Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kesetiaanku Kau Balas Dengan Luka

Kesetiaanku Kau Balas Dengan Luka

Haura Ghania Eftikhar, mantan tentara bayaran, luluh oleh kesabaran Sean Wijaya, seorang CEO karismatik. Demi cinta, Haura rela beralih profesi menjadi CEO demi menutupi masa lalunya. Namun, pernikahan bahagia mereka hancur saat Haura memergoki pengkhianatan Sean dengan wanita lain. Saat Sean memohon kesempatan kedua dalam penyesalan, muncul seorang remaja tampan yang menawarkan kasih sayang tulus namun obsesif, menambah kerumitan di tengah luka hati Haura yang mendalam.
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi itu terasa berbeda bagi Haura. Matahari bersinar terang di atas Jakarta, tapi di dalam hatinya, ada bayangan gelap yang terus menghantui. Semalam, Sean meneleponnya larut malam, menawarkan ide-ide baru untuk ekspansi perusahaan. Ia tersenyum hangat, membuat Haura merasa nyaman sekaligus tertekan. Kenyamanan itu aneh, dan Haura belum terbiasa merasakannya.

Di ruang kerjanya, dokumen-dokumen berserakan di atas meja. Haura menatap layar laptop, mencoba fokus, tapi pikirannya terus melayang pada Sean. Perasaan yang mulai tumbuh perlahan, ketulusan yang ditunjukkan Sean, semuanya bercampur dengan ketakutannya sendiri. Ketakutan akan rahasianya terbongkar. Identitasnya sebagai tentara bayaran adalah bagian dari hidupnya yang ia jaga rapat-rapat. Sekali rahasia itu terbuka, dunia yang ia bangun dengan susah payah bisa hancur, termasuk hubungannya dengan Sean.

Suara ketukan di pintu mengusiknya dari lamunannya. Asisten masuk membawa beberapa berkas tambahan dari Sean.

"Bu Haura, ini dokumen dari Mr. Sean. Dia ingin Anda memeriksanya sebelum rapat hari ini," kata asisten itu.

Haura mengangguk, menerima berkas itu tanpa berkata banyak. Begitu asisten keluar, Haura membuka dokumen dan melihat strategi ekspansi baru yang diusulkan Sean. Beberapa ide terdengar ambisius, bahkan berisiko tinggi. Bagian dari dirinya ingin menolak, tapi sisi profesionalnya menuntut evaluasi yang jernih.

Tak lama kemudian, Sean tiba. Ia tampak santai, dengan senyum hangat yang biasa ia tunjukkan. Namun hari itu ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya-sebuah intensitas yang membuat Haura merasakan tekanan.

"Haura," Sean memulai dengan nada lembut namun tegas, "aku ingin tahu pendapatmu jujur tentang strategi ini. Jangan ragu."

Haura menatapnya, matanya serius. "Strategi ini ambisius, Sean. Ada risiko besar jika kita tidak berhati-hati. Aku khawatir..."

Sean memotong, tidak agresif tapi penuh keyakinan. "Aku tahu kau khawatir. Tapi aku ingin kita sama-sama mengambil risiko ini. Kita bisa menghadapi tantangan bersama."

Haura menarik napas panjang. Ia tahu Sean bukan hanya menekankan profesionalitas, tapi juga mencoba menembus batas emosionalnya. Setiap kata, setiap tatapan, membuat hatinya berdebar. Ia ingin percaya, ingin menyerah pada perasaan yang perlahan muncul, tapi ketakutan tetap membayanginya.

Rapat itu berjalan intens. Diskusi tentang ekspansi cabang baru, anggaran, dan potensi pasar memanas. Sean dan Haura beberapa kali beradu pendapat. Ketegangan profesional mereka bercampur dengan ketegangan emosional yang tak terlihat, tapi terasa nyata.

Di sela rapat, Sean mencondongkan tubuhnya, menatap Haura. "Haura... kau selalu terlihat tegang. Apa ada sesuatu yang ingin kau ceritakan?"

Haura menelan ludah. Ia tahu jika ia mengungkapkan sedikit saja tentang kehidupannya sebagai tentara bayaran, hubungan ini bisa runtuh. "Aku... hanya fokus pada pekerjaan," jawabnya singkat.

Sean mengangguk, seakan mengerti, tapi matanya tidak meninggalkan Haura. "Aku mengerti. Tapi kau tahu... aku ingin kau merasa aman untuk terbuka padaku, jika suatu saat kau mau."

Setelah rapat selesai, Haura kembali ke ruangannya. Hatinya campur aduk. Sean terus menembus dinding pertahanannya, dan setiap interaksi membuatnya merasa rentan. Bagian dari dirinya ingin membiarkan Sean masuk, tapi rahasianya adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja.

Hari berikutnya, ketegangan itu semakin nyata. Sean mulai hadir di setiap kesempatan, menawarkan bantuan, menanyakan kabarnya, dan mengajak diskusi santai tentang strategi. Haura merasa dilema. Di satu sisi, ia mulai menikmati kehadiran Sean, perasaan nyaman yang belum pernah ia rasakan. Di sisi lain, ada rasa takut yang selalu muncul, bayangan rahasianya yang bisa menghancurkan segalanya.

Sore itu, Sean mengajak Haura berjalan di rooftop gedung. Kota Jakarta tampak memukau dari ketinggian, cahaya lampu kota berkelap-kelip. Namun Haura tidak bisa menikmati pemandangan. Jantungnya berdebar, dan hatinya penuh kecemasan.

"Kau terlihat gelisah," kata Sean, memecah kesunyian. "Ada sesuatu yang mengganggumu?"

Haura menunduk, mencoba menenangkan diri. "Aku... aku baik-baik saja."

Sean mendekat sedikit, menatapnya dengan intens. "Haura... kau tidak perlu selalu menahan diri. Aku di sini untukmu. Kau tidak harus menanggung semuanya sendiri."

Haura merasakan tekanan yang berbeda. Kata-kata itu membuat dinding pertahanannya retak. Ia ingin melarikan diri, kembali ke dunia yang aman dan keras, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang ingin tetap di sini, merasakan kehangatan dan perhatian Sean.

Malam itu, Haura duduk sendirian di ruang kerjanya, menatap lampu kota yang berkelap-kelip. Ia menyadari dilema besar yang ia hadapi. Jika ia membuka hati sepenuhnya pada Sean, rahasianya bisa terbongkar. Tapi jika ia terus menolak perasaan itu, ia akan kehilangan kesempatan merasakan cinta tulus yang baru pertama kali ia alami.

Hari-hari berikutnya, konflik mulai muncul lebih nyata. Sean mulai menunjukkan ketidaksabarannya dalam hal kecil-meski tetap manis dan penuh perhatian. Ia menanyakan pendapat Haura, menuntut keterbukaan, tapi Haura selalu menahan diri. Setiap ketegangan kecil membuat keduanya saling menatap, saling menguji batas.

Suatu sore, saat mereka berdiskusi tentang proyek ekspansi ke kota baru, Sean mulai menekankan strategi yang menurut Haura terlalu berisiko.

"Haura, kau terlalu hati-hati. Aku tahu kau bisa melihat potensi, bukan hanya risiko," kata Sean tegas, tapi matanya lembut.

Haura menatapnya, suaranya dingin tapi bergetar. "Aku bukan hanya berhati-hati. Aku mencoba melindungi perusahaan ini. Dan aku tidak bisa mengabaikan fakta bahwa risiko ini terlalu besar."

Sean tersenyum tipis, mendekat. "Aku tahu. Tapi kau juga harus percaya padaku. Kita bisa menghadapi ini bersama."

Haura menunduk, hatinya bergetar. Setiap kata Sean menembus pertahanan yang selama ini ia bangun. Ia tahu, jika ia terlalu membuka diri, rahasianya bisa terbongkar. Tapi menolak Sean juga terasa salah.

Malam itu, setelah Sean pergi, Haura duduk termenung di ruang kerjanya. Ia menyadari satu hal: konflik tidak hanya muncul dari pekerjaan, tapi juga dari hatinya sendiri. Rahasia yang ia simpan, identitasnya sebagai tentara bayaran, adalah ancaman terbesar untuk hubungannya dengan Sean. Setiap langkah yang ia ambil harus diperhitungkan dengan hati-hati.

Beberapa hari kemudian, tanda-tanda masalah mulai muncul lebih jelas. Sean mulai menuntut keterbukaan, sementara Haura terus menahan diri. Ketegangan meningkat, setiap kata, setiap tatapan, mulai membawa konflik yang tak bisa diabaikan. Haura merasa berada di persimpangan jalan: membuka hati dan mengambil risiko, atau menjaga rahasia dan menahan perasaan.

Suatu malam, saat bekerja lembur, Haura menerima telepon dari seorang kontak lama di dunia bayangannya. Pesan itu sederhana tapi cukup untuk membuat jantungnya berhenti sejenak: "Ada masalah yang harus diselesaikan. Ini penting. Segera."

Haura menatap layar telepon, hatinya bergetar. Dunia yang ia coba pisahkan dari kehidupan sehari-harinya mulai menyusup masuk. Rahasia yang selama ini ia jaga bisa segera terbongkar, dan Sean-yang mulai ia percayai-bisa terlibat tanpa sengaja.

Ia menarik napas dalam, menatap lampu kota yang berkelap-kelip dari jendela. Hatinya penuh dilema. Ia tahu, setiap keputusan yang diambil sekarang akan menentukan arah hubungan mereka selamanya. Sean terus mendekat dengan ketulusan yang tak bisa ia abaikan, sementara dunia gelapnya sebagai tentara bayaran terus mengintai, siap menghancurkan segalanya.

Dan di situlah konflik baru dimulai-antara cinta dan rahasia, antara kepercayaan dan ketakutan. Haura tahu, menghadapi Sean tidak akan pernah mudah. Ia juga tahu, rahasia yang ia simpan mungkin akan menjadi ujian terbesar dalam hidupnya.

Malam itu, Haura menutup laptopnya, menatap kota dari jendela, dan untuk pertama kalinya merasakan ketegangan yang sebenarnya: cinta, konflik, dan rahasia yang berjalan berdampingan, menunggu untuk meledak kapan saja.

Malam itu Jakarta tampak seperti lautan cahaya yang bergerak tanpa henti. Dari jendela ruang kerja Haura, gedung-gedung tinggi berkilauan, tapi hatinya terasa berat. Ia duduk di kursi eksekutifnya, tangan memegang berkas laporan terbaru, tetapi pikirannya jauh dari angka dan strategi. Pikirannya tertuju pada Sean-pria yang perlahan menembus pertahanan hatinya, dan sekaligus menjadi sumber konflik terbesar dalam kehidupannya.

Rahasia yang selama ini Haura jaga-identitasnya sebagai tentara bayaran-mulai menekan. Dunia yang ia pisahkan rapi dari kehidupan sehari-harinya kini mulai merayap masuk. Satu telepon atau pesan bisa memaksa Haura untuk membuat pilihan sulit. Pilihan antara melindungi Sean atau melindungi dirinya sendiri.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan terenkripsi muncul: "Misi baru. Prioritas tinggi. Jangan sampai ada yang tahu."

Haura menatap layar, jantungnya berdegup kencang. Detik berikutnya, telepon Sean masuk, suara hangatnya memenuhi ruang.

"Haura, kau masih di kantor? Aku ingin memastikan semuanya baik-baik saja."

Haura menelan ludah, menutup layar telepon sebentar, lalu menjawab dengan suara tenang: "Aku masih di sini. Hanya menuntaskan beberapa hal."

Sean tersenyum, tapi nada suaranya sedikit khawatir. "Sudah larut. Jangan terlalu memaksakan diri."

Haura tersenyum tipis, mencoba menenangkan diri. "Aku bisa mengatasinya. Terima kasih, Sean."

Setelah panggilan itu berakhir, Haura menatap pesan di layar ponsel lagi. Misi itu menuntutnya pergi jauh malam ini, jauh dari kota, dan itu akan menuntut seluruh kemampuannya. Tapi pergi berarti meninggalkan Sean tanpa penjelasan, dan ia tahu pria itu akan merasakan ada yang salah.

Dengan cepat, ia menyiapkan perlengkapannya, hati dipenuhi dilema. Ia ingin menjelaskan semuanya pada Sean, tetapi risiko terbongkarnya rahasianya terlalu besar. Sean bukan sekadar pacar atau CEO perusahaan, ia juga target yang harus ia lindungi dengan menjaga identitasnya tetap tersembunyi.

Beberapa jam kemudian, Haura sudah berada di lokasi misi. Dalam kegelapan malam, ia bergerak cepat, cekatan, penuh kewaspadaan. Instingnya sebagai tentara bayaran bekerja sempurna, setiap langkah diperhitungkan. Namun di balik fokus itu, hatinya tetap gelisah. Sean akan menyadari ketidakhadirannya, dan pertanyaan Sean akan menghantui pikirannya.

Di sisi lain kota, Sean merasa ada yang tidak beres. Instingnya mengatakan bahwa Haura menyembunyikan sesuatu. Ia mencoba menelpon, tapi Haura tidak menjawab. Kekhawatiran mulai menyelimuti hatinya. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ada perasaan yang menekan dadanya-sesuatu yang salah.

Keesokan harinya, Haura kembali ke kantor dengan wajah sedikit letih, rambutnya masih basah terkena embun pagi. Sean sudah menunggu, matanya tajam menatapnya, penuh pertanyaan.

"Haura... kau baik-baik saja? Aku mencoba menghubungimu semalam, tapi tidak ada jawaban," ucap Sean dengan nada campur khawatir dan kecewa.

Haura menunduk, menahan perasaan bersalah yang membakar hatinya. "Aku... aku harus lembur. Ada beberapa hal yang harus selesai," jawabnya singkat.

Sean menatapnya lebih lama, nada suaranya berubah. "Haura... aku merasa ada yang kau sembunyikan dariku. Aku tahu kau tidak selalu terbuka, tapi ini berbeda. Kau tidak sendiri, tapi mengapa aku merasa seperti... tidak ada di sisimu?"

Hati Haura bergetar. Sean mulai merasakan sesuatu yang salah, meski ia belum mengetahui seluruh kebenaran. Tekanan dari rahasia yang ia simpan terasa semakin berat. Ia tahu, setiap kata yang salah bisa menghancurkan kepercayaan yang mulai tumbuh di antara mereka.

Sejak pagi itu, ketegangan mereka semakin meningkat. Setiap interaksi terasa rapuh, setiap senyum Haura terasa dipaksakan, setiap tatapan Sean penuh rasa ingin tahu. Haura merasa seperti berjalan di atas kaca-satu langkah salah, dan semuanya bisa pecah.

Beberapa hari berikutnya, konflik semakin nyata. Haura terus menahan diri, menolak untuk membuka rahasianya, sementara Sean semakin sering menatapnya dengan rasa curiga yang perlahan berubah menjadi kecemasan.

Suatu malam, Sean datang ke apartemen Haura tanpa pemberitahuan. Ia mengetuk pintu, dan ketika Haura membukanya, matanya menatapnya penuh pertanyaan.

"Haura... kita harus bicara," kata Sean tegas, suaranya lembut tapi menuntut kejujuran.

Haura menelan napas, menutup pintu sebentar untuk mengatur napas. "Sean... aku tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang. Ada hal-hal yang harus aku selesaikan, dan aku tidak bisa melibatkanmu."

Sean menatapnya, matanya gelap, campuran kecewa dan khawatir. "Haura... aku merasa ada yang salah. Kau menyembunyikan sesuatu. Aku tahu. Aku tidak bisa menahan perasaan ini. Kau harus jujur padaku. Aku ingin berada di sisimu, tapi kau membuatku merasa... dikhianati."

Haura menunduk, hatinya hancur. Ia ingin menjelaskan semuanya, ingin menceritakan identitasnya, misi-misi yang ia jalani, tapi takut kehilangan Sean. Pilihan yang harus ia buat terasa mustahil: kejujuran yang bisa menghancurkan segalanya, atau rahasia yang menjaga keselamatan mereka tapi menguji cinta Sean.

Diam-diam, air mata menetes dari mata Haura. Sean merasakannya, tetapi ia tidak tahu apa yang menyebabkan kesedihan itu. Ia mendekat, tangan ingin menyentuh bahu Haura, tapi berhenti ragu. "Haura... aku di sini untukmu. Aku tidak akan pergi. Tolong, percaya padaku."

Haura menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Aku... aku harus memastikan semuanya aman dulu. Setelah itu... aku akan menjelaskan."

Sean menatapnya, matanya menyala dengan tekad. "Aku menunggu. Tapi Haura... jangan membuatku menunggu terlalu lama."

Hari-hari berikutnya, ketegangan semakin memuncak. Haura menghadapi misi-misi yang lebih berisiko, sementara Sean terus berusaha mendekat, merasakan bahwa ada sesuatu yang salah tapi belum mengetahui kebenaran. Setiap malam, Haura pulang dengan tubuh lelah, hati penuh dilema, dan Sean selalu menunggu dengan tatapan khawatir yang membuatnya merasa bersalah sekaligus terikat.

Pada suatu malam yang gelap, Haura menerima informasi yang bisa mengancam keselamatannya jika tidak segera ditindaklanjuti. Ia tahu bahwa ia harus bergerak cepat, meninggalkan Sean sekali lagi. Tapi kali ini, risiko lebih besar-Sean mulai menyadari bahwa ia tidak mengatakan semua yang ia ketahui.

Sebelum pergi, Haura meninggalkan catatan singkat untuk Sean: "Percayalah padaku. Aku akan menjelaskan semuanya ketika waktunya tiba."

Sean membaca catatan itu dengan tangan gemetar. Perasaannya campur aduk-percaya tapi marah, khawatir tapi ingin menunggu. Ia tidak tahu apa yang Haura hadapi, tapi instingnya mengatakan sesuatu yang serius sedang terjadi.

Haura pergi dalam gelap malam, langkahnya cepat, hati penuh ketegangan. Setiap langkah yang ia ambil membawa risiko, dan setiap detik yang ia tinggalkan jauh dari Sean menambah beban emosional yang ia rasakan. Rahasia yang selama ini ia jaga, kini benar-benar mengancam hubungannya.

Dan di sisi lain, Sean menatap kota Jakarta dari jendela apartemennya, hatinya gelisah. Ia merasakan sesuatu yang salah, sebuah rasa kehilangan yang belum sepenuhnya ia mengerti. Ia tidak tahu rahasia Haura, tapi ia tahu bahwa hubungan mereka sedang diuji-lebih berat daripada yang pernah ia bayangkan.

Malam itu, ketegangan mencapai puncaknya. Cinta, rahasia, kepercayaan, dan ketakutan berjalan berdampingan, menunggu untuk meledak kapan saja. Haura harus memilih antara keselamatan dan cinta, sementara Sean harus menunggu dengan kesabaran yang menegangkan, merasakan bahwa ada sesuatu yang tersembunyi di balik dinding pertahanan Haura.

Di sinilah babak baru dimulai-di tengah dilema yang tidak bisa dihindari, konflik yang memuncak, dan cinta yang diuji oleh rahasia terbesar Haura. Pilihan yang dibuat Haura malam itu akan menentukan arah hidupnya dan hubungan mereka selamanya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 7 NAGA BEREBUT RAGA
8.5
Davey Torres, pria lemah yang sering sakit, tak sengaja menelan makanan bermantra yang memasukkan jiwa Raja Naga berusia 12.000 tahun ke tubuhnya. Davey dan sang naga, Chen, terus berselisih hingga Chen mengungkap misi balas dendamnya terhadap keturunan Ming yang tamak. Keluarga Ming telah menghancurkan bisnis keluarga Torres hingga bangkrut. Kini, Davey harus memilih apakah akan bekerja sama dengan Chen demi menghabisi musuh dan merebut kembali Torres Group.
Sampul Novel Air Force Skadron7
7.9
Yudi Juliansyah, pemuda asal Bandung anak seorang dokter dan model Prancis, nekat mengejar mimpi menjadi tentara meski ditentang orang tuanya. Setelah terusir dari rumah, ia berjuang mandiri berjualan gorengan demi membiayai sekolah di AAU Yogyakarta. Kerja kerasnya membuahkan gelar Adi Makayasa sebagai lulusan terbaik Angkatan Udara. Kini, Yudi pulang berseragam untuk membuktikan baktinya. Akankah orang tuanya luluh dan mengakui pilihannya sebagai prajurit?
Sampul Novel Air Mata Seorang Pengasuh
8.1
Pasca wafatnya Mbah Tini, Amara merantau dari Solo ke Jakarta demi mencari ayah kandung dan menepis stigma anak haram. Ia akhirnya bekerja sebagai pengasuh Arya, cucu konglomerat Hadi Pratama yang terabaikan oleh keluarganya. Di sana, ia harus menghadapi Fathir, ayah Arya yang hancur karena pengkhianatan istri. Sambil berjuang mengurus bayi dan menenangkan luka hati Fathir, Amara tetap teguh mencari identitas aslinya di tengah keluarga yang hampir runtuh tersebut.
Sampul Novel Cinta Disisa Serpihan Hati
8.4
Niat Dania menolong Ilham dari kejaran orang asing justru berujung pada pernikahan siri akibat salah paham warga. Meski terikat secara mendadak, kebersamaan mereka saat berkelana ke berbagai daerah justru menumbuhkan perasaan cinta. Namun, keselamatan Ilham terancam oleh rencana jahat ibu dan saudara tirinya yang ingin menguasai warisan hotel ayahnya. Kini, Dania harus mendampingi sang pewaris dalam pelarian berbahaya demi mempertahankan hidup dan cinta mereka.
Sampul Novel Crystal Of Soul : Twins
9.7
Terpisah sejak lahir tanpa alasan jelas, sepasang saudara kembar menghadapi garis takdir yang bertolak belakang. Meski satu berada di dunia manusia dan lainnya di dunia kristal, ikatan batin mereka tetap terjalin kuat melampaui ruang dan waktu. Didorong rasa penasaran akan jati diri, keduanya berusaha mengungkap misteri pemisahan mereka. Akankah kekuatan hubungan unik ini mampu mempertemukan mereka kembali dan menjawab semua rahasia yang tersembunyi?
Sampul Novel Omega-nya yang Terbuang, Kehancuran Raja Alpha
9.1
Lima belas tahun menjadi pendamping Baskara Adijaya, sang Alpha mematikan, hancur seketika saat aku merasakan pengkhianatannya. Aroma wanita lain dan pesan vulgar dari asistennya, Jasmine, mengungkap perselingkuhan keji mereka. Kondisi 'Penolakan Jiwa' menyerangku akibat ikatan yang tercemar, diperparah klaim kehamilan Jasmine. Kini, aku melepaskan peran sebagai penenang monster dalam dirinya. Tanpa menuntut harta, aku memilih bebas dan bersiap meruntuhkan dunianya.