Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kisah Yuna

Kisah Yuna

Yuna adalah mahasiswi biasa yang tengah berjuang keras meraih impian masa depannya. Dunianya seketika berubah penuh warna saat idola kampus menyatakan perasaan kepadanya. Namun, perjalanan asmara ini tidaklah mudah. Yuna terjebak dalam dilema besar ketika situasi memaksanya memilih antara pacar pertamanya saat ini atau sosok cinta pertama dari masa lalu. Siapakah yang akan memenangkan hati Yuna pada akhirnya di tengah persimpangan emosi ini?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Yun ...." Rika menyentuh lenganku.

"Eh, gimana tadi?" tanyaku, mengalihkan pandangan dari lelaki itu. Lelaki yang aku kenal di masa remaja, dia yang kini menggandeng perempuan hamil.

"Emm ... ganteng juga, Yun," ucap Ulfa sambil menunjuk ke arah lelaki itu.

"Emang ya kalo jomlo tuh, radarnya kenceng banget, liat yang ganteng dikit aja langsung bunyi," ucap Ulfa sambil terkekeh. Rika menoleh ke arah yang ditunjuk Ulfa. Matanya langsung melotot.

"Gila! Ganteng juga percuma, dia udah punya bini! Gini ya, Yun, gue emang pengen elo cepet-cepet punya cowok. Tapi kalo jadi pelakor nggak usah! Mendingan jadi jomlo aja, lebih bermartabat!" cerocos Rika dengan nada yang tidak santai. Aku mengangguk setuju dengan pendapatnya.

"Tapi dia beneran ganteng loh, Yun. Dadanya senderable banget." Rupanya Ulfa masih belum mengalihkan perhatiannya.

"Eh, eh, dia ngeliat ke arah kita! Omaigot! Dia senyum lagi!" Ulfa bertingkah heboh. Aku dan Rika menoleh ke arah lelaki itu. Benar saja, dia dan perempuan hamil itu berjalan ke arah kami. Gawat deh, tingkah Ulfa bikin malu, mungkin dia mau menegur kami.

"Elo sih, norak banget, jadi aja dia ngeh kalo lagi diomongin!" omel Rika.

"Permisi, kamu Yuna?" tanya lelaki itu. Aku terkejut, tidak menyangka dia masih mengingatku. Ulfa dan Rika melongo saat dia menyapa.

"Eh, iya," ucapku berusaha bersikap tenang.

"Aku Evan, anak PDK. Inget, nggak?" Dia mengulurkan tangannya dan kami berjabat tangan.

"Oh, iya! Kak Evan apa kabar?" tanyaku setelah diam beberapa detik berpura-pura lupa.

"Alhamdulillah kabar baik. Eh, boleh gabung? Meja yang lain penuh semua."

Oh, ternyata dia menyapaku karena tidak kebagian meja. Aku melirik ke arah Rika dan Ulfa meminta persetujuan mereka. Mereka mengangguk, aku ijinkan Kak Evan bergabung di meja kami.

"Oh iya, kenalin ini Mbakku. Evi." Perempuan hamil itu tersenyum lalu menjabat tanganku.

"Kenalin juga, Kak, temen-temenku," ucapku, mereka semua saling berjabat tangan.

"Evan."

"Rika."

"Ulfa."

"Evi."

Beberapa saat suasana menjadi canggung. Aku sendiri bingung mau ngobrol apa.

"Teh Evi istrinya Kak Evan, ya? Hamil berapa bulan, Teh?" tanya Ulfa sambil tersenyum tanpa dosa. Ih, boleh jitak Ulfa tidak? Buat apa tanya hal yang sudah jelas. Apa dia tidak lihat tadi Kak Evan perhatian banget?

"Bukan. Dia Mbakku, artinya dia kakakku," jawab Kak Evan ramah. Ulfa bertepuk tangan dengan bahagia.

"Kan, apa gue bilang, bukan istrinya, masih bisa lo gebet, Yun," ucap Ulfa di telingaku dengan suara yang cukup keras.

Mama ... enaknya aku apakan temanku yang satu ini? Malu banget!

Rika menendang kaki Ulfa di kolong meja. Ulfa meringis, tapi tetap saja dia tidak merasa bersalah. Aku berusaha bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa.

"Yuna kenal sama Evan di mana?" Satu pertanyaan dari Mbak Evi bikin aku semaput. Jujur, aku malu banget kalau ingat apa yang sudah aku lakukan di masa lalu. Semoga Kak Evan sudah lupa. Ya Allah, buat Kak Evan hilang ingatan, please ....

"Yuna juga dari Cirebon, Mbak. Kita dulu sering seangkot bareng kalau berangkat sekolah. Iya 'kan, Na?" Kak Evan menjawab pertanyaan Mbak Evi yang malah bikin tiga orang selain kami itu makin penasaran.

"Iya, Mbak," jawabku singkat.

"Kalian pernah pacaran, ya?" Aku menggeleng cepat, begitu juga Kak Evan. Sudah pasti dia menolak dianggap pernah pacaran denganku.

"Kita sering seangkot bareng, Mbak. Kebetulan aku SMA 6, Yuna SMP 5. Tetanggaan itu. Karena sering seangkot, lama-lama jadi kenal," jelas Kak Evan.

Lama-lama jadi kenal? Cih, apaan! Mana pernah Kak Evan notice keberadaanku waktu itu. Kalau bukan akunya yang nekat, mungkin sampai sekarang kami tidak akan saling kenal.

Aku baru ngeh kalau penampilan Kak Evan berubah. Seingatku, dulu Kak Evan anak paskibra, rambutnya selalu potongan cepak ala pak tentara. Sekarang potongan rambutnya sudah tidak cepak lagi. Apa itu? Dia pakai anting di telinga kirinya? Kenapa seperti badboy begitu, ya?

Kakiku ditendang, entah siapa yang menendang. Tapi melihat raut wajah Rika yang serius sambil mendelik, sepertinya dia.

"Yun, heh! Kok, malah bengong, sih? Itu ditanyain sama Kak Evan." Ulfa menjentikkan jarinya di depan mukaku.

"Eh, gimana, Kak?"

Kak Evan tersenyum tipis melihat responsku, berbeda dengan Mbak Evi yang tertawa.

"Elo ditanyain ngekost dimana? Kebanyakan ngelamun, sih," sahut Rika ketus.

"Aku ngekost di Lengkong, Kak. Kak Evan udah lulus kuliah, ya?" tanyaku basa-basi. Seharusnya dia memang sudah selesai S1. Dulu dia SMA kelas tiga, aku SMP kelas tiga. Sekarang aku semester empat, harusnya dia sudah lulus. Kalau melihat dia ada di sini sekarang, saat makan siang di hari kerja, kemungkinan dia belum lulus. Sepertinya aku salah pertanyaan, gawat!

"Alhamdulillah, udah tahun kemaren, langsung dapet kerja."

"Kok, sekarang ada disini, emang lagi cuti, ya?" Ulfa mewakiliku yang memiliki pertanyaan serupa.

"Kerjaanku emang nggak nuntut harus dateng setiap hari, sih. Terus nggak harus pake pakaian formal. Jadi kayak lagi main aja." Kak Evan menjawab pertanyaan Ulfa sambil tersenyum manis. Berbeda sekali raut wajahnya jika sedang bicara denganku. Ya, siapa yang menolak pesona Ulfa, iya kan? Ck, kenapa harus kesel, Yun?

Pembicaraan kami lebih didominasi oleh Ulfa dan Kak Evan. Ulfa banyak tanya dan Kak Evan menjawab dengan wajah berbinar.

"Yuna, Mbak boleh minta nomor hp kamu?" tanya Mbak Evi memotong pembicaraan Ulfa dan Kak Evan. Kak Evan tak bisa menutupi keterkejutannya. Terlihat sekali dia tidak suka dengan pertanyaan kakaknya.

"Buat apa, Mbak?" tanyaku. Jujur, aku tidak nyaman melihat raut wajah Kak Evan yang kecut.

"Cuma nyimpen aja, barangkali kita bisa lebih deket. Boleh, ya? Nanti bayi Mbak ileran loh, kalau nggak dapet nomor tante cantik," gurau Mbak Evi.

Aku hanya bisa meringis dipuji cantik olehnya, yang jauh lebih cantik. Ulfa tertawa mendengar gurauan Mbak Evi. Rika tersenyum tipis, sedangkan Kak Evan? Wajah dia datar. Tidak ada senyum sama sekali.

Akhirnya, dengan terpaksa aku memberikan nomor ponselku. Makan siang kami selesai dengan traktiran dari Kak Evan.

Sekarang kami bertiga sedang ada di kamar kostku. Rika rebahan sambil memainkan ponsel, sedangkan Ulfa sedang mencoba beberapa lipstik koleksiku. Walau aku tidak semodis mereka, tapi aku suka bereksperimen dengan make up. Koleksi make up aku lumayan komplit, terutama lipstik. Ada puluhan lipstik berbagai warna dan merk.

"Yun, itu beneran kamar sebelah mau pindah? Nanti gue yang ngisi, gue jadi ngekost. Capek bolak-balik, tua di jalan," ucap Ulfa.

Dari beberapa bulan kemarin, dia ribut ingin ngekost. Rumahnya di Cimahi, lumayan jauh jaraknya dari kampus. Katanya dia sudah mendapatkan ijin dari orangtuanya. Karena kami tidak mau sekamar, maka harus menunggu salah satu kamar di kostku kosong dulu. Kebetulan Mbak Dewi di kamar sebelah sudah tamat kuliah.

"Akhir bulan ini katanya, Fa. Gue juga udah bilang ke ibu kost kalau kamar bekas Mbak Dewi buat elo. Nanti elo kasih dp aja dulu, barangkali keduluan orang." Ulfa mengangguk mendengar ucapanku.

"Yun, namanya Kak Evan siapa? Evan Rahardian, bukan?" tanya Rika tanpa melepas pandangannya dari ponsel.

"Iya, kenapa gitu?"

Rika bangun dari rebahannya, menyodorkan ponselnya. "Nih liat. Anjiir! Kak Evan emang ganteng, sih. Sayang dia gebetan elo, kalau bukan udah gue embat!"

Aku melihat ponsel Rika yang membuka aplikasi Instagram. Di sana ada foto Kak Evan sedang menenteng tas gitar. Ulfa merebut ponsel Rika.

"Aaa!!! Ganteng banget, aduh jadi pengen khilaf nyelingkuhin Dani." Ulfa menatap foto Kak Evan dengan tatapan memuja. Aku membuka akun Instagram Kak Evan dengan ponselku sendiri. Waw, pengikutnya lumayan banyak. Padahal isinya didominasi oleh foto pemandangan. Foto diri cuma sebiji doang.

"Yun, Kak Evan kudu elo dapetin. Gue rela mengikhlaskan dia buat elo." Rika menatapku serius. Ulfa mengangguk setuju, tidak ada raut jahil di wajah mereka, dan membuatku menjadi salah tingkah.

"Kalian ngomong apa, sih? Gue kenal dia juga cuma sekedar kenal doang, kok," elakku.

Rika menghela napas,"Nggak usah ngelak! Tadi di Heritage elo natap dia kayak kucing ngeliat ikan asin! Sampe dia risih diliatin kayak gitu."

"Ih, kapan?" Aku tidak merasa menatap Kak Evan dengan memuja, maaf-maaf, diriku bukan yang dulu lagi.

"Waktu elo ditanyain ngekost di mana, elo cuma bengong ngeliatin wajah dia. Sampe kakaknya ngetawain. Jangan nggak ngaku!" omel Rika.

"Waktu itu gue cuma heran sama perubahan dia doang, kok," sanggahku.

"Halah, ngeles aja terus!"

"Udah, pokoknya kita kawal Yuna dan Kak Evan sampai SAH lalu ... aaahh," ucap Ulfa sambil mendesah. Rika melempar wajah Ulfa dengan bantal.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dosenku Suami Posesif
9.6
Belinda Zevaya, mahasiswi tingkat akhir yang tengah kesulitan finansial, didera malang saat laptop untuk skripsinya rusak total. Masalahnya kian pelik karena ia harus menghadapi Arez Bernando, dosen pembimbing yang dikenal sangat kejam dan ditakuti. Di luar dugaan, Arez justru menawarkan sebuah solusi provokatif. Sang dosen meminta Belinda bekerja di kediaman pribadinya sebagai syarat agar laptop tersebut diperbaiki dan studinya bisa segera tuntas.
Sampul Novel Kasus 21+
9.3
Konten ini khusus pembaca dewasa 21 tahun ke atas. Eva Avalon, seorang petugas kepolisian elit, kini mengemban tanggung jawab besar sebagai ketua tim khusus. Misinya adalah memberantas tuntas berbagai tindak kejahatan serta eksploitasi seksual yang merajalela. Di tengah kemajuan teknologi yang memicu beragam modus operandi baru yang licin, ikuti perjuangan hebat Eva dalam menyelidiki dan mengungkap setiap kasus rumit demi menegakkan keadilan.
Sampul Novel MAHLIGAI: Istana yang Kujaga
8.0
Kehidupan harmonis Dara Kahiyang bersama Adam dan anak kembar mereka kini terancam bahaya besar. Ibu serta kakaknya datang membawa dendam membara untuk menghancurkan kebahagiaan tersebut. Sebagai mantan putri terbuang yang pernah diabaikan keluarganya, Dara menyimpan rahasia masa lalu yang sangat kelam. Kini, ia harus berjuang sekuat tenaga melindungi istana cintanya dari serangan kerabatnya sendiri. Sanggupkah Dara bertahan menghadapi teror itu?
Sampul Novel My Asshole boyfriend= Destined love
9.2
Reece Andromeda, pewaris konglomerat otomotif, terjerat taruhan konyol untuk memacari Airysh Merylia, gadis yang baru saja dikhianati. Meski awalnya demi pembuktian diri, hubungan mereka guncang saat konflik Reece dan sahabatnya mencuat. Seiring waktu, rahasia kelam pun terkuak. Reece ternyata berjuang melawan trauma masa lalu di balik popularitasnya, sementara Airysh terjebak dalam misteri keluarganya yang belum terpecahkan. Akankah cinta muncul di tengah luka?
Sampul Novel Pemersatu Bangsa 21+
8.9
Kisah ini merupakan antologi cerita pendek khusus dewasa dengan kategori 21+. Seluruh rangkaian peristiwa, karakter, serta latar tempat yang digambarkan dalam narasi ini murni hasil imajinasi fiktif penulis. Pembaca diharapkan bijak dalam menyikapi konten romansa modern yang eksplisit ini. Karya ini ditujukan sebagai hiburan bagi audiens matang yang mencari dinamika hubungan dewasa. Harap perhatikan batasan usia sebelum mulai membaca seluruh bab yang tersedia.
Sampul Novel Selamat Tinggal, Cintaku yang Ceroboh
8.5
Verena terjebak dalam hubungan tanpa status dengan Jeffrey, saudara dari mantan kekasihnya, setelah sebuah pertemuan tak terduga. Meski awalnya sepakat tanpa ikatan, Jeffrey mulai menunjukkan rasa posesif yang kuat. Namun, kemunculan cinta pertama Jeffrey menghancurkan segalanya hingga hubungan mereka berakhir. Saat Verena bangkit dan hendak bertunangan dengan pria lain, Jeffrey datang mengklaim kepemilikannya. Verena menolak, namun Jeffrey bersikeras tidak akan melepaskannya.