Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel MANTAN NARAPIDANA ITU SUAMIKU

MANTAN NARAPIDANA ITU SUAMIKU

Kehidupan Shara hancur saat ayahnya terlilit utang riba yang mustahil dilunasi. Tanpa diduga, seorang mantan narapidana misterius melunasi beban itu, namun ia menuntut Shara menjadi istrinya sebagai imbalan. Terjebak dalam pernikahan paksa dengan pria asing yang penuh rahasia dan kekuatan gelap, Shara merasa dunianya dijual. Kini ia harus memilih: tunduk pada takdir pahit ini atau mempertaruhkan segalanya demi melawan pria yang kini menjadi suaminya itu.
Bab
Bagikan

Bab 1

HARGA YANG HARUS DIBAYAR

Ponsel Shara bergetar di meja, menampilkan nama yang jarang sekali muncul di layarnya: Ibu.

Jantungnya mencelos. Sejak meninggalkan kampung halaman tiga tahun lalu, ibunya hampir tidak pernah menelepon kecuali ada hal yang benar-benar mendesak.

"Ibu?" Shara menjawab cepat.

"Shara..." Suara ibunya terdengar parau, seperti seseorang yang telah lama menahan tangis. "Nak... pulanglah. Ayahmu... kami dalam masalah besar."

Shara mengernyit. "Masalah apa?"

Ada jeda panjang, seolah ibunya ragu untuk menjawab. Lalu, dengan suara yang lebih seperti desa*han putus asa, ia berkata, "...Ayahmu terlilit hutang. Mereka... datang hari ini, Shara."

Dada Shara mengencang. "Hutang apa, Bu?"

"Tolong pulang dulu," suara ibunya bergetar, seakan ketakutan. "Kami butuh kamu di sini."

Sebelum Shara bisa bertanya lebih jauh, panggilan sudah terputus.

Dan tanpa ia sadari, itu adalah panggilan yang akan mengubah jalan hidupnya selamanya.

***

Malam telah turun saat Shara tiba di kampung halamannya. Udara dingin menusuk kulit, tapi bukan itu yang membuat dadanya terasa sesak.

Ia turun dari ojek, langkahnya cepat menuju rumah. Begitu pintu terbuka, suasana di dalam membuatnya terpaku.

Ibunya terduduk di kursi tua, wajahnya sembab. Ayahnya berdiri di dekat jendela dengan bahu merosot, seperti seseorang yang telah kehilangan seluruh harapan. Pipinya nampak tirus dan hilang aura wajahnya.

Dan seorang pria duduk di sofa, tampak begitu tenang seolah ruangan itu adalah miliknya.

Shara langsung tahu bahwa dialah pusat dari semua kekacauan ini.

Pakaiannya sederhana, kemeja hitam dengan lengan tergulung, celana panjang gelap. Tubuhnya tegap, rahangnya kokoh, tapi yang paling mencolok adalah sorot matanya.

Dingin dan mengintimidasi.

Seolah ia melihat dunia dari balik dinding es yang tebal, tanpa sedikit pun emosi.

Shara berusaha menelan kegelisahannya dan bertanya dengan suara yang lebih tegas dari yang ia rasakan, "Ibu... siapa dia?"

Ibunya hanya menangis, sementara ayahnya tetap diam.

Hingga akhirnya, dengan suara hampir tak terdengar, ibunya berbisik, "Ayahmu... terlilit hutang. Riba, Shara... bunganya membengkak... kami tidak bisa membayarnya."

Shara mengepalkan tangannya. "Berapa?"

Ayahnya akhirnya berbicara, tapi suaranya terdengar seperti gumaman penuh rasa malu. "Tiga ratus juta."

Darah Shara berdesir. "Tiga ratus..."

Bagaimana bisa?

"Kami... tidak punya jalan keluar." Mata ibunya penuh permohonan.

"Lalu... dia datang."

Shara menoleh kembali ke pria itu, tatapannya curiga.

"Apa maksudnya?"

Pria itu akhirnya bersuara. Nada suaranya rendah, tapi tidak bernada permintaan lebih seperti pernyataan yang tak bisa dibantah.

"Aku yang melunasi hutang orangtuamu."

Shara membeku. "Apa?"

"Ayahmu tidak punya uang," lanjutnya, tenang seperti membicarakan cuaca. "Jadi aku membayar untuknya."

Shara menelan ludah. "Kenapa? Apa maumu?"

Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya, lama, seolah sedang menilai sesuatu.

Lalu, dengan suara sedingin baja, ia berkata:

"Menikahlah denganku."

Ruangan terasa seperti runtuh di sekeliling Shara.

Matanya membelalak, kepalanya berputar. Ia menoleh ke orang tuanya, mencari penolakan, tetapi yang ia temukan hanyalah kepasrahan.

"Apa?" lirihnya.

"Aku tidak butuh mereka untuk menebusnya." Pria itu mengangkat satu alis. Dan menggantung ucapannya.

"Aku menginginkan istri."

Shara merasakan tubuhnya menegang. "Aku bukan barang yang bisa kau beli."

Ayahnya menunduk semakin dalam, ibunya menangis lebih keras. "Shara, Nak... tolong."

Shara tertawa pendek, pahit. "Tolong apa, Bu? Menyerahkan aku pada pria yang bahkan aku tidak kenal?"

Pria itu akhirnya berdiri. Gerakannya begitu terukur, begitu tenang, tapi justru terasa lebih berbahaya.

"Kamu tidak punya pilihan."

Shara mencengkeram dadanya, amarah mendidih dalam dirinya. "Aku tidak akan menikah dengan seseorang yang bahkan aku tidak tahu namanya."

Pria itu menatapnya tanpa ekspresi.

"Damian."

Satu kata. Dingin. Tanpa emosi.

"Lalu apa?" Shara mendengus. "Sekarang aku seharusnya menjatuhkan diri dan bersyukur di kakimu?"

Damian tersenyum kecil, senyum tipis yang lebih terasa seperti ancaman.

"Tidak perlu bersyukur." Tatapannya menusuk.

"Cukup tunduk."

Shara melangkah mundur, jantungnya berdegup kencang.

"Aku tidak akan menyerahkan diriku untuk membayar kesalahan orang lain."

Damian tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya, lama, seolah menyimpan sesuatu di balik matanya yang gelap.

Lalu, dengan nada yang membuat udara di ruangan itu semakin dingin, ia berkata,

"Kita lihat... seberapa lama kamu bisa melawan."

Dan saat itu juga, Shara tahu, tidak peduli seberapa keras ia mencoba melarikan diri, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Apa ceritanya seru? Kalo seru aku update chapter baru lagi besok.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Affair
8.8
Kehidupan pernikahan yang terasa hambar dan dingin membuatku terjebak dalam nostalgia masa lalu. Kenangan manis bersama Hany, sang mantan kekasih, terus membayangi setiap sudut hari-hariku hingga menjadi beban bagi hubungan saat ini. Bayang-bayang kebahagiaan lama itu kini mengancam keutuhan rumah tangga yang sedang dijalani. Akankah pernikahan ini mampu bertahan di tengah godaan memori yang tak kunjung sirna, ataukah semuanya akan berakhir hancur?
Sampul Novel Bangkit Dari Luka: Istri Yang Terbuang
8.1
Tiga tahun mencintai Elton hancur seketika saat ia mencampakkan Jilly ke laut demi menyelamatkan Rachel. Di tengah pengkhianatan itu, Jilly menyembunyikan kehamilannya dan merancang pelarian dari pernikahan beracun mereka. Saat Elton akhirnya menemukan persembunyian Jilly dalam kondisi hancur, ia memohon pengampunan demi sang buah hati. Namun, bagi Jilly, sosok ayah dari bayinya telah mati sejak hari suaminya lebih memilih wanita lain daripada nyawanya sendiri.
Sampul Novel BUKAN KISAH SEMPURNA
8.8
Demi membiayai pengobatan Alvaro yang koma, Adinda terpaksa menikahi Alvin. Konflik memuncak saat ia tahu Alvin belum melajang dan tugasnya adalah membuat pria itu melupakan sang istri. Saat misi menaklukkan hati Alvin berhasil, Alvaro justru tersadar. Adinda terjebak dilema besar: tetap bersama Alvin sebagai yang kedua, atau kembali ke pelukan Alvaro namun harus menghadapi penolakan keras dari keluarganya. Sebuah pilihan sulit di tengah takdir yang rumit.
Sampul Novel JIKA CINTA INI SALAH
8.8
Demi cinta, aku rela melepaskan segala kemewahan hidup. Namun, pengabdian tulusku justru dibalas dengan pengkhianatan pahit. Kini aku terjebak dalam dilema besar: bertahan dalam pernikahan yang hancur demi kelangsungan hidup anak-anak remaja kami, atau berani melangkah pergi. Di tengah ketergantungan ini, muncul sebuah rasa baru. Pantaskah seorang ibu dengan dua anak seperti diriku membuka hati bagi cinta lain yang hadir menawarkan harapan?
Sampul Novel Menikahi Mantan Istriku Lagi: Cinta Menyembuhkan Patah Hati
8.2
Tiga tahun pernikahan hanya menyisakan kepedihan mendalam bagi sang istri. Dalam kondisi mengandung, ia justru dipaksa menandatangani surat cerai oleh suaminya yang sangat kejam. Namun, setelah wanita itu pergi, sang pria baru menyadari arti cinta yang sesungguhnya. Kini, ia berusaha menebus segala luka masa lalu dengan kasih sayang tanpa batas, berharap bisa memenangkan kembali hati mantan istrinya yang telah hancur dan penuh dengan rasa kecewa.
Sampul Novel Sang Pewaris Pesantren
8.0
Mafayzah awalnya adalah sosok wanita impian yang bertahta di hati Gus Iqbal. Namun, jalinan asmara mereka hancur seketika saat pengkhianatan Mafayzah terungkap, meninggalkan luka mendalam yang membuat Gus Iqbal menutup diri dari cinta. Di tengah masa sulit itu, hadir sosok Neng Lia yang membawa keteduhan. Melalui sikapnya yang tulus serta ketaatan yang luar biasa, Neng Lia perlahan mampu meluluhkan kekakuan hati sang pewaris pesantren tersebut.