
Kisah Cinta Di Negeri Gaib
Bab 2
Andrian menghormati keputusan Afifa saat itu dan masih menutupi niatnya. Perjalanan cukup panjang untuk sampai dari Solo, Jawa Tengah ke Malang Selatan, Jawa Timur.
"Andrian, berapa lama lagi untuk sampai ke Pulau Sempu, sudah tidak sabar nih?" tanya Benesh dengan rasa penasaran. Tidak hanya Benesh yang lainya juga sama-sama penasaran. Karena mereka semua hanya tahu dari media sosial, dan salah satu dari mereka belum pernah ke sana.
"Sabar, benesh? Kamu dari dulu masih sama, tidak sabaran. Kita ke Pantai Sendang Biru dulu terus ke pulau kita naik perahu boat," jawab Andrian dengan nada tegas. Kepribadian Andrian memang keras, tegas, dan disiplin, tapi juga bijaksana. Karena dia adalah seorang pemimpin perusahaan.
Terik mentari membuat mereka kelelahan karena perjalanan cukup jauh.
Tiba-tiba ...
Teriak Eben mengagetkan semua, "Andrian awas!" Dengan menarik setir yang dipegang Andrian, usaha Eben menghindari yang tidak diinginkan, dan rem mendadak.
"Ada apa, Eben?" tanya Afifa, Ivar dan Benesh dengan serentak karena kaget .
"Ulaarr! Aku melihat ular cukup besar tadi di depan mobil. Mungkin ular tersebut tertabrak oleh mobil kita," teriak Eben dengan mata melebar dan membuka mulut.
Andrian langsung turun dari mobil untuk melihat ular tersebut. Dia meneliti dan mencari ular tersebut di sekitar mobilnya.Tapi dia tidak melihat dan menemukan apa-apa. Agar tidak merusak suasana yang tadinya semua ceria akan berubah jadi suasana yang menegangkan, jika dia berkata jujur. Jadi dia memutuskan untuk berbohong dan mengatakan, "Hanya ular lewat, kita tidak menabraknya."
"Oh, kirain apa. Eben biasa saja kali, bikin jantung ku mau copot saja. Kita pergi untuk bersenang-senang, karena kamu suasana jadi tegang!" teriak Benesh dengan menggigit bibirnya .
"Beneran Benesh, aku melihat ular!" jawab Eben dengan wajah terkesiap.
Afifa melihat ekspresi wajah Andrian yang memerah, berkeringat, dan menghela nafas panjang, dan gelisah. Afifa tahu Andrian sedang berbohong. Afifa pernah membaca buku Psikolog, jadi Afifa sedikit tahu pikiran dan sifat orang.
"Kenapa Andrian berbohong? Ah, dia mungkin sengaja berbohong agar teman-teman tidak khawatir," gumam Afifa dalam hati.
Afifa jadi teringat kembali tentang mimpinya, tapi dalam mimpi dia digigit ular, sedangkan dalam nyata dia baik-baik saja. Dia jadi sedikit tenang.
"Sudah ... sudah, kita sebentar lagi sampai ke Pantai Sendang Biru?" kata Ivar agar mereka menjadi rukun.
Begitulah perjalanan yang mereka lalui, banyak peristiwa terjadi, namun Afifa tidak menghiraukannya, dan tetap pada pendiriannya. Tetapi hati Afifa tetap merasa tidak tenang.
Hati Afifa sering berdebar-debar tidak seperti biasanya, tapi dia selalu mengalihkan perasaan yang abnormal itu dengan teman-temannya. Karena Afifa berpikir dia terbawa ilusi dalam mimpinya.
Kruk, kruk, kruk ...
"Suara perut siapa ini yang keroncongan?" tanya Eben.
" Ha ha, kamu kali Ben yang lapar?" tanya Benesh balik.
"Andrian, kita belum makan siang, ada warung di depan kita berhenti. Karena aku pun juga sudah lapar," sahut Afifa.
Andrian menyetujuinya. Makanan yang mereka bawa kebetulan khusus dimakan di Pulau Sempu ( Segara Anakan), karena disana tidak ada penjual makanan.
"Eben, fokuslah kalau makan? Makan juga kamu video. Kita mengejar waktu biar tidak kesorean tiba disana tahu!" protes Benesh.
Eben mematuhi perkataan Benesh. Karena dia tidak ingin mengganggu suasana dengan debat dan perkataan Benesh yang masuk akal, tapi setelah selesai dia melanjutkan untuk video agar bisa di upload.
Benesh pun menggelengkan kepala, karena heran sama tingkah laku Eben.
Mereka melanjutkan perjalanannya yang semakin dekat dengan Pantai Sendang Biru.
Mereka tampak gembira ketika angin sudah membawa bau laut kehidung mereka.
Mereka bergegas keluar menuju perahu, dengan menikmati desiran suara angin, melihat ombak menggulung ketepian, merasakan setiap butiran pantai dengan jejak langkah kaki mereka. Mereka terbawa suasana dan semangat menggebu-gebu untuk segera sampai ke Pulau Sempu.
"Wah, belum sampai juga ke Pulau Sempu. Pantainya saja sudah begini indahnya!" teriak Eben dengan wajah yang tampak kagum.
Rumah yang berada di pesisir pantai, mayoritas menjadi nelayan. Mereka pun menyewa perahu boat, sekitar 15-20 menit untuk sampe ke Pulau sempu. Mereka membawa pemandu lokal juga untuk menjadi penunjuk jalan. Nahkoda tersebut menasehati berjalan di jalan berlumpur, agar mereka tidak tersesat.
Mereka dimanjakan dengan pemandangan Samudera Hindia saat di perahu menuju Pulau. Panorama yang menakjubkan membuat wajah mereka berbinar.
Air laut yang tenang dan juga angin berhembus lembut membuat perahu yang mereka tumpangi meluncur dengan lancar. Akhirnya mereka sampai di Pulau Sempu dengan selamat.
"Oh, ini yang dinamakan Pulau Sempu. Dimana Segara Anakannya?" tanya Benesh dengan wajah yang tampak penasaran, kepada pemandu jalan.
"Petualangan baru akan di mulai mba? Kita harus berjalan menelusuri jalan setapak dan masuk hutan kurang lebih 2-3 jam, untuk menuju Blue Lagoon Sempu," jawab pemandu tersebut dengan ramah.
"Hah, jauh benar! Ini baru yang dinamakan petualang, cuma 3 jam tidak apalah. Kita dulu juga sering mendaki gunung," sahut Eben untuk menyemangati mereka.
Afifa tersenyum, karena dia sudah mengetahuinya. Tapi dia memilih diam dan pura-pura tidak tahu, kalau berkemah hari ini akan memakan waktu dan tenaga. Khawatirnya membuat teman-teman pesimis, karena dia juga sangat ingin tahu tentang misteri, dan keindahan alam yang ada disitu. Karena tidak banyak orang yang sering berkunjung. Teman-temanya juga sudah mengetahui lewat media sosial, tapi hanya sepintas, dan tidak secara mendetail.
Setelah itu Nelayan kapal memberitahukan mengenai penjemputan, tidak boleh lewat dari jam 17.00 sore. Mereka pun membawa barang-barangnya. Karena mereka sering berkemah, jadi mengerti akan barang yang harus di bawa, terutama air minum. Sebelum masuk ke pulau Sempu, bersama pemandu tersebut mereka meminta izin ke BBKSDA (Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam).
Setelah diizinkan mereka menyusuri hutan. Dan melanjutkan perjalanan yang akan menguras tenaga.
"Wah benar-benar menantang, banyak batu karang berserakan, dan juga licin. Hujan oh hujan, kenapa kemaren di sini kehujanan," gurau Benesh.
Perjalanan mereka menyusuri hutan yang berliku, menanjak, dan curam harus mereka lalui. Mereka harus melompat atau menerobos, karena banyak batang pohon yang berada dijalan tersebut. Dan harus sangat hati-hati karena medan jalannya yang berlumpur dan licin akibat hujan.
"Haruskah kita melewati jalan beginian. Apa tidak ada jalan lain, Pak?" tanya Eben sambil membalikkan badan karena pemandu berada dibelakang. Tujuan dia dibelakang untuk memantau. Dan juga untuk antisipasi, jika terjadi yang tidak diinginkan. Karena tanggung jawab dia sebagai pemandu.
"Patuhilah peraturan yang ada Eben, agar kita selamat. Kita berkemah kali ini bukan ke tempat wisata, tapi cagar alam. Masih banyak binatang buas dan lainnya. Berjalan di jalan yang berlumpur ini, agar kita tidak tersesat," sahut Afifa dengan sopan.
Tatapan Andrian ke Afifa dengan senyuman lebar seperti bunga. Tidak hanya dengan bibirnya seolah dengan jiwanya, dan mempunyai sejuta arti dilihat oleh Afifa. Dan tak lama mereka menundukan pandangan masing-masing.
Setelan rok biru laut motif yang lebar dan baju kemeja biru laut polos yang pas dengan ikat pinggang dengan tubuh yang lurus dan ideal membuatnya semakin anggun. Jilbab segi empat biru laut polos yang syar'i, dari cara dia berpakaian menjadikan dia terkenal akan agamanya n berpengetahuan luas. Andrian pun sangat menghormati Afifa.
Jalanan yang penuh liku, naik turun telah mereka lalui.
Gedebuk ...
"Aaaaarghhh!" teriak ivar si badan kurus seperti kacang panjang. Dia terpeleset di jalan yang licin tersebut. Karena itu seluruh tubuhnya dipenuhi dengan lumpur. Teman-temannya antara kasihan dan tertawa, mereka memilih menahan tawa.
"Dah tau jalan licin. Kenapa kamu tidaka hati-hati?" kata Benesh dengan wajah sedikit senyum dan tawa yang ditahan. Sambil menolong Ivar yang penuh dengan lumpur. Lalu Afifa menghampirinya dengan memberikan sapu tangannya, agar Ivar bisa mengelap wajah yang berlumpur.
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanannya.
"Teman-teman berhenti sebentar," pinta Eben sambil mengeluarkan handphonenya, dengan tujuan foto-foto. Mereka meminta pemandunya untuk memotret mereka. Karena dalam hutan tidak ada sinyal sehingga mereka hanya bisa save foto mereka di Handphone Eben. Afifa termenung memikirkan orang tuanya karena tidak bisa memberi kabar. Tapi karena terbawa suasana yang menjadikan Afifa tidak begitu memikirannya. Karena rasa lelah, mereka berhenti sejenak .
Kriuk kriuk kriuk ...
Bunyi makanan ringan Eben yang lagi di makan. Dan mereka semua menikmati makanan yang di bawa Eben. Setelah melepaskan sedikit kelelahan, mereka pun melanjutkan perjalanannya.
Uuk aaa, uuk aaa
Suara hewan terdengar oleh mereka.
"Suara apakah itu, Ben?" tanya Benesh.
Mata Eben berkeliling untuk mengamati sekitar. Dia melihat monyet bergelantungan diatas dahan-dahan pohon.
"Teman-teman coba lihatlah keatas," ajak Eben.
Mereka terperanjat dan Ivar berkata," Teman-teman, disini beneran banyak hewan liar. Bagaimana jika ada harimau atau hewan buas lain kemari. Kita tidak membawa persiapan senjata.
"Jaga bicara kamu, Var! Di alam liar tidak boleh bicara macam-macam. Apalagi bicara dengan nyawa taruhannya," tegur Benesh dengan tegas.
"Kita berdoa saja itu sudah cukup jadi senjata. Kita bukan ketempat wisata, melainkan Cagar Alam yang dilindungi. Bukankah kita sudah melanggarnya? Bukankah ada larangan yang seharusnya tempat ini tidak boleh dikunjungi?" sahut Afifa dengan lembut.
Muka Andrian berbinar dengan tutur kata Afifa. Lalu mereka melanjutkan perjalanan kembali.
"Tunggu !" Spontan Andrian menutup rapat mulut dengan jari telunjuk, kode untuk tidak bersuara dan bergerak, diambillah ranting sedikit besar yang ada di depan. Dengan mata berkeliling dan membalikan badan ke kanan, kiri, atas, dan bawah, didapatilah
seekor ular hitam yaitu ular cobra. Termasuk hewan yang berbisa dan mematikan jika digigit.
"Andrian jangan dibunuh. Kita masuk juga sudah dilarang tadi, apalagi membunuh mereka. Kita akan menyalahi kode etik. Biarlah ular itu pergi, jika tidak menyerang kita," kata Afifa dengan memegang ranting yang mengarahkan pelan ke ular tersebut. Dan juga dengan doa yang Afifa lantunkan, agar ular tersebut pergi tanpa disakiti.
"Wah, Afifa? Ular tersebut takut dengan kamu," gurau Eben.
Tingkah laku Afifa ternyata tidak sengaja dilihat dan diperhatikan oleh Aqeel. Sosok tak kasat mata dengan wajah berbentuk hati dengan tatanan rambut slick pompadour, mata upturned ( mata kucing), berkulit putih pucat. Aqeel melewati hutan tersebut, karena untuk keluar dan pergi dari tempat tinggalnya memang lebih suka melewati jalan tersebut.
Bulu kuduk Afifa menegang dan membuatnya tidak nyaman. Dia mencium bau yang khas, merasakan ada orang yang terus memperhatikannya. Namun Afifa mengacuhkan apa yang dia rasakan, karena akan merusak suasana.
Perjalananpun dilanjut lewat petunjuk pemandu. Mereka harus hati-hati saat hampir sampai, masih ada tantangan yang menegangkan lagi. Karena harus melewati jalan setapak yang langsung berbatasan dengan jurang kurang lebih 10 meter yang menjadi pembatas dengan Segara Anakan.
Jalan tersebut tidak ada pagar pembatas dan tali tambang yang bisa jadi pegangan, hanya ada akar-akar pohon yang harus mereka pegang.
"Huh, sungguh perjalanan yang sangat menegangkan?" kata Benesh dengan tangan gemetar dan jantung berdebar kencang karena takut jatuh.
"Tetap tenang Benesh, fokus dan pegangan yang kuat, dan jangan salah pilih akar," sahut Eben karena takut temannya terjatuh.
Mereka Akhirnya berhasil melewati jalan tersebut. Aqeel pun mengikuti mereka karena penasaran dengan Afifa.
Pemandu telah memenuhi tugasnya dengan menunjukan tempat yang menjadi tujuan yaitu, Segara Anakan. Dan dia harus kembali, karena tugasnya telah selesai menunjukkan arah jalan.
Anda Mungkin Juga Suka





