
LEBIH BAIK MUNDUR
Bab 3
Dari kejauhan aku bisa melihat seorang wanita duduk di teras depan kamar kosanku. Dari penampilannya aku bisa menilai, kalau dia bukan berasal dari keluar kaya.
.
"Assalamu'alaikum, maaf Ibu menunggu saya?" tanyaku basa-basi.
"Waalaikum salam, Apa kamu yang bernama Melani? Kenalkan aya ibunya Robin," ucap wanita setengah baya itu memperkenalkan diri.
"Iya saya Melani, kalau boleh saya tahu, ada maksud apa Ibu menemui saya?"
"Kamu cantik juga ya? Pantas saja Robin tergila-gila padamu." Bukannya menjawab pertanyaanku, Ibu Mas Robin justru memandangiku dari atas ke bawah.
.
Wanita bersahaja itu sebenarnya berwajah ramah, tapi caranya menatapku membuat aku sedikit ngeri. Takut dia ngamuk karena menganggap aku sebagai pengganggu rumah tangga anaknya.
"Sudah berapa lama kenal Robin?" tanyanya kemudian, setelah puas menelanjangi aku dengan tatapannya.
"Setahunan Bu," jawabku jujur.
"Aku datang kesini, sebagai seorang Ibu. Sebagai sesama wanita, berharap bisa menyelesaikan permasalahan dengan kepala dingin tanpa emosi," ucapnya dengan suara lembut.
"Maaf maksud Ibu apa ya? Saya tidak mengerti."
"Kamu tahu Robin sudah menikah, kan?" tanyanya penuh selidik.
"Iya, dan saya sudah mengakhiri hubungan kami," jelasku.
"Bagus, aku hanya ingin memastikan kamu tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan Robin. Kamu tahu? Robin, selalu menyebut-nyebut namamu, saat bersama Sarah. Dan itu sangat menyakitkan.
Kami semua tahu Robin tidak mencintai istrinya. Tapi kami ingin sekali Robin mau belajar menerima dan mencintai Sarah. Aku yakin, seiring perjalanan waktu cinta itu akan tumbuh, dan aku butuh bantuanmu," terangnya.
"Bantuan apa?" tanyaku tidak mengerti.
"Jauhi Robin! Sejauh-jauhnya, kalau perlu pergi dari kota ini," pintanya.
Orang ini gimana sih? Sudah dibilang aku dan Robin sudah putus, kok masih disuruh menjauh. Disuruh pergi dari kota ini pula.
"Saya sudah menjauhi Mas Robin. Saya blokir nomor telfonnya, dan menghindar saat bertemu. Tapi kalau harus pergi dari kota ini saya tidak bisa. Saya harus menyelesaikan skripsi saya hingga lulus dan diwisuda Bu Baru saya akan pergi meninggakan kota ini." tegasku.
Ibu Mas Robin menatapku tajam.
"Ibu kesini untuk memperjuangkan masa depan anak Ibu, begitu juga tujuan saya di kota ini, memperjuangkan masa depan saya," lanjutku kemudian.
Enak saja dia menyuruhku pergi dari kota ini, orang tua sudah menghabiskan uang berjuta-juta, untuk menguliahkanku agar aku bisa meraih cita-cita. Dia dengan seenaknya menyuruhku pergi saat tinggal selangkah lagi.
Sebulan lebih hidupku sudah tenang karena berhasil menutup semua akses komunikasi dengan Mas Robin. Tapi kedatangan ibunya berhasil mengusik ketentramanku.
"Jadi kamu minta uang berapa? Agar mau meninggakan kota ini secepatnya?" ucapnya meremehkan.
Sombong sekali dia, bukankah dia hanya janda yang tidak bekerja? Dari mana dia dapat uang untuk menyuapku, paling juga dari besannya, ayahnya Sarah.
"Saya tidak butuh uang, saya hanya butuh menyelesaikan skripsi. Tapi saya janji akan tetap menjauhi Mas Robin. Ibu bisa pegang kata-kata saya," tegasku.
Sekali lagi Ibu Mas Robin menatapku tidak suka, mungkin dia tidak menyangka aku menolak tawaran menggiurkan darinya.
"Baiklah, aku pegang janjimu. Ingatlah jangan menyakiti sesama wanita. Aku permisi...," ucapnya seraya meninggalkanku.
"Dasar Mak Lampir!" umpatku dalam hati.
Dia pikir aku yang mengejar anaknya, aku yang merayu anaknya, dia pikir aku bo doh, nggak bisa mikir apa?
Aku masih muda, jalanku masih panjang, parasku pun tidak mengecewakan. Masih banyak pria single yang mau sama aku, kenapa juga aku harus menjadi penggoda suami orang?
Seharusnya sebagai sesama wanita, dia bisa lebih menghargai aku, bukannya mengucapkan kata yang bisa melukai perasaan dan harga diriku.
Apa istimewanya Mas Robin? Hanya PNS biasa, itu pun berkat bantuan mertuanya. Wajahnya juga standar, banyak yang seperti dia, jadi untuk apa berebut dengan istri sahnya? Kayak nggak ada laki-laki lain aja.
*****
"Melani!" Terdengar suara, Mas Robin. memanggil namaku dari belakang.
Aku mempercepat langkahku, karena tidak ingin bertemu. Dia memang masih mengejarku, mencoba mengajakku bicara, tapi aku terus menghindar.
Satpam kosan, sudah kuminta untuk melarang Mas Robin masuk. Nomor telfonnya sudah kublokir, jalan satu-satunya memang menungguku selesai bimbingan. Untung saja jadwal dosennya kondisional, jadi nggak tetap dan dia tidak bisa menebak.
Tapi kali ini dia beruntung, bisa menemukanku di koridor kampus. Aku tidak mungkin terus lari, dia pasti berhasil mengerjarku, kuputuskan masuk kedalam kelas kosong yang pintunya tidak tertutup rapat.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pria tampan yang berdiri di depanku, aku yang baru menutup pintu dengan hati-hati, agar tidak ketahuan Mas Robin, terlonjak kaget.
Sial, ternyata ruangan ini tidak kosong, tapi masih ada, Pak Yudha. Asisten dosen Geometri, yang gantengnya setara Arya Seloka. Yang lagi jadi trending topik mahasiswi sekampus ini.
"Maaf Pak, saya sedang bersembunyi dari seseorang," jawabku gugup.
"Seseorang? Pacar?" tanyanya dengan tatapan penuh selidik.
"Bukan Pak, tapi orang stres," jawabku asal.
Mas Robin, kan memang lagi stres, masak sudah punya istri, tapi masih mengejar wanita lain. Aku mengintip dari balik gorden, kulihat Mas Robin, celingukan mencari persembunyianku.
"Saya rasa bukan orang itu yang stres, tapi anda. Lihatlah! Anda panik, bicara ngaco, bukankah itu tanda-tanda orang stres?" ucapnya santai, seraya duduk di tepi meja, gayanya seperti sedang memberi kuliah.
"Maaf Pak, saya boleh numpang ngumpet kan? Sebentar..., saja. Saya janji tidak akan mengganggu pekerjaan Bapak," melasku.
"Pekerjaan saya sudah selesai, sekarang saya mau pulang, jadi ruangannya mau saya kunci," ucapnya santai.
Aduh..., gimana ini? Kalau aku keluar sekarang, mau nggak mau aku harus bertemu Mas Robin. Padahal aku sudah berjanji pada ibunya, akan menghindari Mas Robin sebisa mungkin.
"Sebentar saja ya, Pak. Please... Bapak baik deh," rayuku.
"Laki-laki dan perempuan, kalau berduan saja, yang ketiga adalah setan, kamu mau ketemu setan?" jawabnya jutek, wajah gantengnya seketika jadi menyebalkan.
Menolong orang dalam kesulitan kok nggak mau, bukankah wanita itu mahluk lemah tak berdaya, yang wajib ditolong? Dasar menyebalkan! Rutukku dalam hati.
"Sebentar ya Pak... setelah orang itu pergi, saya janji akan segera keluar dari ruangan ini," ucapku menghiba.
"Imbalannya apa?" Haduh, ternyata nggak cuma cewek aja yang matre, cowok pun ada yang matre juga.
"Saya traktir bakso di kantin deh," kemampuanku hanya segitu, kalau nraktir ke Cafe, atau restoran jelas aku nggak sanggup, bisa-bisa puasa di akhir bulan.
"Wah, nggak level. Saya nggak mau." ketusnya.
"Terus gimana dong, Pak?"
"Nomor WA kamu, nanti saya kabari, imbalan apa yang pantas untuk saya." Aku pun menyebutkan sederetan angka, dan Pak Yudha mencatat di ponselnya.
Kira-kira Pak Dosen, ganteng mau apa minta nomer WA, Melani ya....? Mamake, jadi curigesion nih, jangan modus lho Pak Dosen....
Bersambung...
Anda Mungkin Juga Suka





