
Kesempatan Kedua, Luka Terakhir
Bab 2
Wajah Jennie memerah, dan orang-orang di kantor tertawa saat melihatnya.
Seseorang mengirim pesan pribadi kepadaku: "Dewita, kamu pemberani!"
Aku membalas: "Kenapa harus takut? Aku bukan suaminya! Buat apa aku memanjakannya?"
"Kamu benar, aku mau tiru kamu saja. Dia berlagak kayak ratu sejak hamil. Kalau di rumah sih silakan, tapi kenapa dibawa sampai ke kantor?"
Aku tersenyum. Ternyata semua orang pernah mengalaminya dan mengerti perasaanku.
Aku tidak bermaksud menjelek-jelekkan Jennie, tapi aku pernah mati tragis karena dia. Aku tidak mau diam saja menelan kemarahanku.
Jennie panik. "Dewita, hapus sekarang!"
Aku merentangkan tanganku. "Waktunya sudah lewat, nggak bisa dihapus!"
Dia menatapku dengan tajam dan berbalik pergi ke ruangan supervisor.
Setelah beberapa menit, supervisor Ruslan memanggilku.
Saat aku tiba, Jennie keluar dari ruangan itu.
"Dewita, tunggu saja!"
Hah? Memangnya aku takut?
Aku mengetuk pintu dan berjalan masuk. Ruslan menatapku dan berkata, "Dewita, yang namanya manusia harus bisa kerja sama yang lainnya. Kamu sudah keterlaluan hari ini!"
"Keterlaluan? Pak Ruslan, saya nggak paham apa yang Bapak maksud. Tolong ajari saya!"
"Saya bisa memperbaiki diri!"
Wajah Ruslan berubah suram. "Dewita!"
"Iya, saya di sini, Pak. Saya beneran nggak paham, apanya yang keterlaluan? Apa salah saya?"
"Tolong jelaskan, pasti saya perbaiki!"
Aku memandangnya dengan tulus dan Ruslan terdiam.
Hal sepele seperti membawakan sarapan untuk rekan kerja bukanlah masalah besar.
Masalah pribadi yang sangat tidak perlu dibesar-besarkan.
Ruslan tentu saja tahu itu, jadi dia terbatuk-batuk pelan. "Jangan pikirkan masalah ini lagi. Kamu yang pegang akun perusahaan sekarang 'kan? Selain akun Universitas Cipta, serahkan akun-akun yang lain ke Jennie, biar dia yang melanjutkan."
Aku benar-benar tercengang mendengar ini. "Maksud Bapak, akun-akun yang saya buat sendiri? Pak Manajer sudah tahu?"
"Dewita, semua akun itu milik perusahaan, patuhi peraturanku!"
Aku mengerti. Ini adalah akibat dari ketidakpatuhanku.
Ruslan menatapku dengan senyuman bangga. "Sudah, keluar sekarang!"
Aku mendengarnya dengan jelas, jadi aku keluar.
Saat berpapasan dengan Jennie, dia mengambil cermin dan memperbaiki riasannya, lalu menceletuk, "Ada orang kok nggak ngaca dulu, tapi sok hebat!"
Dia mengetuk meja kerjaku. "Cepat, jangan tunda pekerjaan. Kamu mau tanggung jawab kalau kerjaan telat?"
"Jangan gugup. Semoga kamu sukses."
Aku memberikan nomor akun dan kata sandi kepadanya dan memintanya tanda tangan sebagai konfirmasi.
Mulai saat ini, akun media sosial perusahaan tidak ada hubungannya denganku.
Jika terjadi sesuatu di masa depan, aku tidak akan bertanggung jawab.
Tidak hanya itu, aku juga sengaja memberikan salinan formulir serah terimanya kepada HRD.
Ditambah dengan menyebut Ruslan di grup perusahaan. "Pak Ruslan, saya sudah serah terima tugas dengan Jennie sesuai perintah Bapak."
Ruslan membalas dengan kata ya, dan aku segera membuat tangkapan layar untuk menyimpannya.
Membuat jejak sebagai bukti!
Melihat ekspresi penuh kemenangan Jennie di seberang sana, aku mencibir dalam hati.
Aku tidak percaya orang seperti Jennie bisa mengalahkanku dalam meningkatkan kepopuleran akun perusahaan.
Aku harus bergadang berhari-hari dari pembuatan akun hingga pemilihan materi ke depan.
Hasil pekerjaannya bukan urusanku. Aku tidak peduli.
Kali ini, Maura menoleh kepadaku. "Kamu harus membuat rencana, Dewita! Orang hebat selalu punya tanggung jawab lebih!"
Jennie tertawa. "Kamu masih terlalu muda dan belum hamil, jadi masih harus banyak cari pengalaman. Penanggung jawab Universitas Cipta itu bos yang ketat dan banyak tuntutan!"
Melihat mereka serempak merendahkanku, aku tersenyum. "Kalian benar. Kak Jennie sedang hamil. Kalau kamu cuti melahirkan nanti, posisinya pasti kosong lagi. Entah siapa yang akan menggantikan!"
Mendengar hal itu, ekspresi Maura tiba-tiba membeku.
Anda Mungkin Juga Suka





