
MANTAN NARAPIDANA ITU SUAMIKU
Bab 2
PERNIKAHAN ATAU KEHANCURAN?
Malam itu, setelah kepergian Damian, Shara duduk termenung di ranjangnya. Pikirannya kusut, seperti benang yang tak bisa diurai. Kata-kata pria itu masih menggema di kepalanya.
"Besok, aku akan datang lagi untuk mendengar jawabanmu."
Jawaban? Seolah-olah ia punya pilihan.
Shara mengusap wajahnya dengan kasar. Hatinya sakit. Mengapa kedua orang tuanya tega menyerahkan hidupnya begitu saja pada pria asing? Apakah ia tidak lebih berharga daripada sebatas alat tukar untuk melunasi hutang?
Dengan langkah berat, ia turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar. Di ruang tengah, ayah dan ibunya masih terjaga. Mereka duduk di sofa dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Ayah, Ibu... kenapa harus aku?" suara Shara bergetar.
Ibunya menghela napas panjang. "Nak, ini demi kebaikan kita semua. Kamu tahu sendiri, kita tidak punya pilihan lain. Jika bukan karena nak Damian, kita mungkin sudah kehilangan rumah ini. Dan mungkin ayahmu akan tinggal nama."
Shara mengepalkan tangannya. "Tapi kenapa aku harus jadi tumbalnya? Bukankah masih ada cara lain?"
Ayahnya, yang sejak tadi diam, akhirnya berbicara. "Damian menginginkan istri, tidak mau yang lain. Tenang saja nak, dia pria yang baik. Dia berjanji akan menjagamu. Lagipula, apa kau pikir ada pria lain yang mau menikahi gadis dari keluarga miskin seperti kita?"
Ucapan itu terasa seperti pisau yang menusuk dadanya. Shara ingin berteriak, ingin melawan, tetapi ia tahu tak ada gunanya. Perlahan, air matanya jatuh.
Beberapa hari kemudian...
Shara berjalan menyusuri gang sempit di pinggiran kota. Ia mencoba mencari tahu siapa sebenarnya pria bernama Damian itu. Jika ia benar-benar baik, mengapa auranya terasa begitu gelap?
Langkahnya terhenti di depan sebuah kedai kopi tua. Dua pria paruh baya berpenampilan klasik duduk di teras, berbincang dengan suara pelan.
"Kau dengar tentang Damian? Dia sudah keluar dari penjara," kata salah satu dari mereka.
Jantung Shara mencelos. Entah kenapa mendengar nama Damian. Ia langsung teringat pria itu.
"Ya, aku juga dengar. Meskipun masih muda, pria itu sangat berbahaya. Orang-orang takut padanya. Entah bagaimana dia bisa keluar dari penjara secepat itu. Aku penasaran, sebenarnya kekuasaan apa yang dimilikinya? Sampai orang-orang gentar padanya?" sahut pria lainnya.
Shara mundur selangkah, napasnya memburu. Jadi... Damian adalah seorang mantan narapidana?
"Tidak! Aku tidak mau menikah dengan mantan narapidana!"
Rasa takut menjalar ke sekujur tubuhnya. Tanpa pikir panjang, ia berlari pulang. Sesampainya di rumah, ia langsung menemui kedua orang tuanya.
"Ayah! Ibu! Aku tidak mau menikah dengan Damian!" teriaknya.
Ibunya terkejut. "Kenapa, Nak?"
Shara menatap mereka dengan mata penuh kemarahan dan ketakutan.
"Dia... dia seorang penjahat! Dia mantan narapidana! Dia pernah masuk penjara! Kenapa kalian mau menyerahkan aku padanya?"
Tapi ayahnya tetap tak bergeming. "Itu sudah masa lalunya, Shara. Yang penting dia sudah berubah."
Shara menggeleng tak percaya. "Bagaimana kalau dia kembali menjadi orang yang dulu? Bagaimana kalau aku tidak selamat?"
Ibunya menggenggam tangannya erat. "Nak, kami tahu ini sulit. Tapi tolong, lakukan ini untuk kami..."
Shara menatap mereka dengan perasaan hancur. Tak ada yang peduli pada perasaannya. Tak ada yang mencoba memahami ketakutannya.
Jadi... ia harus menikah dengan seorang mantan penjahat demi keluarganya?
Anda Mungkin Juga Suka





