Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Lorong Hitam Kenikmatan

Lorong Hitam Kenikmatan

Dalam keheningan malam, Haris dan Lidya terjebak dalam gairah yang membara tanpa sehelai benang pun. Di atas ranjang, Haris dengan antusias memberikan rangsangan intens yang membuat Lidya tak berdaya. Sentuhan lidah Haris pada area sensitifnya memicu sensasi luar biasa hingga Lidya mengalami orgasme hebat untuk kedua kalinya. Meski tubuhnya lemas, senyum kepuasan terpancar dari wajah Lidya. Haris pun merasa bangga telah memuaskan teman tapi mesranya tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Lho mas, ini kita mau kemana?”

“Kemana gimana? Ya ke tempatku lah.”

“Tapi kok, kayaknya dulu nggak lewat sini ya?”

“Haha emang iya Ris, aku kan udah pindah.”

“Ooohh…”

Haris memang dulu pernah ke tempat Aldo, sekitar setahun yang lalu, dan memang seingatnya jalan yang dulu dilewati bukan seperti yang sekarang ini. Dulu Aldo memang pernah bilang kalau kostannya itu cukup jauh dari tempat kerjanya, mungkin dia pindah ke tempat yang lebih dekat, pikir Haris.

Tak lama kemudian mereka memasuki gerbang sebuah perumahan. Haris kembali heran dibuatnya. ‘Perumahan di kota Jakarta? Apa mungkin mas Aldo tinggal disini? Duit darimana dia bisa beli rumah disini? Kayaknya kerjaannya biasa-biasa aja deh.’ Banyak pertanyaan muncul di kepala Haris, tapi dia memilih diam saja. Dan lagi-lagi, pertanyaan di kepala Haris semakin bertambah saat mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah rumah. Aldo turun duluan untuk membuka gerbang, setelah itu dia masuk lagi dan mengarahkan mobilnya masuk ke halaman rumah itu.

“Mas, ini rumah siapa? Rumah mas Aldo?”

“Udah, turun dulu aja. Turunin tuh tas kamu sekalian.”

Haris menurut saja. Sebenarnya rumah ini tidak bisa dikatakan mewah, tapi tidak bisa dikatakan buruk juga. Karena perumahan yang berada di wilayah kota Jakarta, pastilah punya standar tersendiri. Tapi sekali lagi, perumahan model apapun di kota ini, pasti harganya tidak murah, bahkan untuk biaya kontrak sekalipun. Saat ini Haris memilih untuk diam dulu, nanti dia akan menanyakan semuanya kepada Aldo.

“Hei udah sampai ya?”

Tiba-tiba Haris dikejutkan oleh suara seorang wanita. Dia yang sedang menurunkan tasnya dari bagasi mobil, mau tak mau menolehkan kepalanya. Kembali dia dibuat terkejut. Seorang wanita muda keluar dari pintu rumah itu. Wanita itu memakai tanktop dan legging selutut yang cukup ketat, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang indah. Haris bisa melihat di tubuh wanita itu ada butiran-butiran keringan yang mengalir, seperti habis olahraga atau mungkin senam.

“Iya yank, untung keretanya on time tadi,” ucap Aldo, menghampiri wanita itu dan mereka berdua langsung saling kecup bibir, membuat Haris semakin melongo.

“Woy, mau sampe kapan bengong disitu? Buruan masuk!”

“Ehh ii,, iya mas.”

Haris yang dikejutkan oleh Aldo jadi merasa tak enak. Diapun segera membawa tasnya, menghampiri Aldo dan wanita itu.

“Ini Haris ya? Selamat datang ya,” sambut wanita itu menyalami tangan Haris.

“Ii,, iya mbak, makasih,” Haris menjawabnya dengan sedikit gugup.

“Kamu kok nggak bilang sih yank punya adek ganteng gini? Hehe,” ucap wanita itu kepada Aldo.

“Nah kan kumat lagi ganjennya. Udah masak dulu sana yank, laper nih.”

“Males ah, delivery aja ya?”

“Ya udah kalau gitu. Loh Ris, kok bengong sih? Kenapa? Ayo masuk.”

“Eh, ii,, iya mas.”

Ekspresi Haris ini membuat Aldo dan wanita itu tertawa. Mereka sepertinya tahu apa yang dipikirkan Haris, tapi membiarkannya saja dalam kebingungannya. Mereka bertiga melangkah masuk. Aldo menunjukkan kamar yang akan ditempati Haris. Aldo juga menyuruh Haris untuk mandi, setelah itu kumpul di ruang tengah, sambil menunggu makanan yang dipesan wanita itu untuk sarapan bersama.

Setelah mandi dan berganti baju, Haris sudah merasa lebih segar sekarang. Diapun menuju ruang tengah. Hanya ada wanita itu, Aldo sepertinya masih mandi. Haris kemudian duduk di salah satu kursi, tapi hanya diam saja karena wanita itu juga sepertinya sedang asyik dengan handphonenya, Haris tak berani mengganggunya. Tak lama kemudian Aldopun datang dan bergabung dengan mereka. Aldo duduk di samping wanita itu dan memeluk pinggangnya dengan mesra.

“Kamu kenapa sih Ris? Kok diem aja? Biasanya kamu cerewet?” tanya Aldo.

“Eh nggak kok mas. Anu, cuma masih capek aja,” jawab Haris.

“Capek apa bingung? Haha.”

“Yaa, dua duanya, hehe.”

“Lagian kamu sih yank, adek sendiri pake dikerjain segela,” celetuk wanita itu.

“Haha biarin, kan lucu yank liat mukanya si Haris gitu, haha.”

Haris yang dibicarakan hanya diam saja. Dia baru sadar kalau sedang dikerjai oleh saudaranya itu. Tapi dia juga masih bingung, mau bertanya, tapi mulai darimana. Kalau cuma ada Aldo, dia pasti sudah banyak bertanya kepadanya. Tapi karena ada wanita itu, yang bahkan Haris belum tahu namanya, dia jadi sungkan sendiri.

“Makanya kalau ketemu orang baru tuh kenalan dulu, jangan cuma diem aja, bingung kan jadinya. Nih, kenalan sama mbakmu,” ucap Aldo. Seketika wanita itu menatap Haris, membuat Haris salah tingkah.

“Bingung ya Ris?” tanya wanita itu.

“Iya mbak, hehe,” jawab Haris, dia benar-benar bingung.

“Aku Viona, istrinya mas Aldo.”

“Hah? Istri?” Haris terkejut, menatap Aldo.

“Iya, istriku.”

“Lho kapan mas Aldo nikah? Kok nggak kabar-kabar?”

Belum sempat Aldo menjawab, terdengar handphone Viona berbunyi. Dia mengangkatnya, ternyata dari ojek online yang mengantarkan makanan pesanannya.

“Makanannya udah datang yank.”

“Ya udah sana ambil, sekalian siapin ya?”

“Iya.” Vionapun beranjak pergi.

“Aku sebenarnya udah pengen ngabarin Ris, tapi nggak boleh sama bapakku. Kamu tahu sendiri kan, masalah bapakku sama keluarga besar kita?”

“Hmm, iya sih mas. Emang, kapan mas Aldo nikahnya?”

“Belum lama kok, baru 6 bulanan ini.”

Aldo kemudian menceritakan tentang pernikahannya kepada Haris. Singkat saja dia bercerita, termasuk alasannya tidak mengabari keluarga besarnya, termasuk Haris.

Harispun akhirnya bisa mengerti dengan alasan Aldo kenapa tidak mengabari tentang pernikahannya. Haris memang sudah tahu masalah ayah Aldo dengan keluarga besarnya. Beberapa tahun yang lalu, saat Haris masih SMA, ayah Aldo berselisih hebat dengan kakek Haris, sampai akhirnya ayah Aldo dan keluarganya pergi dari kota asal mereka. Sejak saat itu, mereka memang tak pernah muncul lagi. Ayah Aldo termasuk orang yang keras kepala, sekali dia melangkah pergi, pantang untuknya kembali lagi. Bahkan ketika kakek Haris meninggal, ayah Aldo tak datang. Itulah yang membuat keluarga besar mereka semakin memusuhi ayah Aldo.

Tapi meskipun demikian, hubungan antara Haris dengan Aldo tak ikut bermasalah. Mereka memang tak terlalu dekat, tapi sesekali masih bertukar kabar, apalagi kalau Haris sedang main ke Jakarta dan butuh tumpangan. Haris maupun Aldo tak terlalu mempedulikan masalah orang tua mereka, meskipun mereka berharap hubungan keluarga besar ini bisa pulih lagi.

“Udahan dulu ceritanya, yuk makan dulu kita.” Viona muncul dengan makanan yang sudah disiapkan. Pagi itu mereka sarapan bersama sambil ngobrol santai.

Viona dan Aldo banyak bertanya tentang Haris. Harispun menceritakan tentang tujuannya datang ke kota ini. Awalnya memang Haris berniat untuk menginap cukup lama di tempat Aldo karena dia pikir Aldo masih tinggal di tempat yang dulu. Tapi karena sekarang sudah tinggal berdua dengan Viona, Haris sempat mengutarakan keinginannya mencari kost-kostan saja, tapi Viona dan Aldo malah melarangnya, dan meminta Haris tetap tinggal disitu. Haris sebenarnya merasa tak enak, tapi mengiyakan saja. Dia berniat nantinya sambil mencari kost yang dekat dengan kantornya saja, supaya tidak terlalu menganggu Aldo dan Viona.

“Jadi kamu di PT Dwiputra ya Ris?”

“Iya mas.”

“Besok mau ngantornya jam berapa?”

“Hmm, pagi sih mas. Kalau di email yang dikirim, disuruh sampai sana jam 8, tapi aku mau berangkat duluan aja biar nggak telat. Kan nggak enak, baru hari pertama kerja udah telat.”

“Oh gitu, sebenernya kantornya searah sih sama kantorku, apa kita bareng aja?”

“Nggak usah mas, besok aku naik ojek aja biar cepet. Kalau naik mobil, takut kena macet entar.”

“Beneran? Emang kamu udah tau tempatnya?”

“Belum sih, tapi kan ada alamatnya. Gampanglah nanti.”

“Serius kamu nggak mau bareng kita Ris?” tanya Viona ikut menimpali.

“Iya mbak. Kalau besok-besoknya boleh deh, tapi khusus buat besok, biar aku naik ojek aja.”

“Oh ya udah kalau gitu mau kamu. Ya udah, sekarang istirahat dulu aja, pasti semalem di kereta nggak bisa tidur nyenyak kan?”

“Hehe, iya mbak, aku ke kamar dulu deh kalau gitu.”

Harispun meninggalkan Aldo dan Viona. Dia merebahkan diri di ranjang. Terasa nyaman sekali setelah semalam dia tidak bisa tidur karena posisinya yang kurang nyaman di kursi kereta ekonomi. Haris kini harus beristirahat dulu, bersiap untuk besok, memasuki gerbang baru dalam hidupnya, memasuki dunianya yang baru, dunia kerja.

Bersambung

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Rahasia Sang Kepala Mafia
9.5
Lima tahun mengabdi sebagai istri pewaris dinasti mafia Aropa, Dario Mahardika, wanita ini akhirnya menyerah karena suaminya selalu memprioritaskan Arisa. Ia pun pergi membawa koper, surat cerai bertanda tangan, dan kehamilan tiga bulan yang dirahasiakan. Saat Dario menyadari kehilangan ini, sang istri telah lenyap. Sang kepala mafia kini mengerahkan segala kekuasaan untuk mencarinya. Namun, wanita itu telah berubah menjadi ibu dan seniman tangguh yang tidak akan mudah memaafkan pria yang menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel Asal kalian puas
9.3
Dalam kegelapan, seorang asisten rumah tangga terjebak dalam situasi mencekam saat Pak Karmin, Pak Darmaji, dan Pak Doyo mulai menjamah tubuhnya secara bergantian. Di tengah perlakuan liar yang membangkitkan gairah sekaligus rasa takut, sang majikan bernama Pak Arga justru merencanakan siasat jahat. Merasa tak puas dengan istrinya, ia berniat membawa pembantunya pergi ke tempat jauh untuk memuaskan nafsu pribadinya tanpa kecurigaan siapa pun. Akankah ia berhasil?
Sampul Novel Be My Husband
8.1
Bagi Kiran Naomi Tanaka, misi hidupnya hanyalah satu: menjadikan Evan Davaro Saga sebagai suaminya. Sejak pertemuan pertama mereka, Kiran bertekad menaklukkan hati pria dingin yang merupakan anak sahabat ayahnya itu. Namun, Evan yang gila kerja terus bersikap acuh, bahkan menyuruh Kiran fokus belajar matematika daripada membicarakan pernikahan. Di tengah perbedaan usia yang kontras, mampukah kegigihan Kiran meluluhkan Evan, ataukah ia hanya akan berakhir patah hati?
Sampul Novel Elegant Revenge
8.5
Dikhianati sang suami yang menjalin kasih dengan cinta pertamanya membuat Aira terpuruk dalam rasa bersalah. Namun, kehadiran sosok pendukung menyadarkannya bahwa ia hanyalah korban penipuan Awan dan Amanda. Dengan tekad bulat, Aira merancang aksi balas dendam elegan dibantu oleh mereka yang muak pada perselingkuhan tersebut. Di tengah konflik ini, Galang hadir membawa kekaguman tulus. Mampukah Galang membuktikan dirinya layak mengganti posisi Awan di hati Aira?
Sampul Novel Istri Rahasia CEO
9.5
Abia tak pernah menyangka nasibnya akan berubah drastis setelah merusak mobil mewah milik bosnya yang dingin. Arya, sang CEO duda beranak satu, memberikan tuntutan berat: Abia harus membayar ganti rugi selangit atau bersedia menikah dengannya. Terjepit masalah finansial, Abia terpaksa menerima tawaran gila tersebut. Kini, ia harus menghadapi tantangan besar tinggal seatap dengan pria galak yang selama ini ia hindari di kantor demi melunasi utangnya.
Sampul Novel Jadi Suamiku Ya, Om?
9.2
Nindya terobsesi mengejar Andy, guru SMA sekaligus teman ayahnya, meski pria itu sudah memiliki kekasih bernama Raya. Nindya terus mendesak Andy menikahinya, mengklaim posisi istri di masa depan. Andy menganggap Nindya bocah pengganggu, sementara Raya sangat membenci kehadirannya. Persaingan sengit terjadi antara Raya yang temperamental dan Nindya yang pandai bersandiwara seolah teraniaya. Di antara keduanya, siapakah yang akhirnya berhasil memenangkan hati Andy?