Sampul Novel HILANGNYA JASAD KEMBARANKU

HILANGNYA JASAD KEMBARANKU

9.5 / 10.0
Dalam HILANGNYA JASAD KEMBARANKU, Mecca harus menelusuri misteri hilangnya jenazah Micail yang ganjil. Mystery story mencekam ini membawa pembaca ke dalam horor pencarian jasad yang hilang secara tidak wajar. Temukan jawaban di balik teka-teki kelam ini dalam horror novel yang menegangkan.
Ringkasan HILANGNYA JASAD KEMBARANKU
Kepergian Micail meninggalkan luka mendalam bagi Mecca, namun misteri hilangnya jasad sang kembaran justru membawanya ke ambang kegilaan. Ia tidak hanya harus bergelut dengan rasa duka yang hebat, tetapi juga obsesi untuk menemukan jenazah yang raib secara misterius tersebut. Teka-teki ini terus menghantui pikirannya, memaksa Mecca menelusuri jejak yang hilang demi ketenangan jiwa saudaranya yang telah tiada di tengah situasi yang kian mencekam.
Baca Selengkapnya

HILANGNYA JASAD KEMBARANKU Bab 1

Di satu malam yang kelam, semilir angin menggoyangkan dahan pepohonan, gesekan dedaunan mengeluarkan suara yang khas, remang cahaya bulan diiringi suara burung hantu yang bertengger di dahan pohon itu.

Dari sebuah rumah, di sebuah pedesaan terpencil, berdekatan dengan rumpun bambu terdengar teriakan seorang gadis, menjerit, memekik, menahan sakit.

"Ampuuun, Ibu, jangan, sakit—" Begitulah samar-samar terdengar rintihan gadis itu.

Semakin larut dan gelap sendu malam, semakin terdengar jelas hingga kejauhan jeritan tangis itu. Sudah bukan menjadi hal tabu, bagi warga sekitar. Warga pun seakan tak mau tahu lagi.

*

“Sial!” gerutu gadis yang sedang asyik di depan layar laptopnya.

Lantas, gadis berkuncir kuda itu, membenarkan kacamata yang melorot.

“Kenapa otak aku tumpul sekali, mentok terus.” Lagi, dia bermonolog.

Tak lama kemudian dengan mata yang masih terpaku pada layar laptop gadis yang mengenakan kaos oblong longgar itu meraih cangkir yang ada di meja, dia mendekatkan cangkir itu ke bibirnya. Nahas, kopi di dalamnya telah tandas, dan membuatnya semakin kesal.

“Astaga, gini amat nasibku,” rutuknya, lantas mengembuskan napas berat.

Gadis bermata bulat dengan manik cokelat muda itu meletakkan kembali cangkirnya, kemudian mengusap wajah dengan kasar. Tak lama kemudian, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan tempatnya tinggal.

Manik mata itu, tiba-tiba membesar menyadari kekacauan yang entah telah berapa lama dia buat. Sampah-sampah berserakan, lantai berdebu, bau tidak sedap pun begitu memenuhi ruangan tersebut.

“Apa!?” teriaknya seraya beranjak dari duduk.

“Astaga Mecca, udah berapa lama kamu mati sebenarnya?” umpatnya pada diri.

Dia masih terkesima melihat ruang tempatnya tinggal sudah seperti tempat pembuangan akhir dari satu komplek selama satu minggu. Tak ingin membiarkan kekacauan itu terus berlanjut, Mecca pun hendak membersihkan semuanya.

Dia mulai dari membuka gorden dan jendela, agar udara baru menggantikan udara lama yang telah terperangkap di ruangannya. Saat cahaya matahari menembus kaca jendela, merambat lalu kemudian mengenai wajah pucat itu, dengan spontan telapak tangannya menjadi perisai untuk menghalangi rasa silau yang dirasakan.

“Waaah, ternyata dunia masih berputar pada porosnya,” decaknya, senyum simpul pun terulas dari bibirnya yang tipis.

Sejenak dia berdiri di tepi jendela, kebetulan kamarnya berada di lantai atas sebuah rusun. Mecca menghirup udara segar yang menerobos bebas ke lubang pernapasannya. Hal itu seakan membuat dia merasa mendapatkan energi baru setelah beberapa waktu mengurung diri.

Setelah itu, Mecca mencoba merogoh ponsel yang ada di saku celana jogger yang dikenakan. Lantas, dia mengaktifkannya. Setelah itu, Mecca meletakkan ponselnya di nakas dekat jendela. Sementara dia beranjak dan berniat untuk membersihkan kamarnya itu.

Bilah notifikasi pada ponsel Mecca terus menyala dan menampakkan beberapa pemberitahuan, baik pesan maupun hal lainnya. Banyak orang yang mencarinya, terutama sebuah kontak yang bernamakan Boy, puluhan pesan yang dikirim runtun selama beberapa hari terakhir ini.

Macca masih tak mengacuhkan ponselnya, gadis yang penampilannya sudah tidak karuan itu begitu fokus pada sesi bersih-bersih, dan membereskan kekacauan di kamarnya.

Hingga setelah seharian pertempurannya dengan sampah. Kini, ruangan itu layak disebut sebagai kamar tidur.

“Fyuh,” lenguhnya, seraya tersenyum simpul.

“Akhirnya!” Gadis itu tampak lega, lantas dia meraih handuk dan bergegas ke kamar mandi.

“Sudah berapa lama aku tidak mandi, ya? Badanku sampai bau sampah.” Lagi-lagi dia bermonolog.

“Ini, apa? Shampo? Conditioner? Ini makenya yang mana dulu? Duh, sampe lupa.”

Mecca pun memilih untuk menggunakan shampo saja, lantas dia mulai membasuh seluruh tubuh dengan air yang mengalir dari shower, setelah seluruh tubuhnya basah dia mencoba meraih shampo yang ada di rak di sudut kamar mandi tanpa menoleh. Namun, tiba-tiba saja botol shampo itu tidak dapat diraihnya. Ternyata tidak ada botol apa pun di atas rak itu. Tanpa dia sadari botol-botol tersebut sudah berpindah tempat dengan sendirinya.

Mecca menoleh dan menyadari kejanggalan itu, tetapi dia memilih untuk acuh tak acuh dan tidak mau ambil pusing. Hingga dia pun menyelesaikan ritual membersihkan diri tanpa basa-basi lagi.

Drt! Drt!

Saat Mecca keluar dari kamar mandi, terdengar getar pada ponselnya, kali ini dia mencoba mengacuhkan dan menghampiri nakas tempat menyimpan ponsel tersebut.

“Sudah kuduga, Boy," desisnya.

Tak lama kemudian, dia membawa ponselnya ke arah tempat tidur. Mecca pun menelepon balik Boy, lalu menghempaskan badannya ke kasur dengan menempelkan benda pipih itu di telinga.

Sesaat setelah panggilannya dijawab, Mecca berucap, “Hei, Boy! Kau merindukanku?”

“Hei, Bodoh! Berhentilah membuat orang khawatir, kau ini selalu begitu, setiap menulis kau melupakan segalanya!" umpat seseorang bernama Boy di seberang telepon.

“Hahaha!” Mecca tergelak, mendengar kemarahan Boy.

“Dasar gadis gila!” umpat Boy sekali lagi.

“Berhentilah, memarahiku, kamu cerewet banget, seperti nenek-nenek,” ledek Mecca.

“Sudahi saja novelmu itu, atau kau akan benar-benar gila dibuatnya!” tukas Boy di seberang sana.

“Baiklah, baiklah, aku mengerti.” Tidak ingin berdebat lagi, Mecca pun memilih mengiakan apa yang dikatakan Boy.

“Tidak, kau tidak mengerti, aku yang harus selalu ngertiin kamu.” Sekali lagi Boy meluapkan kekesalannya.

“Aish, ya udah, besok jemput aku, kita ketemu, oke!” ucap Mecca.

Setelah ucapan itu Mecca pun memilih menyudahi percakapannya, karena tidak ingin terus menerus mendengarkan umpatan Boy. Lalu, untuk mengisi kekosongan dalam otaknya dia mencoba membaca berita-berita di internet. Beberapa hari ini, Mecca memang hanya fokus pada dunianya.

Ketika dia menulis, dia akan pergi dari dunia nyata. Memilih mengurung diri di kamar dan mematikan ponsel, fokusnya benar-benar tersita. Hingga dia akan lupa merawat diri sendiri, seperti kali ini. Akan tetapi, saat dia mulai kehilangan ide, dia akan kembali menjadi manusia biasa yang hidup normal. Hanya Boy yang mengerti kebiasaannya itu.

Saat asyik membaca berita-berita faktual minggu ini, fokusnya tertarik pada sebuah judul berita yang mengabarkan kematian seorang jurnalis di desa terpencil yang ada di Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Mecca membacanya dengan saksama, hingga rasa penasaran pun menghampiri.

Ketika dia sedang fokus pada layar ponselnya, tanpa dia sadari sesosok bayangan hitam mengawasinya dari sudut kamar.

Brugh!

Sejurus kemudian pintu kamar mandi terbuka dan tertutup kembali dengan sendirinya. Lagi-lagi, Mecca tak mengindahkan dan masih fokus pada layar ponselnya.

“Mereka terlalu dekat hingga kita mengabaikan. Padahal, bisa saja mereka peduli atau mungkin ingin mencelakai.”

*

Setelah beberapa saat memikirkan tentang berita tersebut, Mecca memilih untuk beristirahat. Dia mengingat janjinya untuk bertemu Boy esok hari. Tepat sesaat sebelum mata Mecca terpejam sempurna. Bayang hitam itu kembali keluar dengan menembus pintu kamar mandi dan perlahan menghampiri Mecca yang sedang terbaring.

Bayang hitam itu duduk di tepi ranjang dan menatap lekat ke arah wajah gadis manis tersebut. Dengan mata yang hendak terpejam, Mecca seolah mampu melihat sosok tersebut.

Seulas senyum terukir, lantas dia bergumam, “Micail, maafkan aku ....”

Mecca pun terlelap, sosok hitam itu pun lenyap.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi HILANGNYA JASAD KEMBARANKU

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel 12 Wasiat Dari Ayah
8.6
Dira terjebak dalam hubungan toksik dengan ibunya, seorang wanita penghibur yang mengalami gangguan mental. Di tengah kebencian yang mendalam, Dira mendambakan sosok ayah yang telah lama menghilang. Namun, berita kematian sang ayah membawa kebenaran pahit: Dira bukanlah anak kandungnya. Melalui buku merah berisi dua belas wasiat peninggalan almarhum, Dira harus menuntaskan misi terakhir. Akankah wasiat ini memperbaiki ikatan dengan ibunya atau justru mengungkap rahasia lain?
Sampul Novel Beautiful Nerd
8.4
Alena Farron menyembunyikan identitas ganda sebagai model ternama, Leanne Darrel. Rahasia ini terjaga rapat hingga Ray Dixon, siswa jenius sekaligus teman sekelasnya, mendadak muncul sebagai rekan kerjanya di dunia modeling. Kehidupan Alena yang tenang sebagai gadis kutu buku pun terancam kacau. Kini, ia harus berjuang ekstra keras demi menutupi jati dirinya yang sebenarnya, tepat saat Ray mulai masuk dan mengusik zona pribadinya di sekolah maupun panggung mode.
Sampul Novel Dibuang Seperti Sampah, Kini Dicari
8.9
Delapan tahun pernikahan rahasia Risa hancur saat Teguh melamar Selia. Merasa dikhianati, Risa memilih bercerai dan meninggalkan restoran mereka. Teguh yang angkuh justru mengusir Risa dan adiknya, Heru, demi wanita simpanannya. Namun, saat bisnisnya hancur akibat ulah Selia, Teguh menyusul Risa ke Swiss untuk memohon maaf. Risa kini bangkit dan mengungkap kebenaran pahit tentang malam yang menjebaknya di masa lalu, membiarkan Teguh menyesal dalam kehancuran.
Sampul Novel GEJOLAK GAIRAH DILAN
9.1
Dilan dan Nessa menjadi sangat dekat hanya dalam tiga kali pertemuan. Namun, momen ketiga itu justru membawa luka hati bagi Dilan. Sebuah insiden tak terduga terjadi saat Nessa berada di bawah pengaruh obat perangsang, memaksa Dilan melanggar janjinya sendiri untuk menjaga kehormatan wanita yang ia cintai. Kini, hubungan mereka dipertaruhkan. Mampukah Nessa memaafkan Dilan, dan akankah kesalahpahaman besar di antara mereka akhirnya menemukan jalan keluar?
Sampul Novel Menguncimu di Hatiku
8.0
Pertemuan takdir menyatukan Lyla dan Yosua dalam pernikahan singkat yang berakhir dingin. Tiga tahun berlalu, Lyla kembali sebagai sosok mandiri dari keluarga terpandang bersama anak kembarnya. Saat Yosua mencoba mengejarnya kembali, ia justru mendapati mantan istrinya tak lagi mudah ditaklukkan. Dalam sebuah pertemuan tak terduga, Yosua yang angkuh mencoba memaksakan kehendak, namun Lyla dengan tegas mengingatkannya bahwa hubungan mereka telah lama berakhir.
Sampul Novel Suddenly Love
9.0
Raisa memendam perasaan mendalam pada sahabat kecilnya, Bayu. Namun, hatinya hancur saat mengetahui Bayu justru jatuh cinta pada Vanes, teman dekatnya sendiri. Di tengah luka tersebut, muncul Raihan, rekan bisnis Bayu yang terpesona oleh Raisa sejak pandangan pertama. Meski Raihan menunjukkan ketertarikan, Raisa tampaknya tidak menyadari kehadiran cinta baru itu. Akankah Raisa membuka hatinya bagi Raihan dan menemukan kebahagiaan sejati bersamanya?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan