Sampul Novel Masa Lalu Yang Kau Tinggalkan

Masa Lalu Yang Kau Tinggalkan

8.3 / 10.0
Dalam romance novel Masa Lalu Yang Kau Tinggalkan, Hilda berjuang mempertahankan rumah warisan orang tuanya saat Marsel, sang suami, mendesak untuk menjualnya demi investasi. Konflik modern novel ini menguji kesetiaan dan masa depan mereka dalam sebuah cerita fiction books yang emosional.
Ringkasan Masa Lalu Yang Kau Tinggalkan
Hilda terpukul saat suaminya, Marsel, meminta untuk menjual rumah warisan orang tuanya demi investasi. Baru setahun menikah, Hilda tak menyangka Marsel begitu pragmatis hingga tega ingin melenyapkan satu-satunya memori fisiknya terhadap mendiang orang tua. Meski Marsel berdalih demi masa depan, Hilda tetap teguh mempertahankan aset tak ternilai tersebut. Konflik ini memicu keretakan besar, membuat Hilda mempertanyakan kembali sosok pria yang ia cintai.
Baca Selengkapnya

Masa Lalu Yang Kau Tinggalkan Bab 1

Aku menatap Marsel dengan sorot mata tak percaya. Detik itu juga, rasanya jantungku seperti diremas dari dalam. Kata-katanya masih menggema di kepalaku, membentur dinding-dinding kesabaran yang sejak tadi sudah retak.

"Jual saja rumah itu, Hil. Kita butuh dana tambahan untuk ekspansi toko. Rumah itu cuma jadi beban."

Nada bicaranya santai. Terlalu santai untuk sesuatu yang bagi hidupku berarti segalanya.

"Apa kau sadar apa yang baru saja kau ucapkan?" tanyaku dengan suara pelan, tapi jelas. Tangan gemetar, kuku-kuku mencengkeram kuat ujung meja makan, seolah itu satu-satunya penyangga untuk tidak roboh saat itu juga.

Marsel tidak langsung menjawab. Dia hanya menatapku dengan pandangan yang... kosong. Bukan dingin, bukan pula tajam. Kosong. Seakan-akan aku ini hanya sekadar variabel dalam rumus perhitungan logisnya.

Baru satu tahun pernikahan kami berjalan. Baru satu tahun sejak aku menyerahkan semua yang kupunya padanya-waktu, tenaga, mimpi, dan harapan. Dan sekarang? Dia ingin aku menjual rumah yang bukan hanya sekadar bangunan, tapi satu-satunya peninggalan dari orang tuaku yang telah tiada.

Rumah itu adalah tempat aku dibesarkan. Tempat aku merangkai masa kecil yang penuh luka tapi juga cinta. Rumah dengan dinding-dinding kusam dan taman kecil yang selalu kurawat setiap akhir pekan. Rumah itu... adalah satu-satunya tempat di dunia yang masih terasa "rumah".

"Rumah itu bukan beban, Marsel," kataku dengan suara gemetar. "Rumah itu satu-satunya yang tersisa dari Mama dan Papa. Kau tahu itu."

Marsel menghela napas panjang. Ia menunduk sebentar, lalu menatapku kembali-kali ini dengan ketidaksabaran yang mulai merayap dalam nada suaranya.

"Hilda, tolong jangan terlalu sentimentil. Aku paham itu warisan dari orang tuamu, tapi kita harus realistis. Kita butuh modal untuk cabang baru. Kita butuh kemajuan."

Aku menatapnya lama. Mataku mulai panas, tapi aku menolak menangis di hadapannya. Bukan kali ini. Bukan soal ini.

"Aku sudah bantu kamu dari awal," suaraku pecah, tapi masih jelas. "Aku jual perhiasan peninggalan Mama, aku berikan tabunganku dari sebelum menikah. Aku bahkan menahan diri dari banyak hal yang dulu penting buatku-hanya demi usahamu. Tapi rumah itu... jangan minta itu juga."

Marsel berdiri, berjalan ke arah jendela. Tangannya menyelip ke saku celana, menatap keluar seperti sedang menimbang sesuatu yang berat. Tapi aku tahu dia tidak berpikir untuk mengerti perasaanku-dia hanya sedang mencari cara agar aku menurut.

"Hilda," katanya pelan. "Kita ini membangun masa depan. Jangan biarkan masa lalu mengikatmu sampai kamu kehilangan semuanya."

Aku berdiri, kursiku bergeser kasar di lantai keramik.

"Kalau masa lalu itu satu-satunya yang kumiliki, apa menurutmu mudah untuk melepasnya? Kau bilang tentang masa depan. Tapi kenapa rasanya seperti aku satu-satunya yang terus kehilangan sesuatu setiap kali kita bicara soal 'masa depan' itu?"

Marsel memutar tubuhnya menghadapku. "Jangan drama."

"Dengar baik-baik," potongku cepat, mataku menatapnya penuh luka. "Aku tidak akan menjual rumah itu. Titik. Bahkan kalau aku harus menentangmu untuk pertama kalinya sejak kita menikah."

Hening. Beberapa detik terasa seperti selamanya. Marsel menatapku dengan wajah yang tak bisa kubaca. Ada kekecewaan, mungkin. Atau kemarahan yang ditahan.

Akhirnya, dia bicara dengan suara dingin, tajam, seperti pisau yang perlahan menyayat.

"Kalau begitu, mungkin kita harus mulai menimbang kembali arah pernikahan ini, Hil."

Aku terdiam. Tubuhku kaku, seolah seluruh udara dalam ruangan lenyap begitu saja. Kata-katanya mengguncangku lebih dari yang pernah kulalui setahun terakhir.

Kapan terakhir kali aku melihat Marsel dan merasa dicintai? Kapan terakhir kali kami bicara tanpa nada bisnis atau rencana ekspansi atau target omzet? Sejak kapan dia berhenti melihatku sebagai istrinya, dan mulai melihatku sebagai aset?

"Arah pernikahan?" bisikku, nyaris tak terdengar. "Ini bukan tentang arah. Ini tentang siapa yang masih peduli, dan siapa yang hanya ingin menang."

Aku melangkah pergi meninggalkannya di ruang makan, menuju kamar, lalu menutup pintu dengan perlahan. Di balik pintu, aku bersandar, menahan air mata yang akhirnya jatuh juga.

Rumah itu bukan hanya sekadar bangunan tua dengan cat yang mulai mengelupas. Itu adalah kenanganku. Peluk Mama di pagi hari. Suara Papa mengeluh tentang teh yang kurang manis. Bau kayu tua dari lantai. Dan senyuman terakhir mereka sebelum dunia merenggut semuanya dariku.

Dan sekarang, suamiku... pria yang bersumpah akan menjagaku, malah menjadi orang pertama yang memintaku menghapus sisa kenangan itu dari hidupku.

Aku tidak tahu akan seperti apa esok. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya sejak aku menikah, aku merasa lebih sendirian daripada saat aku ditinggal yatim piatu.

Dan untuk pertama kalinya... aku mulai mempertanyakan, apakah cinta memang cukup untuk menyelamatkan semuanya?

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Masa Lalu Yang Kau Tinggalkan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Aku Jauh di Luar Jangkauanmu
9.5
Sepuluh tahun pengabdian Delia pada mantan suaminya berakhir sia-sia hingga ia memutuskan bercerai. Tiga bulan berlalu, ia muncul kembali sebagai sosok luar biasa: CEO merek ternama, desainer kondang, dan juragan tambang sukses. Saat keluarga mantan suaminya memohon kembali, Delia yang kini dicintai Caius yang berkuasa hanya memandang mereka rendah. Baginya, mereka tak lagi selevel karena kini ia telah berada jauh di luar jangkauan mereka semua.
Sampul Novel Allena
8.0
Kehidupan Allena yang damai hancur saat tanda kutukan Xavier muncul di lengannya. Sang Putra Mahkota Xendria itu datang menagih janji ayah Allena dua dekade silam untuk menjadikannya istri. Allena menolak keras dipersunting penyihir yang telah berusia dua ratus tahun tersebut. Namun, kutukan itu nyata dan menyiksa; kini ia tak mampu menyentuh siapa pun lagi. Allena terjebak antara keinginan untuk bebas atau tunduk pada takdir sang pangeran.
Sampul Novel Azalea
7.8
Hubungan Amar dan Azalea yang semula indah berubah menjadi luka pahit. Kenangan mereka kini hanyalah beban yang memicu amarah, terutama setelah perpisahan yang menghancurkan segalanya. Namun, waktu membawa perubahan saat Arhan hadir di hidup Azalea. Bersama Arhan, ia mulai memahami makna baru tentang cinta dan takdir. Akankah masa lalu yang kelam terhapuskan oleh kehadiran Arhan? Inilah perjalanan emosional Azalea dalam menemukan arti ketulusan sejati.
Sampul Novel Kau Milikku
9.4
Hanna sangat membenci Will Greyson, pria angkuh yang langsung meminta kontak fisik saat pertama kali mereka bertemu. Kegilaan Will berlanjut ketika ia tiba-tiba melamar Hanna demi menjadikannya sarana terapi pribadi. Meski ditolak mentah-mentah, miliarder sombong ini tak mau menyerah begitu saja. Hanna yang geram berniat memberi pelajaran keras pada pria asing itu, sementara Will bertekad menaklukkan hati gadis yang berani menentangnya tersebut.
Sampul Novel Seriusin Aja, Nikahnya
8.9
Kara merasa bimbang saat Soni menyatakan perasaannya. Meski sangat berutang budi atas kebaikan Soni, ia tetap tak bisa membalas cinta pria tersebut. Masalah semakin rumit ketika Hendra muncul dan membongkar rahasia Kara hingga Soni memutuskan untuk mundur. Tak disangka, Hendra justru bertekad untuk menikahi Kara. Akankah pernikahan mereka nantinya hanya sekadar perjanjian kontrak belaka, atau justru menjadi awal kebahagiaan sejati bagi Kara?
Sampul Novel Thief Girl
9.7
Pelarian Arabella setelah mencopet dompet di angkot berujung sial saat ia terjatuh di tengah kejaran warga. Di ambang bahaya, seorang remaja asing datang menawarkan tumpangan motor untuk menyelamatkannya. Abel terpaksa menerima bantuan itu demi menghindari amukan massa. Sebagai gadis yang tumbuh di lingkungan kriminal, ia terpaksa mencuri hanya untuk bertahan hidup. Kisah ini mengikuti perjuangan Abel yang harus dewasa sebelum waktunya di tengah kerasnya dunia.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan