
KETIKA ISTRIKU MULAI BERUBAH
Bab 3
Luna berniat malam ini tidak akan pulang ke rumah. Rasa sakit telah dibohongi oleh sang suaminya membuatnya enggan kembali ke rumah yang selama ini telah dia tempati.
"Aku tidur di rumah mu ya?" ucap Luna pada Oliv.
"Lah, kamu tidak pulang?" tanya Oliv heran. Bukannya tidak mau Luna tidur di rumahnya, tetapi dia merasa Luna perlu menyelesaikan masalah pribadinya dengan sang suami.
"Aku malas pulang," jawab Luna.
"Lun, bukannya tidak mau ya, tapi kamu selesaikan dulu masalah kamu."
"Please!"
"Tapi?"
"Ya, Oliv?" ucap Luna sambil menangkupkan kedua tangan.
"Baiklah," jawab Oliv.
Setelah itu keduanya masuk ke dalam rumah, tak lupa Luna mengaktifkan data selulernya setelah hampir seharian dia matikan.
Rentetan panggilan tak terjawab juga pesan yang mulai masuk dari Arka membuatnya seolah tidak percaya.
Selama ini belum pernah Arka menghubunginya dulu, belum pernah dia berkirim pesan sebanyak ini.
Arka yang cuek dan bersikap dingin, kalau tidak dihubungi dia tidak akan menghubungi dulu.
"Ada apa, Lun?" tanya Oliv.
"Nggak apa-apa. Aku capek, pengen langsung tidur saja," jawab Luna.
Belum juga langkahnya sampai di depan pintu kamar, Luna sudah dipanggil ibunya Oliv dan mengatakan kalau suaminya tadi datang kesini untuk mencarinya.
Luna sebelumnya enggan untuk pulang ke rumah tetapi karena dipaksa oleh ibunya Oliv, dia menjadi tak enak untuk menginap di rumah sahabatnya itu.
🔥🔥🔥
"Darimana saja?" tanya Arka dengan nada dingin saat mengetahui istrinya masuk ke dalam rumah. Posisi Arka saat itu tengah duduk di sofa sembari menunggu kepulangan istrinya.
Dia bersikap seperti itu agar tidak ketahuan kalau sedari tadi dia mencemaskan keadaan Luna.
"Rumah teman," jawab Luna cuek. Setelahnya dia beranjak menuju ke kamarnya.
"Aku belum selesai bicara, tidak pantas seorang istri langsung pergi begitu saja saat suaminya belum menyelesaikan ucapan," ujar Arka dan berhasil membuat langkah Luna terhenti.
Seketika wanita itu menoleh ke arah Arka dan menghujam dengan tatapan tajamnya.
"Kamu menganggapku istri?" tanya Luna memastikan.
"Lha memang apa?"
Luna tak menjawab, dilangkahkan kaki nya menuju ke kamar sedangkan Arka mengikuti langkah istrinya dari belakang.
Luna langsung menuju ke ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut berwarna putih. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Arka yang melihat kelakuan istrinya hanya bisa menghela napas panjang. Ada rasa sesak, dia memang salah.
"Lun," ucap Arka sembari memegang pundak istrinya dari samping.
Luna diam saja, enggan menanggapi panggilan dari sang suami. Mengingat kejadian tadi siang membuat hatinya sakit.
"Aku bisa jelasin, tolong, kamu buka mata kamu," ucap Arka.
Luna masih diam dan itu membuat Arka semakin tak bisa menahan emosi.
"Dengar Lun. Wanita yang ku temui tadi siang adalah wanita yang selama ini masih ku cintai."
Ucapan Arka membuat hati Luna semakin sakit. Dia beranjak dari tidurnya dan menatap sang suami dengan lekat.
"Lalu apa artinya aku dalam hidup mu, Mas? Apa artinya kalau kamu masih menyimpan nama wanita lain di hatimu?" tanya Luna. Ada bulir bening yang hampir jatuh tetapi dengan sekuat tenaga dia tahan, jangan sampai dia terlihat lemah dihadapan suaminya.
"Tidak ada."
"Lalu kenapa kamu menikahi ku kalau aku tidak ada artinya di hidupmu?" tanya Luna lagi.
"Aku terpaksa, semua itu karena ibuku yang sangat menyukai kamu," jawab Arka.
"Semua karena ibumu kamu mengorbankan perasaan wanita lain? Hebat kamu ya," ucap Luna. Bulir bening pun jatuh dari kedua sudut matanya.
"Iya, dan ku harap kamu paham akan semua ini," ucap Arka.
Hati Luna benar-benar teriris dengan ucapan Arka.
"Ceraikan aku," ucap Luna.
"Tidak."
"Kenapa? Bukannya kamu mencintai wanita itu, bukan aku?"
"Aku tidak mau Ibu sakit," jawab Arka.
"Kamu egois!" Bentak Luna.
Arka diam saja, lalu setelahnya dia beranjak menuju ranjang samping tempat dimana dia tidur, lalu merebahkan tubuhnya begitu saja dan membiarkan Luna menangis sendiri.
Anda Mungkin Juga Suka





