh
8.6
Erios Danbert, pria kaya yang lumpuh, harus mencari istri meski hatinya tertutup rapat. Takdir mempertemukannya dengan Emery Olivia La Carlistee, putri keluarga pembunuh bayaran yang mengincar kekuasaan Erios. Awalnya Emery hanya memanfaatkan situasi, namun ia justru terjebak dalam pusaran bahaya yang mengintai sang pewaris. Meski saling curiga dan mengejar ambisi pribadi, benarkah ada cinta tulus saat topeng dan motif asli Emery akhirnya terungkap?
Sampul Novel Devil Beside You
8.1
Sergio Blanco menganggap nyawa manusia tak berharga hingga ia ditugaskan membunuh putri seorang miliarder. Rencana sang pembunuh bayaran goyah saat bertemu Hazel Afford, wanita bermata indah yang memikat hatinya. Meski Hazel awalnya jatuh cinta, ia kini muak dan berusaha kabur setelah tahu identitas asli Sergio. Namun, Hazel justru terjebak dalam permainan gairah yang berbahaya. Akankah Sergio menuntaskan misinya atau justru menyerah pada perasaan?
Sampul Novel Ibu Sambung Anak Mafia
9.2
Natalia Smith tak pernah menyangka tabrakan tidak sengaja di mall akan mengubah hidupnya. Jenifer Audey, gadis remaja berusia 17 tahun, tiba-tiba memintanya menjadi ibu sambung sebagai bentuk permohonan maaf. Natalia yang baru 23 tahun kini terjebak dalam misi Jenifer untuk menjodohkannya dengan sang ayah, Aaron Audey. Aaron adalah bos mafia asal Inggris berusia 30 tahun yang sangat ditakuti. Akankah rencana Jenifer menyatukan mereka berhasil?
Sampul Novel Jatuh Cinta Pada Luka
7.9
Damian Verano, bos mafia tangguh, nyaris tewas setelah dikhianati dalam perebutan wilayah. Terhanyut di sungai selama tiga hari, ia ditemukan oleh Alira, gadis desa berusia delapan belas tahun yang sangat sederhana. Meski Damian masih terbayang sosok Sierra, pesona polos Alira justru memicu getaran cinta yang tak terduga di hatinya. Akankah sang penguasa dunia bawah tanah yang kejam mampu bersatu dengan gadis dusun yang buta akan masa lalunya yang kelam?
Sampul Novel KEMBALINYA RATU MAFIA
9.3
Pasca wafatnya Aderald Ibrahim, Diandra Safaluna mewarisi seluruh kekayaannya. Namun, ketiga anak Aderald yang murka berusaha melenyapkan Luna demi harta tersebut. Beruntung, Luna diselamatkan oleh rival mafianya. Kini ia kembali dengan identitas baru sebagai Diana, seorang ART di rumah suaminya sendiri. Sambil menyembunyikan cintanya yang mendalam, Luna memulai misi balas dendam. Akankah Sayudha menyadari bahwa sang istri berada di dekatnya?
Sampul Novel Lepas dari Cinta yang Telah Retak
8.0
Tiga bulan berlalu tanpa pertemuan antara aku, suamiku Arga Pratama, dan putri kami, Dora. Saat Arga akhirnya mengajakku berkumpul di vila, aku mempersiapkan segalanya demi menyambut Dora kembali. Namun, setibanya mereka, Dora justru berpaling dariku dan memeluk erat pelayan kami, Maya. Sikap dingin Arga yang acuh tak acuh memperjelas bahwa aku tidak lagi diinginkan di tengah mereka. Ketika Arga memintaku menunggu di tepi jalan selagi mereka pergi, aku menyadari bahwa batas kesabaranku telah habis.