
Melamar Anakku Sendiri
Bab 3
Tok! Tok!
Bunyi ketukan di sisi Larisa terdengar. Wanita itu menoleh dan melihat sosok itu seakan menyuruhnya keluar.
Dominik menatap mereka secara bergantian dengan wajah garang. "Sepertinya mereka menginginkan mobil itu," bisiknya.
"Apa kau akan memberikannya?"
Mata Dominik jelalatan memantau para penjahat itu, dan saat itu sosok di sampingnya kembali mengodekan agar dirinya keluar. Perlahan ia bergerak dan membuka pintu mobil.
"Sayang aku takut," pekik Larisa.
Pria itu sama sekali tidak melepaskan genggamannya kepada Larisa. "Ikutlah, aku tidak akan meninggalkanmu."
Mereka berdua bergerak dan keluar dari balik pintu kemudi. Begitu sebelah kaki Dominik menginjak aspal, sosok yang muncul dari belakang langsung memukul lengannya.
"Dom!" pekik Larisa. Ia hendak keluar untuk menolong, tapi Dominik mencegahnya.
Spontan kaki Dominik menendang pintu mobil agar kembali tertutup.
Larisa pun dengan cepat mengunci pintu itu dan mengurung diri di dalam. "Ya, Tuhan. Semoga mereka tidak akan melukai Dominik."
Belum tiga detik ucapan itu terlontar, sosok tadi yang memukuli kekasihnya kini melayangkan pukulan keras.
Buk!
"Dominik!" Larisa menangis.
Tubuh Dominik terhuyung saat hantaman keras mengenai punggungnya. Saat wajahnya terangkat untuk menatap sosok yang memukulinya, sosok yang lain menyerang Dominik dengan pukulan bertubi-tubi.
Buk! Buk!
Larisa histeris. Dengan cepat ia membuka pintu mobil untuk menyelamatkan kekasihnya. "Aku mohon," ia menangis, "jangan sakiti dia. Kumohon."
Sosok lain meraih tubuh Larisa agar menjauh, sedangkan dua sosok itu terus memukuli Dominik hingga wajahnya berdarah dan terkulai di aspal.
Larisa semakin histeris. "Dominik! Kumohon, hentikan. Jangan sakiti dia," Larisa menangis. Baru saja hendak melangkah mendekati sang kekasih, dua orang yang tadi memukul Dominik menghadangnya, "Jangan sentuh aku! Aku ingin melihat pacarku!"
"Anda tidak boleh mendekatinya."
"Jangan melarangku! Dominik!" Ia terus menangis, tapi sosok-sosok itu terus menahannya.
Tubuh Dominik tak bisa bergerak. Pukulan yang cukup keras membuat persendiannya sulit digerakan. "Larisa ...," suaranya parau. Tubuhnya lemas dan darah mengalir dari pelipis, "Larisa ... jangan sentuh dia." Dominik berusaha berdiri untuk menolong Larisa. Tapi saat tubuhnya mulai bangkit, saat itulah sosok dari belakang memukul kepalanya hingga kegelapan melenyapkan kesadaran Dominik.
Buk!
Larisa tercengang. "Dominik!"
***
Pagi hari dengan bias kaca yang cerah akibat paparan sinar matahari, Dominik Fadorov sedang terbaring di atas ranjang dengan tubuh memar serta bagian kepala terlilit perban.
"Larisa ... Larisa ... Jangan bawa Larisa. Kumohon jangan bawa Larisaku."
"Dom, bangun. Dom."
"Larisa ... Larisa ...."
"Dom, bangun. Ini mami, Sayang. Dom!" Katerina menepuk pelan pipinya.
Saat itulah Dominik membuka mata. "Larisa! Di mana Larisa? Aku harus menolongnya."
Katerina panik. "Dom, mami mohon tenanglah. Mami__"
"Larisa, Mami. Larisa!"
Dalam hati Katerina bertanya-tanya siapa Larisa. Tapi karena kondisi Dominik yang sangat mengkhawatirkan, ia membujuk putra semata wayangnya untuk kembali berbaring. "Mami mohon berbaringlah, Sayang. Tubuhmu memar semua."
Sakit di tubuhnya langsung menyerang. Dominik menurut. Perlahan ia membaringkan dirinya sambil menatap bagian tubuh yang tampak biru keunguan. "Larisa ... mereka pasti membawa Larisa, Mami."
Katerina meraih tangan Dominik dan menggenggamnya dengan erat. "Siapa Larisa, sayang?" bisiknya sambil menatap penuh cinta.
Saat ini mereka berada di rumah besar keluarga Fedorov tepatnya di kamar Dominik.
"Dia pacarku, dia pacar sekaligus calon mantu keluarga Fedorov."
Mata Katerina berbinar-binar. Ia senang mendengar pengakuan Dominik. Itu artinya pria itu bisa membuktikan bahwa dia akan segera menikah. Namun saat hendak melontarkan pertanyaan lagi, bunyi handle pintu dari luar membuat Katerina menelan kembali pertanyaannya.
Clek!
Bogdan dan nenek Fedorov muncul dari balik pintu.
"Dom!" pekik sang nenek seraya menghambur masuk, "Apa yang terjadi? Kenapa ...," nenek menghentikan perkataannya karena terkejut melihat kondisi cucu semata wayangnya. Dengan cepat ia menoleh dan menatap putranya dengan pandangan marah, "Apa yang terjadi pada cucuku, Bogdan?"
Katerina yang tadi berada di pinggir ranjang Dominik kini bergerak untuk mempersilahkan ibu mertuanya agar bisa melihat kondisi Dominik.
"Semalam kantor polisi meneleponku, mereka menemukan Dominik dalam keadaan tidak sadar di atas aspal dengan wajah penuh darah."
Nenek tersentak. "Apa dia kecelakaan?"
Bogdan menatap sedih. "Itulah yang sedang kami selidiki, polisi tidak menemukan tanda-tanda kecelakaan. Tapi yang anehnya kaca depan dan jendela mobil Dominik hancur berkeping-keping."
Nenek terkejut lagi. "Ya, ampun, Nak. Apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
"Dominik baru sadar, sebaiknya kita jangan dulu banyak bertanya padaya. Biarkan dia istirahat dulu," kata Katerina dengan nada tidak suka.
"Jadi kalian belum tahu penyebabnya?" tanya nenek sambil menatap Katerina.
"Belum. Semalam Dominik tidak sadarkan diri, dan pagi ini dia baru saja sadar. Kuharap kalian juga bisa mengerti kondisinya," balas Katerina. Ia menatap Dominik, "Istirahatlah, Sayang. Mami akan membuatkan sup sayur untuk sarapanmu."
Dominik selalu menurut ketika Katerina sudah melontarkan perintah. Baginya Katerina adalah sosok orang tua yang paling tahu dan paling mengerti apa yang dia sukai. Meski Bogdan juga adalah ayah yang baik baginya, tapi sikap Bogdan yang terlalu ambisius dan memaksanya untuk cepat menikah membuat Dominik jengkel. Apalagi sang nenek yang ia tahu selalu menghasut sang ayah agar menyuruhnya cepat menikah. Hal itulah yang membuat Dominik menjemput Larisa dan ingin memperkenalkan wanita itu kepada mereka.
Tapi saat ini niat itu lenyap bersama kejadian semalam. Dalam hati ia berdoa semoga Larisa tidak dilukai oleh mereka. Dominik berjanji, di saat kondisinya membaik ia akan mencari Larisa, membawa dan memperkenalkan wanita itu kepada kedua orangtuanya.
Di sisi lain.
Bias mentari pagi yang terpapar dari jendela kaca dan mengenai mata, membuat Larisa terbangun dengan tubuh yang terbalut pakaian tidur. Perlahan matanya terbuka untuk mengamati sekeliling.
"Larisa, kau sudah sadar?"
Suara yang paling dikenalinya membuat kepala Larisa menoleh. Dilihatnya wajah dari Ivan sedang bediri di samping ranjang bersama beberapa pelayan. "Paman," panggil Larisa. Suaranya bahkan hampir tak terdengar karena parau.
Ivan mendudukan diri di tepi ranjang. Dengan ekspresi penuh kekhawatiran ia meraih tangan Larisa dan menggenggamnya. "Paman di sini, Sayang. Paman di sini. Paman tidak akan meninggalkanmu."
Larisa bangun dan memeluk Ivan. Sambil menangis ia berkata, "Dominik, Paman, Dominik ... dia dipukul oleh orang-orang yang tidak tahu siapa. Aku ingin menolongnya, tapi mereka ...," dengan cepat Larisa melepaskan pelukannya begitu pikirannya kembali melayang pada kejadian semalam, "Kenapa aku bisa ada di sini, Paman? Bukankah aku___"
"Mereka menemukanmu di jalan," potong Ivan tiba-tiba, "Ada polisi yang berpatroli mendapatimu di bahu jalan dengan kondisi tak sadarkan diri. Tapi untung saja polisi itu mengenalimu dan langsung menghubungi paman. Jadi tadi malam paman langsung ke kantor polisi untuk menjemputmu."
Larisa kembali merangsang ingatannya. Tapi saat pikirannya tertuju pada tiga sosok yang membawanya pergi dan meninggalkan Dominik di jalan aspal, suara Ivan menyadarkan pikirannya.
"Kau tidak apa-apa? Apa yang kau rasakan? Apa mereka melukaimu?"
Larisa menggeleng lemah sambil menatap kosong sambil menangis. "Aku tidak apa-apa, tapi Dominik ... mereka memukulnya hingga berdarah dan tidak sadarkan diri."
Ivan memeluknya. "Oh, Larisa. Paman sangat bersyukur mereka tidak melukaimu, Nak."
Wanita itu terus menangis. "Aku ingin le lokasi itu, Paman. Aku ingin melihat kondisi Dominik. Mungkin dia masih di sana dan tidak ada yang menolongnya."
Tok! Tok!
Bunyi ketukan pintu membuat Ivan menoleh. Sambil menenangkan Larisa ia berkata, "Masuk."
Clek!
Pria berpakaian hitam rapi muncul. "Bos, kami sudah menemukan pelakunya."
Perkataan itu membuat Larisa kaget dan berhenti menangis. Dengan cepat ia melepaskan pelukan Ivan dan menatapnya.
"Mereka adalah orang suruhan Bogdan, Bos."
Ivan menatap Larisa.
Wanita itu pun balas menatapnya dengan pandangan bingung. "Bogdan, siapa dia, Paman?"
Ivan menarik napas panjang. "Bogdan Fedorov, ayahnya Dominik."
Zet!
Larisa tersentak. "Ayahnya Dominik?"
"Iya. Kemungkinan dia sudah tahu rencana kalian menuju rumah mereka. Agar hal itu tidak terjadi, dia menyuruh orang untuk menghadang kalian."
Larisa menatap skeptis. "Tapi kenapa Dom yang jadi korban? Dom kan anaknya."
Ivan berdiri menghadap jendela. "Itulah taktik mafia, Nak. Mereka bersikap manipulasi seakan-seakan bukan mereka yang dipersalahkan," ia kembali menatap Larisa, "Jadi dia sengaja mencelakai anaknya sendiri, agar Dom berpikir bahwa mereka mengincarmu. Hal itu pasti akan membuat Dom berpikir bahwa orang yang melalukan hal itu adalah orang yang menginginkanmu. Dengan begitu dia sama sekali tidak akan tahu bahwa ayahnya otak di balik semua itu."
Larisa ternganga. Matanya penuh air. "Apakah itu artinya mereka tidak ingin aku menjalin hubungan dengan Dominik?"
Ivan kembali duduk di sampingnya. "Itu sudah jelas, Nak. Keluarga Fadorov adalah keluarga paling terkenal dan berpengaruh di negara R. Sudah pasti mereka telah merencanakan sesuatu untuk Dominik. Dan jika pria itu bertindak tidak sesuai dengan keinginan mereka, itu akan berpengaruh pada keluarga karena dia anak satu-satunya dan pewaris tunggal di keluarga Fedorov. Sudah pasti Bogdan tidak ingin anaknya menikah dengan wanita biasa dan menikah dengan wanita pilihan mereka."
"Apa itu artinya Dom sudah dijodohkan?"
"Benar."
"Tapi kan aku bukan wanita mikin, Paman. Aku bukan wanita cupu yang ingin menikah dengan Dom hanya karena harta."
Ivan tersenyum samar. "Itu benar, Sayang. Tapi untuk statusmu saat ini sudah pasti akan membuat mereka menolakmu. Paman rasa mereka sudah menyiapkan seorang wanita yang lebih kaya dari kita untuk Dominik. Sebab kalau tidak, mana mungkin ada orang yang mencari masalah di saat Dom ingin membawamu bertemu orangtuanya."
Larisa menunduk sedih, memikirkan penjelasan Ivan.
Tapi Ivan langsung berkata lagi membuat wanita itu menatapnya. "Kau jangan takut, Paman akan membantumu. Kau akan mendapatkan Dom kembali."
Larisa sedih. "Itu tidak mungkin, Paman. Pasti kapanpun ketika waktunya tiba mereka akan menikahkan Dom dengan wanita pilihan mereka."
"Tidak ada salahnya mencoba, Larisa ," kata Ivan meyakinkan.
Larisa menatap bingung. "Maksud, Paman?"
"Kau mau kan paman kirim ke Amerika?"
"Untuk apa?"
"Memegang kendali perusahan dan menjadi CEO. Kau mau?"
Bersambung___
Anda Mungkin Juga Suka





