
Main Api
Bab 2
Johnson terlihat sangat menonjol di antara kerumunan. Dia mengenakan kaus putih dan celana olahraga. Cahaya matahari menyinari tubuhnya yang tinggi dan ramping. Wajahnya yang tajam tidak menunjukkan ekspresi apa pun, seolah-olah bukan dia yang melontarkan ucapan tadi.
“Murid laki-laki, berkumpul! Ujian lari 1.000 meter dimulai!” seru guru olahraga sambil meniup peluit.
Pada saat ini, aku buru-buru mencari sebuah pohon dan berjongkok di sana. Aku benar-benar ingin membenturkan kepalaku ke pohon supaya bisa langsung pingsan. Kenapa aku begitu sial? Aku malah datang bulan di saat-saat seperti inI? Sialnya, aku cuma mengenakan pembalut tipis.
Tidak lama kemudian, Johnson yang baru selesai berlari pun berjalan ke arahku dan bertanya, “Buat apa kamu sembunyi di sini?”
“A ... aku ....” Aku hanya mengamatinya, tetapi tidak dapat menjawab. Alangkah baiknya apabila dia itu seorang perempuan.
Johnson perlahan-lahan mengalihkan pandangannya dari wajahku ke dadaku, lalu ke bagian pinggangku dan kakiku. “Eh? Kamu keguguran?”
Aku langsung menunduk dan hampir pingsan saking malunya. Darahku sudah mengalir keluar!
Akan tetapi, apa yang dikatakan orang ini? Wajahku pun menjadi semerah tomat saking malunya. Aku bahkan hampir menangis.
Johnson melompat, lalu mengambil sebuah seragam dari atas ranting dan memberikannya kepadaku. “Pakailah.”
Ternyata seragamnya digantung di atas pohon. Pantas saja dia berjalan ke arah ini. Pada saat ini, aku akhirnya merasa sangat lega. Aku bahkan merasa pemuda yang acuh tak acuh ini terlihat agak tampan dan memikat.
Aku buru-buru menerima seragamnya, lalu melilitkannya ke pinggangku. Ini pertama kalinya aku mengenakan pakaian lawan jenis. Pakaiannya bukan hanya tidak bau keringat seperti yang kubayangkan, malah memiliki aroma khusus yang membuat hatiku berdebar. Tubuhku pun gemetar tak terkendali untuk sejenak.
Mungkin karena aku berjongkok terlalu lama dan mendadak berdiri, baru saja aku selesai melilit seragamnya, pandanganku tiba-tiba kabur dan aku langsung terjatuh ke depan.
Johnson pun terkejut dan secara refleks mengulurkan tangannya untuk menahanku. Alhasil, kedua tangannya mendarat di dadaku.
Ini adalah pertama kalinya dadaku dipegang oleh laki-laki selama belasan tahun hidupku. Aku langsung terpaku di tempat dan bahkan tidak bereaksi saat merasakan Johnson tanpa sadar meremas dadaku.
“Aku bukan sengaja melakukannya. Ce ... cepat berdiri.” Johnson sepertinya juga merasa agak malu. Setelah memapahku untuk berdiri, dia menggaruk kepalanya dan melanjutkan, “Maaf, aku sering main basket dan kekuatanku agak kuat. Apa kamu kesakitan?”
Aku tidak menjawab. Situasi saat ini benar-benar tidak dapat dideskripsikan dengan hanya sekadar canggung.
“Anggap aku nggak ngomong apa-apa.” Johnson juga menyadari dirinya salah bicara dan melambaikan tangannya padaku, lalu berbalik untuk pergi.
Melihat telinganya yang merah, aku mengusap dadaku dengan lembut, lalu diam-diam mengaitkan kembali pakaian dalamku yang terlepas akibat remasannya. Aku hampir tidak bisa menahan tawaku. Teman semejaku itu sepertinya berbeda dari bayanganku ....
Sepertinya ada yang pernah berkata seperti ini. Ketika seorang perempuan mulai merasa penasaran terhadap seorang lawan jenis, dia sudah tidak jauh lagi dari tahap jatuh cinta pada orang itu.
Aku yang selama ini membangun citra sebagai gadis baik-baik tidak pernah berinteraksi dengan pemuda seperti Johnson. Dia membuatku merasa sangat penasaran.
Sejak melihat koleksinya, aku merasa seolah-olah ada iblis yang masuk ke hatiku dan tidak berhenti berbisik, “Tubuh wanita-wanita jahat itu jelek banget. Tunjukkan padanya bagaimana tampang wanita cantik yang sebenarnya ....”
Anda Mungkin Juga Suka





