
Main Api
Bab 3
Malam itu, aku seperti sudah dihipnotis. Dengan perasaan yang tidak dapat dideskripsikan dengan kata-kata, aku mengambil foto pertama diriku yang mengenakan pakaian dalam, lalu mengirimkannya kepada Johnson dengan akun rahasiaku.
Aku tidak akan pernah melupakan proses di mana rasa gugup, malu, dan tegangku perlahan-lahan berubah menjadi rasa antusias. Aku juga tidak akan melupakan sensasi dari menerobos ketabuan itu.
Pengendalian diriku sepertinya tidak berpengaruh pada Johnson. Oleh karena itu, aku pun mulai terjerumus. Aku belajar cara memuaskan diri di tengah malam, belajar mencuri beli mainan orang dewasa dari internet, belajar menggunakan berbagai cara untuk mengambil foto dan video untuk dikirim ke Johnson.
Melihat balasan teman semejaku yang makin frustasi, aku makin menikmati kepuasan bersembunyi dalam kegelapan. Meskipun aku diam-diam menyukainya, aku lebih berharap aku yang memegang kendali atas semua ini ....
Hingga suatu hari saat kelas malam hari kami berakhir, Johnson tiba-tiba membungkuk, lalu berbisik di telingaku, “Cantik, kamu yang kirim video-video itu padaku, ‘kan?”
“Bum!” Otakku terasa seperti sudah meledak. Dalam sekejap, aku pun mematung. Kenapa dia bisa tahu itu aku? Kapan dia menyadarinya?
Tidak mungkin! Setiap foto dan video sudah kuperiksa dengan teliti. Setelah memastikan identitasku tidak akan terbongkar, aku baru mengirimnya. Dia pasti sedang menjebakku!
Aku merasa sangat gugup hingga telapak tanganku berkeringat. Aku bahkan merasa aku hampir mengompol. Namun, aku bertanya balik dengan berlagak tenang, “Video apa?”
Johnson terkekeh, lalu berbisik lagi di telingaku, “Kutunggu kamu di rumah kayu dalam hutan kecil.”
Melihat punggung Johnson yang menjauh, aku merasa agak kewalahan. Sepuluh menit kemudian, aku membuka pintu rumah kayu dengan perlahan.
Lingkungan yang gelap ini membuatku merasa sangat tidak aman. Aku pun mengulurkan tangan dan berjalan perlahan sambil meraba-raba. Tiba-tiba, sebuah sosok yang tegap dan kekar memelukku dengan erat.
“Ah!” seruku dengan terkejut dan gemetar. Namun, setelah menenangkan diri, aku mencium sebuah aroma yang familier. Itu adalah Johnson.
Tubuh kami menempel dengan erat sehingga aku bisa merasakan tubuhnya yang agak gemetar dan napasnya yang memburu. Dia terkesan seperti ingin langsung menelanku.
Aku diam-diam menjepit kedua kakiku. Saat merasakan perubahan di salah satu bagian tubuhnya, seluruh tubuhku langsung terasa panas dan napasku juga menjadi terengah-engah.
Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya menyalakan layar ponselnya, lalu menatapku dengan lembut, seolah-olah bisa melihat sosokku. Sementara itu, kedua kakiku pun gemetar dan tubuhku menjadi agak lemas. Aku harus bersandar padanya untuk tetap berdiri.
Setelah sesaat, Johnson menggendongku, lalu meletakkanku di atas sebuah kotak kayu dan membuka rokku. Suaranya yang awalnya terdengar jernih menjadi serak saat berkata, “Aku mau cium bagian ini.”
Pada saat itu, tubuhku terasa seperti tersetrum. Leherku dibasahi sedikit keringat, sedangkan bulu kuduk di punggungku juga berdiri. Aku menahan rasa maluku, lalu menatap lurus ke matanya dan meletakkan kedua kakiku di bahunya.
“Kalau begitu, kamu harus lebih lembut ya ....”
Anda Mungkin Juga Suka





