Sampul Novel Elegant Revenge

Elegant Revenge

8.5 / 10.0
Dikhianati sang suami yang menjalin kasih dengan cinta pertamanya membuat Aira terpuruk dalam rasa bersalah. Namun, kehadiran sosok pendukung menyadarkannya bahwa ia hanyalah korban penipuan Awan dan Amanda. Dengan tekad bulat, Aira merancang aksi balas dendam elegan dibantu oleh mereka yang muak pada perselingkuhan tersebut. Di tengah konflik ini, Galang hadir membawa kekaguman tulus. Mampukah Galang membuktikan dirinya layak mengganti posisi Awan di hati Aira?

Elegant Revenge Bab 1

Candu cinta itu seperti alkohol yang memabukan bagi siapa saja yang meminumnya dalam jumlah banyak, sehingga mampu membuat seseorang tak sadar akan kebodohan yang sedang ia jalankan. Menunggu pagi untuk menyambut hari yang baru, seakan hal yang wajib menjadi harapan bagi setiap manusia. Indahnya sebuah romansa juga diharapkan dapat terasa disetiap harinya.

Wanita cantik itu menatap suaminya yang masih terlelap saat jam sudah menunjukan pukul enam pagi. Aira, ia selalu senang menatap wajah Awan yang sedang tidur. Membuat debaran jantungnya menguat berpacu layaknya seseorang yang terus jatuh cinta berulang kali, namun, ini dengan pria yang sama, selama tujuh tahun—empat tahun masa pacaran dan tiga tahun masa pernikahan. Awan selalu bisa membuat seorang Aira merasakan jatuh cinta berkali-kali lipat setiap hari kepada dirinya.

Sebelah mata Awan terbuka sedikit, ia melirik lalu tersenyum dan menarik tubuh istrinya hingga terjatuh di atas dada bidangnya yang tertutup kaos berwarna putih polos. Dengan gemas ia memeluk Aira dan terus menciumi pipi istrinya itu tanpa henti. Membuat Aira bergidik geli dengan perlakuan suaminya yang suka gemas dengan dirinya.

"Udah Mas, buruan bangun, mandi, kerja. Aku juga mau ke kantor," ucap Aira berusaha melepaskan diri dari pelukan Awan.

"Ntar dulu dong, sini, dan gini dulu.” Awan terus memeluk Aira dan menghirup aroma istrinya itu yang sudah mandi dan wangi. Hanya tinggal berganti baju kerja, karena setelah membersihkan diri, ia hanya mengenakan daster.

"Kesiangan nanti, Mas Awan," ucap Aira yang tak bisa bergerak di dalam dekapan Awan.

"Mmghhh, enggak, sebentar doang." Awan lalu mengusap punggung Aira. Membuat Aira relax hingga sedikit mengantuk.

"Bolos aja yok, Ra," bisik Awan. Aira menggeleng.

"Aku ada kerjaan Mas, belum bikin laporan bulanan."

Awan menghela napas panjang dan melepas pelukannya. Aira bangun, lalu duduk menatap suaminya itu. "Mau apa ci emangnya, udah pagi tuh, lihat mataharinya udah naik?" Aira menangkup wajah suaminya.

"Ok. Yaudah aku mandi dulu, sarapan di mobil aja, takut macet." Awan beranjak dan mengecup sekilas bibir Aira, membuatnya tersipu malu. Selalu seperti itu. Aira selalu bisa tersipu malu dengan perlakuan manis Awan.

"Mas Awan!" panggil Aira. Awan menoleh dari pintu kamar mandi menatap Aira.

"Aku telat datang bulan, nih." Aira senyum-senyum. Awan terbelalak dan berlari menghampiri Aira.

"Serius kamu, Ra!" Awan semangat. Aira mengangguk.

"Tapi aku belum cek, Mas, nanti pulang kerja aku beli alat testnya ya, kita lihat sama-sama." Aira menyisir rambut Awan dengan lima jarinya. Mencium kening suaminya dan tersenyum.

"Mudah-mudahan jadi ya kali ini, kalau enggak, aku minta kamu sabar lagi ya, Mas." Aira menatap Awan. Awan mengangguk.

Anak, menjadi kunci lain dalam kebahagian sebuah mahligai pernikahan. Kehadiran anak mampu membuat sebuah rumah tangga menjadi lengkap. Hal itu juga yang menjadi harapan Awan. Menikahi kekasih yang ia kenal begitu cepat, merasakan jatuh cinta dan nyaman satu sama lain, hingga memutuskan untuk menikah, menjadi harapan terbesarnya untuk memiliki seorang anak. Tiga tahun menikah, belum terdengar suara tangis di dalam rumah yang mereka tempati. Berkali-kali Aira berharap jika saat datang bulannya terlambat, maka calon bayi sudah menempati rahimnya, namun itu belum terwujud. Awan selalu meyakinkan Aira jika suatu saat mereka akan punya anak. Pria itu selalu bisa membuat Aira tersenyum dan yakin akan hal itu.

Keromantisan mereka juga dinilai baik di mata keluarga, juga para sahabat yang tau mereka berdua. Tak pernah ribut apalagi cekcok di hadapan banyak orang. Aira begitu mencintai suaminya, ia rela seluruh hidupnya dihabiskan untuk mencintai seorang Awan.

Sikap Awan yang suka memberikan kejutan kecil, atau tiba-tiba memberikan hadiah kecil saat pulang bekerja, membuat Aira merasa sangat dicintai suaminya itu.

***

"Nanti pulang kerja tunggu aku ya, aku nggak lembur kok, cuma rapat penjualan doang sampe jam tiga terus pulang." Awan menoleh, menatap istrinya lekat.

"Kamu nggak kelamaan nunggu aku di parkiran, Mas, kalau jam segitu nanti sore udah jemput?" Aira melepaskan seatbelt nya saat mobil yang dikendarai Awan sudah sampai di parkiran gedung kantor Aira.

"Nggak, kayak nggak biasanya aja. Ra, sini dulu." Awan menarik jemari Aira dan mengecupnya berkali-kali lalu menarik Aira dan mereka sedikit menghabiskan waktu beberapa menit untuk saling meluapkan rasa cinta dengan cumbuan panas. Mereka saling melemparkan senyum saat hal tersebut usai.

"Kabarin aku kalau udah sampe kantor ya Mas"

"Iya, Ra," Awan mengusap kepala Aira. Mereka melemparkan senyuman.

Pintu Mobil tertutup. Aira berjalan menjauh masuk ke lobby kantor lewat pintu dekat parkiran. Awan mengambil ponsel dan mengirim sebuah pesan kepada seseorang. Lalu senyum merekah dari wajahnya. Ia menginjak pedal gas dan menuju ke arah kantornya.

Keesokan paginya, di rumah, Keduanya menatap pada garis yang muncul di alat tes kehamilan. Lalu mereka saling menatap dan tersenyum. "Belum saatnya," ucap Awan sambil merangkul dan mengusap bahu Aira. Testpack dibuang ke tempat sampah oleh Aira. Ia memeluk suaminya yang kemudian mengecup kepala Aira berkali-kali.

"Kita harus sabar lagi." Ucap Awan. Aira mengangguk, masih di dalam pelukan suaminya yang hangat dan nyaman.

"Jangan dipikirin. Kita nonton tv yuk sambil tiduran, episode terbarunya malam ini 'kan?" Awan mengalihkan pembicaraan. Aira mengendurkan pelukannya dan menatap lekat Awan.

"Mas nggak kecewa?" Aira mencoba mencari jawaban jujur dari kedua tatapan mata Awan.

"Enggak. Ini urusan rejeki aja, sabar," Awan lalu membawa Aira keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamar mereka dan menuju ke arah tempat tidur. Keduanya tenggelam dalam kehangatan didalam satu selimut. Saling memeluk dan menguatkan.

"Aku mau tanya boleh Mas?" Suara Aira memecahkan keheningan. Awan belum menyalakan televisi.

"Apa," ia menatap kearah jendela kamar yang tirainya sudah tertutup dengan dagu ia letakan di atas kepala Aira.

"Dulu, kenapa kamu dingin banget ya? Inget nggak waktu kita pertama ketemu di rooftop gedung kantor kita."

"Ehem," jawab Awan.

"Kita beda perusahaan, cuma ada di gedung yang sama. Tapi kita sering ada di tempat yang sama, dan lebih selalu pas momen hujan,"

Lalu terdengar suara Awan terkekeh pelan.

"Aku nggak suka sama kamu 'kan awalnya. Kita sering ketemu di rooftop karena aku lagi nikmatin momen sendiri aku disela sibuknya aku kerja sama target yang bikin aku pusing, dan kamu, karena kamu asik baca buku sambil nikmatin angin, nunggu jam kantor selesai 'kan,"

Aira mengangguk. "Bukannya kamu yang suka aku duluan ya?" Awan mendorong tubuh Aira pelan supaya merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menatapnya. Aira menunduk malu. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Awan yang tertawa.

"Coba ceritain. Itu gimana si, aku lupa lho, Ra," ledek Awan.

"Bohong banget lupa," Aira masih malu.

Flash back.

Suara Lift terbuka. Aira masuk kedalam Lift bersama para karyawan lain menuju ke lantai perusahaan masing-masing. Saat lift berhenti di lantai dua. Aira melihat sosok pria dengan raut wajah kalem, cenderung serius masuk ke dalam lift dan berdiri di sudut.

Aira mencuri pandang sesekali. Saat itu jantungnya sudah berdebar. Ia tak tahu siapa pria itu. Yang ia tahu, hanya seragam perusahaan otomotif ternama yang memiliki kantor pusat di salah satu lantai gedung tersebut. Pria itu melirik ke arah Aira. Tanpa senyuman. Aira menunduk dan tak berani menatap kembali.

Hingga, pertemuan tak sengaja di atas gedung menjadi waktu yang tak mereka rencanakan untuk bertemu. Aira jatuh cinta kepada sosok lelaki itu. Hingga disatu acara, mereka bertemu dan dikenalkan secara resmi oleh teman Aira yang ternyata sepupu lelaki tersebut. Mereka saling tau nama masing-masing. Hingga obrolan pun terjadi dan mereka menjadi lebih dekat dan nyaman satu sama lain.

Flash back end.

Suara hujan terdengar di luar rumah. Awan beranjak dan membuka tirai. Ia berdiri sambil menatap keluar jendela dengan kedua tangan ia masukan kedalam saku celana pendek yang ia kenakan.

"Aku suka hujan, kondisi alam yang bisa bikin aku berfikir banyak hal," ucap Awan.

Aira beranjak. Ia duduk di tepi ranjang. "Aneh. Orang banyak yang benci hujan karena aktifitas mereka berhenti, kamu malah suka," Aira bersedekap.

"Ya. Aku memang aneh, seaneh itu sampai kamu nggak bisa beranjak dari aku 'kan?" lirik Awan sambil terkekeh. Aira berdecak. Ia beranjak dan mengalungkan tangannya di pinggang Awan. Memeluk suaminya dari belakang sambil menghirup aroma yang khas dari tubuh Awan.

"Aku nggak akan bisa beranjak Mas, dalam kondisi apapun," timpal Aira.

Ia menempelkan wajahnya di punggung Awan. Sedangkan Awan menatap pantulan dirinya dari kaca jendela dan menatap tajam. Aira tak melihat tatapan itu, seolah Awan sengaja menyembunyikan sosok lain dirinya.

***

"Airaaa!!! Gue hamilll!" Teriak Kinan. Rekan sejawat Aira yang berada satu divisi dengannya. Aira tersenyum mengangguk senang lalu memeluk Kinan. Ia juga melihat hasil test pack yang menunjukan dua strip.

"Sehat-sehat keponakan aunti Aira yaaa," Aira mengusap perut Kinan yang masih rata.

Kinan tersenyum. Lalu menatap Aira. "Lo udah cek, Ra?" tanya Kinan. Ia tau, karena kemarin Aira sempat bercerita sedikit.

"Udah. Tapi belum rejeki, Nan, lo duluan." Aira tertawa. Walau hatinya terasa nyeri. Disaat usia pernikahannya sudah tiga tahun, ia belum hamil. Kinan, baru dua bulan menikah, langsung hamil.

"Nggak apa-apa, mudah-mudahan secepatnya ya, gue izin balik cepet ya, Ra, habis maksi mau ke dokter buat mastiin, tadi baru test pack doang." Kinan menatap Aira penuh harap. Aira mengangguk.

"Iya. Santai, kerjaan lo gue yang kontrol nanti. Yang penting notulen rapat kemarin udah lo rapihin 'kan? Bu bos nanti ngamuk," ucap Aira sedikit berbisik.

"Beres itu. Makasih ya, Ra," Kinan menggenggam jemari Aira.

"Sama-sama Kinan, i'm happy for you." Aira mengusap perut rata Kinan. Mereka lalu tertawa bersama.

‘Ya Tuhan, semoga aku cepat mengandung anakku dan Mas Awan. Izinkan aku menjadi seorang ibu.’ Aira berdoa dalam hati. Ia lalu kembali fokus dengan pekerjaannya.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Elegant Revenge

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu
8.1
Angela mengambil risiko besar dengan mengandung anak Jeremy secara rahasia, meski ia tahu dirinya hanya dimanfaatkan. Sadar akan kekejaman Jeremy, Angela sengaja memancing amarah pria itu agar ia dilepaskan. Namun, pelariannya berakhir saat Jeremy berhasil melacak posisinya. Di ambang keputusasaan, Angela memohon kebebasan. Tak disangka, kehadiran sang buah hati justru mengubah segalanya. Jeremy yang dulu dingin kini menawarkan diri untuk melayani Angela dan bayi mereka.
Sampul Novel IPARKU, CANDU SUAMIKU
9.8
Dua tahun menikah, Nadia Antika bertahan menghadapi hinaan ibu mertuanya karena cinta tulus Askara Brahma. Namun, kebahagiaan itu sirna saat suaminya berubah menjadi tertutup dan dingin. Nadia mulai mencium rahasia besar yang disembunyikan sang suami di balik perubahan sikapnya. Mampukah ia mengungkap kebenaran yang menyakitkan? Bagaimana reaksi Nadia saat mengetahui Askara ternyata menjalin hubungan terlarang dengan adik iparnya sendiri di rumah mereka?
Sampul Novel Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder
9.2
Niat hati memberi kejutan ulang tahun, aku justru menyaksikan pengkhianatan kekasihku dengan pria kaya. Dihina karena miskin, hidupku berubah saat pelayan keluarga terkaya mengungkap identitas asliku sebagai pewaris Grup Nelson. Kini dengan kekayaan tak terbatas, aku kembali untuk membalas dendam. Mantan kekasihku bersujud memohon ampun, namun aku hanya berlalu menuju kemewahan. Bagiku, uang hanyalah angka dan aku sangat menikmati cara menghabiskannya.
Sampul Novel KhaRisma
9.0
Penyesalan mendalam menghantui setelah perpisahan yang tak terelakkan terjadi. Kesadaran yang datang terlambat hanya menyisakan duka, karena tangisan tak mampu mengubah kenyataan. Kehadiran sosokmu sebelumnya telah memberi warna dan mengajarkan arti kesetiaan serta pengorbanan yang tulus. Meski mengenalmu membawa rasa sakit dan kesedihan, di sana pula kutemukan kebahagiaan sejati. Kini, andai waktu bisa diputar kembali, aku hanya ingin mengulang setiap detik bersamamu.
Sampul Novel My Bad Boss
8.6
Xavier Narendra Maximilian pernah bersumpah takkan menikah karena menganggap wanita hanya teman tidur. Namun, prinsip itu goyah sejak ia bertemu sekretarisnya, Adeeva Adelia Albert, yang sama sekali tidak tertarik menggodanya. Xavier merasa pertemuan ini adalah anugerah terindah, sementara Adeeva sempat menganggap Xavier sebagai hal terburuk dalam hidupnya. Kini, kebencian itu berubah menjadi hari-hari penuh keindahan bagi mereka berdua.
Sampul Novel P. S. I LOVE YOU
8.5
Cyra Alesha, mahasiswi cantik berusia dua puluh tahun, harus berjuang di kota besar dengan bekerja paruh waktu. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat ia terjebak kesalahpahaman dengan Felix Domil. CEO muda yang kejam itu tega menginjak harga diri Cyra dan menyeretnya ke dalam penderitaan. Meski disiksa oleh kekejaman sang pewaris tunggal, Cyra justru terjebak dalam pesonanya. Mampukah ia bertahan atau justru memilih berontak demi membebaskan diri?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan