
Kisah Cinta Di Negeri Gaib
Bab 3
"Wow, Amazing! Sungguh indah ini tempat. Tidak menyesal perjalanan jauh jadi terobati. Ini yang dinamakan berakit-rakit kehulu berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian!" teriak Benesh dengan kagum.
Mata Afifa dan lainnya juga berbinar. Dan juga Eben terkinja / terkejut atau melompat-lompat kegirangan saat melihat pemandangan yang menawan. Diiringi hembusan angin yang menyejukan hati dan pikiran. Warna air yang hijau kebiru-biruan dan percikan hempasan ombak yang masuk melalui lubang. Ombaknya yang tenang memberikan suasana tentram dan bersahaja.
Segara Anakan dikelilingi bukit-bukit karang yang menjulang tinggi ke atas sehingga tidak bisa diterjang ombak ganas. Segara Anakan tercipta karena air laut yang terjebak disebuah cekungan, setelah masuk melalui lubang karang.
Kurang lebih jam 04.00 sore sampai di Segara Anakan.
Byurr byurr byurr
Para laki-laki langsung melepas pakaian atas dan melompat berenang, terutama Ivar yang penuh dengan lumpur.
"Afifa, Benesh. Kenapa kalian masih berdiri disitu? Kemarilah, ikut bersama kami!" teriak Eben dengan menikmati kesejukan air Segara Anakan. Lalu mereka bertiga menyelam menikmati pemandangan bawah yang belum pernah mereka lihat.
Eben naik ke atas dengan mengatakan keelokan bawah segara tersebut. Dia mengajak mereka berdua, agar tidak melewatkan momen yang begitu indah.
Benesh yang memakai setelan jumpsuit kuning dan jilbab kuning mengajak Afifa, agar ikut berenang bersama mereka. Afifa pun setuju, disaat itu tidak ada alasan Afifa untuk menolak.
Mereka berlima akhirnya berenang bersama-sama. Angin yang bertiup sepoi-sepoi dan kesejukan air yang benar-benar menyegarkan badan, mereka bersenang-senang menikmati alam yang akan menjadi kenangan dalam hidup mereka.
Setelah selesai berenang, mereka langsung bergegas mendirikan tenda dengan pakaian yang masih basah, untuk berganti pakaian. Karena disana tidak ada kamar mandi. Setelah semua selesai dari mendirikan tenda dan ganti pakaian. Mereka mendaki karang yang berada di daerah situ. Mereka tidak lupa dengan Handpone untuk mengabadikan momen berharga bagi mereka.
Mereka sampai di tempat yang dituju.
"Luar biasa! Sungguh luar biasa! Ini adalah momen yang sangat luar biasa!" teriak Benesh karena merasa senang dan puas akan pemandangan yang menakjubkan.
"Subhanallah, begitu indah Ciptaan Allah?"
kata Afifa karena kagum akan keagungan Sang Pencipta.
Ganas ombak dan birunya laut Samudera Hindia dilihat oleh mereka. Mereka terus selfie sendiri-sendiri dan saling begantian untuk berfoto.
"Eben, tolong fotoin aku dan Afifa?" pinta Andrian dengan sopan terhadap Eben, sekaligus mengharapkan Afifa untuk menyetujuinya. Afifa menyetujui keinginan Andrian.
Aqeel yang dari tadi mengikuti mereka, melihat perasaan Andrian terhadap Afifa, dan Afifa pun begitu, dari sudut pandang Aqeel Andrian adalah kekasihnya.
Batu di depan Afifa membuatnya hampir terjatuh, tapi ditangkap oleh Andrian. Mereka saling berpelukkan dan memandang. Kesan romantis tersebut difoto oleh Eben dengan posisi berbeda-beda saat memfoto mereka berdua.
"Terima kasih, Andrian?" ucap Afifa dengan melepaskan pelukannya dan dengan suara lembut.
"Oh, ya Afifa?" jawab Andrian dengan senyum lebar, jantung bedegup kencang, dan hati berbunga-bunga.
Si Wajah Pucat yang terus mengikuti Afifa, melihat tingkah laku mereka berdua terlihat ada kekecewaan di hatinya.
"Kenapa aku tidak senang melihat mereka berdua. Bukankah para manusia sudah terbiasa melakukan hal itu. Bahkan aku sering melihat yang lebih, yang membuat syahwat aku naik?" kata Aqeel untuk menghibur diri sendiri.
Afifa pun mendengar apa yang dibicarakan Aqeel. Dia tersenyum, tapi terus menerus mengabaikannya. Afifa mempunyai kepekaan yang tidak dimiliki orang pada umumnya. Afifa seorang indigo. Dia bisa melihat, mendengar, dan berbicara dengan makhluk astral seperti dengan manusia. Namun untuk menghindari yang tidak diinginkan, dia hanya bisa berpura-pura dari segala hal.
Terdengar desiran angin yang menampar-nampar tubuh mereka. Mereka yang sedang melihat dan menikmati pemandangan, sampai membuat mereka lupa waktu. Karena angin yang semakin kencang, mereka jadi sadar hari semakin sore.
"Wah, wah, Andrian. Benar-benar kamu ini! Yang lain melihat keelokan panorama, sedangkan kamu dari tadi melihat Afifa?" ucap Benesh saat berjalan menuju tenda.
"Apa yang kamu bicarakan, Nesh. Dia bukan melihat aku, tapi pemandangan yang di sebelah aku memang memukau!" sahut Afifa untuk mengalihkan perhatian Benesh.
"Ya, ya, ya," sindir Benesh untuk Afifa. Karena Benesh juga peka apa yang disampaikan Afifa untuk membungkam mulut Benesh.
Selang beberapa waktu mereka berjalan, sampailah mereka ketenda masing-masing. Mereka menutup tendanya, karena maghrib akan segera tiba. Mereka melakukan aktifitasnya yaitu, solat. Meski tidak ada masjid-masjid, tapi mereka tetap bepegang teguh dengan keimanan mereka. Afifa melihat Si Wajah Pucat ( Aqeel ) ikut bersama rombongan para pria di tenda. Dia hanya bisa terdiam saat itu.
Setelah maghrib lewat dan ibadah pun sudah dilakukan. Mereka semua keluar dengan membawa barang-barang keperluan mereka seperti tikar, gitar, senter, terutama makanan. karena disitu alam liar, jadi dilarang menyalakan api, takut ada binatang buas yang akan mendekati mereka. Mereka saling menyantap makanan dengan lahap. Karena melihat ekspresi wajah mereka menyantap makanan, Aqeel juga ikut mencicipi makanan mereka.
"Inikah rasa dari makanan manusia? Dari dulu aku selalu melihat mereka makan, tapi tidak membuat aku penasaran, dan ternyata rasanya bukan rasa yang aku suka. Tapi kenapa mereka begitu menikmati makanan ini? Atau karena mereka sudah terbiasa dengan makanan mereka di dunia mereka seperti aku di duniaku?" Aqeel berbicara seolah tidak ada yang mendengarkan. Afifa melihat tingkah makhluk ini, membuatnya tersenyum.
"Ada apa, Afifa? Kenapa kamu tersenyum? Adakah yang lucu dari makanan ini?" tanya Andrian. Afifa tidak tahu kalau Andrian selalu memperhatikan dia.
"Oh, tidak Andrian? Aku tersenyum karena kita bisa berkumpul bersama lagi setelah sekian lama. Mungkin ini momen yang sangat indah untuk kita kenang?" jawab Afifa.
Aqeel mendengar pembicaraan mereka berdua membuatnya berhenti makan dan memperhatikan Afifa.
Setelah itu Andrian memainkan gitarnya. Eben, Benesh, Ivar berjoged, dan bernyanyi. Afifa bernyanyi di sebelah Andrian. Aqeel terus menatap Afifa, melihat keelokan rupanya. Dan daya tarik Afifa, membuat Aqeel lupa akan tujuannya, mencari kelinci untuk di makan bersama keluarganya.
Afifa tahu makhluk itu sedang memandangnya, namun Afifa terus melakukan sandirawanya, berpura-pura tidak melihat Si Muka Pucat, dan membiarkannya berbaur bersama mereka. Karena makhluk tak kasat mata tersebut tidak mengganggu teman-temannya. Afifa terkenal pintar, tapi juga polos. Karena kepolosan Afifa yang akan membawa bencana bagi dirinya sendiri.
"Aaaaaaaa ...! A ... pa itu!" teriak Benesh. Dia membuat kaget semua. Benesh dengan mulut menganga, wajah pucat, dan badan lemas, terjatuh ke tanah, namun ditangkap oleh Eben.
"Kamu kenapa, Benesh? Bikin kita khawatir saja?" tanya Eben.
"Aku melihat wanita dengan pakaian putih dan rambut terurai. Dia sangat pucat seperti tidak ada darah, muka hancur, sangat menyeramkan. Di ... sana ... di ... bawah pohon itu." Tangan Benesh menunjukan arah makhluk tersebut. Dan dengan nada suara yang bergetar karena takut.
"Mana, tidak ada apa-apa? Kamu halu kali, Nesh? Karena kamu kecapean, pikiran jadi kacau?" sahut Ivar.
Arah mata Afifa mengarah ke pohon yang disebutkan Benesh. Dia melihat memang banyak makhluk disitu, karena mungkin itu rumahnya. Mungkin makhluk itu menampakkan diri karena terasa terusik. Afifa lalu menghampiri pohon tersebut. Dia menemukan beberapa plastik makanan ringan. Lalu Afifa memungutnya. Dan bau menyengat, air kencing.
"Teman-teman, Siapa yang membuang bungkus jajanan dan kencing disitu?" tanya Afifa sambil menunjukan bungkus jajan tersebut.
"Aku yang kencing disitu ..." jawab Eben.
"A ... ku yang buang bungkus jajan," sahut Ivar.
Afifa menaruh sampah keplastik besar, plastik sampah yang sudah disiapkan. Dan menyuruh Eben menyiram air kencing dengan air danau sampai baunya hilang.
"Malam-malam begini aku disuruh nyiram! Besok juga bisa, Fif!" protes Eben.
"Jika tenda kamu bau kencing, apa kamu tetap bisa tidur, Ben? Sudah nurut saja. Tinggal siram apa susahnya, tidak sampai satu jam, kan?" timpal Andrian. Andrian memahami apa yang disampaikan Afifa. Jadi dia ikut membantu Afifa apa yang jadi tujuannya.
"Huh, ya ya!" Eben mengambil plastik besar dan mulai menyiram dan permintaan maaf pun Eben ucapkan. Didengarlah oleh penunggu pohon, disusul Aqeel agar makhluk tersebut melepaskan mereka, jangan mengganggunya. Makhluk tersebut mana berani sama Aqeel, melihat mata Aqeel saja makhluk itu langsung mengerti bahwa Aqeel istimewa. Dia pun menyetujui untuk memaafkan mereka.
Semua perilaku Afifa dicermati oleh Aqeel. Aqeel tidak tahu kalau Afifa tahu kekesalan makhluk yang terusik karena Afifa melihatnya dan tahu semua itu perbuatan temannya. Karena yang ada disitu memang mereka, tidak ada pengunjung lain. Aqeel hanya mengerti kalau Afifa bijaksana dan memahami etika. Dia semakin penasaran dengan Afifa. Baru kali ini ada manusia yang membuat hati Aqeel tergerak.
Afifa juga mengamati dan melihat apa yang dilakukan Si Muka Pucat kepada wanita yang disebutkan Benesh, membuat Afifa tersenyum, namun Afifa masih pada sandiwaranya.
"Sudah, tenangkan dirimu, Benesh. Kita hidup berdampingan tidak hanya sama manusia, makhluk gaib yang kita tidak lihat juga pasti ada disekitar kita. Jadi teman-teman untuk lebih hati-hati lagi dalam bertindak. Jaga kebersihan. Kalian pernah dengar ada yang kesurupan karena hal sepele. Bagi kita sepele, tapi bagi makhluk yang tidak kita lihat menjadi besar, karena terusik kenyamanan mereka," nasehat Afifa di dengar semua. Tidak hanya teman-teman. Aqeel dan seluruh makhluk tak kasat mata yang ada disitu juga mendengar.
"Siapa manusia ini? Bagaimana dia bisa memahami semua? Apakah dia melihat kita? Jika tidak melihat, bagaimana dia mengerti kondisi kita," ungkap salah satu mahkluk yang mendengarkan.
"Ah, mungkin dia manusia yang istimewa. Meski tidak melihat, namun memahami seluruh bangsa," sahut mahkluk yang ada disebelahnya.
Aqeel mendengar percakapan mereka tersenyum lebar dengan wajah pucatnya bersinar. Semakin dalam Aqeel penasaran terhadap Afifa. Dia sekarang seperti penguntit. Dimanapun Afifa berada, disitulah ada Aqeel. Afifa hanya bisa diam agar makhluk tersebut tidak curiga bahwa dia kesal dengan Si Muka Pucat, karena terus mendampinginya.
Setelah Benesh menenangkan diri karena takut, dia pun bertanya kepada Afifa, "Apa yang kamu lihat tadi? Aku tahu kamu melihat juga karena dari kecil kamu sudah terbiasa ..."
"Benesh! Mari kita lanjutkan untuk membuat suasana yang tadi tegang menjadi tenang.
Lanjutkan Andrian?" Afifa memotong pembicaraan Benesh, karena akan menguak jadi dirinya dihadapan teman-teman dan Si Muka Pucat.
"Oke, Fif?" Andrian kembali memegang gitar. Mereka duduk berdampingan melanjutkan nyayian yang kompak dan membuat susana kembali riang.
Benesh terus menatap Afifa. Afifa juga membalas tatapan Benesh dengan menggelengkan kepala kekanan dan kekiri. Isyarat bahwa jati dirinya tidak boleh terbongkar. Aqeel melihat mereka berdua, namun tidak paham yang manusia sampaikan dengan isyarat seperti itu, hanya menambah rasa penasaran Aqeel.
Afifa dan Benesh melanjutkan nyanyian mereka sampai Benesh benar-benar merasa tenang. Dan mereka pun akhirnya menikmati suasana yang riang. Tidak hanya Aqeel, Andrian juga memperhatikan Afifa dari tadi. Andrian orang bijaksana apa yang tidak boleh Afifa ungkapkan, dia hanya menghormati keputusan Afifa.
Anda Mungkin Juga Suka





