
Ketagihan dengan anak tiri
Bab 2
Gerakan penyatuan itu semakin dipercepat oleh Steiner hingga Netra pun semakin dibuatnya menggila, Netra terus menjerit nakal dalam penguasaan Steiner.
"Stein ahhh,"
Bahkan Netra berhasil mencapai puncak kenikmatannya lebih dulu dibandingkan dengan Steiner, barulah setelah Netra sampai beberapa menit lalu Steiner mengerang kencang pertanda dirinya telah berhasil mencapai puncak nirwana.
Sore itu seperti biasanya Netra pulang dengan mengendarai mobilnya sendiri menuju rumah, sore ini dia senang sekali karena Steiner akan mengajak dirinya dan putrinya untuk berlibur bersama. Biasanya hubungan ini selalu Netra sembunyikan dari Laura tetapi kali ini Netra berharap Laura sudah bisa bersikap dewasa dengan menerima jika Ibunya akan menikah dengan laki-laki baik seperti Steiner.
"Welcome home,".
Laura menyambut kedatangan Netra yang baru saja tiba di halaman rumah mereka, Netra turun dari mobil lalu menghampiri putrinya yang sudah menunggu didekat mobil. Dipeluknya Laura oleh Netra.
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu dulu Laura masih digendong oleh suster kemana-mana, sekarang tubuhnya sudah tinggi bahkan melebihi tinggi badan Netra, tubuh Laura pun nyaris sama seperti Netra.
Dia sangat seksi, putih, mulus dan yang pasti Laura masih berkulit kencang dengan bokong yang bulat dan padat. Bagi anak seusia Laura jelas ukuran tubuhnya itu jauh lebih seksi dibandingkan dengan teman-temannya yang lain, mungkin karena gen yang diturunkan oleh Netra.
"Tumben menyambut momy di halaman,"
"Ayolah jangan pura-pura lupa mom, bagaimana apa atasan momy memperbolehkan momy cuti?"
"Hmm,, diberi izin tidak ya?"
Netra malah ingin mengerjai putrinya agar dia terlihat kesal.
"Mom,"
Laura hampir merajuk karena Netra bersikap seolah tidak diberi izin cuti oleh atasannya.
"Iya sayang, tentunya kita akan pergi berlibur!"
"Yeay,"
Langsung saja Laura lompat kegirangan karena dia akan berlibur dengan ibunya, tanpa dia ketahui jika momen liburan ini adalah momen Netra akan memperkenalkan Laura pada Steiner Limson, laki-laki yang dalam waktu dekat akan segera menikahinya.
Pagi harinya!
Netra dan Laura sudah bersiap-siap dengan membawa dua ransel besar yang berisi beberapa pakaian ganti dan satu buah kotak makanan untuk makan mereka selama camping. Tempat liburan yang dipilih Laura adalah berkemah disalah satu gunung yang memiliki danau indah didalamnya.
"Ayo mom!" Menggandeng tangan Netra menuju mobil, tetapi Netra masih tetap diam.
"Lau, tunggu!"
"Ada apa mom?"
"Kita pergi tidak berdua,"
"Tidak berdua? Apa momy mengajak Bibi Jolie (tetangga mereka)?"
Netra menggelengkan kepalanya dan masih sangat takut jika Laura akan marah ketika tau jika kekasihnya akan ikut bersama mereka camping di gunung.
"Lalu?"
Belum selesai Netra menjelaskan, mobil Steiner sudah datang memasuki halaman rumah Netra dan Laura, kedua mata Laura mendelik melihat mobil mewah yang baru saja memasuki halaman rumahnya.
Steiner pun keluar dari dalam mobilnya, tubuhnya yang gagah serta wajahnya yang terlihat sangat tampan dan kharismatik berjalan menghampiri Netra dan Laura.
Untuk beberapa saat Laura belum mengedipkan kedua matanya menatap laki-laki tampan dan kekar yang menghampirinya itu! Laura berpikir siapa laki-laki tampan berusia matang ini?
Begitu juga dengan Stainer ini adalah kali pertama dia melihat wajah Laura, jika biasanya Steiner hanya mengetahui cerita tentang Laura dari Netra kini Steiner akhirnya bisa melihat Laura dengan kedua matanya sendiri.
Steiner menatap sekilas wajah Laura, rasa kagum itupun muncul karena ternyata Laura memiliki paras yang sangat cantik, kekaguman itupun terpaksa harus buru-buru ditepis oleh Steiner, dia sadar Laura adalah calon anak tirinya.
Selanjutnya Steiner pun mencium pipi kiri dan kanan Netra.
"Lau, kenalkan ini Paman Steiner,"
Kekaguman Laura pada sosok laki-laki kekar ini pun perlahan sirna, Laura sudah memiliki perasaan tidak enak karena Netra terlihat malu-malu.
"Dia siapa mom?"
Tanpa ragu Steiner mengulurkan tangannya pada Laura.
"Kenalkan, aku Steiner Limson aku dan Ibumu adalah sepasang kekasih!"
"Apa? Kekasih momy? Mom, kau tau kan aku tidak mau memiliki ayah tiri! Tidak! Pokoknya aku tidak setuju!"
Apa yang ditakutkan Netra akhirnya terjadi juga, dia sudah menduga jika Laura pasti akan menolak siapa pun calon ayah tirinya.
"Lau, tidak ada yang salah dengan hubungan kami,"
"Aku benci momy,"
"Selama ini Momy membesarkanmu seorang diri tanpa pernah memikirkan lagi kebahagiaan momy, tapi kali ini please izinkan momy bahagia Lau,"
"Jadi jika kita hanya berdua, momy tidak bahagia?"
"Bukan, bukan itu maksudnya!"
"Aku berjanji tidak akan menyakiti momy mu!" sahut Steiner.
"Diam kau! Aku tidak akan menyetujui kau menikah dengan momyku!"
"Lau, sekali ini saja kau lihat ini dari sisi positifnya! Kita tidak mungkin hidup hanya berdua, umur momy pun semakin hari semakin tua bagaimana jika momy mati? Kau akan sendiri!"
"Momy tidak akan pernah mati dan kita tidak butuh laki-laki itu!" Laura menunjuk wajah Steiner.
"Baiklah Lau, jika ini yang membuatmu bahagia! Tapi ingat kau merenggut kebahagiaan momy jika kau tidak mengizinkan momy menikah dengan Steiner!"
Deg..
Hati Laura tersentak mendengar kalimat yang terlontar dari bibir ibunya itu, apalagi saat ini Netra menangis dalam pelukan Steiner. Saat ini Laura diambang kebimbangan, dia tidak mau Netra sampai bersedih dan menangis seperti ini.
"Mom, sudah jangan menangis!"
"Jadi bagaimana nona? Kau setuju jika aku menikah dengan ibumu? Aku ini laki-laki kompeten dan bertanggungjawab jadi kau tidak perlu khawatir, ibumu akan aku bahagiakan bahkan kau pun juga!" kata Steiner.
"Tidak usah terlalu melebih-lebihkan dirimu Paman, aku setuju hanya karena momy bukan karena kau yang kompeten itu!"
Perdebatan itupun berakhir damai dengan Laura yang menyetujui hubungan Netra dengan Steiner, ketiganya kemudian pergi melakukan perjalanan menuju salah satu gunung yang menjadi favorit warga di negara ini untuk berkemah.
Dibawah kaki gunung tersebut telah disediakan parkiran mobil untuk para pendaki yang akan melakukan tracking ataupun yang akan berkemah disini selama beberapa hari.
Mereka turun dari mobil dan mengeluarkan ransel serta kotak makanan dan tenda untuk berkemah!
"Sini aku bantu!" kata Steiner saat dia melihat Laura kesulitan menurunkan kotak makanan dari bagasi.
"Tidak perlu, sana minggir," dengan ketus.
"Astaga kau galak sekali nona,"
Steiner pun membiarkan Laura yang berusaha sendiri mengeluarkan kotak makanan, sementara Netra terlihat sedang memotret terlebih dahulu pemandangan disekitar.
Karena kotak makanan itu cukup berat membuat Laura harus extra menarik kencang kotak makanan yang tersangkut itu hingga saat kotak makanan itu berhasil dia tarik, tubuh Laura pun terdorong kebelakang.
Beruntung satu tangan Steiner berhasil menangkap pinggul Laura sehingga Laura tidak jadi terjatuh.
"Lepaskan aku!"
"Sudah ditolong masih saja ketus,"
"Jangan harap ya aku akan bersikap baik pada laki-laki yang sudah mencuri momy dariku," kata Laura sambil melengos pergi dari hadapan Steiner.
Membuat Steiner pun garuk-garuk kepala padahal tidak ada yang gatal, baru kali ini Steiner bertemu dengan gadis muda tapi galaknya minta ampun seperti Laura.
Anda Mungkin Juga Suka





