Sampul Novel Gara-Gara Cinta Satu Malam

Gara-Gara Cinta Satu Malam

8.0 / 10.0
Dikhianati sang kekasih membuat Ellena Cameron nekat menyerahkan kesuciannya pada pria asing demi membalas dendam pada takdir. Namun, saat ia ingin melupakan malam itu, pria tersebut justru muncul kembali dan menjungkirbalikkan dunianya. William Asahavey Hamilton, konglomerat yang jenuh dipaksa menikah oleh kakeknya, terpikat oleh keberanian Ellena yang dianggapnya unik. Meski terbiasa dikelilingi wanita, eksistensi gadis mungil itu kini menjadi pusat perhatiannya.

Gara-Gara Cinta Satu Malam Bab 1

William Asahavey memasuki sebuah club langganannya. Musik yang begitu keras mengusik gendang telinga saat ia membuka pintu kaca berwarna hitam. Biasanya ia akan datang bersama teman-temannya, tetapi pria-pria itu sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga ia memilih untuk datang sendiri. Tatapannya menelisik ke segala penjuru, mencari tempat yang sekiranya bisa membuat nyaman. Netranya tertuju pada satu sudut ruangan yang cukup gelap, lalu tersenyum miring kala melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Dia mendapati dirinya mengerang kesal.

Los Angeles memang wilayah yang tak melarang seks bebas, tetapi melihat langsung pasangan yang bercumbu di dalam club membuatnya sedikit bergidik. Apa tidak ada tempat lain yang lebih privasi? Mengapa mereka memilih menyatu di tengah keramaian dan menjadi tontonan publik? Akan tetapi, kemungkinan besar hanya dirinyalah yang terganggu akan pemandangan tersebut, sebab orang-orang yang ada di sekitar sana seolah menganggap pemandangan itu adalah hal yang lumrah.

Pria bersetelan abu-abu itu memilih duduk di salah satu deretan kursi yang berhadapan langsung dengan bartender, memesan margarita dan menikmati rasa asin yang tajam. Bukan tanpa sebab ia datang kemari, rasa frustrasi karena pekerjaan yang akan dialihkan padanya, sekaligus pusing karena gencatan perjodohan yang selalu direncanakan oleh sang kakek membuat otaknya seakan ingin meledak. Bukannya tak mau menikah, tetapi perjodohan bukanlah jalan alternatif yang harus ditempuh. Ia bisa mencari sendiri, tanpa bantuan dari pria tua itu. 

Jika dipikir lagi, apa yang bisa didapatkan setelah menikah? Apa yang spesial dari hubungan itu? Seks? Meski tak menikah pun, dirinya bisa meniduri banyak gadis jika ia mau. Anak? Dia bisa mendapatkan anak di luar pernikahan. Ia cukup membayar orang lain untuk meminjamkan rahim dan menampung anaknya. Bukankah hal itu bisa dilakukan jika memiliki uang? Semua hal di dunia ini bisa didapatkan jika memiliki uang. Termasuk tubuh wanita.

“Hei, apakah kau datang sendiri?” 

William mengerutkan kening, tetapi tetap menjawab pertanyaan tersebut. Tak ada salahnya menjawab pertanyaan dari gadis asing yang lumayan cantik ini. “Ya. Seperti yang kau lihat. Aku tak punya teman.”

“Apa kau memiliki kekasih?”

Kening William berkerut. Pertanyaan tadi sudah masuk ke ranah privasi. Namun, William tak berniat untuk mengabaikan pertanyaan tersebut. “Tidak. Aku tidak  berminat untuk menjalin hubungan yang seperti itu.”

Pupil mata gadis itu melebar. Ini adalah mangsa yang tepat baginya. Ia hanya perlu memberi umpan, agar si pria terpancing. Rasa frustrasi karena diselingkuhi oleh sang kekasih membuatnya yakin untuk melakukan beberapa hal yang cukup anti mainstream dan tak pernah ia lakukan sebelumnya.

“Apa kau menyukai seks?”

William tersenyum miring. Ia tak mengenal gadis itu, tetapi ia yakin bahwa gadis berambut panjang yang duduk di sampingnya sedikit mabuk. “Pria mana yang tak suka dengan pelepasan, Nona.”

“Kalau begitu mari kita bercinta.”

Pria bermata biru itu tersenyum miring. “Apa kau sedang menawarkan tubuhmu? Kau meminta bayaran berapa?”

Gadis itu menggeleng sambil menggoyangkan jari telunjuk tepat di depan wajah William, membuktikan bahwa dia tidak setuju dengan penawaran pria tersebut. ”Tidak perlu. Justru aku akan membayarmu. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya sebuah penyatuan dan pelepasan.”

Kening Pria itu kembali berkerut, netranya melebar, sedikit syok dengan apa yang didengarnya. Baru kali ini dirinya bertemu dengan gadis yang begitu naif dan polos. Gadis itu yang ingin membayarnya? Bukankah itu terdengar konyol? Apa yang salah dengan gadis bertubuh mungil tersebut? 

“Kau tidak perlu membayarku. Aku tidak butuh uang. Aku hanya butuh pelepasan.” William jelas menolak, sebab uang bukanlah sesuatu yang ia perlukan saat ini. Cukup pelepasan yang nikmat dan bergairah, itu saja.

Gadis itu melambaikan kedua tangannya di udara. “Jangan seperti itu, Tuan. Aku membutuhkan seorang pria, sehingga akulah yang harus membayarmu. Kau hanya perlu memuaskanku.” Suaranya khas orang mabuk.

William menyeringai. Gadis yang ada di sampingnya benar-benar unik. Apakah gadis itu sedang banyak masalah? Akan tetapi, ia tak akan membuang kesempatan ini. Kapan lagi ia akan mendapatkan kesempatan emas seperti ini? Biasanya dia yang akan memasang umpan agar ikan datang padanya, tetapi kali ini, sang ikan secara sukarela masuk ke dalam jaring perangkapnya. 

***

Dengan tergesa-gesa Ellena masuk ke flatnya. Ia tak memedulikan bagaimana keadaan pakaian dan wajahnya. Ia terbangun dalam keadaan tanpa busana di sebuah kamar hotel bersama seorang pria. Gadis itu mencoba menggali ingatan-ingatan tentang semalam, dan saat ingatannya mulai kembali, ia segera turun dari kasur dan memungut pakaiannya yang tergeletak di lantai. Rasa nyeri di selangkangannya tak dipedulikan, yang dipikirkan hanya satu, cara agar dirinya bisa keluar secepat mungkin dari kamar tersebut.  

Gadis itu membuang sling bag-nya asal, lalu duduk di sofa mungil berwarna cream yang dibeli sebulan yang lalu. Decakan lidahnya terdengar frustrasi. Kemudian dia mengacak-ngacak rambut dan berlagak seperti orang yang kehilangan kendali. 

“Apa yang kulakukan semalam? Aku mabuk dan meminta pria itu tidur denganku? Aku sudah tak perawan lagi,” geramnya dengan suara histeris. Dia sudah kehilangan kesucian, kehilangan hal yang paling dijaga, juga kehilangan kewarasan.

“Ellena! Kau sudah tak perawan?!” Jeritan tersebut berasal dari mulut  Christy—teman satu flat Ellena. “Dari mana saja kau semalam? Mengapa ponselmu tak bisa dihubungi?” Dia mendekati Ellena dengan raut wajah kebingungan bercampur penasaran.

Gadis bermata hazel itu menunduk lalu mendesah untuk kesekian kalinya. “Aku menawarkan diri secara sukarela untuk bercinta dengan orang lain, Cris.”

“Apa kau gila?! Bukankah kau sudah berjanji pada diri sendiri untuk menjaganya sampai kau menikah nanti?”

“Xavier selingkuh. Dia bermain dengan wanita lain.” Dia mendengus lagi. “Aku membalaskan dendamku dengan cara seperti ini, Cris.”

Christy membuka mulut tak percaya, pupil matanya melebar, dan dia tak bisa lagi berkata-kata. Sahabatnya sekaligus teman satu flatnya memang sudah kehilangan akal sehat. Bagaimana mungkin gadis itu membalas dendam dengan melakukan sesuatu yang tak pernah dibayangkan sebelumnya? Keperawanan adalah sesuatu yang tak bisa dijadikan sebuah alat untuk bermain-main. Wah, sekarang dia yakin bahwa kegilaan Ellena sudah berada di fase tak bisa diobati.

“Kau mengenal pria itu?”

Ellena menggeleng pelan. “Tidak.”

“Oh shit! Kau benar-benar …” gadis itu menggantung kalimatnya, mencari kata yang tepat untuk mendeskripsikan sikap Ellena, “bodoh.” Dia memutar bola mata kesal. “Bagaimana bisa kau memberikan keperawananmu pada pria asing? Bagaimana jika kau hamil? Apa dia menggunakan pengaman?”

“Aku sudah kehilangan kewarasan, Cris. Aku tidak tahu apa dia menggunakan pengaman atau tidak.”

“Ya, tanpa kau katakan, semuanya sudah jelas. Kau memang sudah kehilangan kewarasan. Tidak. Kau sudah kehilangan otak,” hardiknya sekali lagi.

Gadis itu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, lalu menatap langit-langit flatnya. “Kau ingin tahu apa yang kusesali, Cris?” Tatapannya beralih pada gadis berambut ikal tersebut. “Aku melupakan rasanya.” Ia meraung, berlagak seperti orang yang menangis. “Apa aku terlalu mabuk sehingga tak bisa mengingat sensasi saat keperawananku pecah? Aku bahkan tak mengingat bagaimana ukuran benda tersebut.”

Christy menutup mulut dengan telapak tangan, tak percaya dengan apa yang dikatakan sahabatnya. “Apa ini masuk akal? Kau histeris karena tak mampu mengingat ukuran dan rasanya? Oh, Ellena. Kau membuatku ikut gila.”

Dengan rasa frustrasi dia memilih masuk ke kamar mandi, membasuh wajahnya yang sudah tak bisa dikatakan baik-baik saja. Make up yang luntur, lipstik yang sudah melewati garis bibir, dan jangan lupakan lingkaran matanya yang sudah menghitam akibat eyeliner yang telah berantakan. Wajahnya sudah menyerupai boneka annabelle yang mendapatkan penyiksaan dari sang majikan.

Ia berusaha mengingat-ingat rupa dari pria itu, tetapi semakin ia memaksakan diri, kepalanya semakin pusing. Bagaimana ia melakukan hal konyol itu saat mabuk? Se-frustrasi itukah dirinya sehingga memilih untuk merelakan keperawanan kepada pria asing? Meski ada rasa penyesalan, tetapi itu tak berguna lagi. Untuk apa? Toh, semuanya sudah terjadi. Selaput daranya sudah pecah dan mahkota yang telah dijaga selama dua puluh enam tahun telah rusak tanpa sanggup dia pertahankan.

Bagaimana ia menjelaskan kepada orang tuanya kelak? Tentang dirinya yang sudah ternoda, tentang dirinya yang sudah melanggar aturan dalam keluarga besarnya. Tunggu! Orang tuanya tak mungkin memeriksa hal itu, bukan? Ya, Ellena cukup berbohong dan berpura-pura tak terjadi apa-apa. Terlebih ia jarang pulang ke rumah, sehingga ayah dan ibunya tak mungkin menanyakan perihal keperawanannya. 

Dia sudah dua puluh enam tahun, sudah termasuk kategori dewasa. Tak mungkin pula orang tuanya bertanya seperti itu. Kedua orang tua Ellena sudah percaya bahwa anaknya bisa menjaga diri, tetapi dengan bodohnya, Ellena justru memberikan mahkota yang sangat dijaga untuk pria yang tak dikenalinya secara cuma-cuma. 

“Bahkan seorang pelacur lebih berharga dibanding diriku,” erangnya frustrasi.

“Ya, mereka mendapat bayaran, sedangkan kau tidak, Elle. Kau gadis gratisan.”

“Stop, Cristy.” Ia mengangkat tangan tepat di depan wajah sahabatnya. “Jangan meneruskannya lagi. Aku tahu bahwa aku memang konyol, tetapi mari lupakan itu.” Ia menaikkan alis lalu mengangguk cepat berharap persetujuan dari Cristy.

Cristy hanya mengedikkan bahu. “Entahlah. Aku tidak bisa berjanji untuk melupakan kejadian yang kau alami.” Gadis itu terpingkal. “Itu sangat unik.”

***

William berusaha membuka kelopak mata saat cahaya matahari mulai menembus masuk melalui kaca jendela. Dengan tergesa-gesa, dia meraup ponselnya yang tersimpan di nakas samping kasur, melihat layar dan memastikan bahwa hari sudah menjelang siang. Kemudian dia menoleh, tak ada seorang pun di sana. Ada perasaan kecewa saat tak menemukan sosok gadis asing itu di sampingnya. 

Senyumannya tersungging ketika ingatannya kembali mengenang kejadian semalam. Dia tak pernah membayangkan akan bermain dengan gadis yang tak memiliki pengalaman sama sekali. William seperti seorang ayah yang mengajari anaknya untuk melakukan sesuatu untuk pertama kalinya. Seperti seorang profesional yang menuntun si pemula. Namun, ia cukup takjub sebab gadis itu cepat belajar. 

William memilih untuk duduk di pinggiran kasur, mengumpulkan nyawa sebelum dia meninggalkan kamar hotel tersebut. Namun, netranya justru beralih pada dua lembar uang bergambar Benjamin Franklin dengan sebuah catatan di atasnya.

‘Maafkan aku karena harus meninggalkanmu. Semoga uang ini cukup untuk biaya service semalam. Terima kasih.’

“Oh sial. Aku seperti pria bayaran saja,” keluhnya sambil tersenyum miring. Untuk pertama kalinya ia merasa seperti pria yang rendahan. Mengapa William merasa egonya terluka? Sebelumnya tak pernah ada wanita yang memperlakukannya seperti ini. Apakah dia terlihat seperti kekurangan materi, sehingga gadis itu menyimpan uang sebagai bayarannya?

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Gara-Gara Cinta Satu Malam

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Direndahkan Oleh Keluarga Suami
8.9
Terlahir dengan keterbatasan fisik, Jasmine Bintang tumbuh di bawah bayang-bayang kekecewaan ibunya. Ia berharap menemukan kebahagiaan saat menikahi Ardan Mahendra yang sukses. Namun, keluarga Ardan justru menghina keterbatasannya. Luka Jasmine kian dalam saat Anindya, mantan kekasih Ardan, kembali dan mengungkap kebohongan cinta mereka. Meski Jasmine mantap meminta cerai demi martabatnya, Ardan justru menolak keras dan mengancam tidak akan melepaskannya begitu saja.
Sampul Novel Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder
9.2
Niat hati memberi kejutan ulang tahun, aku justru menyaksikan pengkhianatan kekasihku dengan pria kaya. Dihina karena miskin, hidupku berubah saat pelayan keluarga terkaya mengungkap identitas asliku sebagai pewaris Grup Nelson. Kini dengan kekayaan tak terbatas, aku kembali untuk membalas dendam. Mantan kekasihku bersujud memohon ampun, namun aku hanya berlalu menuju kemewahan. Bagiku, uang hanyalah angka dan aku sangat menikmati cara menghabiskannya.
Sampul Novel Light Of Love
8.1
Kayla Pratama, seorang yatim piatu, terpaksa menjalani hidup sebagai istri kedua dari pengusaha sukses bernama Raga Dirgantara. Terjebak oleh beban hutang budi di masa lalu, Kayla tidak memiliki pilihan selain menerima nasibnya yang pahit. Kehadirannya dalam pernikahan itu hanyalah demi memberikan keturunan bagi sang miliarder. Ia harus berjuang menghadapi kenyataan bahwa dirinya cuma dianggap sebagai alat tanpa memiliki posisi yang sesungguhnya.
Sampul Novel Penantian Yang Tak Kunjung Kembali
9.2
Enam tahun menikah rahasia dengan seorang direktur, sang istri harus menerima kenyataan pahit saat suaminya melarang putra mereka memanggilnya ayah. Ketika sang suami kembali mengabaikan ulang tahun anak mereka demi sekretarisnya, keputusan bulat pun diambil. Surat cerai dilayangkan, dan dia pergi membawa putranya selamanya. Kepergian tiba-tiba ini meruntuhkan ketenangan sang miliarder yang seketika kehilangan kendali mencari istrinya. Namun, kali ini penantiannya akan sia-sia.
Sampul Novel Rahasia di Koper Suamiku
8.5
Keharmonisan rumah tangga Dewi mendadak hancur saat ia menemukan barang milik wanita lain tersimpan di dalam koper suaminya. Penemuan mengejutkan ini membawa Dewi pada serangkaian rahasia gelap dan tabiat buruk sang suami yang selama ini tersembunyi rapat. Di tengah rasa sakit hati yang mendalam, Dewi kini berada di persimpangan jalan yang sulit. Haruskah ia tetap bertahan dalam penderitaan, atau justru bangkit untuk membalas pengkhianatan tersebut?
Sampul Novel Rahasia Gelap Sang Kekasih
9.4
Sebuah notifikasi pesan di larut malam mengubah segalanya. Terbangun dari tidur, sang protagonis menerima kiriman video dari sahabatnya yang menampilkan seorang wanita bergaun tipis ketat sedang menari dengan anggun. Awalnya hanya memicu fantasi liar, situasi berubah mencekam saat sebuah detail intim berwarna ungu terlihat samar di balik gaun tersebut. Pakaian dalam yang dikenakan wanita itu identik dengan milik kekasihnya sendiri, memicu kecurigaan mendalam dalam hubungan modern yang penuh misteri ini.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan