
Manusia Kelabang
Bab 2
Sekelilingku menjadi gelap gulita.
Aku terkejut dan tidak tahu harus berbuat apa, hanya bisa berdeham untuk menenangkan diri.
"Ini hanya cerita legenda wisata Desa Kelabang. Kalau kelabang benar-benar sebahaya itu, penduduk desa pasti sudah membasminya dengan pestisida."
Namun, nenek itu tetap menatapku dengan sorot mata yang aneh, tak bergerak sedikit pun.
"Tapi, penduduk desa nggak akan rela membasmi kelabang itu."
Kenapa?
"Daging kelabang bisa menyembuhkan banyak penyakit kalu dimakan."
"Dan harganya bisa dijual mahal."
Seketika, bulu kudukku berdiri.
Aku melirik pria di sebelahku.
Wajahnya pucat seperti selembar kertas. Anehnya, meski malam ini cukup sejuk, keringat mulai membasahi dahinya.
Saat kami saling berpandangan, tiba-tiba dia berdiri.
Dengan panik, dia mengambil barang bawaannya dan berjalan cepat menuju pintu gerbong.
Apa yang terjadi?
Dia tak seharusnya turun di stasiun ini!
Aku jelas melihat stasiun tujuannya saat petugas memeriksa tiket tadi.
Seketika, mataku tertuju pada jaket yang ditinggalkan di kursi sebelah.
Di dekat pintu gerbong, orang-orang mulai berkerumun.
Aku segera melihatnya. Saat kami bertatapan, ada ekspresi yang sulit dijelaskan di matanya.
Kemudian, dia menggelengkan kepala dengan keras dari balik kerumunan, sebelum menghilang begitu saja di antara kerumunan orang.
Aku ingin mengejarnya, tetapi orang-orang yang turun sudah memisahkan kami cukup jauh.
Dia menyeret kopernya dengan langkah tergesa, seolah takut ada sesuatu yang menimpa dirinya.
Apa maksud semua ini?
Apakah ini ada hubungannya dengan cerita manusia kelabang tadi?
Aku menggelengkan kepala, mencoba menjauhkan pikiran-pikiran yang tidak masuk akal itu.
Itu hanya cerita legenda.
Kelabang yang bisa mengontrol manusia dan membuat mereka saling memakan satu sama lain? Mana mungkin itu benar?!
Sebelum pintu kereta menutup, aku berhasil naik kembali.
Saat kembali ke tempat dudukku, area di sekitarnya sudah kosong.
Nenek itu juga menghilang.
Malam yang terasa seperti mimpi aneh itu berlalu, seolah tak pernah terjadi.
Beberapa hari berikutnya, aku menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan dan merekam.
Materi di kameraku semakin banyak, tetapi hampir semuanya terasa tak berguna.
Namun, cerita manusia kelabang terus menghantui pikiranku.
Sebagai seorang jurnalis, jika aku kembali tanpa membawa hasil yang berarti, kemungkinan besar surat PHK sudah menungguku.
Aku mulai bertanya ke penduduk sekitar, tetapi tak peduli seberapa keras aku mencoba, semua orang mengaku tak pernah mendengar apapun tentang cerita itu.
Hari berlalu begitu saja selama tiga hari, aku sudah kehilangan semangat dan berencana untuk pulang.
Hingga akhirnya, aku bertemu dengan seorang pelancong.
"Di sana ada jalan pegunungan tua yang sudah lama terbengkalai, kamu harus ke sana."
"Pemandangannya alami, tanpa sentuhan manusia sama sekali."
Dia mengenakan topi yang menutupi wajahnya. Tanpa sengaja, aku melihat sesuatu di pergelangan tangannya.
Seperti ada sesuatu yang bergerak di kulitnya.
Dia segera menyadari tatapanku dan segera menyerahkan peta rute kepadaku.
Mungkin aku hanya salah lihat.
Aku pun mulai memperhatikan peta yang dia berikan.
Rutenya sangat terpencil, bahkan tidak ada penginapan di sepanjang jalan.
Sepertinya dia ingin memancingku ke suatu tempat yang misterius.
Kemarin aku sempat mendengar dari seorang pemandu lokal bahwa tempat itu berbahaya dan tidak disarankan untuk dikunjungi.
"Jangan dengarkan omongan pemandu itu," katanya seolah bisa membaca pikiranku, lalu melanjutkan lagi, "Mereka hanya nggak suka karena desa itu nggak ikut dalam pengelolaan tempat wisata, jadi mereka nggak bisa dapat komisi."
"Percayalah, kalau kamu nggak pergi, kamu akan menyesal seumur hidup."
"Selama bertahun-tahun ini, nggak pernah ada masalah di sana. Kamu juga punya peta, jadi kenapa harus takut?"
Desa? Apa itu Desa Kelabang?
Aku mulai penasaran.
Ketika aku ingin bertanya lebih lanjut, pria itu sudah pergi.
Hanya tersisa suara napasku sendiri, suara angin dan nyanyian serangga yang tak henti-hentinya di sekitarku.
Cerita nenek itu dan ekspresi ketakutan pria di kereta kembali terngiang-ngiang di pikiranku.
Reaksi berlebihan seperti itu hanya karena mendengar cerita legenda seram?
Atau mungkin itu bukan sekedar cerita?
Saat pikiran itu melintas, tiba-tiba terdengar suara berdesir dari semak-semak di sampingku.
Aku segera kembali sadar, hatiku mulai gelisah.
Meski masih jam 2 siang, langit mendadak terasa lebih gelap. Cahaya yang menembus dedaunan menjadi satu-satunya petunjuk jalan.
Aku mengikuti peta itu, tetapi suara berdesir di belakangku semakin mendekat.
Suara itu terdengar seperti tubuh kelabang yang bergerak di atas daun-daun kering dan ranting. Begitu banyak kaki yang menyapu tanah dengan suara mengerikan.
Aku merasa mereka hampir mendekat, siap merayap ke kakiku, naik ke tubuhku dan menembus dagingku.
Aku hampir bisa merasakan rasa sakit dari kulit yang tertusuk.
Langkahku semakin cepat.
Jalan pegunungan tua itu penuh dengan lumut hijau yang licin di mana-mana.
"Aaaaa!"
Suara angin yang berdesir di telinga tiba-tiba berubah menjadi lebih kencang.
Pergelangan kakiku terasa nyeri tajam dan anak tangga yang keras menghantam tubuhku seolah membuat setiap tulang dalam tubuhku remuk.
Aku terjatuh hingga ke anak tangga terakhir dan belum sempat aku bangkit,
aku melihat sesuatu yang jauh lebih mengerikan terjadi ...
Dalam redupnya cahaya ponsel, aku melihat sesuatu yang tak jelas menempel di tanganku!
Aku mengayunkan tangan sekuat tenaga, tapi benda itu tetap melekat erat.
Benda itu tetap menempel di kulitku. Bentuknya yang panjang dan lentur bergerak mengikuti aliran darahku.
Dengan gemetar, aku mengarahkan ponsel untuk melihat lebih jelas.
Dia ... bukan sedang merayap di kulitku, tapi sedang bergerak di bawah kulitku!
Tanganku yang gemetar menarik baju untuk memastikan.
Dan ... bukan hanya di tanganku, tapi di lengan, kaki dan bahkan perutku!
Di balik kulit yang putih, satu per satu benda itu muncul, bergeliat tak henti.
Apa ini ...
Anda Mungkin Juga Suka





