
LEBIH BAIK MUNDUR
Bab 2
"Mel, kamu kenapa sih? Kok jadi aneh gini? Tiba-tiba diam nggak jelas," ucap Mas Robin saat menemuiku di kosan.
Dia datang ke kosku karena dua hari ini pesan dan telfonnya aku abaikan, aku butuh waktu sendiri untuk berfikir jernih. Tidak mudah menerima kenyataan sepahit ini.
Seandainya saja Mas Robin. Tidak pernah kerumah orang tuaku, untuk meminta restu. Tentu masalah ini tidak terasa berat, meski sakit hati, urusannya hanya dengan aku saja. Lalu bagaimana dengan kedua orang tuaku, kalau tahu bahwa Robin sudah menikah dengan gadis lain?
"Aku aneh?" tanyaku sinis.
"Iya, kenapa tiba-tiba mendiamkan aku? Salahku apa coba?" cercanya.
"Salahmu apa? Masih nggak merasa bersalah?" sindirku.
"Kalau kamu nggak ngomong, mana aku tahu salahnya di mana? Apa susahnya ngomong sih? Kayak anak kecil aja, dikit-dikit ngambek, kita sudah dewasa Mel, semua bisa dibicarakan dengan baik-baik, bukan mengedepankan emosi seperti ini," sergahnya.
Tak terima dianggap anak kecil oleh Mas Robin kuambil gawaiku lalu membuka galeri dan menunjukkannya padanya. "Ini apa? Bisa kamu jelaskan?" Bibir Mas Robin membisu seketika. Dia menatap foto itu, lalu beralih menatapku.
"Kenapa diam? Bukan kah semua bisa dibicarakan secara baik-baik?" sindirku.
Robin menyugar rambutnya, berkali-kali dia mengembuskan nafas kasar.
"Itu tidak seperti yang kamu lihat," ucapnya setelah terdiam beberapa saat.
"Hhh, jangan kamu bilang itu foto editan. Karena aku tahu itu asli!"
"Aku terpaksa melakukannya, Mel," lirihnya.
"Terpaksa? Apa suka? Tidak usah mengada-ada kamu, kenapa tidak jujur dari awal?" cercaku.
"Ok, aku akan menjelaskan semua, tapi kamu janjtidak akan emosi," ucap Mas Robin akhirnya.
"Sebenarnya, aku dan Sarah masih saudara jauh. Kami sudah lama di jodohkan, sejak aku lulus kuliah. Waktu itu aku masih nganggur, bapaknya Sarah menawariku pekerjaan di kantornya, kebetulan beliau kepala bagian di DIPENDA.
Beliau berjanji memberiku pekerjaan hingga di angkat PNS, tapi dengan satu syarat, aku harus menikahi putrinya," jelas Mas Robin, aku hanya diam menjadi pendengar.
"Sesuai janji beliau, aku diterima kerja di kantornya, kemudian diangkat PNS dua tahun kemudian. Dan berkat rekomendasi beliau aku mendapat tugas belajar melanjutkan S2. Semua demi karirku agar cepat menanjak." terangnya lagi.
Mas Robin menjeda ucapannya.
"Aku tidak punya pilihan, Mel. Ibuku seorang janda, beliau rela menjual sawahnya untuk menguliahkanku, masa setelah lulus aku masih nganggur? Aku malu, lagi pula masih ada dua adikku yang butuh biaya untuk melanjutkan sekolahnya, uang dari mana? Sementara sawah, satu-satunya sumber penghasilan Ibu, sudah terjual," terangnya panjang lebar.
"Lalu kenapa kamu menjalin hubungan denganku, kalau akhirnya tetap menikahi, Sarah?" tanyaku pilu.
"Aku tidak pernah mencintai Sarah, dan Sarah pun tahu itu. Makanya aku selalu menunda untuk menikahinya, tapi dia selalu sabar menunggu. Hingga bulan lalu, dia genap berusia tiga puluh tahun. Bapaknya Sarah dan Ibuku memaksaku menikahi Sarah secepatnya. Jadi maaf, liburan kemarin aku pulang itu untuk melangsungkan pernikahan dengan Sarah.
Tapi aku janji sama kamu, setelah bapak mertuaku pensiun, aku akan segera menceraikan,
Sarah dan menikahimu."
Mas Robin menghela nafas panjang, wajahnya terlihat gelisah, menanti reaksiku.
"Kamu tahu Mas? kamu tidak hanya menyakitiku, tapi juga Sarah dan Ibumu, kau anggap apa kami? Hingga kau permainkan seperti ini," ucapku dingin.
"Aku janji Mel, aku akan menikahimu tiga tahun lagi, kamu bisa ambil S2 sambil menungguku kan?" bujuknya.
"Atau kamu mau, kita langsung menikah setelah kamu lulus kuliah? Tapi kamu jadi yang kedua," tangannya meraih tanganku, tapi langsung kutepis.
"Kamu egois Mas, aku tidak mau jadi yang pertama, apalagi yang kedua, aku mau jadi istrimu satu-satunya," ucapku yakin.
"Aku akan menceraikannya, tiga tahun lagi bapaknya pensiun, bersabarlah, aku mencintaimu percaya padaku."
"Aku tidak bisa Mas, kamu sudah membohongiku dari awal, aku tidak mau membangun mahligai dengan pondasi kebohongan, rapuh Mas.
Lebih baik aku yang mundur, cukup aku yang hancur. Biarkan Sarah, yang sudah banyak berkorban merasakan bahagia menjadi istrimu. Hargai perjuangan ibumu, surgamu ada padanya Mas," lirihku,
Aku nyaris tidak mampu mengatakannya, karena sampai detik ini, cintaku masih begitu besar pada Robin.
"Jangan katakan itu, aku tidak bahagia hidup bersama Sarah, pernikahan sebulan kami bahkan hanya berisi pertengkaran, saat dia tahu aku berbalas pesan denganmu, saat aku tegur dia karena menerormu, dan puncaknya, dia membongkar pernikahan kami kepadamu.
"Aku tersiksa Mel. Hanya kamu satu-satunya yang bisa membuatku bahagia," Mas Robin, menatapku sendu, netranya berembun.
Benarkah dia tulus mencintaiku? lalu kenapa dia menikah diam-diam? Rasanya seperti melayang ke awan kemudian dihempaskan ke dasar jurang berbatu, hancur berkeping-keping.
"Pergilah Mas, aku tidak mau menjadi orang ketiga dalam rumah tanggamu, kita akhiri semua dengan baik-baik, kita hapus semua kenangan diantara kita, mari kita jalani hidup kita masing-masing." Tak bisa kubendung lagi air mata, yang sudah tertahan dari tadi.
"Aku mencintaimu, Mel. Aku mohon, tunggu aku, tiga tahun...saja," pintanya padaku.
Aku menggelengkan kepala.
"Kamu masih mencintaiku kan? Aku janji, setelah ini akan jujur mengenai apapun, aku akan bicara dengan Sarah. Biar dia tahu kalau pernikahan kami hanya sementara."
"Jadi orang jangan egois kamu Mas, kamu pikir Ayah Sarah rela kamu ceraikan anaknya?"
"Lalu aku harus bagaimana? Kalau aku tidak menceraikan Sarah, apa kamu mau menjadi istrimu kedua?" rayunya.
Aku hanya bisa mengelus dada mendengar ucapan Robin, ngomong kok asal bunyi tanpa difikir. Dia pikir dia siapa?
"Maaf aku tidak bisa, keputusanku sudah bulat. Aku memilih mundur, ini demi kebaikan kita semua, demi karirmu yang membuatmu rela menggadaikan harga diri," tegasku.
"Pergilah, tidak pantas seorang bertamu pada jam malam begini," usirku, lalu aku masuk ke kamarku dan menguncinya.
"Melani Buka!"
"Mel, kita harus bicara!"
"Melani! Melani!" Mas Robin, terus menggedor pintu, tak terima kutinggalkan begitu saja di teras kosan.
"Maaf, jangan membuat keributan di sini." Tegur, satpam penjaga kos.
Aku lega, tak mendengar lagi suara Mas Robin, di depan pintu.
[Aku akan menyakiti Sarah] Mas Robin, mengirim pesan beberapa menit kemudian.
[Aku tidak perduli] Send.
Lalu koblokir nomor, Mas Robin. Benci aku pada lelaki egois itu, mau enaknya sendiri, jaman sekarang nggak ada yang gratis.
Dia ingin pekerjaan mapan, karier moncer dengan mudah tanpa perlu bersusah payah, melalui pengaruh bapaknya Sarah, ya dia juga harus mau menikahi putri atasannya itu.
Mengenai orang tuaku, biarlah kukatakan kalau aku sudah putus dengan, Mas Robin, orang baru pacaran, wajar kalau putus.
*****
"Mbak Melani, ditunggu tamunya di teras kamar," ujar, Pak Satpam.
Aku yang baru pulang dari kampus, tentu merasa heran, karena merasa tidak janjian dengan siapapun.
"Tamu? siapa?" tanyaku heran.
"Belum pernah kesini sebelumnya, Ibu-ibu," jawab, Pak Satpam.
Ibu-Ibu? kira-kira siapa ya?...
Bersambung....
Anda Mungkin Juga Suka





