Sampul Novel Dosa Termanis dengan Calon Iparku

Dosa Termanis dengan Calon Iparku

9.6 / 10.0
Dalam novel romance modern Dosa Termanis dengan Calon Iparku, Safira terjebak kesepakatan terlarang dengan Kai hingga mengkhianati Arkana. Pilihan sulit ini membawa konsekuensi besar saat benih cinta tumbuh di rahimnya. Baca romance stories penuh konflik ini di platform web novel.
Ringkasan Dosa Termanis dengan Calon Iparku
Safira terjebak dalam dilema besar setelah menerima kesepakatan dari Kai, calon adik iparnya. Meski seharusnya ia setia pada Arkana, sang calon suami, Safira justru melampaui batas hingga membiarkan Kai mengusik hatinya. Hubungan terlarang ini memicu konsekuensi fatal saat benih cinta tumbuh di rahimnya. Di tengah pengkhianatan ini, Safira harus memilih antara tanggung jawab atau perasaan. Siapakah yang akan menjadi pelabuhan terakhir bagi cintanya?
Baca Selengkapnya

Dosa Termanis dengan Calon Iparku Bab 1

happy reading:")

***

Siang itu seorang gadis cantik berpenampilan sederhana terlihat sedang berbincang dengan seorang lelaki yang penampilannya berbanding terbalik. Tubuh proporsional dibalut dengan setelan jas warna hitam, wajah sangat tampan, dan senyuman yang menawan membuat para perempuan di sekitar curi-curi pandang.

Keduanya terlibat obrolan ringan sambil menikmati menu yang tersaji di meja Restoran, yang cukup terkenal. Di weekend seperti sekarang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh pasangan serasi itu. Bertemu dua kali dalam seminggu merupakan salah satu cara agar hubungan mereka tetap terjaga.

Dan di setiap pertemuan, mereka akan membahas mengenai apa saja tak terkecuali masalah pekerjaan. Sang wanita terus tersenyum, kadang tersipu apabila mendapat perhatian kecil dari pujaannya. Namun senyuman itu seketika pudar ketika bunyi pesan masuk terdengar.

Wanita yang memakai jumpsuit dress warna maroon sebatas lutut itu melirik pada ponselnya, lalu mengejanya dalam hati.

Kai : [Ke sini sekarang! Gue tunggu! Gue duduk di deket pintu keluar restoran ini.]

Safira berdecak setelah membaca notifikasi pesan yang masuk lewat pop up layar ponselnya. Dia membiarkannya, tak berminat untuk membukanya. "Dia gak tau apa, kalo aku lagi sama Arkana?" cicitnya lirih yang hanya dapat didengar dirinya sendiri.

Kai selalu saja mengganggu di mana pun Safira berada. Bahkan tak segan untuk menerornya. Menyebalkan!

Pesan dari Kai, Safira abaikan, dan dia memutuskan kembali berbincang dengan Arkana. Namun, belum ada satu menit, bunyi notifikasi pesan masuk kembali berdenting. Manik Safira memejam sesaat, seraya mengontrol emosi agar tidak meledak, dan bisa membuat Arkana curiga.

Akan tetapi, Arkana tidak tuli, dan dia cukup peka.

"Siapa, Fir? Kayaknya dari tadi ada yang kirim chat? tanyanya, melirik ponsel Safira yang tergeletak di meja. Layarnya perlahan meredup sehingga Arkana belum sempat melihat notif pesan yang masuk.

Safira membeku seketika, otaknya mendadak blank, dan tidak bisa digunakan untuk berpikir cepat.

Pertanyaan Arkana jelas memaksa perempuan itu untuk menjawabnya, dan mengarang satu kebohongan lagi.

"Ah, eng … gak, kok, Mas. Bukan siapa-siapa." Safira menampik dengan senyum terkesan kaku, dan sudut matanya terus melirik pada ponselnya. Beruntung Arkana mengangguk percaya pada jawaban yang diberikan Safira.

'Bener-bener si Kai!' umpatan itu terlontar dalam hati Safira.

Mau tidak mau, Safira harus menemui Kai, supaya dia berhenti mendapat teror dari lelaki itu. Ya, harus!

Berdeham singkat, sambil mengatur napas, dan degup jantung yang seperti habis dikejar-kejar setan, Safira pun beranjak dari duduknya dan berpamitan, "Mas, aku ke toilet bentar, ya?"

Arkana mengangguk tanpa menaruh curiga sedikit pun pada kekasihnya itu. "Iya, Fir. Jangan lama-lama. Habis dari sini kita harus ke butik buat fitting baju."

"Iya, Mas." Mendapat izin dari Arkana, Safira tak membuang-buang waktu lagi. Dia melenggang dengan cepat, sedikit berlari sambil menggerutu kesal. "Gara-gara si Kai, aku jadi bohong terus sama Arkana."

Sambil berjalan, Safira menghubungi Kai yang katanya berada di Restoran yang sama. Gadis itu memelankan langkah, ketika mengenali sosok berbaju lengan panjang hijau army melambai ke arahnya. Niat menghubungi pun dia tunda.

"Kai?" desis Safira dengan perasaan dongkol setengah hidup, meremas benda pipih di tangan, kemudian berjalan menghampiri Kai yang duduk agak jauh dari tempatnya berdiri.

Rupanya, Kai tidak pernah main-main dengan kata-katanya. Buktinya, lelaki bertato dan bertindik di telinga itu benar-benar menyusulnya ke tempat ini.

Sial!

Hidup Safira selalu dirundung kesialan selama mengenal dan berurusan dengan makhluk bernama Arthur Barack Kai.

-

"Duduk!" Kai memerintah seenak jidat begitu gadis yang dia tunggu tiba di depan mata.

"Gak mau! Aku nyamperin kamu cuma bentar doang. Tadi aku alesan sama Mas Arkana cuma ke toilet," tolak Safira menyahut ketus, wajahnya masam sambil bersedekap dan mata memicing tajam ke arah Kai yang terlihat santai.

Benar-benar menyebalkan!

"Dia masih di sini?" Lelaki yang siang ini memakai topi hitam itu mendengkus, mendengar Safira menyebut nama Arkana dengan panggilan 'MAS'. Berbeda sekali dengan cara Safira memanggilnya.

Safira memutar bola matanya, "Masihlah! Habis dari sini aku sama dia mau ke butik."

Sepasang alis Kai terangkat tinggi, "Mau ngapain?" tanyanya, seraya melarikan pandangan ke arah Arkana yang duduk agak jauh memunggungi posisi keduanya. Agak jauh dan tentu saja Arkana tidak tahu jika tunangannya menghampiri pria lain di satu tempat yang sama. "Suruh dia pulang, Fir! Gue mau ngajak lu pergi."

"Eh?" Safira mengerjap heran mendengar Kai lagi-lagi memerintah. Menghela napasnya kasar, Safira tidak mengacuhkan pertanyaan Kai sebelumnya, dia justru melayangkan protes, "Ya … Gak bisa, dong! Sekarang 'kan memang waktunya aku pergi sama dia. Ini weekend, Kai. Kamu gak bisa perintah aku seenaknya."

Perjanjian awal tidak seperti ini. Setiap weekend atau saat Safira off. Dia dan Arkana hanya sempat bertemu di hari tertentu. Sedangkan urusan Kai, kapan pun lelaki itu mau, Safira akan menuruti perintahnya. Dan hari ini Kai sudah melanggar perjanjian dengan datang diam-diam mengikuti Safira dan Arkana.

Apa-apaan, coba?

Satu sudut bibir Kai naik, lalu menanggapi protes Safira, "Gue tau ini weekend. Tapi gue maunya pergi sekarang sama lu, Fir."

"Kai, please …." Raut Safira memelas, tatapannya terlihat memohon pada seorang Kai. "Kamu 'kan bisa pergi sama pacar kamu. Lagian, aku sama Mas Arkana cuma dua kali, loh, ketemuannya." Safira tidak berhenti mengingatkan si kepala batu di hadapannya ini.

"Gue gak peduli, Fir! Itu urusan lu sama dia! Yang jelas, gue mau perginya sama elu bukan sama Eve." Kai mengangkat bahu sekilas, menolak mentah-mentah rengekan Safira, dan berkata tidak sedang ingin pergi dengan pacarnya. "Cari alesan apa aja. Gue tunggu sepuluh menit di parkiran. Cepetan!" Pemuda itu lantas bangkit dan melenggang dari hadapan Safira tanpa menoleh lagi.

Safira menelan ludah, lalu berteriak memanggil pemuda sinting yang tidak mengacuhkannya. "Kai! Kai! Kai! Arrghh …! Kai ngeselin!" Kakinya menghentak-hentak kesal di lantai, dan otomatis orang-orang di sekitar langsung memusatkan perhatian pada Safira.

Perempuan itu tidak peduli dengan tatapan nyalang orang-orang yang tidak tahu menahu masalah yang sedang dia hadapi saat ini. Mungkin, sebagian besar dari mereka menganggap Safira wanita aneh.

"Hfft … Aku mesti alesan apa, coba, sama Mas Arkana?" Kepala Safira terantuk lesu, seraya memutar tungkai untuk kembali ke tempat Arkana berada. Otaknya yang kecil sedang dipaksa berpikir, mencari alasan. "Kai sialan! Sialan!"

-

"Kenapa mendadak?" Arkana bertanya dengan nada bicara terdengar kecewa setelah Safira mengatakan hendak menggantikan salah satu temannya yang tidak bisa berangkat bekerja karena anaknya tiba-tiba jatuh sakit.

"Iya, Mas. Maaf …." Yang hanya bisa dilakukan Safira adalah menundukkan kepala, menyembunyikan matanya dari tatapan Arkana yang bisa saja membaca kebohongannya. Kedua tangannya saling meremas di atas paha dengan perasaan bersalah.

Arkana bisa apa, selain mengizinkan. "Ya udah. Enggak apa-apa, Fir. Kita ke butiknya Minggu depan," ucapnya, lalu menghela besar. "Sebenernya aku masih kangen sama kamu. Kita ketemu cuma seminggu dua kali. Ini aja belum ada sehari kita barengan, tapi kamu—"

"Makasih, Mas. Sekali lagi maafin, ya …?" Safira menyela perkataan Arkana, mengangkat pandangannya, dan melihat sorot kekecewaan dari mata kekasihnya. Dia sungguh tidak bisa berbuat banyak.

"Iya." Dan, Arkanalah yang pada akhirnya mengalah.

-

Dalam diam, Safira dan Arkana berjalan menuju parkiran. Tak ada obrolan diantara mereka. Meskipun begitu, Arkana tetap menggenggam tangan Safira sampai tiba di mobilnya. Namun, kesialan sepertinya tak berhenti menghampiri Safira, sebab tiba-tiba saja Kai muncul di hadapannya.

"Kai?" Bukan Safira yang menyebut nama itu, melainkan Arkana. "Kamu ngapain di sini?" tanyanya dengan alis menaut. Arkana hanya heran bertemu dengan Kai di tempat ini.

Manik Kai menatap sekilas wajah Safira yang memucat. Dia tahu pasti jika perempuan itu takut ketahuan oleh sang pacar. "Suka-suka guelah, mau ada di mana? Gue ada urusan di deket sini," jawabnya ketus.

"Ohh …" Arkana percaya. "Ya udah silakan lanjutkan. Aku sama Fira pergi dulu. Ayo, Fir."

"Mas." Safira menahan tangan Arkana yang hendak membawanya masuk ke mobil.

"Ya?" Arkana berbalik menatap Safira.

Safira menelan ludah, berdeham singkat, lalu bicara, "Aku … berangkat naik taksi aja. Mas gak perlu anterin."

Kening Arkana mengerut. "Kenapa? Kan, sekalian aku anter. Nanti pulangnya aku jemput."

Perkataan Arkana jelas membuat Safira serba salah. Tidak mungkin dia berangkat bekerja, sedangkan pada kenyataannya itu cuma alasannya agar bisa menuruti kemauan Kai.

"Hmm … Aku gak pa-pa, kok, Mas, berangkat sendiri. Lagian, aku mau pulang ke rumah dulu, mau ambil seragam. Pasti itu bakalan ngerepotin kamu, kalo mesti bolak-balik." Safira melirik sekilas ke arah Kai yang tidak berniat beranjak dari tempatnya. Dan, sepertinya memang sengaja melakukan hal tersebut.

"Tapi, Fir—" Ponsel Arkana berdering. "Sebentar." Dia melepas tangan Safira, lalu mengambil ponsel dari saku celana. "Aku jawab ini dulu. Kamu tunggu di sini," pinta Arkana yang langsung dianggukki Safira, dia pun pergi menuju belakang mobil untuk menjawab panggilan telepon.

Merasa memiliki kesempatan, Safira lantas menegur Kai dengan raut geram. "Kamu apa-apaan, sih, Kai? Kamu sengaja, iya?" Suaranya pelan tetapi terdengar tegas.

"Menurut lu?" Kai malah bersedekap, kemudian mempersempit jarak dengan Safira. "Gue tunggu di mobil!" Setelah itu dia pergi dari hadapan Safira dengan seringai puas.

Tangan Safira sontak mengepal kuat di sisi tubuh, dia bergumam dengan rahang mengatup rapat "Sialan kamu, Kai."

"Fir." Arkana menghampiri setelah menyelesaikan percakapan di telepon.

"Iya, Mas." Raut Safira kembali normal. Lembut dan memasang senyum manis.

Arkana mencari keberadaan Kai. "Kai udah pergi?"

"Udah, Mas."

"Oh …" Angguk Arkana tak banyak bertanya mengenai Kai. "Kayaknya, aku memang gak bisa anter kamu. Aku harus segera pergi. Di gudang ada barang datang, tapi agak bermasalah, dan aku diminta segera ke sana untuk ngecek."

Dalam hati, Safira bernapas lega. "Iya, Mas. Kan, tadi aku juga udah bilang. Aku bisa berangkat sendiri. Mas kalo mau pergi, pergi aja." Dia mengelus lengan Arkana seraya tersenyum lembut.

"Aku pergi dulu. Maaf, gak bisa cariin kamu taksi." Sebelum benar-benar pergi, Arkana memberi kecupan mesra di kening Safira serta usapan lembut di pipi kekasihnya.

Safira tak banyak protes, karena dia sendiri yang menjadi penyebab awal kencan mereka berantakan. Setelah memastikan mobil yang dikemudikan Arkana menghilang dari pandangan, Safira kemudian membuang napas kasar. Kaki jenjangnya terasa berat ketika melangkah menghampiri mobil warna hitam milik Kai.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Dosa Termanis dengan Calon Iparku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel BABY CEO 21+
8.6
Vanya terjebak dalam pusaran gairah saat Ares menciumnya dengan intens hingga ia sulit bernapas. Meski Vanya mengerang gelisah, Ares terus mengeksplorasi tubuhnya dengan sentuhan lembut dan kecupan yang membakar sensasi di area sensitifnya. Di tengah pergulatan hasrat yang menyiksa, Vanya terus memanggil nama Ares seolah memohon sesuatu yang lebih. Namun, Ares justru memintanya untuk tidak terburu-buru, membiarkan ketegangan romansa dewasa ini semakin memuncak.
Sampul Novel Dokter Tampan dan Pasien
8.9
Han Jang Woo dikenal sebagai dokter berbakat yang memikat di rumah sakitnya. Di sisi lain, Kim Ae Jin adalah pasien yang selalu kabur saat pemeriksaan payudara karena merasa sangat malu di hadapan Jang Woo. Namun, di balik interaksi canggung tersebut, tersimpan sejarah kelam yang tidak diketahui orang lain. Rahasia masa lalu mereka mulai terkuak, mengungkap bahwa hubungan keduanya jauh lebih rumit dan mendalam daripada sekadar pertemuan antara dokter dan pasien.
Sampul Novel Kubiarkan Kau Bersama Selingkuhanmu
9.1
Betapa hancurnya hatiku saat mengetahui Arza, suamiku sendiri, berselingkuh dengan Zorah. Padahal, selama ini aku yang membiayai hidup janda dari mendiang kakakku itu. Sungguh kejam cara Zorah membalas segala kebaikanku. Namun, aku tidak akan tinggal diam meratapi pengkhianatan ini. Aku telah menyiapkan serangkaian kejutan menyakitkan yang akan menghancurkan hidup mereka berdua. Kini saatnya para pengkhianat itu merasakan pembalasanku yang tak terduga.
Sampul Novel Modern maid
9.5
Dalam drama romansa modern ini, jalinan asmara yang tulus harus berbenturan dengan tembok tebal perbedaan status sosial. Seorang asisten rumah tangga terjebak dalam perasaan rumit terhadap sang majikan yang memiliki derajat jauh di atasnya. Di tengah tekanan norma dan ekspektasi lingkungan, mampukah cinta mereka bertahan? Ikuti perjuangan menyentuh hati tentang pengorbanan dan pilihan sulit demi mencapai akhir bahagia yang penuh dengan ketidakpastian.
Sampul Novel My Absurd CEO
8.8
Enzo Delwyn, seorang CEO berusia 28 tahun, secara mengejutkan mengejar Aylin, siswi kelas XI SMA. Berbeda dari pemimpin perusahaan pada umumnya, penampilan Enzo sangat tidak lazim. Di balik sikap uniknya, Enzo dan kakaknya menyimpan misi rahasia untuk menuntut balas pada Aylin atas kejadian di masa lalu. Kini, ia terjebak dalam dilema antara menuntaskan ambisi dendamnya atau mengikuti perasaan. Akankah Enzo tetap menjalankan rencana awalnya terhadap Aylin?
Sampul Novel Suamiku Suku Anak Dalam
9.8
Rajo adalah pria tangguh dari Suku Anak Dalam yang berhasil menjadi anggota TNI AL. Hidupnya rumit saat dijodohkan dengan putri Tumenggung, ayah angkatnya sendiri. Padahal, ia telah menjalin kasih dengan Kinanti, seorang sosiolog. Konflik batin kian memuncak saat ia terjebak cinta semalam dengan anak komandannya di Natuna, terpikat gadis di Lebanon, hingga terlibat cinta lokasi di Bali. Siapakah yang akhirnya akan dipilih Rajo sebagai pendamping hidupnya?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan