
Kirana, Cinta Sejatiku
Bab 2
Jadi, untuk siapa cincin ini?
Mungkinkah memang ada perempuan di hati Sendra yang bernama Kirana, yang selalu dia sukai hingga hari ini, sampai Sendra bahkan tidak peduli lagi dengan istri dan anaknya?
Saat aku tenggelam dalam khayalanku, Sendra kembali lagi.
Melihat cincin di tanganku, raut wajah Sendra tiba-tiba berubah. Dia mengabaikan kondisiku yang baru saja melahirkan, mendorongku menjauh setelah merebut kotak hadiah di tanganku.
"Minggir! Siapa yang bolehin kamu pegang cincin ini?"
Aku menekan perutku yang terbentur meja dengan keras. Luka jahitan yang masih belum kering, kini mulai terasa sakit lagi.
Namun, Sendra hanya menyeka cincin itu dengan hati-hati, mengabaikan teriakan kesakitan yang aku serukan.
Setelah darah keluar dari perutku, dia baru memperhatikanku.
"Jelita, kamu berdarah!"
Bibir Sendra bergetar dan dia buru-buru membantuku berdiri.
"Perutku sakit, bawa aku ke rumah sakit."
Aku menarik Sendra, rasa sakit di perutku makin parah seiring dengan setiap kata yang aku ucapkan.
"Ya, aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang."
Sendra baru akan mengantarku ke rumah sakit, tetapi tiba-tiba ponselnya berdering.
"Sendra, bukannya kamu pulang lagi buat ambil hadiah? Kenapa kamu masih belum kemari? Kirana sudah mau sampai."
Sendra menatapku, kemudian merendahkan suaranya, "Ada sedikit masalah di rumah. Kalau sudah selesai, aku akan langsung ke sana."
Mendengar kata-kata itu, hatiku terasa sakit dan dipenuhi oleh rasa pahit yang tak terhitung jumlahnya.
Masalah.
Sekarang, bahkan di hati Sendra aku tidak dianggap sebagai manusia?
Tepat pada saat ini, suara manis seorang wanita tiba-tiba terdengar dari ujung telepon.
"Maaf sudah menunggu lama. Lama nggak bertemu kalian, apa kalian baik-baik saja? Eh, kenapa Sendra nggak kelihatan?"
...
Begitu suara ini terlontar, aku melihat tubuh Sendra sedikit bergetar, seolah-olah dia telah berubah menjadi orang yang berbeda. Bahkan terlihat ada binar cahaya yang meledak dari bagian bawah matanya.
Ini adalah sesuatu yang tidak pernah dia alami ketika bersama denganku.
"Jelita, ada sedikit masalah di perusahaan dan aku harus segera ke sana. Kamu pikirkan cara buat pergi ke rumah sakit sendiri."
Sendra dengan paksa melepaskan cengkeramanku, mengambil cincin berlian dan bergegas keluar. Dia meninggalkanku dan hanya menyisakan punggungnya yang perlahan mengecil.
Hari itu, tidak ada yang tahu kalau aku, seorang wanita yang habis melahirkan, berhasil pergi ke rumah sakit sendiri dan kembali dengan menggendong bayi seberat tiga setengah kilo.
Yang aku tahu ketika aku kembali, hari sudah larut malam.
Rumah masih dalam keadaan gelap.
Sendra belum pulang.
Namun, ada status terbaru di media sosialnya.
Aku membuka status itu.
Hadiah termahal, "Hanya mencintai satu orang."
Tulisan itu dibarengi dengan unggahan foto tangan yang mengenakan cincin berlian.
Itulah cincin yang diambil Sendra pagi ini, tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil, tepat di tangan wanita itu.
Ada berbagai macam komentar di bawah unggahan ini.
"Apa ini Kirana? Kenapa kamu pakai ponsel Sendra buat mengunggah status seperti ini?"
"Haha, Ricky nggak tahu, ya? Hari ini Sendra mabuk, menarik tangan Kirana dan nggak mau melepaskannya. Dia bilang akan pergi ke mana pun Kirana pergi dan nggak akan pernah berpisah dengannya."
"Mereka memang pasangan sejati. Sudah terpisah lama, tapi masih saja saling mencintai. Bikin iri sekali!"
Melihat komentar-komentar itu, aku tidak bisa mengatakan apa yang aku rasakan di dalam hati.
Jika mereka adalah pasangan sejati, lalu aku ini apa? Bagaimana dengan putriku?
Aku menghubungi nomor Sendra. Ketika panggilan tersambung, aku mendengar suara erangan laki-laki dan perempuan yang saling beradu.
"Kirana, jangan tinggalkan aku."
"Selama ini aku sangat menderita karena merindukanmu."
"Dalam hidup ini, kamulah orang yang paling ingin aku nikahi."
...
Aku langsung menutup telepon tanpa ragu.
Aku tahu kalau hubunganku dan Sendra sudah berakhir.
Keesokan harinya, Sendra pulang ke rumah dengan wajah lelah.
"Maafkan aku, sayang. Kemarin malam ada urusan di kantor, jadi aku pulang larut."
"Benarkah?"
Aku duduk di sofa dan menatap Sendra dengan dingin, tidak menyambutnya saat melihat kedatangannya seperti sebelumnya. Aku membuka ponselku.
"Sendra, dulu kamu nggak pernah membohongiku."
Di ponselku ada pesan dari Kirana, yang entah dari mana bisa mendapatkan Line milikku dan mengirimkan video berdurasi beberapa menit.
Anda Mungkin Juga Suka





