
Kesempatan Kedua, Luka Terakhir
Bab 3
Dia bekerja kontrak di sini dan sedang mencari cara untuk menjadi karyawan tetap.
Saat Jennie cuti melahirkan, maka dia punya kesempatan untuk menggantikannya.
Perkataanku memberi pikiran berbeda kepada dua orang itu.
Saat Maura sedang berpikir, Jennie mendengus dan keluar membawa ponselnya.
Aku mengangkat bahu dan bangkit pergi ke kamar mandi.
Tidak lama setelah aku masuk, aku mendengar suara langkah kaki, diikuti suara Jennie.
"Sudah kubilang, dia nggak akan tertipu! Aku harus apa sekarang?"
"Kalau kamu nggak punya uang ya utang! Perempuan sialan itu licik, nggak memberiku celah sama sekali. Susah ditipu!"
Perempuan sialan yang dibicarakan Jennie itu aku?
Aku segera mengeluarkan ponsel dan mendengarnya memelankan suaranya di bilik toilet. "Iya, aku cari kesempatan lagi nanti! Maura jelas kelihatan bodoh. Dia saja!"
"Pokoknya anakku harus seharga dua miliar!"
Mendengar kata-kata itu, hatiku terasa hancur!
Tidak heran dia menggangguku terus, bahkan sampai meminta ganti rugi dua miliar kepadaku.
Ternyata sengaja ingin mendapat uang!
Sungguh wanita yang kejam. Tidak segan-segan menyakiti anaknya sendiri demi uang!
Aku mendengarkan bilik di sebelahku lanjut bicara dan keluar setelah beberapa menit.
Menunggu sampai sepuluh menit berlalu, aku keluar. Sebelum kembali ke ruangan, aku melintasi gedung kantor menuju divisi marketing untuk mengambil data.
Sesampainya di depan pintu, aku mencium bau harum dari dalam kantor. Ada beberapa kotak buah potong di tempat sampah.
Maura berkata dengan nada menyindir, "Loh, baru balik sekarang? Kami lupa menyisakan untukmu!"
Aku pun mengingatkan, "Tapi aku dengar katanya buah potong itu diambil dari buah busuk. Hati-hati sakit perut!"
Tapi Maura mencibir, "Buah yang kubeli itu impor. Buah mahal, mana mungkin ada yang busuk!"
Semua orang di kantor terdiam.
Jennie pergi ke toilet, dan dia menangis saat keluar tidak lama kemudian. "Bagaimana ini, aku pendarahan!"
Dia menangis dan duduk di lantai sambil memegangi perutnya. Orang-orang panik dan bergegas membantu memanggil ambulans.
Jennie memegangi Maura dengan erat. "Tolong, bantu aku ke rumah sakit!"
Aku mengompor-ngompori. "Cepat. Kalian teman dekat, 'kan?"
Maura tidak curiga sama sekali. Saat ambulans datang, dia ikut masuk untuk menemani.
Aku menyaksikan dengan bibir tersenyum.
Lalu meminta izin tidak masuk dan diam-diam mengikuti mereka.
Setibanya di rumah sakit, keluarga Jennie juga datang.
Setelah mengetahui bahwa Jennie keguguran setelah makan buah, ibu mertuanya menyerang Maura dan menamparnya dengan keras!
"Perempuan sialan! Kamu pati sengaja! Cucu kesayanganku hilang gara-gara kamu, pokoknya kamu harus ganti rugi!"
Maura tertegun dan menutupi wajahnya.
"A-aku nggak ngapa-ngapain. Bukan aku."
"Siapa lagi kalau bukan kamu?"
"Jennie bilang kamu yang membeli buah potong itu! Pasti kamu!"
Aku berdiri di tengah kerumunan dan menonton keributan itu.
Wanita tua yang kering dan kurus itu tidak menahan diri sama sekali. Dia menjambak rambut Maura dan menampar wajahnya belasan kali. Wajah Maura merah dan bengkak sampai dia terjatuh ke lantai. Tapi dia tidak sengaja melihatku di tengah kerumunan.
Maura menunjuk ke arahku dan berseru histeris, "Itu dia! Dia pelakunya! Tangkap dia!"
Seketika, seluruh keluarga Jennie menoleh dan mengepungku.
"Sialan, jadi kamu!"
Wanita tua itu sekonyong-konyong menamparku. Aku menjatuhkan diri ke lantai dan berteriak, "Pembunuh! Nenek-nenek ini kabur dari rumah sakit jiwa dan ingin membunuhku!"
Anda Mungkin Juga Suka





