Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel KETIKA CINTA BERTASBIH

KETIKA CINTA BERTASBIH

Meski ikhtiar telah maksimal, takdir tetap menjadi penentu akhir sebuah hubungan. Kisah ini menyoroti dilema cinta beda keyakinan antara dua insan yang mustahil bersatu dalam ibadah. Sebagai hamba Allah, ia tak mungkin menjadikan seseorang yang berbeda iman sebagai imamnya. Namun, rasa cinta yang telanjur mengakar kuat membuatnya sulit untuk melepaskan. Akankah perasaan ini berujung di pelaminan, atau ia harus mengikhlaskan perpisahan demi prinsipnya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Terlihat di sana Jungkook dan beberapa orang lainnya sedang merayakan Natal dengan topi Santa Claus di kepala mereka. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikan Jungkook. Aku mengingat wajahnya dari pertemuan kami beberapa hari yang lalu. Aku mulai curiga apakah Jungkook adalah seorang non-Muslim. Namun, daripada terus memikirkan hal itu, aku memutuskan untuk melihat media sosialnya. Aku menggulir foto-fotonya dengan perlahan, tidak pernah bosan mencari tahu tentangnya. Entah mengapa, aku merasa tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentangnya dan selalu ingin membuka media sosialnya setiap kali membuka ponselku. Aku mencari semua informasi yang ada di pikiranku tentangnya. Aku menemukan beberapa foto baru, di mana Jungkook tidak lagi menggunakan topi Natal, tapi berfoto dengan teman-temannya yang berbalut hijab. Hal ini semakin membuatku penasaran tentangnya. Meskipun aku melihatnya berada di tempat ibadah yang bukan tempat ibadah orang Muslim, melihat foto-fotonya belum cukup untuk memastikan apakah dia seorang non-Muslim. Aku tidak bisa memastikan apakah dia memiliki keyakinan yang sama denganku. Jika tidak, aku harus melepaskan semua perasaan ini. Umi dan Abi pasti akan menentang hubungan seperti itu.

Aku menyadari bahwa aku telah menghabiskan banyak waktu hanya untuk mencari tahu tentang Jungkook. Padahal, aku tahu bahwa ini mungkin bukan perasaan cinta atau obsesi. Mungkin saja perasaan Jungkook pada saat itu hanya kagum, bukan cinta. Dia juga bisa melakukan hal yang sama dengan teman-temannya. Namun, aku menyadari bahwa ini adalah kesalahan yang fatal. Aku harus menghilangkan semua perasaan ini agar tidak terus berlanjut. Aku mencoba mengusir bayangan Jungkook yang tak kunjung hilang. Aku berusaha untuk tidak melakukan hal-hal yang seharusnya tidak aku lakukan. Aku harus mencari jalan agar perasaanku tidak semakin dalam. Aku heran dengan hatiku yang tiba-tiba terbuka setelah sekian lama tertutup rapat. Mengapa perasaan ini muncul setelah satu pertemuan saja? Aku mencoba melupakan kesakitan yang pernah aku alami dengan Dimas.

Pagi-pagi usai sholat Subuh, aku bersiap-siap untuk pergi ke Jakarta. Aku harus mengurus ijazahku agar segera diterima. Baru saja seminggu yang lalu aku merayakan wisuda S1, dan masih ada beberapa hal yang harus aku urus di kampus. Bagiku, antara Jakarta dan Bandung sudah tidak ada jarak lagi, karena aku selalu siap jika ada hal mendadak dari kampus. Umi sedang sibuk menyiapkan bekal untukku, sedangkan Abi mengulang nasehat-nasehat yang sama setiap kali aku pergi. Mereka mengingatkan aku untuk tidak pacaran, tidak bergaul sembarangan, dan jangan melupakan salat dan mengaji. Setelah sarapan, aku pamit pada Umi dan Abi. Aku mencium pipi mereka bergantian dan melangkah pergi.

Mobilku mulai meninggalkan rumahku. Aku mengendarainya dengan santai, menikmati udara pagi. Rasanya seperti sudah lama aku tidak merasakan hal ini. Aku merindukan keheningan dan keindahan alam di sepanjang perjalanan. Namun, di tengah keheningan itu, aku terus berputar otak untuk mencari cara agar bisa memberikan buku itu padanya tanpa harus bertemu lagi. Jawabannya muncul saat aku sedang melaksanakan salat malam. Aku sudah memantapkan diri semalam. Dalam tahajud, aku meminta pada Allah agar menghilangkan semua perasaan ini. Sebaiknya aku memberikan buku ini padanya agar tidak ada lagi pertemuan berikutnya. Tetapi, bagaimana caranya?

Pagi tadi, aku menerima pesan darinya di aplikasi pesan hijau di ponselku. Pesannya berisi nomornya. Aku merasa senang, tapi dia hanya membalas dengan stiker jempol saja. Setelah itu, tidak ada percakapan lagi di antara kami. Aku berhenti di salah satu rest area untuk mencari beberapa ide tentang bagaimana cara agar tidak bertemu dengannya lagi. Sambil menenteng jajan, aku mencari solusi di ponselku. Akhirnya, aku menemukan ide yang sangat cemerlang. Aku segera mengambil ponselku yang tergeletak di sampingku dan mencari nomornya sebelum ide ini hilang.

Aku mengirim pesan kepadanya, "Assalamualaikum. Maaf jika aku memberitahumu secara mendadak, tapi aku tidak bisa bertemu denganmu hari ini karena aku harus kembali ke Jakarta pagi-pagi. Aku sedang buru-buru, jadi tidak bisa menemui. Bagaimana jika buku ini ku titipkan di kafe tempat kita bertemu kemarin?" Aku mengirim pesan dengan sedikit senyum kemenangan di bibirku. Pesan terkirim dan terlihat centang biru. Hatiku kembali risau menunggu balasannya. Aku melihat keterangan bahwa dia sedang mengetik balasan untukku. Aku berdoa semoga dia setuju dengan usulku.

[Waalaikumsalam. Iya, nggak apa-apa. Kamu boleh menitipkan buku itu kepada satpam saja, karena kafenya belum buka jam segini. Terima kasih!] balas Jungkok dengan cepat. Aku tidak membalas pesannya dan segera menuju kafe dengan mobilku. Ketika sampai di sana, benar saja, kafe masih tutup. Hanya ada satpam dan seorang pegawai yang sedang bertugas. Aku turun dari mobil dan disambut dengan senyuman oleh satpam tersebut.

"Pagi, Pak," sapaku dengan ramah.

"Pagi, Kak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam tersebut setelah berhadapan denganku.

"Maaf, Pak. Bolehkah saya menitipkan buku ini? Nanti teman saya akan mengambilnya ke sini," ucapku sambil menunjukkan buku di tanganku.

"Oh, iya. Tentu saja boleh," jawabnya sambil mengulurkan tangannya untuk menerima buku tersebut.

"Terima kasih banyak, Pak," ucapku sambil memberikan novel itu kepadanya. Kemudian aku menundukkan kepala dan bergegas untuk pergi.

"Sebentar, Kak. Nama temannya siapa? Takutnya nanti salah orang," tanya satpam tersebut, menghentikan langkahku.

"Oh iya, namanya Jungkok, Pak!" jawabku.

"Oh, pak Jungkok baik kalau begitu. Pemilik kafe ini, kan?" tanya satpam tersebut, yang membuatku kaget.

"Hah? Kok Pak sih? Dia masih muda, bukan bapak-bapak. Bapak ini ada-ada saja. Atau mungkin namanya sama," balasku, terkejut karena dia menyebut cowok yang masih muda itu dengan sebutan "Pak".

"Memang masih muda, Kak. Saya memanggilnya Pak karena menghargainya sebagai atasan saja, sebagai tanda penghormatan kepada beliau," tambah satpam tersebut.

"Loh, beliau itu yang punya kafe ini, Pak? Tapi, sebentar," kataku sambil mencari ponsel di dalam tas. Kemudian aku mencari media sosialnya dan membuka salah satu foto yang ada di sana. "Apa ini orangnya?" tanyaku sambil memperagakan wajah Jungkok.

"Iya, dia pemilik kafe ini. Memangnya kakak tidak tahu?" tanya satpam tersebut.

"Nggak, perkenalan kami begitu singkat. Kemarin aku ada acara di kafe ini, lalu bukuku ketinggalan. Dan dia menemukannya lalu meminjamnya," jelas ku.

"Wah, kakak beruntung sekali," ucap satpam itu membuatku bingung.

"Beruntung? Kenapa beruntung, Pak? Biasa saja, Pak. Tidak ada yang perlu dilebih-lebihkan," kataku, ingin mencari tahu lebih banyak sebelum memutuskan apa yang harus kulakukan.

"Gimana sih, Mbak? Hehehe, Pak Jungkok itu orangnya sangat dingin sekali. Banyak cewek-cewek yang datang ke sini hanya karena ingin melihatnya atau ingin dilayani olehnya. Tapi Jungkok hanya menjawab mereka dengan singkat. Dia memang irit bicara dan cuek orangnya seperti kulkas 1000 pintu, tapi walaupun begitu, dia sangat rendah hati. Terkadang dia bahkan ikut mengantarkan makanan jika kafe sedang ramai. Kadang Pak Jungkok juga bekerja sebagai kasir. Tetapi karena sikap dingin dan cueknya, belum ada satu wanita pun yang berhasil meluluhkan hatinya, meskipun banyak yang mencoba," papar satpam tersebut panjang lebar.

Wah, dia dingin seperti kulkas 1000 pintu, tapi mengapa aku tidak menemukan sikap dingin itu ketika bertemu dengannya kemarin? Apakah ini benar-benar keberuntunganku seperti yang dikatakan satpam ini? Kenapa tiba-tiba rasa kagum ku kembali muncul? Beliau benar-benar sempurna. Ah, kenapa aku memikirkan hal yang jauh seperti ini? Kenapa aku begitu terpesona olehnya? Oh, dari mana sih Jungkok ini? Tidak mungkin aku bisa bersanding dengannya, tapi mengapa perasaan ini kembali muncul?

"Oh, begitu ya, Pak. Aku benar-benar tidak nyangka. Kalau Jungkok termasuk orang yang sukses dan mandiri di usianya yang masih sangat muda. Oh iya, maaf nih pak aku tidak bisa lama lama, aku pamit dulu pak. Terima kasih banyak," ucapku sambil berpamitan untuk melanjutkan kegiatanku.

Sebelum berangkat dan memikirkannya lagi, aku mengirimkan pesan padanya. Aku memberitahunya bahwa buku yang dipinjamnya sudah ku titipkan pada satpam. Aku pura-pura tidak tahu bahwa kafe itu miliknya.

"Terima kasih ya. Nanti aku akan mengambilnya ke sana. Berapa hari nih aku boleh meminjamnya?" balasannya langsung masuk beberapa detik setelah pesan itu terkirim.

"Terserah, kamu boleh meminjamnya sesuka hati kamu. Tapi maaf ya, bolehkah aku tanya sesuatu? Tapi ini mungkin akan menyinggung perasaan kamu," akhirnya ku beranikan diri untuk memancingnya. Aku akan mengemudi cukup jauh, dan biasanya jika ada pikiran yang mengganjal, aku akan sulit fokus saat berkendara.

"Tanya apa? Tanya saja, bebas kok. Nggak bayar. Kamu mau menyinggung seribu kali pun aku tidak akan sakit hati, apalagi kalau sama kamu," balasnya.

"Maaf, sebelumnya kalau aku lancang. Kalau boleh tahu, apakah kamu muslim atau bukan? Maaf ya," ku akhiri kalimatku dengan emoticon maaf.

Aku melihat pesan yang telah ku kirim sudah berubah menjadi centang biru. Namun, belum ada tanda-tanda apapun bahwa dia sedang mengetik balasan. Ada apa? Apakah benar dia non-Muslim? Jika dia benar non-Muslim, habislah harapanku, bahkan jika benar dia non muslim pastinya aku tidak bisa dekat dengannya lagi, dan sudah pasti Abi melarang keras untuk aku dekat dengannya. Seagama saja belum tentu abi menyetujuinya, apalagi berbeda.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam : Kembalinya Sang Miliarder
8.0
Di sebuah rumah sakit elit Chicago, Presiden Nelson Gonzales justru menyambut kelahiran putra kandungnya dengan kebencian mendalam. Alih-alih bahagia, ia malah menghina Florence dan menolak mengakui bayi itu. Saat Florence berjuang melindungi buah hatinya, Nelson mengancam akan membuang bayi tersebut. Dalam keputusasaan, Florence mencoba menyusui anaknya agar tenang, namun tindakan itu justru memicu tuduhan keji dari Nelson bahwa ia sedang berusaha merayunya.
Sampul Novel Benih Cinta Romantis di IKN
9.1
Aiden, arsitek ambisius di proyek IKN, bertemu Clara, aktivis lingkungan yang gigih. Meski awalnya berselisih paham, kerja sama dalam pembangunan hijau justru menumbuhkan perasaan di antara mereka. Konflik prinsip sempat menguji hubungan ini, namun mereka belajar saling menghargai. Saat tawaran karier di luar kota dan luar negeri muncul, keduanya harus memilih. Akhirnya, mereka tetap di IKN demi cinta dan visi lingkungan, membangun masa depan bersama di ibu kota baru.
Sampul Novel Cinta yang dinantikan
9.2
Hidup Anggun Nirmala hancur saat sang ayah menjadikannya jaminan untuk melunasi hutang. Di tengah keputusasaan, seorang pria misterius muncul menyelamatkannya dari nasib buruk. Merasa berhutang budi, Anggun bersumpah akan melakukan apa pun demi membalas kebaikan penyelamat yang tak ia kenal itu. Namun, komitmen tersebut langsung diuji saat sang pria mengajukan satu permintaan tak terduga yang membuat Anggun terdiam seribu bahasa. Akankah ia sanggup memenuhinya?
Sampul Novel DILEMA Antara Nyaman dan Cinta
9.1
Tekanan ekonomi yang menghimpit meruntuhkan keutuhan rumah tangga yang telah dibina bertahun-tahun. Segalanya kian hancur saat sang istri mencari simpati pria lain melalui curahan hati di media sosial. Terjebak rayuan pria beristri, ia tak menyadari bahwa obsesi fisik sering kali berujung pada pengkhianatan. Di tengah konflik batin antara kenyamanan semu dan kesetiaan, hukum tabur tuai pun mulai bekerja nyata bagi mereka yang bermain api dalam pernikahan.
Sampul Novel Istri yang Terabaikan
9.7
Lima tahun menikah, suamiku tak pernah hadir di hari ulang tahunku. Baginya, uang sudah cukup sebagai pengganti kado. Namun, ia justru sibuk menyiapkan perayaan untuk Fiona sejak jauh hari dengan dalih hanya dia yang Fiona miliki. Saat melihat kemesraan mereka di media sosial setelah tragedi kebakaran yang menyisakan luka lama, hatiku akhirnya hancur. Tanpa ragu, aku meninggalkan komentar tegas bahwa pria tak berguna itu kini kuberikan sepenuhnya untuknya.
Sampul Novel Janjinya, Kehancurannya
8.6
Malam puncak karier arsitekturku berubah menjadi kehancuran saat tunanganku, Baskara, memberikan hasil karyaku kepada cinta pertamanya. Aku dipaksa menjadi mentor wanita itu hingga mengalami kekerasan fisik yang berujung pada pemecatanku. Bahkan saat aku hamil anaknya, Baskara tega mencelakaiku di rumah sakit dan meninggalkanku berdarah. Muak dengan pengkhianatannya, aku memilih pergi jauh, mengganti identitas, dan menghilang bersama bayiku selama lima tahun.