Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kesetiaanku Kau Balas Dengan Luka

Kesetiaanku Kau Balas Dengan Luka

Haura Ghania Eftikhar, mantan tentara bayaran, luluh oleh kesabaran Sean Wijaya, seorang CEO karismatik. Demi cinta, Haura rela beralih profesi menjadi CEO demi menutupi masa lalunya. Namun, pernikahan bahagia mereka hancur saat Haura memergoki pengkhianatan Sean dengan wanita lain. Saat Sean memohon kesempatan kedua dalam penyesalan, muncul seorang remaja tampan yang menawarkan kasih sayang tulus namun obsesif, menambah kerumitan di tengah luka hati Haura yang mendalam.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi itu, Jakarta tampak cerah setelah hujan semalam. Kota yang padat dan sibuk perlahan bergerak, membangunkan ribuan manusia untuk rutinitas mereka masing-masing. Di lantai atas sebuah gedung pencakar langit, ruang konferensi perusahaan pamannya Haura sudah dipenuhi dokumen, laporan keuangan, dan peta strategi yang tertata rapi.

Haura duduk di kursi eksekutifnya, tangannya menatap layar laptop, matanya menelaah angka demi angka. Meski tampak tenang, ada ketegangan yang terasa di setiap tarikan napasnya. Hari ini bukan sekadar hari kerja biasa; Sean Wijaya dijadwalkan datang untuk membahas proyek ekspansi besar. Proyek yang berpotensi mengubah arah perusahaan-dan mungkin, arah hidup Haura sendiri.

Ketukan lembut di pintu membuat Haura menoleh. Seorang asisten masuk, membawa beberapa berkas. "Ibu, Mr. Sean akan segera datang," katanya sopan.

Haura mengangguk, menelan napas panjang. "Terima kasih."

Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi. Sean berdiri di ambang pintu, setelan jas hitamnya pas di tubuhnya, rambutnya rapi, dan senyum tipis menghiasi wajahnya. Ada aura percaya diri yang membuat siapa pun sulit mengalihkan pandangan darinya.

"Pagi, Haura," sapanya hangat, langkahnya mantap memasuki ruangan.

Haura menatapnya, tetap tenang. "Pagi, Sean. Silakan duduk," ucapnya. Suaranya datar, profesional, meski ada sedikit ketegangan yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.

Sean tersenyum, duduk di kursi di seberangnya. "Bagus, kita langsung ke inti masalah. Saya ingin membahas proyek ekspansi cabang baru. Saya sudah menyiapkan beberapa proposal yang mungkin menarik bagi perusahaan ini."

Haura mengangguk, membuka dokumen yang telah ia persiapkan sebelumnya. "Baik. Mari kita lihat."

Selama satu jam berikutnya, mereka membahas berbagai strategi, potensi risiko, hingga analisis pasar. Diskusi berlangsung intens, sesekali diselingi perdebatan hangat tentang pendekatan terbaik untuk mencapai target.

Namun, meski percakapan bersifat profesional, ketegangan antara mereka perlahan terasa lebih personal. Setiap kali Sean menatap Haura dengan serius, ada rasa ingin tahu yang tak bisa disembunyikannya. Dan Haura, meski mencoba tetap dingin, mulai menyadari bahwa dirinya terpengaruh oleh ketulusan Sean-sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Di tengah diskusi, Sean mengerutkan alis. "Haura, kau tampak ragu dengan strategi ini. Ada yang ingin kau katakan?"

Haura menatap layar laptopnya sejenak sebelum menatap Sean. "Bukan ragu. Hanya ingin memastikan bahwa risiko terhitung secara akurat. Kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa pasar bisa berubah tanpa peringatan."

Sean tersenyum tipis. "Aku tahu. Dan aku suka cara berpikirmu. Tapi terkadang, kita harus mengambil langkah berani untuk mencapai hasil besar. Kau tak setuju?"

Haura menghela napas. "Aku tidak menolak keberanian, Sean. Hanya... aku tidak bisa mengambil keputusan yang bisa merugikan banyak orang tanpa analisis mendalam."

Sean menatapnya, matanya lembut namun tajam. "Itu sebabnya aku menghargaimu. Kau hati-hati, tapi tidak takut mengambil tanggung jawab. Kau berbeda dari orang-orang yang pernah kutemui."

Haura menunduk sejenak, merasa sedikit terkejut. Tidak banyak orang yang mengenali sisi dirinya yang tersembunyi-bahwa di balik ketenangan dan profesionalismenya, ada kehidupan lain yang keras dan penuh risiko. Sisi yang selama ini hanya ia simpan untuk dirinya sendiri.

Setelah pertemuan selesai, Sean berdiri, mengambil berkas-berkasnya, dan menatap Haura. "Aku ingin kau tahu, Haura... aku bukan hanya tertarik pada perusahaan ini. Aku ingin mengenal orang di balik semua ini. Kau."

Haura menatapnya, hatinya berdebar. Kata-kata itu... terlalu tulus untuk menjadi kebetulan. Namun, ia segera menutup hatinya. "Sean, aku... aku tidak percaya pada cinta. Jangan salah paham."

Sean tersenyum, tetap tenang. "Aku tidak meminta kau percaya sekarang. Aku hanya ingin kau tahu perasaanku. Dan aku bersedia menunggu."

Haura menunduk, mencoba menenangkan diri. "Aku harus fokus pada pekerjaan," ucapnya singkat.

Namun, Sean tidak menyerah. Selama beberapa hari berikutnya, ia terus hadir dalam kehidupan Haura, bukan hanya sebagai rekan bisnis, tapi sebagai sosok yang perlahan membuka sisi manusiawinya. Ia membawa kopi ke kantor, menawarkan bantuan dengan proyek yang rumit, dan selalu hadir dengan senyum tulus yang membuat Haura sulit menahan diri.

Satu sore, saat mereka meninjau laporan keuangan di ruang kerja Haura, terjadi percikan kecil yang menguji ketegangan mereka.

"Kau tahu," Sean memulai dengan nada ringan, "ada cara lain untuk melihat angka-angka ini. Kadang, kita harus melihat lebih dari sekadar statistik."

Haura menatapnya, matanya tajam. "Dan apa maksudmu dengan itu?"

Sean tersenyum tipis, mencondongkan tubuhnya ke arah Haura. "Maksudku, dunia ini lebih dari sekadar angka dan strategi. Ada sisi manusia, sisi perasaan. Kau tahu, sisi yang membuat kita hidup."

Haura menelan napas, merasa jantungnya berdebar lebih cepat. Kata-kata itu... menyentuh sesuatu yang selama ini ia sembunyikan. "Aku... aku tidak tertarik pada hal-hal seperti itu," ucapnya, suaranya sedikit gemetar meski berusaha terdengar dingin.

Sean menatapnya, matanya lembut namun tajam, seakan menembus pertahanan yang ia pasang. "Aku tahu. Tapi aku tidak akan memaksa. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku ada. Dan aku peduli."

Perasaan Haura mulai campur aduk. Bagian dari dirinya ingin lari, kembali ke dunia yang aman dan keras sebagai tentara bayaran. Namun, ada bagian lain yang ingin tetap, ingin mendengar kata-kata Sean, ingin merasakan perhatian yang tulus itu.

Hari berikutnya, mereka kembali bekerja sama, membahas strategi pemasaran untuk proyek ekspansi. Ketegangan profesional masih ada, tetapi kini diselingi ketegangan emosional. Haura mulai menyadari bahwa dirinya bereaksi lebih cepat terhadap kehadiran Sean, jantungnya berdetak lebih kencang saat ia tersenyum, dan pikirannya terus kembali pada pria itu meski mencoba menutupinya.

Suatu malam, saat keduanya bekerja lembur, lampu di ruang konferensi hanya menyisakan cahaya hangat di meja mereka. Suasana sunyi, hanya suara ketikan keyboard dan bisikan suara mereka terdengar.

"Kau masih bekerja lembur?" Sean bertanya, menatap Haura yang sibuk menandai beberapa dokumen.

Haura mengangkat bahu. "Ini pekerjaan yang harus selesai. Tidak ada yang bisa menggantikan waktu yang hilang."

Sean duduk di seberangnya, menatapnya dengan serius. "Haura... apakah kau tidak lelah menjalani hidup seperti ini? Selalu waspada, selalu sendiri?"

Haura menatapnya, hatinya terasa sesak. Bagaimana mungkin ia mengungkapkan sisi dirinya yang paling rapuh? "Aku... sudah terbiasa," jawabnya singkat.

Sean tersenyum lembut, seakan memahami lebih banyak dari yang Haura katakan. "Mungkin sudah saatnya kau mencoba mempercayai seseorang. Kau tidak harus selalu sendiri."

Haura menunduk, menatap dokumen di depannya. Kata-kata itu menembus hati yang selama ini ia tutupi. Ia tahu, membuka hati berarti mengambil risiko besar-bahwa rahasianya sebagai tentara bayaran bisa terbongkar kapan saja. Namun, ada sesuatu tentang Sean yang membuatnya merasa aman, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Malam itu, setelah Sean meninggalkan ruang konferensi, Haura duduk termenung, matanya menatap lampu kota di luar jendela. Hatinya kacau, campur aduk antara ketakutan dan keinginan. Sean telah berhasil membuka celah kecil di benteng yang selama ini ia bangun. Celah itu... terasa berbahaya, tapi juga menenangkan.

Ia tahu satu hal: ketegangan antara mereka baru saja dimulai. Konflik, perasaan yang tersembunyi, dan rahasia yang harus dijaga akan menguji hubungan mereka di setiap langkah. Sean mengejar cintanya dengan sabar, dan Haura, untuk pertama kalinya, merasa bahwa hatinya mungkin tidak lagi sepenuhnya miliknya sendiri.

Hari demi hari berlalu, dan setiap pertemuan dengan Sean semakin memunculkan ketegangan emosional yang tak bisa diabaikan Haura. Ada rasa ingin tahu, ada rasa takut, dan yang paling membingungkan-ada rasa yang perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang Haura tidak bisa menolak: perasaan yang mirip cinta, tapi ia belum berani mengakuinya, bahkan pada dirinya sendiri.

Pagi itu Jakarta tampak sibuk seperti biasa. Suara klakson kendaraan bersahutan, lalu lintas padat mendorong para pejalan kaki bergerak cepat di trotoar yang basah bekas hujan semalam. Di lantai atas sebuah gedung pencakar langit, Haura Ghania Eftikhar sudah berada di ruangannya lebih awal dari biasanya. Tangannya menelusuri dokumen yang harus ia tandatangani, matanya tajam menilai setiap angka, setiap rencana yang tertata rapi.

Namun pagi itu berbeda. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya-Sean Wijaya. Pria itu tidak hanya hadir dalam hidup profesionalnya, tetapi juga mulai menembus pertahanan emosional yang selama ini ia jaga. Haura tidak mau mengakuinya, tapi hatinya berdebar setiap kali memikirkan senyum hangat Sean, tatapan mata yang mampu membuatnya merasa... aman. Sesuatu yang asing bagi seorang wanita yang hidupnya selalu penuh risiko dan rahasia.

Ketukan di pintu membuat Haura menoleh. Asisten masuk dengan sopan.

"Bu Haura, Mr. Sean sudah menunggu di ruang konferensi. Dia ingin membahas beberapa hal penting terkait proyek baru."

Haura menelan napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Terima kasih. Sampaikan padanya aku akan segera ke sana."

Dia berjalan menuju ruang konferensi, menyadari langkahnya terasa berat meski tubuhnya sehat. Hatinya campur aduk-antara profesionalitas dan rasa penasaran yang mulai muncul pada Sean. Begitu pintu terbuka, Sean menatapnya dengan senyum hangat.

"Selamat pagi, Haura," sapanya, nada suaranya lembut, namun mengandung keyakinan yang membuat Haura menelan napas.

"Pagi, Sean," jawab Haura, mencoba tetap profesional, menyembunyikan kegelisahan yang perlahan muncul di dadanya.

Sean menggeser kursinya mendekat, matanya menatap Haura seakan ingin membaca pikirannya. "Kau terlihat tegang. Ada yang mengganggu pikiranmu?"

Haura tersenyum tipis, berusaha terdengar santai. "Hanya pekerjaan, seperti biasa."

Namun Sean tidak menyerah. "Aku tahu kau lebih dari sekadar CEO. Aku tahu ada sisi lain dalam dirimu, sisi yang jarang orang lihat. Aku ingin kau percaya padaku."

Kata-kata itu membuat Haura terdiam. Bagian dari dirinya ingin menyingkirkan perasaan itu, ingin melanjutkan kehidupan seperti biasa-hanya pekerjaan, tanpa keterikatan emosional. Tapi ada sisi lain yang ingin mendengar lebih banyak, ingin merasakan kedekatan yang selama ini asing baginya.

Percakapan itu berlanjut, membahas proyek baru perusahaan-ekspansi cabang ke kota-kota besar lain. Sean menawarkan strategi ambisius, sementara Haura menganalisis risiko dan peluang. Ketegangan profesional mereka bercampur dengan ketegangan emosional yang tidak bisa diabaikan Haura. Setiap tatapan Sean membuat hatinya bergetar, setiap senyum tipisnya mengusik dinding pertahanan yang selama ini ia bangun.

Di sela-sela rapat, Sean mencondongkan tubuh ke arah Haura. "Aku menghargai dedikasimu. Kau tidak hanya cerdas, tapi juga hati-hati. Kau tahu kapan harus bertindak, kapan harus menunggu. Itu membuatmu berbeda."

Haura menunduk, menatap dokumen di depannya. "Terima kasih... tapi aku tidak tertarik pada pujian atau perhatian. Fokus saja pada proyek."

Sean tersenyum lembut. "Aku tidak memberikan pujian. Aku hanya mengatakan yang aku lihat. Kau hebat, Haura. Dan aku ingin kau tahu itu, bahkan jika kau tidak percaya pada cinta."

Mendengar kata-kata itu, Haura merasa dadanya sesak. Ia tahu, membuka hatinya berarti mengambil risiko besar. Rahasianya sebagai tentara bayaran, identitas yang selama ini ia sembunyikan dari dunia, bisa hancur jika Sean mengetahuinya. Tapi, ada sesuatu dalam dirinya yang ingin mempercayai pria itu, ingin mendengar lebih banyak, ingin merasa aman di sampingnya.

Hari demi hari, Sean terus hadir dalam kehidupan Haura. Ia bukan hanya rekan bisnis, tapi sosok yang membuat Haura merasa... diperhatikan. Ia menawarkan bantuan tanpa pamrih, hadir dengan senyum hangat yang sulit ditolak, dan selalu ada di momen-momen penting.

Suatu sore, setelah rapat panjang, Sean mengajak Haura berjalan di taman perusahaan. Angin sore menyapu wajah mereka, dan langit oranye mulai memudar menjadi ungu. Suasana tenang, jauh dari hiruk-pikuk kantor, membuat ketegangan di antara mereka terasa lebih nyata.

"Kau terlihat berbeda di sini," kata Sean, suaranya lembut. "Seperti... lebih manusiawi, lebih nyata."

Haura menatapnya, sedikit tersentak. "Apa maksudmu?"

Sean tersenyum tipis. "Aku melihat sisi yang jarang orang lihat. Sisi yang ingin kau sembunyikan, tapi tetap muncul. Kau tidak perlu berpura-pura di depanku."

Haura menghela napas, mencoba menenangkan diri. Bagian dari dirinya ingin melarikan diri, kembali ke dunia yang keras dan aman sebagai tentara bayaran. Tapi ada bagian lain yang ingin tetap di sini, ingin merasakan kehangatan itu.

"Mungkin... aku tidak bisa percaya begitu saja," ucapnya pelan. "Aku sudah terbiasa menyembunyikan diri, menjaga rahasia... dan dunia ini... bukan tempat untuk membuka hati."

Sean menatapnya dalam-dalam. "Aku tidak meminta kau membuka segalanya sekarang. Aku hanya ingin kau tahu, aku ada di sini. Dan aku tidak akan menyerah."

Kata-kata itu menembus pertahanan Haura sedikit demi sedikit. Ia tahu, ketegangan antara mereka bukan hanya soal pekerjaan. Ini soal perasaan yang mulai tumbuh, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Malam itu, Haura duduk di ruang kerjanya, menatap layar laptop, tapi pikirannya melayang pada Sean. Ia menyadari satu hal yang menakutkan-ia mulai peduli pada pria itu. Bagian dari hatinya yang selama ini tertutup mulai terbuka, meski perlahan. Dan dengan terbukanya hati itu, ketakutan muncul: bagaimana jika Sean mengetahui rahasianya sebagai tentara bayaran? Bagaimana jika dunia yang selama ini ia jalani hancur karena perasaan ini?

Hari-hari berikutnya, ketegangan emosional mereka meningkat. Setiap interaksi kecil antara mereka membawa perasaan yang tidak bisa Haura abaikan. Sebuah senyum, sebuah tatapan, sebuah pertanyaan sederhana-semuanya terasa berat, penuh makna, dan mengguncang hatinya.

Suatu malam, Sean datang ke kantor Haura lebih awal dari biasanya. Ia menemukan Haura duduk sendirian, menatap dokumen yang berserakan di meja.

"Kau masih di sini?" tanya Sean, nada suaranya hangat, sedikit khawatir.

Haura menoleh, matanya lelah tapi penuh kewaspadaan. "Ya... masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan."

Sean duduk di seberangnya, menatapnya dalam-dalam. "Haura... kau tidak harus menanggung semuanya sendiri. Aku ingin kau tahu itu."

Haura menunduk, hatinya berdebar. Ia ingin menolak, ingin tetap menjaga jarak. Tapi suara Sean, tatapannya, membuat dinding pertahanan yang selama ini ia bangun mulai retak.

"Aku... aku terbiasa sendiri," jawab Haura pelan, suaranya hampir tersendat.

Sean tersenyum lembut. "Aku tahu. Tapi mungkin sudah waktunya kau belajar mempercayai seseorang. Aku di sini, Haura. Aku tidak akan pergi."

Hati Haura bergetar. Ia tahu, memberi ruang untuk Sean berarti membuka pintu yang bisa berisiko besar. Rahasianya, identitasnya sebagai tentara bayaran, bisa terbongkar kapan saja. Tapi ada sesuatu dalam dirinya yang ingin tetap di sini, ingin merasakan kehangatan, perhatian, dan cinta yang tulus dari pria ini.

Malam itu, Haura duduk termenung, menatap lampu kota yang berkelap-kelip di bawah jendela. Hatinya kacau, campur aduk antara ketakutan dan keinginan. Sean telah berhasil membuka celah kecil di benteng yang selama ini ia bangun. Celah itu terasa berbahaya, tapi juga menenangkan.

Ia tahu satu hal pasti: ketegangan antara mereka baru saja dimulai. Konflik, perasaan tersembunyi, dan rahasia yang harus dijaga akan menguji hubungan mereka di setiap langkah. Sean mengejar cintanya dengan sabar, dan Haura, untuk pertama kalinya, merasa bahwa hatinya mungkin tidak lagi sepenuhnya miliknya sendiri.

Di luar jendela, kota Jakarta terus berdenyut dengan kehidupan. Tapi di dalam ruang itu, Haura menghadapi pergulatan yang lebih besar-antara cinta dan rahasia, antara kepercayaan dan ketakutan. Dan ia tahu, pilihan yang ia buat selanjutnya akan menentukan arah hidupnya selamanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 7 NAGA BEREBUT RAGA
8.5
Davey Torres, pria lemah yang sering sakit, tak sengaja menelan makanan bermantra yang memasukkan jiwa Raja Naga berusia 12.000 tahun ke tubuhnya. Davey dan sang naga, Chen, terus berselisih hingga Chen mengungkap misi balas dendamnya terhadap keturunan Ming yang tamak. Keluarga Ming telah menghancurkan bisnis keluarga Torres hingga bangkrut. Kini, Davey harus memilih apakah akan bekerja sama dengan Chen demi menghabisi musuh dan merebut kembali Torres Group.
Sampul Novel Air Force Skadron7
7.9
Yudi Juliansyah, pemuda asal Bandung anak seorang dokter dan model Prancis, nekat mengejar mimpi menjadi tentara meski ditentang orang tuanya. Setelah terusir dari rumah, ia berjuang mandiri berjualan gorengan demi membiayai sekolah di AAU Yogyakarta. Kerja kerasnya membuahkan gelar Adi Makayasa sebagai lulusan terbaik Angkatan Udara. Kini, Yudi pulang berseragam untuk membuktikan baktinya. Akankah orang tuanya luluh dan mengakui pilihannya sebagai prajurit?
Sampul Novel Air Mata Seorang Pengasuh
8.1
Pasca wafatnya Mbah Tini, Amara merantau dari Solo ke Jakarta demi mencari ayah kandung dan menepis stigma anak haram. Ia akhirnya bekerja sebagai pengasuh Arya, cucu konglomerat Hadi Pratama yang terabaikan oleh keluarganya. Di sana, ia harus menghadapi Fathir, ayah Arya yang hancur karena pengkhianatan istri. Sambil berjuang mengurus bayi dan menenangkan luka hati Fathir, Amara tetap teguh mencari identitas aslinya di tengah keluarga yang hampir runtuh tersebut.
Sampul Novel Cinta Disisa Serpihan Hati
8.4
Niat Dania menolong Ilham dari kejaran orang asing justru berujung pada pernikahan siri akibat salah paham warga. Meski terikat secara mendadak, kebersamaan mereka saat berkelana ke berbagai daerah justru menumbuhkan perasaan cinta. Namun, keselamatan Ilham terancam oleh rencana jahat ibu dan saudara tirinya yang ingin menguasai warisan hotel ayahnya. Kini, Dania harus mendampingi sang pewaris dalam pelarian berbahaya demi mempertahankan hidup dan cinta mereka.
Sampul Novel Crystal Of Soul : Twins
9.7
Terpisah sejak lahir tanpa alasan jelas, sepasang saudara kembar menghadapi garis takdir yang bertolak belakang. Meski satu berada di dunia manusia dan lainnya di dunia kristal, ikatan batin mereka tetap terjalin kuat melampaui ruang dan waktu. Didorong rasa penasaran akan jati diri, keduanya berusaha mengungkap misteri pemisahan mereka. Akankah kekuatan hubungan unik ini mampu mempertemukan mereka kembali dan menjawab semua rahasia yang tersembunyi?
Sampul Novel Omega-nya yang Terbuang, Kehancuran Raja Alpha
9.1
Lima belas tahun menjadi pendamping Baskara Adijaya, sang Alpha mematikan, hancur seketika saat aku merasakan pengkhianatannya. Aroma wanita lain dan pesan vulgar dari asistennya, Jasmine, mengungkap perselingkuhan keji mereka. Kondisi 'Penolakan Jiwa' menyerangku akibat ikatan yang tercemar, diperparah klaim kehamilan Jasmine. Kini, aku melepaskan peran sebagai penenang monster dalam dirinya. Tanpa menuntut harta, aku memilih bebas dan bersiap meruntuhkan dunianya.