
KETIKA CINTA BERTASBIH
Bab 2
Mobil kesayanganku beristirahat di dalam garasi. Aku turun dari mobil dengan langkah yang berat, pikiran berkecamuk. Dalam benakku, bayangan laki-laki misterius itu masih terus menghantui, entah siapa dia. Dia hanyalah seorang pembaca novel yang ku tulis. Dia mengaku sebagai pengagum ku, tetapi mungkin maksudnya tidak lebih dari sekadar mengagumi tulisanku. Ah, rasanya aku terlalu cepat berimajinasi.
Namun, pada saat itu juga aku sempat menangkap kilauan matanya. Seolah-olah dia sedang berada dalam kebahagiaan yang tak terhingga. Apakah dia bahagia karena akhirnya bertemu dengan penulis yang telah lama dia cari di dunia maya? Ataukah ada sesuatu yang lebih? Dia menunggu-nunggu terbitnya season 2 novelku, dan mungkin itulah yang membuat hatinya berdebar-debar.
Namun, aku merasa gugup. Apakah ini hanya perasaan biasa antara penulis dan pengagumnya, ataukah ada sesuatu yang lebih? "Bodoh!" aku mengejek diriku sendiri. Aku membuka pintu rumah dengan perlahan, sambil memeriksa situasi dan melirik jam dinding. Untungnya, aku hanya terlambat lima menit.
"Kenapa terlambat? Kamu ini kenapa sih susah sekali disiplin," suara abi terdengar dari arah kamar. Ternyata, abi sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan kaus lengan pendek dan sarung.
"Hehe, lima menit saja, Bi. Tadi di jalan macet," aku menjelaskan dengan senyuman.
"Lain kali jangan terlambat lagi. Abi sudah memberimu izin, tetapi kamu masih beraninya melanggar peraturan abi. Kamu ini anak perempuan abi satu-satunya. Jadi kamu harus tahu diri, Nak! Menjaga anak perempuan itu sulit, Nak, jadi jangan pernah meremehkan Abi jika Abi menjaga kamu dengan ketat. Abi mengatur dan melarang semua ini bukan karena tidak sayang, justru Abi sangat sayang sama kamu. Apakah kamu masih ingat nasihat Abi pada waktu itu?" Abi mulai memberi nasihat.
"Iya, Bi. Maaf sebelumnya, tapi tadi tidak hanya macet kok, Bi. Tadi juga buku Nabila sempat ketinggalan saat reuni. Sehingga aku kembali lagi, eh ternyata saat Nabilla kembali ke tempat itu, ada seseorang yang menemukan buku Nabila. Dan Abi tahu apa? Ternyata dia adalah seseorang yang sangat kagum dengan tulisan ku. Bahkan, orang itu juga sudah lama menunggu buku season 2 yang akan aku terbitkan nanti. Jadi, kita berbincang sebentar, sekitar lima menit itu," aku menjelaskan kepada Abi dengan semangat.
"Cewek atau cowok?" tanya Abi dengan tatapan serius.
"Cowok, Bi. Tapi kita hanya ngobrol aja kok, Bi. Tenang saja, percaya saja pada Nabilla, ya?" pintaku dengan nada memelas.
"Hmm, terserah lah. Ya sudah, Abi percaya," jawab Abi.
"Terima kasih, Bi. Atas kepercayaannya. Tapi maaf ya Bi, Nabilla pamit ke kamar dulu,"
Sebenarnya, menurut perspektif ku di usia yang sudah memasuki dua puluhan ini, seharusnya bukan lagi usia untuk dibatasi seperti ini. Jika Abi memang ingin membatasi, mungkin jam delapan malam atau sebelum magrib sehingga aku merasa tidak terbebani. Tapi ini? Jam lima sore aku sudah disuruh pulang, kesal sudah pasti, tapi apa boleh buat, daripada Abi lebih marah lagi, lebih baik aku menurutinya. Bahkan terlambat lima menit saja, Abiku memberi nasihat panjang kali lebar. Lalu bagaimana jika tadi aku terlambat satu jam? Namun, apakah pantas jika aku merasa seperti anak kecil, karena untuk bermain saja dibatasi? Terasa rumit dan menyakitkan sekali, padahal Cinderella saja batas waktunya jam dua belas malam. Sedangkan aku gimana? Selalu dibatasi saat keluar, rasanya aku saat ini ingin menjadi Cinderella.
Sesampainya di kamar, aku melemparkan diri ke kasur. Tapi itu hanya sebentar, setelah itu, wajah tampan pria tadi kembali menghantui pikiranku.
Aku membalikkan tubuh, berusaha menyingkirkan bayangan itu. Aku yakin, melupakannya tidak akan lama. Karena dia hanya pengagum tulisan ku saja. Sehingga aku tidak sepatutnya terbawa arus perasaan seperti ini. Untuk mengusir wajahnya dari pikiranku, aku menyalakan komputer di samping ranjang untuk menyelesaikan novel ketujuh ku. Tapi dalam beberapa waktu, aku teringat kembali pada laki-laki itu, dan ini tidak seperti biasanya. Ketika menulis, aku pasti fokus, tapi kali ini berbeda, karena aku masih terbayang-bayang kepada sang pengagum tulisan ku.
Untuk menghindari itu, aku mengambil aktivitas yang lain lagi. Kebetulan malam ini malam Jumat, dan tepat saat ini ada acara istigosah yang bergilir di rumahku. Jadi, aku lebih memilih untuk melayani ibu-ibu yang ikut istigosah di rumahku.
Karena siapa tahu dengan kesibukan malam ini membuatku mulai lupa dengan orang asing itu. Tapi kenapa bisa-bisanya di tengah kesibukan ku aku kembali mengingatnya. Sempat-sempatnya aku meminta pada Allah, jika aku berjodoh dengannya, maka dekatkanlah. Namun jika dia bukan jodohku, maka jauhkanlah. Hmmm, dasar aku.
Waktu berlari begitu cepat, hingga kesibukan malam ini pun telah berlalu. Namun, seperti ritual malamku, sebelum tidur aku selalu menyempatkan diri untuk mengecek media sosialku. Setiap pesan yang masuk di kotak masukku, aku balas satu per satu. Ada yang menanyakan tentang paid promote, ada yang hanya sekadar menyapa, dan ada juga yang menawarkan jasa mereka. Semuanya terasa biasa saja, sampai akhirnya aku membuka pesan dari sebuah akun dengan nama yang aku tidak kenal.
"Jungkok?" Nama itu cukup unik dan menggemaskan, namun sayangnya aku tidak mengenalinya. Meski begitu, aku memutuskan untuk membuka pesannya.
[Terima kasih, ya. Maaf, aku tadi lupa mengucapkan terima kasih atas tanda tangan dan pengalamannya. Aku tunggu season dua terbit, ya. Maaf, saking gugupnya aku tadi, aku lupa semuanya.] Pesan itu diakhiri dengan emotikon senyum.
He? Siapa dia ini? Mengapa dia bilang 'tadi'? Apakah dia...? Pertanyaan-pertanyaan itu membuatku penasaran dan merasa tertarik untuk membuka profilnya. Ternyata benar, namanya Jungkok. Senyumku semakin lebar. Aku membuka fotonya satu per satu. Dia sangat tampan. Untuk kedua kalinya, aku merasa seolah melupakan sakit bersama Dimas. Apakah mungkin ini pertanda bahwa dia adalah obatku?
"Kembalilah untuk mendalami cinta, dia akan menjadi mutiara di hatimu," bisik hatiku. Aku pun tergoda. Soal Abi, selama aku bisa menjaga rahasia dan tidak keceplosan, kurasa aman. Berpacaran dengan Dimas selama sembilan bulan, tidak ada satu pun orang di rumah ini yang tahu.
"Emmmm, terima kasih kembali. Kamu orang yang di kafe tadi, kan?" Aku membalas pesannya seolah-olah belum melihat profilnya.
Setelah membalas pesan itu, aku kembali menjelajah. Menyusuri fotonya satu per satu. Dari sekian banyak foto, tidak ada satupun foto dia berduaan dengan cewek. Yang ada hanyalah foto dia sendiri, dengan keluarga, dan teman-temannya.
Notifikasi pesan muncul di sisi kanan atas layar ponselku saat aku masih tengah mengamati foto-foto yang terpajang. "Apakah ini balasan darinya? Aku rasa iya!" gumamku. Dan benar saja, dengan senyum yang tak pernah pudar, kubuka lagi pesan darinya.
[Iya. Kamu sibuk ndak? Kalau kamu nggak sibuk, aku mau nanya. Rasanya belum puas bertemu dengan idola yang hanya beberapa menit saja.]
Aku merasa seperti terbang. Dia menyebutku idola? Cowok berkelas dia? Rasanya masih belum percaya. Aku pun mulai berhalusinasi. Bagaimana kalau dia jadi pacarku, lalu aku ajak ke acara reuni selanjutnya. Tak terbayang bagaimana nanti reaksi teman-teman cewekku. Melihat ketua kelas yang tak ada apa-apanya dibanding Jungkok, pasti teman sekelas ku akan terkesima.
"Nggak sibuk kok, mau tanya apa?" balasku dengan tenang, meskipun sebenarnya aku ingin sekali melompat kegirangan. Inilah aku, sehebat apa pun cowok itu, aku tetap mempertahankan martabat dan harga diriku. Jangan sampai aku menjatuhkan harga diri hanya karena wajah tampannya.
[Rasanya aku tidak sabar menunggu buku itu terbit. Bagaimana kalau aku pinjam buku yang tadi saja? Aku tetap akan membeli buku itu nanti, ketika buku itu diterbitkan dan sudah diperjualbelikan] janjinya.
Aku berpikir sejenak. Dia meminjam buku ini? Ah, rasanya aku ingin terbang menyusuri seluruh dunia ini. Aku sangat senang mendengarnya, apalagi melihat kejujurannya yang akan membeli buku yang aku terbitkan nanti.
"Ya udah, nggak apa-apa. Besok aku pinjemin," balasku setelah mempertimbangkan dengan matang.
[Wah, terima kasih banyak. Bisa kita bertemu?] Hanya beberapa detik saja dia langsung membalas pesanku.
"Besok akan ku kabari lagi. Aku besok akan berangkat ke Jakarta, tapi belum tahu jam berapa. Karena aku jarang online di sini, nanti silakan chat saja ke nomor telepon yang ada di kartu nama kemarin," ucapku dengan nada halus, berharap bisa segera mendapatkan nomor teleponnya.
Ternyata, aku juga memiliki bakat dalam memancing perhatian cowok. Seketika, seolah-olah setan berhasil merayuku malam ini. Aku menarik napas panjang sejenak setelah percakapan itu berakhir. Lalu, aku melanjutkan misi untuk mengetahui semua hal tentangnya yang bisa kudapatkan dari akunnya.
[Satu pertanyaan lagi, apakah kamu punya pacar?] tanyanya lagi. Serr, darahku seolah beredar dengan lebih cepat. Dia menanyakan statusku?
"Tidak," jawabku singkat.
Perlahan, senyumku semakin lebar tanpa kusadari. Sosoknya yang tadi tidak sengaja bertemu denganku, terbayang di pikiranku.
Dalam kekacauan perasaan ini, aku melanjutkan penyelidikan pada deretan foto-fotonya. Tiba-tiba, aku terkejut dengan sebuah foto yang diunggah beberapa bulan lalu. Dengan cepat, aku mengklik foto itu, dan seketika mulutku terbuka lebar dan mataku tidak bisa berkedip lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





